
‘’Daren aku mau itu.’’ Siena heboh menunjuk satu makanan yang menarik perhatiannya, entah kenapa belakangan ini Daren sama sekali tak bisa menolak setiap keinginan Siena, dia akan merasa senang saat Siena senang bahkan beberapa kali timbul keinginan untuk selalu membahagiakan Siena.
Senyum tak pernah pudar di bibir Daren saat melihat Siena makan dengan begitu lahap dan bahagia, tanpa jijik Daren membersihkan bekas makanan di sudut bibir Siena.
‘’Apakah rasanya enak?’’ Tanya Daren berharap Siena menyuapinya tapi wanita itu hanya tersenyum dan dengan mantapnya menangguk pada Daren, Siena bahkan tak menawarkan makanan itu padanya.
‘’Apa kau tak berniat membagi makananmu padaku, kau pikir hanya kau yang lapar terus aku tidak.’’ Daren memperlihatkan wajah pura-pura kesalnya sedang Siena melongo baru menyadari dia hampir menghabiskan makanan itu sendirian.
Siena melihat tangannya yang sedang memegang makanan itu, tinggal satu suapan, dengan berat hati Siena menyuapkannya pada Daren.
Daren tersenyum, menggeleng kepalanya melihat Siena yang sedang menampilkan wajah sendunya tapi begitu menggemaskan di mata Daren.
‘’Apa kau menginginkannya lagi?’’ Tanya Dare yang langsung diangguki Siena lalu tersenyum begitu cerah, Daren langsung berdiri dari duduknya dan kembali membeli makanan yang diinginkan Siena.
‘’Makanlah, aku tak akan merebutnya lagi darimu.’’ Daren mengelus kepala Siena dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi memberikan makanan itu pada Siena.
‘’Terima kasih.’’ Siena mengambil makanan itu, kembali memakannya, tapi kali ini sesekali Siena menyuapi Daren.
‘’Daren makanan ini namanya apa? Kenapa enak sekali?’’ Tanya Siena dengan mulut yang penuh makanan membuat Daren terbahak seketika, sungguh Siena terlihat begitu menggemaskan.
Daren tak langsung menjawab malah menatap dalam wajah Siena, melihat mata bulatnya, hidung mungilnya, pipi yang sedikit chubby serta bibir yang masih dipenuhi makanan.
Dengan cepat Daren mengecup bibir Siena, tentu saja Siena langsung memprotesnya bagaimana tidak hampir saja dia keselek karena perlakuan Daren itu.
‘’Kenapa kau menciumku sih?’’ Kesal Siena sedang orang yang membuatnya kesal hanya cengengesan tak jelas.
‘’Habisnya aku tak tahan, kau begitu menggemaskan.’’ Daren menarik ujung hidung Siena membuat Siena menatap kesal padanya.
‘’Baru sadar sekarang? Dulu kemana aja.’’ Sindir Siena lalu meneruskan makannya sedang yang disindir hanya tersenyum sambil menggaruk ujung hidungnya.
‘’Daren kau tak menjawab pertanyaanku.’’
‘’Ah pertanyaan itu, apa aku harus menjawabnya?’’ Tanya Daren membuat Siena mengerutkan keningnya yaiyalah namanya juga pertanyaan jadi harus dijawab.
__ADS_1
Daren kembali menggaruk hidungnya tak tau harus mengatakan apa, sedang Siena masih serius menunggu jawaban Daren.
‘’Hhmm begini, dulu aku begitu membencimu jadi mungkin___”” siena lebih mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan Daren, jelas-jelas tadi ia bertanya tentang nama makanan yang sedang dimakannya tapi kenapa Daren malah membahas penampilan culunnya.’’
‘’Kau sedang membahas apa sih?’’ Tanya Siena tak mengerti
‘’Tadi kau menyuruhku menjawab pertanyaanmu, sekarang aku sedang berusaha menjawabnya.’’
‘’Mana ada kau menjawabnya, kau malah menyebutkan penampilan culunku, memangnya apa hubungan penampilan culunku dengan pertanyaanku tadi?’’ Tanya Siena semakin tak mengerti.
‘’Ada hubungannya dong karena itu adalah alasan utamanya.’’ Ucap Daren lagi sedang Siena semakin mengerutkan keningnya.
‘’Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan? Aku sama sekali tak mengerti kenapa penampilan culunku berhubungan sama nama makanan ini?’’
‘’Ha.’’ Ucap Daren sedikit keras
‘’Hhmm.’’ Refleks Siena membalas Daren
‘’Memangnya kau sedang membahas apa?’’ Siena bertanya balik, Daren langsung menggeleng
‘’Aku juga sedang membahas nama makanan itu hanya saja belum menemukan kata yang tepat untuknya.’’ Alasan Daren.
Siena mengangguk ‘’Lalu namanya apa?’’
Daren memperlihatkan barisan giginya pada Siena dan menggeleng kepala ‘’Aku juga tak tau apa namanya.’’
‘’Kau ini, kupikir kau tau namanya.’’ Protes Siena lalu berdiri dan mengajak Daren melanjutkan jalan-jalan mereka.
‘’Jalannya pelan-pelan dong.’’ Siena menghempaskan genggaman tangan Daren, niatnya ingin menikmati pemandangan tapi karena jalan Daren yang begitu cepat membuat Siena tak fokus lagi melihat pemandangan dan malah fokus mengejar langkah Daren, bahkan Siena hampir jatuh karena kesulitan mengejarnya.
‘’Aku jalan sendiri saja.’’ Siena mulai melangkahkan kakinya, Daren pun dengan sabar berjalan mengikuti Siena dibelakangnya.
‘’Kenapa aku jadi takut padanya sih?’’ Guman Daren.
__ADS_1
Tadinya Daren biasa saja tapi makin lama makin banyak pria yang menghampiri dan mengajak Siena kenalan, Daren menatap tak suka pada Siena karena wanita itu terus tersenyum pada setiap pria yang menyapanya.
‘’Lihatlah dia bisa tersenyum selebar itu pada pria lain tapi saat denganku dia selalu saja memperlihatkan wajah juteknya.’’ Protes Daren sambil berjalan mendekat pada Siena dan langsung menarik pinggang wanita itu seolah berkata Siena adalah miliknya.
‘’Daren lepaskan tanganmu aku susah berjalan.’’ Siena menggerak-gerakan badannya karena tak nyaman, bukannya melepaskan Daren malah mengancam Siena.
‘’Berjalan seperti ini atau aku akan menciummu sekarang juga.’’ Tentu saja Siena memilih diam dan meneruskan langkahnya, dia akan merasa sangat malu jika Daren menciumnya ditempat umum seperti itu.
Walaupun Siena tau di negara itu orang-orang bisa bebas berciuman dimana saja, hanya saja sebagai orang yang besar di indonesia membuatnya risih akan hal itu.
‘’Daren.’’ Dengan mata berbinar Siena menunjuk salah satu tokoh yang menjual berbagai macam cemilan bahkan wanita itu memaksa Daren masuk ke toko cemilan.
Siena mengambil keranjang belanja, mulai memilih beberapa jenis cemilan yang menarik perhatiannya.
‘’Wah sepertinya ini enak.’’ Siena berbinar melihat salah satu cemilan yang sangat menarik perhatiannya, Siena yakin rasa camilan itu akan enak karena bungkusnya juga bagus, entahlah pemikiran dari mana tapi Siena meyakini jika bungkusnya bagus maka rasanya juga enak.
sementara Daren menunggu Siena di kasir, alisnya terangkat saat melihat Siena membawa begitu banyak jenis cemilan.
‘’Bukankah tadi kau mengatakan sangat kenyang?’’
‘’Aku memang sangat kenyang tapi apa kau tau, bagi wanita makanan utama dan cemilan berada di lambung yang berbeda dan sekarang lambung khusus cemilanku masih kosong makanya aku membeli banyak.’’
Siena menyengir sedang Daren hanya menggeleng mendengar alasan Siena yang tak masuk akal menurutnya.
‘’kalau mau ngemil ya ngemil nggak usah pake bilang lambungnya ada dua juga kali.’’ Sindir Daren lalu mengambil alih keranjang belanja Siena dan menyerahkannya pada kasir.
Sehabis belanja Daren langsung mengajak Siena pulang, baginya sudah cukup mereka jalan-jalan bahkan Daren mulai merasa pegal di kakinya, maklum orang kaya jalan bentar aja udah ngeluh cape padahal menurut Siena mereka tidak berjalan jauh malah lebih banyak duduknya.
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
Jangan lupa like dan komennnya.....
__ADS_1