Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
100 : Nyawa Dibayar Nyawa?


__ADS_3

Azzura yang sedang menepuk-nepuk wajahnya di depan cermin rias, refleks tersenyum ceria ketika sang suami memasuki kamar. Ia menatap Excel melalui pantulan cermin rias yang ada di hadapannya.


“Akala belum tidur?” tanya Azzura lembut karena yang ia tahu, suaminya baru saja menemui Akala di kamar. Tadi, sebelum pergi, Excel pamit begitu.


Excel menutup sekaligus mengunci pintu kamar sambil terus menatap Azzura. “Belum, sekarang pun sepertinya juga belum.” ia berangsur duduk di bibir tempat tidur mereka dan memang sengaja membiarkan Azzura memiliki waktu untuk merawat sekaligus memanjakan diri, tanpa campur tangannya.


“Mas, Mas mau maskeran?” tanya Azzura tak mau obrolan apalagi kebersamaan mereka usai, terlebih ia memang belum ngantuk.


“Hah? Memangnya wajahku bu*rik, ya?” refleks Excel bingung. Apakah wajahnya memang memprihatinkan hingga sang istri berniat memberinya perawatan?


“Ih, Mas. Memangnya yang perlu perawatan hanya yang gitu? Yang baik-baik saja pun enggak salahnya dirawat biar lebih sehat.” Azzura segera menyiapkan keperluan maskernya. Menuangkan masker yang akan ia pakai di mangkuk khusus.


“Layaknya hubungan, ... walau baik-baik saja bukan berarti hubungan enggak butuh sentuhan lain,” ucap Azzura lagi. Ia bersiap memakai maskernya lebih dulu. “Bentar, ya. Aku pakai dulu.”


Excel yang menjadi fokus memperhatikan Azzura, sudah langsung tersipu. Ia berangsur menghampiri Azzura. Ia memperhatikan wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat.


“Punya Mas nanti, aku facial wajah dulu. Jangan mikir buri*k apa gimana. Biar wajah dan pikiran enggak terlalu stres saja. Efeknya juga bagus kok,” ucap Azzura yang membiarkan tubuhnya dipeluk dari samping oleh sang suami.

__ADS_1


“Sebenarnya Cinta mikir enggak sih, caranya yang tetap mempertahankan Akala dan Helios di waktu bersamaan, justru akan membuat hubungan baik keluarga mereka dipertaruhkan?” pikir Excel yang memejamkan damai kedua matanya. Karena melalui pelukan yang ia lakukan, selain ia yang juga sampai menyemayamkan kepalanya di bahu Azzura, ia tengah mencoba mendapatkan ketenangan. Sebuah kebiasaan yang akhir-akhir ini ia jadikan terapi dari penatnya kehidupan.


“Yang, ... kalau saudara kamu dapat jodoh wanita yang usianya terpaut jauh lebih tua dari mereka, tanggapan kamu gimana?” tanya Excel tanpa perubahan berarti. Kedua matanya masih terpejam damai.


“Ya enggak apa-apa, namanya jodoh. Mau dapat janda anak sembilan pun aku oke-oke saja,” balas Azzura dengan santainya.


Balasan Azzura yang sampai membahas janda anak sembilan, langsung mengusik Excel. Excel berangsur membuka kedua matanya kemudian menatap heran sang istri. “Kok janda anak sembilan sih, Yang. Nenek-nenek dong!” lirihnya menegur, tapi Azzura malah tertawa.


“Astagfirullah mulutku. Maksudnya gini, Mas. Aku termasuk orang tuaku bukan yang rempong urusan jodoh. Kayak mas Aidan dan Didi, andai orang tuaku kenceng ke mas Aidan, pasti sudah diputus sama mereka. Namun cara mereka beda, semuanya diserahin ke kami yang menjalani. Mereka hanya mengarahkan. Tentunya, andai nanti terjadi sesuatu, mereka kami sebagai yang menjalani enggak boleh menyalahkan pihak mana pun.”


“Jadi, andai mas Aidan, mas Azzam, termasuk Akala nanti sampai dapat jodoh janda, atau jodoh yang dianggap kita enggak wajar, dalam artian dia wanita itu bukan gadis dan punya tanggung jawab ke anak-anaknya, beneran bukan masalah. Asal saudara laki-lakiku tanggung jawab kepada pilihannya, insya Alloh itu memang yang terbaik. Apa lagi aku percaya, selagi aku dan keluargaku menjalani kehidupan ini dengan baik, nantinya yang kembali ke kami juga baik.”


“Sekarang aku mau tanya langsung ke Mas, aku mau dengar langsung dari Mas, ... Mas nyaman enggak dengan hubungan yang kita bangun?” Azzura yang masih menatap wajah Excel menjadi menahan tawanya. “Enggak mungkin sih, Mas enggak merasa nyaman juga, buktinya Mas nempel terus!”


Excel refleks tersipu seiring ia yang mengeratkan dekapannya. “Asli nyaman banget. Semenjak menikah sama kamu, aku merasa hidupku jauh lebih tertata, hidupku lebih bermakna, lebih berguna juga!” ucapnya yang kemudian sampai berterima kasih sebelum akhirnya bibirnya ia biarkan bersemayam di ubun-ubun Azzura. Istrinya itu masih tertawa ceria.


“Balik ke pembahasan tadi yah, ... yang andai saudaraku dapat janda bahkan janda beranak. Intinya, siapa pun jodoh mereka, mereka wajib bertanggung jawab. Kalaupun anak jodoh mereka bukan anak mereka dan mereka enggak diwajibkan tanggung jawab, aku pastikan, saudaraku akan tetap tanggung jawab dan memperlakukan anak itu selayaknya anaknya. Insya Alloh, saudaraku, anak-anak orang tuaku enggak ada yang gagal. Mereka beneran terdidik walau cara didik kami bukan yang keras.”

__ADS_1


“Mamah Papah, termasuk Mbah, mereka kasih contoh dari interaksi sehari-hari mereka. Dan aku percaya, kebaikan kami ke sesama juga akan membuat kami bertemu jodoh terbaik. Tanpa peduli latar belakang termasuk masa lalu, Insya Alloh mereka yang dekat apalagi jadi pasangan kami, juga merupakan orang yang mau belajar menjadi manusia lebih baik lagi.”


“Mas pegang ucapanku, andai Didi enggak bisa berubah, andai dia tetap begitu, dia pasti enggak jodoh dengan mas Aidan. Dan mas Aidan pasti akan dapat pengganti yang jauh berkali-lipat lebih baik. Jauh berkali-lipat lebih sabar dari aku bahkan mamah. Aku percaya tebar tuai itu ada sih.” Azzura mengakhiri ucapannya dan memang mulai menjaganya lantaran masker di wajahnya sudah beranjak kering.


Namun, lupakah Azzura bahwa masa lalu suaminya pernah membuat pria itu menjadi pembu*nuh berdarah dingin? Karena jika tebar tuai memang ada, akankah nyawa yang Excel renggu*t juga harus mendapat balasan nyawa juga? Membayangkan itu, Excel langsung takut. Tubuhnya menjadi limbung, sementara kedua matanya berangsur berembun. Dan Excel sengaja menunduk dalam, membiarkan air matanya lolos tanpa diketahui sang istri.


Tak menyangka, pembahasan yang niatnya untuk memastikan hubungan Akala dan Cinta yang terpaut perbedaan usia, justru membuat Excel menyadari dosa-dosanya.


“Nyawa dibayar nyawa? Nyawa siapa ...?” pikir Excel benar-benar kacau. Tanpa pamit, ia sengaja pergi masuk kamar mandi. Ia melakukannya sambil terus menunduk guna menyembunyikan air matanya dari Azzura.


“Mas, Mas mau ngapain? Siap-siap aku mau facial wajah Mas, ya,” lembut Azzura yang tak lagi bisa bersuara lantang lantaran masker hitam yang ia pakai sudah makin kencang sekaligus kering. Melalui cermin di hadapannya, ia mengawasi pintu kamar mandi yang tetap ditutup. Excel tidak merespons dan ini tidak biasanya sang suami begitu.


Di dalam kamar mandi, Excel mirip orang linglung. Excel terdiam di depan wastafel dan air matanya terus berlinang.


“Jika nyawa harus dibayar dengan nyawa, ... ya Alloh, jangan Azzura. Jangan pula orang-orang yang kami sayangi! Hamba janji akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Hamba sungguh akan keluar dari lingkaran hitam yang sebelumnya menjadi pekerjaan sekaligus sumber rezeki Hamba!” lirih Excel tersedu-sedu.


Di ingatan Excel kini mendadak dihiasi adegan darah segar yang seketika muncrat setelah peluru yang ia tembakkan tepat mengenai sasaran. Atau malah, celurit, belati, pisau, bom, semua kekejiannya di masa lalu seolah menjadi sumber luka untuk Excel sendiri.

__ADS_1


Excel menjadi sibuk menggeleng, memohon, dan sesekali beristighfar.


__ADS_2