
‘’Akbar menurutmu apa aku harus membuka cabang perusahanku di negara ini?’’
Daren membuang nafasnya kasar, memutar kepalanya menghadap jendela mobil untuk melihat indahnya lautan disepanjang jalan yang mereka lalui.
ditengah kegalauannya seulas senyum mampir dibibirnya, mengingat Siena yang begitu menyukai pantai tapi takut untuk di ajak berenang, bahkan dulu ia pernah mengerjai Siena dengan membawanya ke tengah laut.
‘’Apa dia masih seperti itu?’’ Guman Daren
Daren memalingkan kembali wajahnya dan melihat Akbar yang duduk di kursi depan samping pengemudi. ‘’Akbar apa kau sudah melakukan apa yang kuperintahkan?’’
Akbar mengangguk. ‘’Sudah tuan, saya sudah membeli sebagian saham atas nama tuan kecil Aaron.’’
Dua hari yang lalu Daren meminta Akbar membelikan saham di perusahaan hiburan terbesar di negara itu atas nama Aaron putra kesayangannya.
ia melakukan itu untuk berjaga-jaga agar nanti kedepannya tak ada yang berani mengusik karir Siena jika memang wanita itu memilih untuk tinggal dan menetap di negara itu.
Pria itu juga berjanji akan berinvestasi dalam jumlah yang besar di perusahaan hiburan itu dan semuanya dilakukan untuk kesuksesan karir Siena tapi sebelumnya Daren meminta agar pihak perusahaan menyembunyikan identitasnya sebagai investor terbesar, Daren sengaja karena takut Siena marah.
‘’Siena apa hari ini aku bisa membawa Aaron keluar bersamaku?’’ Tanya Daren.
‘’Sepertinya nggak bisa soalnya aku akan membawanya ke rumah Steve.’’ Jawab Siena santai.
Daren tak berkata apa-apa lagi, pria itu hanya mengangguk dan tersenyum, mengambil ponsel dari saku jasnya dan diam-diam memotret Siena yang duduk bersila sambil sesekali tersenyum pada layar ponselnya.
‘’Hallo Steve ada apa?’’ Taya Siena saat mengangkat panggilan telepon.
‘’Kau yang berulang tahun kenapa kau menanyakan apa yang aku inginkan?’’ Siena tertawa kecil, berdiri dan memasuki kamarnya sedang Daren hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun.
Pria itu berpikir apa Siena sudah benar-benar melupakannya, apa wanita itu sudah jatuh cinta pada Steve, jika benar begitu lalu apa yang harus dilakukannya?
ia memang berjanji akan menerima semua keputusan Siena nantinya tapi ternyata semua tak segampang pemikirannya, nyatanya hanya melihat Siena berbicara di telepon dengan seorang pria sambil tertawa ceria sudah membuat hatinya begitu sakit.
Untuk sedikit menenangkan pikirannya, Daren melangkahkan kakinya menuju kamar si kecil, setidaknya melihat dan mendengar tawa pria kecil itu bisa sedikit menghiburnya.
__ADS_1
‘’Om Dalen kapan datangna?’’ Tanya Aaron dengan matanya yang fokus pada permainan barunya.
‘’Baru aja, tadi om Daren ngobrol sama mommymu dulu.’’
Daren tersenyum, mengusap kepala Aaron saat pria kecil itu diam, matanya fokus dengan tangannya yang sibuk mengutak ngatik rubik yang ada dalam genggamannya.
‘’Mau om ajarin nggak caranya?’’ tawar Daren yang langsung mendapat gelengan kepala dari Aaron.
‘’Daddy bilang Alon halus buat sendili bial jadi pintal.’’
Daren terdiam ternyata posisinya dihati istri dan putranya sudah diambil alih dengan baik oleh pria bernama Steve.
Tak lama terdengar suara pintu dibuka, Daren melihat Siena berjalan masuk kamar itu.
‘’Sayang mainnya udah dulu ya, kita mau kerumah daddy.’’ Ucap Siena yang tak digubris Aaron.
‘’Oh jadi kamu nggak mau ikut ke rumah daddy, ya udah kalau gitu biar mommy pergi sendiri aja.’’ Ucap Siena lagi.
‘’Alon mau temu daddy mommy.’’ rengeknya yang langsung membuat Siena tersenyum, berbeda dengan Daren yang kembali merasakan sakit didadanya, pria itu merasa seperti orang asing dalam keluarga kecil itu.
‘’Om Dalen ikut ta?’’ Tanya Aaron melihat Daren, Siena juga melihat Daren tapi wanita itu berharap Daren tak ikut dengan mereka.
Daren pun sadar akan arti tatapan Siena padanya, pria itu dengan cepat menggeleng dan mengatakan bahwa ia sedang memiliki pekerjaan penting yang tak bisa ditinggalkan.
‘’Aku pulang dulu ya.’’ Pamit Daren melewati Siena begitu saja, wanita itu berbalik menatap punggung Daren dengan wajah bingungnya.
apa yang terjadi pada pria brengsek itu? Kenapa seharian ini dia bersikap aneh dan tak seperti biasanya, bukan tanpa sebab Siena berpikir seperti itu, pasalnya dari tadi Daren lebih banyak diam dan bahkan menerima apapun yang dikatakannya.
Hampir malam Siena dan Aaron sampai di rumah Steve, wanita itu menata birthday cake di atas meja makan Steve, tak lupa Siena meletakan lilin angka 32 di atas cake itu.
‘’Happy birthday.’’ Teriak Siena, Aaron dan beberapa teman Steve secara bersamaan saat pria itu masuk ke rumahnya.
Steve berjalan menghampiri, mengucapkan terimakasih pada Siena dan semua yang hadir, setelah meniup lilin, Steve mengambil sepotong kue dan menyuapkannya pada Siena dan Aaron secara bergantian.
__ADS_1
‘’Siena ada yang ingin kubicarakan.’’ Ucap Steve saat Siena akan kembali pulang kerumahnya.
‘’Apa kita bisa membicarakannya besok?’’ Siena sambil menggendong Aaron yang sudah tertidur lelap.
‘’Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang.’’
Tak seperti biasanya, kali ini Siena menolak tawaran Steve, sejak berita pernikahannya di ketahui oleh banyak orang, ia merasa tak baik baginya untuk terus jalan berdua bersama Steve, nanti apa yang akan dipikirkan orang tentangnya, wanita itu hanya menjaga agar nantinya tak ada gosip miring tentangnya.
Sementara tanpa sepengetahuan Siena, tadi Daren diam-diam mengikuti mobil wanita itu, dan dari tadi juga Daren menunggu di mobilnya sambil memperhatikan rumah Steve.
Sesungguhnya pria itu sedikit gelisah saat melihat beberapa orang keluar dari rumah Steve tanpa Siena dan Aaron, mulutnya terus berkomat kamit entah apa yang dilakukan wanita itu, kenapa ia tak langsung keluar bersama teman-temannya yang lain, semoga saja Siena tak melakukan hal aneh didalam rumah itu.
Matanya terus tertuju pada pintu rumah, setelah hampir 10 menit akhirnya Siena keluar juga dengan diikuti Steve disampingnya sambil menggendong Aaron yang sedang tertidur.
Steve mengantar keduanya sampai masuk ke mobil, Daren pun kembali mengikuti mobil Siena saat mobil itu mulai meninggalkan lokasi rumah Steve.
‘’Daren.’’ Guman Siena saat tak sengaja melihat mobil Daren saat wanita itu melihat ke belakang mobilnya.
Saat hendak memasuki rumahnya Siena kembali melihat mobil Daren, wanita itu berpikir ada yang akan disampaikan Daren padanya tapi ternyata dugaannya salah, mobil Daren mulai melaju meninggalkan lokasi rumahnya.
Siena tersenyum tipis, apa diam-diam pria itu mengawasinya?
Wanita itu tak keberatan untuk itu asal Daren tak mengganggu hidupnya seperti dulu yang sering dilakukannya.
*****
‘’Ha apa, kenapa kau tak mengatakannya padaku, kenapa kau menerima tawaran iklan itu, kau tau kan aku takut jika harus syuting di dalam air.’’
Siena marah pada asistennya, sudah sejak lama Siena mengingatkan untuk tak menerima tawaran yang mengharuskannya mencebur dirinya di kolam atau pun laut, tapi sekarang dia harus syuting di tengah laut untuk sebuah brand minuman.
di bagian awal mereka akan syuting dengan menggunakan kapal setelahnya Siena diminta untuk terjun dari atas kapal.
Bersambung.....
__ADS_1