
Sejam sebelum makan siang, Siena mendapat beberapa panggilan telepon dari Daren tapi Siena sama sekali tak mengangkatnya. Siena juga membaca beberapa chat dari Daren dan Siena pun tak membalas chat itu.
[Keruanganku sekarang juga]~Mr Arrogant
Beberapa kali Daren mengirimkan pesan yang sama pada Siena.
‘’Siena, berani sekali kau tak mengangkat teleponku dan tak membalas chatku.’’ Geram Daren memandang layar ponselnya yang berisi pesannya pada Siena yang tak kunjung mendapat balasan.
Sementara Siena sedang berjalan menuju kantin karyawan bersama Ami.
‘’Ups nggak sengaja.’’ Amel, Silvia dan Sherly menabrak tubuh Siena dan Ami sampai keduanya meringis kesakitan.
‘’Kalian apa-apaan sih?’’ Ami menghampiri dan hendak menampar tapi ditahan Siena.
‘’Tenang Am, kita balas mereka dengan cara lebih memalukan.’’
Bisik Siena sedang ketiga wanita itu memperlihatkan ekpresi mengejeknya pada Siena dan Ami dan dengan gaya yang centil berlalu dan duduk di satu meja kosong.
Siena menatap punggung mereka sambil tersenyum sinis lalu mengajak Ami duduk di meja kosong tak jauh dari ketiga wanita itu.
Tak lama Siena berdiri saat melihat Sherly sudah selesai memesan makanannya.
Siena menghampiri penjual tempat dimana Sherly memesan makanan lalu membisikan sesuatu pada penjual itu.
Dari mejanya Siena memperhatikan ketiga wanita itu tak lama datanglah pesanan mereka.
‘’Am lihat deh bentar lagi akan ada pertunjukan yang menghibur.’’ Siena menunjuk dengan dagu ke arah 3 wanita itu.
‘’Awh pedas…pedas...pedas.’’ Ketiganya berteriak menjulurkan lidah masing-masing dan mengipasnya dengan menggunakan tangan lalu mengambil minuman, lagi secara kompak mereka memuntahkan minuman itu. ‘’Asin banget sih.’’ Ucap ketiganya lagi dengan kompak.
Melihat itu Ami tersenyum pada Siena sedang Siena mengangkat jempol kanannya dan menunjuk dirinya sendiri dengan satu alis yang terangkat.
‘’Tunggu bentar Am masih ada part 3-nya.’’ Siena berdiri membawa satu mangkok bakso dan sambal botolan yang sudah dipindahkannya kedalam mangkok kecil.
Siena berjalan mendekati ketiga wanita itu, hampir sampai dan…
‘’Bruk Siena hampir terpeleset dan menjatuhkan makanan dan sambal yang tadi dibawanya hingga mengenai rambut dan pakaian ketiga wanita itu.
Siena mendekat dan dengan wajah pura-pura dan bersalahnya.
__ADS_1
‘’Maaf, maaf ya aku nggak sengaja.’’ menggunakan tangannya Siena pura-pura berniat membersihkan kotoran bakso dan sambal pada tubuh mereka tapi bukannya bersih tubuh mereka malah bertambah kotor.
‘’Kamu sengaja kan?’’ Ucap Amel pada Siena.
‘’Aduh akting ternyata capek juga ya.’’
Siena mengambil tisu untuk memberisihkan tangannya setelahnya tersenyum pada ketiga wanita itu.
Siena berdiri dengan satu tangan didepan dada dan dengan santai memainkan jari-jari tangan yang satunya lagi seperti orang sedang berhitung.
‘’Enak nggak dikerjain?’’ Tanya Siena santai.
Silvia hendak berdiri dan menjambak rambut Siena tapi Siena sudah lebih dulu menendang betis belakang Silvia hingga wanita itu terduduk kembali.
‘’Jangan menyentuhku atau aku tak segan-segan mematahkan tanganmu itu.’’ Ancam Siena tapi ketiga wanita itu sama sekali tak peduli dan dengan kompak berdiri berniat menyerang Siena.
Bukannya menghentikan pertikaian, para karyawan malah dengan senang hati menonton pertikaian itu.
‘’Auh beraninya keroyokan.’’ bukannya takut Siena malah bercanda dan dengan cepat tangan Siena menarik rambut Silvia.
‘’Sakit nggak?’’ Siena melihat wajah Silvia yang sedang meringis kesakitan lalu beralih menatap Sherly dan Amel. ‘’Kalian mau juga seperti ini?’’
‘’Astaga kau tega sekali memukul temanmu sendiri.’’ Siena menatap Amel lalu Silvia. ‘’Apa pipimu sakit?’’ Tanyanya pura-pura iba.
‘’Ada apa ini?’’ Suara bass itu mengalihkan perhatian semua orang.
Ketiga wanita itu menghampiri Daren dan mengeluh tentang kelakuan Siena.
Daren memandang Siena dan ketiga wanita itu secara bergantian, ingin sekali Daren tertawa melihat penampilan ketiga wanita itu yang terlihat acak-acakan karena ulah Siena.
‘’Siena ikut keruangan saya sekarang.’’ Daren menatap Siena dengan tatapan dinginnya membuat ketiga wanita itu kesenangan.
‘’Nona Siena memang adalah versi wanita dari tuan Daren.’’ Guman Akbar lalu menyusul Daren dan Siena yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu.
Diruangan Daren.
Siena masuk dan dengan santai mendudukan tubuhnya di sofa ruangan itu.
‘’Siena kenapa kau suka sekali berkelahi?’’
__ADS_1
‘’Aku tak berkelahi hanya memberi mereka sedikit pelajaran agar kedepannya tak lagi bersikap seenaknya dan kalau aku diam saja mereka akan berpikir bahwa aku takut pada mereka.’’
‘’Hahaha kau itu menggemaskan sekali.’’ Dengan tiba-tiba Daren mengecup bibir Siena.
‘’Kau apa-apaan sih?’’
‘’Tadi ada sambal di bibirmu jadi aku membantu menghilangkannya.’’
‘’Ngeles aja kayak bajai, lagian aku sama sekali belum makan jadi mana mungkin ada sambal dibibirku.’’
‘’Kau belum makan siang kan? Yaudah makan dulu.’’ Daren membuka beberapa jenis makanan yang ada di mejanya sedang Siena menatap Daren dengan ujung matanya.
‘’Ada apa ini? Tumben kau bersikap baik padaku, apa kau menaruh racun di makanan ini?’’
Daren menyentil kening Siena. ‘’Aku suamimu jadi tak mungkin aku membunuhmu.’’
Siena menatap Daren dengan tatapan sinisnya. ‘’Cih…. Bukannya dulu kau sering mengatakan ingin membunuhku bahkan kau hampir benar-benar membunuhku 4 kali yang pertama kau menggantungku dengan meletakan ular, yang kedua tengah malam kau menyiramku dengan air yang begitu dingin sampai tubuhku bergetar, yang ketiga kau menurunkan aku di jalanan sepi sampai membuatku pingsan dan masuk rumah sakit dan yang keempat kau menyiramku dengan air panas sampai kulitku melepuh dan tak sadarkan diri selama beberapa hari. Jangan tersinggung aku hanya mengingatkanmu karena sepertinya kau sudah melupakan apa yang kau lakukan padaku.’’
Siena hendak berdiri tapi Daren mencegahnya dan memeluk tubuh Siena dari belakang.
‘’Maaf kalau dulu aku adalah pria yang jahat dan suami yang kejam untukmu tapi mulai sekarang aku janji akan menebus semua itu dan memperlakukanmu dengan baik.
Siena berbalik menatap Daren. ‘’Hei apa yang terjadi denganmu, kenapa kau bersikap seperti ini, kau membuatku takut, kata orang biasanya saat orang kejam berubah baik secara tiba-tiba itu tandanya umur mereka tak panjang lagi.’’
Daren menyentil kening Siena sekali lagi. ‘’Kau itu, aku sedang serius dan kau malah mendoakan supaya aku cepat mati.’’
Siena memegang keningnya. ‘’Pemikiranmu buruk sekali, memangnya kapan aku mendoakanmu cepat mati, aku kan hanya mengatakan kata orang dan bukan kataku.’’
Daren tersenyum ikut mengelus kening Siena. ‘’Apa sakit?’’
‘’Yaiyalah sakit kau pikir keningku tembok yang tak akan merasa sakit saat disentil?’’
Cup
Daren mengecup lama kening Siena. ‘’Apa sakitnya sudah hilang?’’ Tanya Daren lagi.
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya....