Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Upaya Daren


__ADS_3

‘’Kamu kenapa ikut turun?’’ Ucap Siena begitu mereka tiba di depan rumah Siena.


‘’Ya masuklah, emang mau ngapain lagi.’’


‘’Nggak usah, besok aja udah malam ini, lagian hotel tempatmu menginap nggak jauh kan dari sini?’’


‘’Hotelnya penuh jadi aku nggak nginap disana.’’ Ucapnya cuek, mengambil alih Aaron yang sudah tertidur dalam gendongan Siena, malam ini rencananya gagal total karena Aaron yang sudah keburu tidur.


*****


‘’Kamu kenapa kesini?’’ Tanya Siena melihat Daren dari pantulan cermin sedang dirinya sibuk membersihkan makeup yang hampir seharian menempel di wajahnya.


‘’Perlu bantuan nggak?’’ Tanya Daren mendekat.


‘’Nggak, mending kamu keluar aja deh aku udah ngantuk banget mau tidur.’’ Ucapnya yang kini berdiri dan mendorong kecil punggung Daren agar keluar dari kamarnya.


‘’Mau ditemani nggak?’’


‘’Nggak Daren.’’ Ucap Siena dengan nada malasnya.


‘’Emangnya kamu nggak takut apa tidur sendiri, kalau ada setannya gimana?’’


‘’Udah biasa, lagian disini nggak ada setan kalaupun ada yang harus ditakuti itu bukan setan tapi kamu.’’ Ucapnya lalu kembali mendorong Daren hingga keluar kamarnya, Siena ingin mengunci pintu tapi kaki Daren sudah lebih dulu berada di sela pintu.


‘’Mau apa lagi Daren, aku capek.’’ Ucap Siena dengan nada lembut namun penuh penekanan.


‘’Yaudah kalau capek kamu tidur aja, aku cuman mau numpang buang air bentar kok.’’ Ucapnya langsung mendorong pintu kamar Siena dan dengan langkah cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Siena tak punya tenaga lagi untuk berdebat atau bertengkar dengan Daren, saat ini tubuhnya benar-benar lelah dan butuh istirahat, kalau diibaratkan baterai ponsel mungkin sekarang energi Siena hanya tersisa 5%.


Sementara Daren menempelkan telinganya dipintu kamar mandi, memperkuat pendengaran untuk mengetahui apa yang dilakukan Siena, apa wanita itu sedang mengomel atau?


‘’Keluar nggak ya?’’ Tanya Daren pada dirinya sendiri, melihat jam pada pergelangan tangannya, sepertinya baru 5 menit berlalu, ia mengurungkan niatnya untuk keluar karena tak ingin Siena mengusirnya dari kamar itu

__ADS_1


Daren terus melihat jam di pergelangan tangannya, akhirnya satu jam terlewati, pria itu kembali menempelkan telinganya di pintu, mencoba mendengar suara dari luar kamar mandi.


‘’Sudah tidur belum ya? Lebih amannya tambah satu jam lagi deh.’’ Ucap Daren memutuskan.


Satu jam kemudian, dengan pelan Daren membuka pintu kamar mandi, seperti seorang pencuri ia mengendap-ngendap menghampiri ranjang Siena.


‘’Yes.’’ Teriaknya dalam hati saat melihat Siena sudah terlelap, perlahan tapi pasti Daren naik keatas ranjang, mencari posisi tidur yang bagus agar tak mengganggu tidur Siena.


Dengan pelan Daren menarik tubuh Siena kedalam pelukannya, wanita itu sedikit menggeliat dan akhirnya memperlakukan Daren seperti duling, tangannya dilingkarkan di perut Daren dengan kakinya tepat berada diatas paha Daren.


Seperti biasa, Daren tak langsung tidur, pria itu kini memiliki kegiatan yang disukainya yaitu melihat dan memperhatikan wajah Siena kala wanita itu sedang tertidur lelap.


Senyum tak pernah pudar dari wajahnya, tangannya beberapa kali mengelus rambut Siena, bibirnya beberapa kali mengecup puncak kepala Siena, Daren bersyukur karena Siena merupakan tipe yang sulit untuk bangun kalau sudah tertidur.


‘’Aku tau kamu belum bisa menerimaku lagi tapi terimakasih karena tidak melarangku berada didekatmu.’’ Ucapnya lalu perlahan memejamkan matanya.


*****


Pagi sekali, pukul 04.00 dini hari, Daren bangun dari tidurnya, pria itu terlebih dulu mengecup kening Siena sebelum keluar dari kamar itu dan kembali ke kamar Aaron.


*****


‘’Dikamar Aaron, memangnya kenapa?’’ Tanya Daren dengan santainya, Siena mengangguk kecil dan kembali fokus pada sarapannya sedang Daren tersenyum tipis melirik Siena sekilas.


‘’Daddy itu punya Alon.’’ Protes Aaron saat Daren mengambil sepotong daging dari piringnya.


‘’Astaga kau ini kenapa pelit sekali sih?’’


‘’Bukan pelit daddy tapi daddy udah punya dipiling daddy jadi kenapa ambil punya Alon, kalau Alon nggak kenyang nanti Alon kelapalan nah kalau Alon kelapalan nanti Alon bisa sakit dan kulang konsentlasi, emang daddy mau Alon sakit, nggak kan? Jadi jangan ambil punya Alon, oke.’’ Ucapnya panjang lebar membuat Daren melongo karena memang dia belum terlalu banyak tau tentang putra kecilnya itu sedang Siena hanya tersenyum dengan kepala yang digelengkan.


‘’Sudah, sudah teruskan sarapan kalian.’’ Ucap Siena kalau nggak gitu kemungkinan perdebatan itu menjadi panjang, karena ia sangat tau sikap kedua pria itu. Bahkan menurut Siena Aaron kalau diikutkan lomba debat dengan orang dewasapun maka orang dewasa akan kalah darinya, pria kecil itu selalu punya banyak kata untuk mengalahkan lawan bicaranya.


*****

__ADS_1


‘’Wah Alon mau jadi sepelti itu nanti kalau besal.’’ Ucap Aaron heboh menunjuk layar tv yang menampilkan seorang pria tampan yang sedang duduk di meja kerjanya dengan beberapa dokumen di atas mejanya.


‘’Daddy juga kerjanya gitu.’’ Ucap Daren dengan nada sombongnya, Siena hanya melirik sekilas pada dua pria itu dengan kepala yang digelengkan lalu kembali melihat layar ponselnya.


‘’Masa sih, tapi tetap beda daddy.’’ Aaron menunjuk layar tv. ‘’Plia itu tampan sepelti Alon sedang daddy kan wajahnya pas-pasan.’’


‘’Aish kau selalu saja mengatakan wajah daddy pas-pasan, kau tau itu adalah argumen yang salah karena diluar sana begitu banyak wanita yang tergila-gila pada daddy.’’


‘’Itu kalena daddy kaya aja.’’ Ucap Aaron dengan santainya membuat Siena tertawa keras, pria kecilnya itu benar-benar luar biasa, pikirannya bahkan selangkah lebih maju dari anak-anak seumurannya.


‘’Aduh anak mommy kok pintar banget sih.’’ Ucap Siena mencium pipi kanan dan kiri Aaron sedang disamping Aaron Daren masih tak terima dengan ucapan putranya itu, sepanjang hidupnya untuk pertama kalinya ia mendengar ucapan itu dan lucunya ucapan itu keluar dari mulut putranya sendiri.


‘’Kau kenapa, kenapa wajahmu sesenang itu, apa kau sangat bahagia karena melihatku yang terus dihina oleh putraku sendiri?’’ tanya Daren mendekatkan dirinya pada Siena.


‘’Kua bicara apa sih, mana ada seperti itu.’’ Ucap Siena membela diri.


Tttrrriing tttrriiing ttrriiing


Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar dering telepon dari ponsel Siena.


‘’Hallo iya ma.’’ Ucap Siena begitu mengangkat panggilan telepon.


‘’Ha! mama di bandara sekarang, kenapa nggak kasih tau Siena dulu kalau mau datang.’’ Ucap Siena kaget, wanita itu sampai berdiri dari duduknya.


‘’Baiklah Siena akan bersiap untuk menjemput mama.’’ Ucapnya lalu menutup panggilan telepon.


Melirik Daren yang duduk di sampingnya yang juga sedang melihatnya. ‘’Daren sebaiknya kau pulang sekarang.’’ Ucapnya menarik pergelangan tangan Daren.


‘’Loh pulang kemana, aku kan sudah bilang mau menginap disini soalnya hotelnya pada penuh.’’


‘’Kau kira aku bodoh, mana mungkin semua hotel penuh disaat yang bersamaan, sekarang kau pulanglah.’’


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya


__ADS_2