Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Bertemu Daren


__ADS_3

‘’Pulang sekarang.’’ Daren menelpon Reva, hampir satu jam lalu bodyguart suruhannya mengatakan Reva sedang bersama Steve, dari tadi dia mensilent ponselnya jadi baru sekarang tau kalau Reva sedang bersama Steve.


‘’Kak.’’


‘’Pulang sekang Reva, apa kau mau membantah?’’ bentak Daren membuat Siena dan Aaron yang sedang berdiri di sampingnya ikut kaget karenanya.


‘’Pulang sekarang juga dan jangan berani-berani kau keluar rumah.’’ lalu Daren mengakhiri panggilan teleponnya.


‘’kau kenapa, kenapa tiba-tiba membentak seperti itu?’’ protes Siena tak suka, pasalnya mereka sedang bersama Aaron dan menurut Siena itu sama sekali tak pantas.


‘’Maaf aku terlalu emosi, maafkan daddy ya.’’ Daren mengelus kepala Aaron, pria kecil itu  hanya tersenyum sambil mengangguk kecil, tadi ia sedikit takut melihat daddynya yang tiba-tiba marah, menurutnya itu sangat menakutkan.


‘’Lihatlah wajahnya sedikit takut melihatmu.’’ Ucap Siena dan menenangkan Aaron agar pria kecil itu bisa kembali santai dan menikmati liburan mereka, Daren merasa sangat bersalah, mengambil Aaron dari pelukan Siena, mengajaknya bermain.


******


‘’Sebenarnya apa yang membuatmu marah tadi? Tanya Siena, keduanya kini sedang duduk santai sambil memperhatikan Aaron yang sedang bermain ditemani oleh baby sitternya.


‘’Reva bertemu Steve lagi, kau tau kan aku sama sekali tak menyukai pria itu.’’


‘’Memangnya apa yang membuatmu begitu membencinya padahal menurutku dia adalah pria yang baik dan bukankah seharusnya kau berterima kasih padanya, bagaimana pun pria itu yang selalu membantuku dan Aaron, menemani, melindungi kami, mungkin saja kalau saat itu aku tak bertemu dengannya aku dan Aaron akan mengalami banyak kesusahan tapi karena ada dialah kami merasa sangat bersyukur saat itu, jadi kumohon perlakukan dia dengan baik dan satu lagi menurutku kau tidak perlu khawatir tentang kami berdua karena sekarang kami benar-benar hanya sebatas teman, menurutku dia juga sudah benar-benar melupakanku dan sama sekali tak memiliki maksud lain untuk mendekati Reva.’’


‘’Sepertinya kau sangat mengenalnya.’’


‘’Tentu saja aku mengenalnya, kami menghabiskan banyak waktu bersama, dia ada di sampingku saat aku merasa begitu terpuruk dan selalu membantuku, memberikan dan mengusahakan yang terbaik untukku dan Aaron.’’


‘’Aku hanya takut kalau kalian akan kembali bersama dan kau akan meninggalkanku.’’


‘’Jika kau berbicara seperti itu, artinya kau sama sekali tidak mempercayaiku dan asal kau tau dia memang bersamaku, membantu merawat Aaron tapi bukan berarti aku menyukainya atau mencintainya, aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat yang sangat berarti untukku.’’

__ADS_1


‘’Tetap saja aku tidak bisa.’’


‘’Lalu apa kau akan menjadi seseorang yang egois lagi, sudah cukup kau menyakitiku saat itu jadi jangan sakiti Reva lagi hanya karena sikap egoismu itu, kalau mereka saling menyukai harusnya kau mensuportnya bukannya malah marah seperti ini, coba posisikan dirimu yang menjadi mereka, apa kau bisa menjalaninya? Tidak bisa bersatu dengan seseorang yang kau sukai hanya karena sikap egois seseorang itu sangat menyakitkan Daren.’’


Daren terdiam, merenungi ucapan Siena, memang benar apa yang dikatakannya hanya saja ia merasa masih tidak bisa menerima Steve, tapi apa dia akan mengorbankan kebahagian adik kesayangannya hanya karena rasa tidak sukanya pada Steve? Dulu ia selalu berpikir kebahagian Reva adalah segalanya tak peduli dengan siapapun Reva ia akan selalu merestuinya jika adiknya itu senang.


‘’Coba kau pikirkan baik-baik lagi apa yang kukatakan, kuharap kau tidak akan menyakitinya dan menyesal di kemudian hari.’’ lalu Siena berdiri dan menghampiri Aaron ikut menemaninya bermain dengan Daren yang masih bergelut dengan pikirannya.


‘’Daddy, daddy, daddy.’’ terik Aaron memanggil Daren sambil berlari menghampirinya.


‘’Daday ayo.’’ menarik tangan Daren untuk berdiri dan bermain dengannya.


Sementara di tempat lain, setelah mendapat panggilan telepon dari Daren, Reva langsung pamit pulang, awalnya nenek Steve belum mengizinkannya tapi Reva bersikeras, takut kalau Daren benar-benar akan meledak, tadi saja ia sudah sangat takut mendengar bentakan Daren yang sepertinya sudah sangat marah.


‘’Biar aku yang mengantarmu.’’ Steve menahan lengan Reva, Reva menggeleng, dia tak mau Daren bertambah marah lagi kalau tau Steve yang mengantarnya pulang.


‘’Tidak aku akan ikut denganmu, aku ingin bertemu dengan kakakmu dan membicarakan rencana pernikahan kita, aku akan menikahimu jadi tidak mungkin aku terus bersembunyi darinya.’’


‘’Tapi apa kau yakin, kau tau kan kakakku seperti apa?’’


Steve mengangguk ‘’tapi  aku tetap akan mencoba dan berusaha meluluhkannya, aku tidak ingin dia melampiaskan kemarahannya padamu, yang akan menikahimu adalah aku jadi sudah sepantasnya  aku mendampingimu dalam menghadapi kakakmu.’’


‘’Yasudah jika kau bersikeras, hanya jangan menyesal saja.’’


‘’Tekadku sudah bulat untuk menikah denganmu  jadi aku sama sekali tak akan menyesal walau kakakmu memukulku sekalipun.’’


‘’Diperjuangkan memang menyenangkan tapi apa aku harus senang, dia berjuang bukan karena benar-benar mencintaiku tapi semua itu dilakukannya untuk neneknya yang sedang sakit.’’ guman Reva yang tiba-tiba sedikit sedih.


Sesampainya dirumah, Reva langsung masuk dan membiarkan Steve ikut masuk bersamanya, keduanya menunggu Daren yang katanya akan pulang sedikit malam, Reva masuk ke kamar terlebih dulu untuk membersihkan dirinya setelah itu turun ke dapur dan meminta ART menyiapkan makan malam untuknya dan Steve.

__ADS_1


‘’Enak banget.’’ puji Steve tersenyum pada Reva sedang Reva hanya memandangnya dengan tatapan datar, menurutnya tidak ada yang istimewa dari makanan itu rasanya pun biasa saja.


‘’Kenapa wajahmu seperti itu?’’


Reva tidak menjawab, baginya lebih baik fokus pada makanannya dari pada harus meladeni obrolan Steve.


‘’Ini siapa yang masak, kok enak benget sih.’’ puji Steve lagi, Reva memutar bola matanya, menghadap Steve. ‘’nggak usah lebay deh.’’


‘’Siapa yang lebay sih, orang rasanya enak gini, atau?’’ sedikit menggantung ucapannya.


‘’Atau apa?’’ tanya Reva.


‘’Mungkin karena aku makan sama calon istri kali ya jadi rasanya lebih enak dari biasanya.’’


Reva kembali memutar bola matanya. ‘’Ih apaan sih, nggak ada hubungannya kali.’’


‘’Tapi buktinya udah aku rasakan sendiri loh ini.’’


‘’Udah ah nggak usah banyak omong, makan aja.’’ ucap Reva dan kembali melanjutkan makannya.


*****


Hampir jam 9 malam Daren, Siena, Aaron dan beberapa ART baru saja sampai, pasangan itu kaget melihat Reva dan Steve yang tertidur dengan posisi duduk di sofa ruangan tamu rumah itu.


Tau Daren marah, Siena menggenggam tangannya, tersenyum untuk sedikit menenangkannya, tadi Daren sudah berjanji akan memberikan kesempatan pada Steve asal pria itu benar-benar tulus pada Reva dan tidak memiliki tujuan lain yang dimaksudnya adalah tidak memiliki tujuan untuk mendekati Siena lagi.


‘’Steve, Rev, bangun.’’ Siena membangunkan keduanya sedang Daren sudah duduk di sofa, melihat keduanya dengan tangan yang disilangkan di depan dada.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2