
‘’Kemana mereka, kenapa belum kembali juga?’’ Daren uring uringan di depan rumah Siena, matanya tak lepas dari pintu gerbang rumah itu.
15 menit kemudian
‘’Dari mana saja kau, kenapa baru kembali sekarang?’’
Siena tak langsung menjawab, wanita itu melihat langit dengan warna yang sangat cerah dan matahari yang bersinar terang.
‘’Kau lihat.’’ Siena menunjuk langit. ‘’Matahari saja masih seterang itu.’’ Ucap Siena dan berlalu meninggalkan Daren, bahkan tak sampai dua jam Siena pergi bersama Steve tapi Daren sudah kalang kabut dibuatnya.
‘’Aku mau ngomong sama kamu.’’ Ucap Daren, menarik tangan Siena menuju kamar dan mengunci pintu kamar itu dari dalam.
‘’Apa yang kau lakukan, kenapa kau mengunci pintunya?’’ Siena berniat membuka pintu lagi dan keluar dari kamar.
‘’Maaf.’’
Satu kata itu berhasil menghentikan langkah Siena, wanita itu membalik badannya, di depannya ia melihat dengan jelas dan dengan mata kepalanya sendiri seorang Daren Hansel sedang berlutut dan meminta maaf padanya.
‘’Apa yang kau lakukan?’’
‘’Aku tak tau lagi harus melakukan apa Siena, tolong maafkan aku sekali ini saja dan kumohon jangan tinggalkan aku untuk pria lain, baik Steve atau siapapun itu, aku janji aku akan memperlakukanmu dengan baik, menuruti semua kemauanmu dan jika kau belum memaafkanku kau bisa membalasku seumur hidupku, kau bisa melakukan apapun padaku, apapun yang mau asal kau selalu disisiku bersamaku.’’ Mohon Daren.
‘’Daren berdiri, apa yang kau lakukan?’’ Siena sedikit risih dengan tingkah Daren itu, semarah apapun tetap saja dia tak ingin Daren melakukan hal itu didepannya.
‘’Bagun sekarang, kita bicara baik-baik.’’ Siena sedikit menarik tubuh Daren untuk berdiri.
‘’Baiklah apa yang mau kau bicarakan, aku akan mendengarkannya.’’ Ucap Siena, sekarang keduanya sudah duduk di sofa dengan saling berhadapan.
‘’Hhmm, begini, hhmm aku bingung harus mulai dari mana, tapi satu yang pasti aku nggak mau kehilangan kamu lagi, aku nggak mau jauh dari kamu lagi, Siena mungkin kau beranggapan aku sedang membual tapi aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa kau dan Aaron, aku juga nggak tau sejak kapan perasaan ini muncul tapi disaat kau kau pergi disaat itu juga aku sadar bahwa aku sudah sangat-sangat mencintaimu, aku mohon beri aku satu kesempatan saja dan aku janji nggak akan membuatmu kecewa dan sakit hati lagi.’’
__ADS_1
Siena melihat dalam pada Daren, matanya menampilkan ketulusan tanpa adanya kebohongan dari setiap ucapannya.
‘’Lalu kenapa kau memilihnya malam itu?’’
‘’Mungkin akan terdengar seperti sebuah alasan, tapi kau tau disana Monika hanya tinggal sendirian tanpa keluarganya, hari itu aku datang kerumahnya, aku ingin mengatakan bahwa aku memilihmu dan tak lagi memiliki perasaan apapun padanya." Daren menjeda ucapannya.
"Saat tiba di apartemennya aku melihat Monika pingsan dengan darah yang sangat banyak di area selangkangannya, saat itu aku sangat panik, nggak tau harus berbuat apa, aku membawanya ke rumah sakit, sungguh malam itu bukannya aku nggak mau nemuin kamu tapi saat itu Monika baru saja keguguran, ia perlu seseorang disampingnya untuk merawat dan sedikit menghiburnya.’’ Ucapnya dengan nada sendu dan penuh penyesalan sedang di depannya Siena sudah terlihat syok, wanita itu berpikir Daren menghamili Monika.
‘’Jadi kau dan Monika.’’ Ucapannya terjeda. ‘’Jadi waktu itu kalian juga akan memiliki anak?’’ tanyanya.
Dengan cepat Daren menggeleng kepalanya dengan dua tangannya terbuka didepan dada bergerak kekiri dan kekanan.
‘’Sungguh aku sama sekali nggak pernah melakukan apapun dengannya, itu bukan anakku tapi anaknya bersama kekasihnya yang aku nggak tau siapa karena Monika memiliki kekasih lebih dari satu.’’
‘’Kau yakin kau tidak sedang membohongiku, kau yakin tidak pernah melakukannya dengan Monika, kau yakin itu bukan anakmu?’’ Siena menunjuk wajah Daren, sedikit tak percaya dengan ucapan pria itu yang mengatakan tak pernah menyentuh Monika, apalagi penampilan Monika begitu menggoda iman setiap pria yang melihatnya.
‘’Jangan berpikir yang tidak-tidak, kau hanya perlu percaya pada ucapanku.’’
‘’Jangan melihatku seperti itu.’’
Siena mencibik kesal mendengar ucapan Draen, berniat berdiri tapi Daren mencekal tangannya.
‘’Apa kau sudah memaafkanku?’’
‘’Aku nggak tau bisa memaafkanmu atau tidak, kau tau malam itu perasaanku sangat hancur, aku merasa hatiku sangat sakit, setiap harinya bebanku terus bertambah dan kau terus saja membuatku terluka hingga aku tak bisa menahannya lagi."
"coba kau pikirkan hari itu aku mengetahui tentang kehamilanku, aku bahkan nggak tau harus bahagia atau sedih, aku ingin memberitahumu tapi aku juga takut kau tak mau menerima anakku, aku memutuskan untuk memberi tahu orang tuamu tapi sebelum aku memberitahunya kau lebih dulu menelponku dan meminta bertemu."
"Aku menunggumu tapi kau tak kunjung datang, aku keluar dari cafe dan ditabrak motor, saat itu aku juga merasa sendirian Daren, nggak ada orang untuk tempatku mengadu rasa sakit yang kurasakan, saat itu aku membutuhkanmu tapi kau dengan teganya memilih wanita itu saat aku benar-benar membutuhkanmu disisiku.’’
__ADS_1
Ucapnya dengan berderai air mata tak tahan lagi menahan tangisnya, wanita itu kembali merasakan rasa sakit yang dirasanya hari itu, sungguh perasaannya sangat hancur, dunianya seakan runtuh dalam sekejap, untung Tuhan menghadirkan Aaron dalam hidupnya hingga sedikit demi sedikit Siena bisa bangkit dari keterpurukannya.
‘’Maaf, maafkan aku.’’ Ucap Daren memeluk tubuh Siena, keduanya menangis dengan posisi Daren memeluk Siena.
‘’Mommy mommy mommy.’’ Teriak Aaron dari balik pintu.
Dengan cepat Siena mengusap air mata di wajahnya, berlari masuk kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
‘’Daddy, mommy mana?’’ Tanya Aaron melengos masuk ke dalam kamar.
Tentu saja Daren tak menjawab, pria itu sedang sibuk dengan pikirannya, apa benar tadi Aaron memanggilnya daddy atau dia salah mendengarnya karena terlalu mengharapkannya?
‘’Daddy, mommy mana?’’ Tanya Aaron lagi
‘Hhmm mommymu__.’’ Daren gelagapan, otaknya tak bisa berpikir dengan baik karena apa yang diucapkan Aaron.
‘’Mommy disini sayang.’’ Ucap Siena keluar dari kamar mandi.
Siena berjongkok untuk memeluk Aaron, pria kecil itu sama sekali tak membalas pelukan Siena dan malah mendorong tubuh Siena, melihat mata Siena yang sembab seperti habis menangis.
‘’Mommy nangis?’’ Tanyanya, tak lama ia melihat Daren dengan tatapan tajamnya. ‘’Kenapa daddy bikin mommy nangis?’’ Ucapnya berkacak pinggang di depan Daren.
Daren masih tak menjawab, ia bingung kenapa Aaron bisa tiba-tiba memanggilnya daddy? Apa dia sedang berhalusinasi?
‘’Daddy kenapa tak jawab Alon?’’ Ucap pria kecil itu dengan nada marahnya.
Siena menahan tawanya melihat Aaron yang memarahi Daren dengan wajah imutnya.
bersambung.....
__ADS_1
Selamat Daren Aaron sudah memanggilmu daddy, sekarang aku tinggal berusaha keras untuk menakulukan mommynya hehhe, jangan lupa like dan komennya ya.