
‘’Kau tau, banyak kesuksesan yang dimulai dari mimpi.’’
‘’Tapi tak semua mimpi bisa berakhir dengan kesuksesan.’’ Siena memberikan senyum sinisnya sedetik kemudian menginjak keras kaki Daren, pria itu berteriak kesakitan dan saat itu digunakan Siena untuk menjauhkan diri dari Daren.
‘’Sepertinya kau semakin berani padaku, tapi tenang saja karena aku tak akan mempermasalahkannya, kau beruntung karena aku mencintaimu.’’ Daren tersenyum, berjalan mendekat pada Siena lagi.
‘’Stop! Tetaplah di tempatmu, jaga jarak dariku.’’ Ucap Siena menghentikan langkah Daren. Pria itu berhenti sejenak dan kembali melanjutkan langkahnya.
‘’Ku bilang stop Daren, apa kau tak punya telinga, apa kau tak bisa mendengar sekarang?’’
‘’Aku bukannya tak punya telinga tapi aku hanya tak mau jauh darimu.’’ Daren tersenyum, menarik Siena ke pelukannya, memeluk wanita itu dengan erat tak peduli walau Siena memberontak.
Bahkan Daren sama sekali tak melepaskan pelukannya walau Siena menarik keras rambutnya dan kembali menginjak kaki Daren.
Bukannya tak sakit, Daren hanya berusaha menahan rasa sakit itu, baginya rasa sakit itu tak seberapa jika mengingat kehidupannya tanpa wanita itu.
‘’Aku merindukanmu sangat merindukanmu.’’ Ucapnya dengan nada sendu dan terdengar penuh penyesalan dan rasa takut, tapi Siena sama sekali tak peduli dan terus mendorong tubuh Daren, bukannya tak terpengaruh dengan ucapan itu, Siena hanya membentengi dirinya untuk tak lagi terbuai dengan kehadiran pria yang dulu pernah menyakitinya dengan sangat dalam itu.
Benar kata orang disakiti oleh seseorang yang begitu kau cintai memang terasa lebih menyakitkan.
‘’Aku tak butuh rindumu yang kubutuhkan sekarang adalah kau menjauh dan pergi dari hidupku.’’
‘’Aku bisa melakukan apapun yang kau inginkan tapi tidak dengan meninggalkanmu dan menjauh darimu.’’ Daren melepas pelukannya, melihat dalam pada netra hitam Siena.
‘’Seingatku dulu kau juga pernah mengatakan hal ini tapi apa buktinya, aku hanya menyuruhmu datang dan menjemputku malam itu tapi apa yang kau lakukan?’’ Siena menyindir dan memberikan senyum sinisnya, sebenarnya ia ingin sekali menangis mengingat hal itu tapi sebisa mungkin menahannya.
Daren kembali terdiam, menatap lekat wajah Siena, dia memang pria paling brengsek karena telah begitu menyakiti wanita yang sangat dicintainya.
‘’Hapus air matamu, aku sama sekali tak butuh penyesalanmu.’’ Ucap Siena saat melihat air mata yang mulai mengalir di wajah Daren, selama ini, setelah kehadiran Aaron dalam hidupnya Siena berpikir sudah bisa memaafkan perlakuan Daren di masa lalu tapi nyatanya setelah bertemu pria itu lagi sakit yang dulu dirasakannya kembali datang menyapa dan menghancurkan hatinya.
__ADS_1
Kehadiran pria itu kembali membuka luka hati yang berusaha ditutupnya.
‘’Maaf, maafkan aku.’’ Daren ingin memeluk Siena lagi tapi wanita itu menepis tangan Daren dan mendorong tubuh pria itu dengan sangat keras.
‘’Menjauhlah dariku, aku tak bisa bernafas legah jika kau berada didekatku.’’ Ucap Siena lalu berjalan ke ruang gantinya, wanita itu berniat meneruskan kegiatannya yang ingin mengganti pakaian dan menemui Steve.
‘’Mau kemana kau?’’ Tanya Daren melihat Siena yang keluar dari ruang gantinya, Siena tak menjawab, dengan santainya wanita itu berjalan, duduk di meja hias dan mulai merias wajahnya.
‘’Aku tak akan membiarkanmu pergi menemui pria itu.’’ Daren menarik tangan Siena, membawanya ke ranjang dan mengunci tubuh wanita itu dengan kaki dan tangannya sementara Siena terus memberontak meminta Daren melepaskannya.
Daren tak melakukan apapun, pria itu hanya ingin menahan Siena untuk tak menemui Steve.
Tok tok tok
‘’Mommy mommy buka pintuna.’’ si kecil Aaron merengek sambil mengetuk pintu kamar Siena.
‘’Daren lepaskan aku, putraku sedang memanggilku.’’
Siena memutar malas bola matanya tak peduli dengan ucapan Daren. ‘’Daren lepaskan aku, apa kau ingin Aaron terus merengek?’’
Daren pun melepaskan Siena, ia tak mungkin membiarkan Aaron merengek berteriak memanggil Siena.
‘’Mommy lama.’’ Aaron menampilkan wajah merajuknya membuat Siena gemas, wanita itu berjongkok.
‘’Mommy lama ya? Maaf ya udah bikin anak tampan mommy ini menunggu lama.’’ Ucap Siena tersenyum mengelus lembut pipi Aaron.
‘’Udah Alon tak malah lagi.’’ Aaron menarik tangan Siena, wanita itu berdiri dan mengikuti langkah Aaron.
‘’Kalian mau kemana?’’ Langkah keduanya berhenti, memutar kepala menghadap Daren yang berdiri dibelakang mereka.
__ADS_1
‘’Alon mau pelgi om, mau temu daddy.’’
Daren mendekat, ingin mencegah, ia tak akan membiarkan istri dan putranya terus bertemu pria yang bernama Steve itu.
‘’Aaron mau jalan-jalan sama om nggak?’’ Tanya Daren berharap Aaron mau ikut dengannya.
Berbeda dari harapan, Aaron malah menggeleng kepalanya. ‘’Alon mau temu daddy dulu besok aja jalan-jalannya.’’ Ucap Aaron kembali menarik tangan Siena.
Siena hanya diam, putranya itu memang sangat dekat dengan Steve, mungkin karena Steve lah yang selalu menemaninya, dulu sehari sekali Steve pasti akan kerumahnya untuk mengajak Aaron bermain kecuali saat ia memiliki kerjaan di LN, Steve juga sering membawa Aaron kelokasi pemotretannya saat Siena benar-benar sibuk di lokasi syuting.
Daren diam sejenak, hatinya kembali sakit menerima penolakan dari putranya, ia tak menyangka putranya akan lebih memilih bertemu Steve daripada menemaninya jalan-jalan.
Tadinya Daren berpikir walau baru bertemu setidaknya ikatan ayah dan anak akan membuat Aaron cepat terikat padanya, dan memang benar putranya itu memang tak menolak kehadirannya malah terlihat menyayanginya tapi ternyata posisinya itu masih kalah jauh dibanding Steve.
‘’Apa om bisa ikut kalian?’’ Ucap Daren pada akhirnya, pria itu berusaha sabar dengan apa yang terjadi, lagian semua itu adalah salahnya seandainya ia tak menyakiti Siena, wanita itu tak mungkin pergi dan Aaron tak mungkin memanggil daddy pada pria lain.
Siena merasa sedikit kasihan melihat wajah Daren tapi segera menepis perasaan itu, baginya tak perlu peduli dengan perasaan Daren karena apapun yang dialami oleh pria itu sama sekali bukan urusannya dan sama sekali tak penting baginya.
‘’Daddy.’’ Teriak Aaron berlari menghampiri Steve begitu mereka tiba di lokasi pemotretan.
Steve tersenyum menangkap Aaron dalam pelukannya sedang Daren menatap tak suka pada adegan itu.
‘’Siena kenapa nggak bilang kalau mau kesini?’’ Tanya Steve, Siena tak menjawab wanita itu hanya tersenyum, berbeda dengan Daren, pria itu memperlihatkan raut tak sukanya, menatap Siena dengan tatapan tajam.
‘’Oh ya ini siapa?’’ Tanya Steve pada Siena sambil menunjuk Daren dengan satu tangannya.
‘’Oh dia mantan bosku dulu, itu omna Alon daddy.’’ Ucap Siena dan Aron bersamaan, tentu saja Daren tak suka mendengarnya bagaimana bisa ia mendapat penolakan dari istri dan anaknya di hadapan seorang pria asing?
Siena senang melihat wajah kesal Daren, ia memang sengaja ingin membuat pria itu kesal agar pria itu segera menjauh darinya.
__ADS_1
Bersambung.....