
Daren tersenyum mendengar jawaban Sania, tiba-tiba ia jadi merindukan adik nakalnya, Reva juga selalu berkata seperti Sania, saat ia menawarkan pekerjaan atau posisi tetap di perusahaan keluarga mereka.
‘’Yaudah tapi jangan sungkan kasih tau kakak kalau kamu butuh sesuatu, oke.’’
‘’Iya kak, yaudah kak Sania pamit dulu.’’
*****
‘’Mommy telepon daddy Alon mau ngoblol.’’ Pinta Aaron saat masuk ke kamar Siena, Siena pun langsung mengambil ponsel dan menelpon Daren.
‘’Hallo daddy, daddy dimana?’’
‘’Kamu tidur di kantor lagi?’’ Timpal Siena
Daren mengangguk, semakin dekat hari keberangkatannya semakin banyak juga pekerjaannya.
‘’Jangan tidur terlalu larut, kamu udah makan belum?’’
‘’Udah tadi, kalian mau kemana?’’ Tanya Daren melihat Siena yang sedang menggunakan pakaian keluarnya dan dengan menggunakan makeup tipis.
‘’Rencananya kami mau makan malam diluar.’’
‘’Sama siapa, sama Steve?’’
‘’nggak , jadi hari ini salah satu ART ada yang ulang tahun jadi rencananya aku ngajak semua orang rumah buat makan malam diluar, nggak ada Stevenya kok.’’
‘’Kirain aku, yaudah nanti aku transfer uangnya.’’
‘’Uang buat?’’
‘’Buat traktiran malam ini, aku kan kepala keluarganya jadi sudah sewajarnya kalau aku yang membayar semua pengeluaran malam ini.’’
‘’Beneran, owh yes.’’ Ucapnya kesenangan.
‘’Kalau udah ngomongin uang aja senyumnya lebar amat.’’
Siena tertawa kecil.
‘’Mommy kok jadi mommy yang ngomong sih, kan Alon yang suluh buat telepon daddy.’’ Protes Aaron dengan wajah manyunnya, dari tadi dia hanya duduk diam mendengarkan obrolan kedua orang tuanya.
‘’Oh astaga, mommy lupa, sorry sorry.’’ Ucap Siena mencium pipi Aaron dan memberikan ponselnya pada Aaron setelahnya ia keluar dari kamar membiarkan Aaron mengobrol dengan daddynya.
‘’Bik semuanya udah siap kan, setengah jam lagi kita pergi.’’ Ucap Siena pada ART yang berulang tahun.
‘’Kak aku nggak ikut ya.’’ Ucap Reva
‘’Loh kenapa?’’
‘’Aku mau pergi sama teman soalnya.’’
‘’Teman siapa?’’
__ADS_1
‘’Tetangga samping rumah kak, dia ngajak Reva ke birthday party temannya.’’
‘’Siapa, Laura?’’
Reva mengangguk
‘’Yaudah tapi pulangnya jangan terlalu malam ya, bisa gawat kalau kakakmu tau.’’
*****
‘’Terimakasih Ny makanannya enak.’’ Ucap para ART kompak.
Siena tersenyum. ‘’Aku yang seharusnya mengucapkan terimakasih, terimakasih untuk kalian semua karena sudah membantuku selama ini.’’
‘’Kan dibayar Ny.’’ timpal salah satu ART membuat Siena tertawa kecil.
‘’Tetap saja, kalian sudah banyak membantuku mulai dari menyiapkan sarapan, makan siang, makan malam, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengurus Aaron, membersihkan taman jadi sudah sepatutnya aku berterimakasih, dan malam ini makan dan pesanlah apa yang kalian inginkan, nggak usah pusing sama harganya, oke.’’
‘’Wah makan-makan besar kita malam ini.’’ Cerocos salah satu ART dengan girangnya.
Sementara di tempat lain ternyata Reva sedang berada di sebuah club malam, bukan keinginannya untuk kesana hanya saja Laura tak memberitahukan kalau birthday party itu akan dilakukan di club malam.
‘’Kamu kenapa?’’ tanya Laura karena Reva hanya duduk diam padahal mereka sedang berada di club.
‘’Aku nggak pa-pa kok.’’
‘’Yaudah kita kesana yuk.’’ ajak Laura tapi Reva menolaknya, pikirannya terus berputar wanita itu tak tenang, bagaimana kalau kakaknya tau dia berada ditempat itu? Habislah, pasti Daren akan mengurungnya dan tak mengizinkannya keluar rumah.
Reva tak menjawab, wanita itu menyuruh pria asing untuk menjauh dan tak mengganggunya, tentu saja pria asing itu tak mendengarkan, ia malah duduk disamping Reva dengan jarak yang sangat dekat, memeluk punggung Reva dengan satu tangannya.
Reva melotot tak suka dengan perlakuan pria asing itu, menyingkirkan tangannya dengan kasar.
‘’Apa-apaan sih nggak sopan banget.’’
‘’Ck sok jual mahal, mau kemana kamu?’’ Ucap pria asing itu saat Reva melangkah meninggalkannya, Reva hanya melirik sekilas dengan tatapan tak sukanya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
‘’Kau tak bisa keluar dari tempat ini sebelum melayaniku.’’
Reva berbalik, tertawa remeh. ‘’Melayani? Kau pikir kau siapa?’’
‘’Sombong sekali kau.’’ Ucap pria itu lagi menarik paksa tangan Reva, berniat membawanya ke lantai atas club, pria itu sudah memesan satu kamar disana.
‘’Lepasin brengsek.’’ Bentak Reva
‘’Mau dibawa kemana pacarku?’’ Ucap seorang pria menghampiri, melepaskan genggaman pria itu dari Reva dan memeluk punggung Reva dengan satu tangannya, sedang Reva hanya memandangnya tanpa suara.
‘’Bilang dong dari tadi kalau udah punya pacar.’’ Ucap pria itu dan meninggalkan Reva dan steve, tadinya Steve datang untuk bertemu dengan temannya tapi saat sedang berbincang dengan temannya ia tak sengaja melihat Reva sedang beradu argumen dengan seorang pria.
awalnya ia tak ingin ikut campur tapi setelah pria itu memaksa dan menarik Reva, akhirnya mau tak mau ia berdiri dan membantu Reva.
tanpa sepengetahuan mereka dari jarak tak jauh seseorang sedang memvideo kejadian itu, setelahnya ia pergi, berniat memberikan pelajaran pada pria yang sudah berani mengganggu Reva.
__ADS_1
‘’Kenapa pake pura-pura jadi pacar segala sih?’’
‘’Bukankah seharusnya kau mengucapkan terimakasih terlebih dulu?’’
‘’Untuk apa, aku kan tak meminta bantuanmu.’’ Ucapnya dan langsung melangkah meninggalkan Steve.
‘’Hei mau kemana kau, biar ku antar pulang.’’
‘’Nggak usah, nggak perlu.’’
‘’Jangan keras kepala ini sudah malam.’’
‘’Lagian siapa yang bilang pagi, tapi yaudah deh kalau kamu maksa, mobilmu mana?’’
‘’Siapa yang maksa?’’
‘’Udah deh, mobilnya mana, udah ngantuk banget nih.’’
Steve menggeleng, harusnya tadi ia tak menolongnya, tiba-tiba terbesit penyesalan dalam hatinya karena sudah menolong Reva.
****
‘’Kalian dari mana, kok kamu bisa pulang sama Steve?’’ Tanya Siena tapi dengan nada menggodanya.
‘’Di.’’ Steve ingin menjawab tapi Reva sudah lebih dulu menutup mulutnya. ‘’Tadi nggak sengaja ketemu di..di..di.. Oh di cafe.’’
‘’Cafe mana?’’
‘’Oh itu, Reva lupa kak nama cafenya.’’
‘’Çafe apaan orang kita ketemunya di club malam.’’ Ucap Steve membuat Reva kesal, wanita itu menginjak keras kaki Steve saking kesalnya.
‘’Rev kamu ke club?’’
‘’Nggak sengaja kak, Laura nggak bilang kalau birthday party nya di club.’’
‘’Kalau kakak kamu tau gimana?’’
Reva hanya diam, itulah yang dia takutkan, apalagi sebentar lagi Daren akan datang ke Munich.
Sementara di negara lain, pagi sekali Daren sudah mendapat kiriman Video dari bodyguard yang disuruhnya untuk menjaga Reva, matanya melotot, bangun dari tidurnya dan langsung menelpon Reva, tak peduli di Munich masih tengah malam.
Pagi harinya di Munich, Reva bangun, langsung melihat ponselnya, wanita itu langsung bangun dari tidurnya saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari sang kakak, ia melempar ponselnya saat kakaknya kembali menelponnya.
‘’Astaga bagaimana ini, apa yang harus kulakukan? Kakak ipar…kakak ipar…kaka ipar.’’ Teriaknya keluar dari kamar dan berlari ke kamar Siena.
‘’Kamu kenapa sih Rev, masih pagi udah bikin heboh aja.’’ Ucap Siena setengah mengantuk.
‘’Tolongin Reva kak.’’
Bersambung....
__ADS_1