
Tatapan Excel dengan sendirinya menepi, berhenti di kedua mata Azzura. Tak beda dengannya, mata jernih itu juga ia pergoki bergetar menahan kegelisahan. Excel yakin, sejujurnya Azzura merasa keberatan dengan sumber dirinya mendirikan bisnis. Karena biar bagaimanapun, sumber modal yang Excel gunakan memang uang hasil dari pekerjaannya sebagai mafia.
“Alhamdullilah, ...,” ucap Excel yang menjadi tidak bisa melanjutkan ucapannya. Barulah setelah Azzura mendekap sebelah lengannya menggunakan kedua tangan, ia jadi lancar bicara.
Karena biar bagaimanapun, dukungan dari Azzura sudah menjadi bagian dari nyawa seorang Excel. Excel sudah tidak bisa tanpa Azzura, dan Azzura sungguh menjadi penentu keadaannya.
“Tanah seluas ini belum terbayar semua. Sadar dirilah, harus pelan-pelan karena memang harus urus sendiri.” Excel menjelaskan dan memang jujur. “Kebetulan, yang punya tanah kemarin lagi butuh uang banget buat berobat. Jadi mereka mau walau aku cicil pelan-pelan ... alhamdullilah, tinggal setengah lagi dan targetnya satu tahun lagi beres.”
“Mas Excel jadi tambah ganteng loh, di setiap Mas bilang ‘alhamdullilah’.” Azzura sengaja menyela penjelasan suaminya dan memang sengaja memuji Excel. Baginya, bukan hanya perkara ucapan ‘alhamdullilah’ dari Excel yang membuat suaminya itu tambah ganteng. Karena melalui pujian tersebut pula, Azzura berusaha membuat suaminya agar tidak terlalu tegang.
Ketika yang lain langsung tertawa, tidak dengan Excel yang menjadi tersipu malu gara-gara pujian Azzura tersebut.
“Ini Paman boleh semacam beli saham, enggak?” ucap Sekretaris Lim bersemangat.
“Heh, Lim. Dolar kamu buat selimutan saja masih bisa. Enggak usah beli saham, kasih cuma-cuma saja kayak sama siapa!” tegur pak Kalandra sambil menatap pura-pura marah sang ipar.
Lagi, kebersamaan mereka diselimuti tawa renyah.
“Chel, boleh lihat kebun kedelainya?” tanya dokter Andri ketika tawa di kebersamaan mereka telah reda.
“Oh, iya ... silakan. Silakan!” balas Excel sangat sopan sekaligus bersemangat.
Semuanya kecuali ibu Mira dan Elena, langsung ke lokasi kebun kedelai yang dimaksud. Ibu Mira memilih tidak bergabung karena sadar, dirinya yang tak lagi memiliki kaki, selain tubuhnya yang memang berat, tak memungkinkan. Walau Excel berdalih siap menggendong, ibu Mira meminta Excel untuk fokus ke Azzura. Karena biar bagaimanapun, kaki kanan Azzura memang masih sakit.
Sementara alasan Elena tidak ikut dan memilih menunggu bersama sang mamah, gadis itu sudah kelelahan efek nyaris seharian jalan-jalan.
__ADS_1
Satu hektar dari tiga hektar tanah di sana merupakan kebun kedelai, dan sebagiannya tengah dipanen. Menurut penjelasan Excel, kedelai di sana sengaja ditanam dengan periode berbeda, agar Excel tetap memiliki stok untuk bahan tahu dan tempenya.
“Bahan pokok di pabrik cukup dari sini?” tanya pak Kalandra serius dan memang penasaran.
Excel yang walau kedua tangannya sengaja nyaris memanggul Azzura, tetap fokus menatap pak Kalandra yang bertanya. “Enggak, Pah. Tetap kurang, jadi aku ambil dari petani terdekat.”
Di hadapan Excel, pak Kalandra yang menyimak, sudah langsung mengangguk-angguk paham.
Menggunakan kedua tangannya, Excel membuat Azzura seolah duduk di depan dadanya. Kaki kanan Azzura masih sakit, dan memang bisa parah jika wanita itu banyak bergerak. Ditambah lagi, perjalanan mereka hari ini terbilang jauh sekaligus memakan waktu lama.
“Manja banget ...,” ledek ibu Widy yang sampai menertawakan Azzura.
Ibu Widy merasa sangat gemas kepada Azzura yang baginya menjadi manja sejak menikah dengan Excel. Khususnya kepada Excel, yang dari segi fisik dan ketampanan memang jauh lebih unggul dari Cikho. Ditambah lagi, ternyata Excel tipikal pekerja keras sekaligus calon pebisnis masa depan. Dengan kata lain, Excel memang lebih baik dari Cikho. Belum jika dilihat dari segi perhatian. Excel yang walau dari tampang sekaligus sikap, terlihat sangat kaku, nyatanya sangat perhatian kepada Azzura.
Detik itu juga, perhatian mereka tertuju ke kaki kanan Azzura yang bengkak dan memang masih diperban. Semuanya langsung mencemaskan kaki kanan Azzura. Pak Kalandra sudah langsung meminta dokter Andri untuk memeriksa kaki putrinya.
“Kalau kamu enggak langsung bikin kaki kanan Azzura sembuh, berarti kamu bukan dokter, Ndri!” ujar pak Kalandra sengaja mengancam.
Dokter Andri yang baru akan menunduk melihat kaki Azzura, refleks bengong kemudian menatap tak habis pikir pak Kalandra yang memang sahabat. “Lah, kalau aku bukan dokter, menurutmu aku apa? Duk*un abal-abal?”
Semuanya langsung tertawa termasuk pak Kalandra.
“Suaminya Septi!” ucap pak Kalandra masih tertawa. “Iya, kan?” lanjutnya meminta kepastian lantaran dokter Andri hanya diam. Namun baru saja, pria itu mengangguk-angguk.
“Iya, aku suaminya Septi si wanita fenomenal karena serudukan dan bantingannya!” ucap dokter Andri sengaja bercanda, dan langsung membuat semuanya termasuk sang istri, tertawa.
__ADS_1
Jalan-jalan kali ini menjadi kebersamaan yang tak terlupakan. Mereka mengakhirinya dengan makan malam bersama. Yang mana setelah itu juga menjadi perpisahan untuk mereka. Keluarga Azzura yang dari kampung pulang, dan Azzura maupun keluarganya, tidak bisa untuk tidak menangis.
Suasana haru berhias air mata yang begitu menyesakkan dada menjadi akhir dari kebersamaan mereka. Azzura melambaikan tangan kanan ke arah kepergian rombongan keluarganya.
Azzura masih belum bisa menyudahi tangis sekaligus kesedihannya. Karena walau sebelumnya ia sempat jauh dari keluarga untuk menyelesaikan pendidikannya di Surakarta, rasanya jauh dari keluarga kali ini menyelipkan kisah tersendiri.
Pertama kali pisah dengan keluarga apalagi orang tua setelah menjadi istri orang. Azzura sungguh merasakan apa yang para wanita di luar sana rasakan. Rasa kehilangan sekaligus rindu yang begitu besar, padahal perpisahan baru terjadi dalam hitungan menit.
“Ini aku terbilang sangat beruntung karena mas Excel dan keluarganya perhatian banget ke aku. Apa kabar bagi mereka yang kurang beruntung, yang sekadar ditanya sama pihak keluarga suami termasuk mertua yang harusnya jadi orang tua saja, enggak?” batin Azzura yang mendadak teringat curhatan para istri sekaligus menantu tak di anggap, dan ia baca di IG.
“Tiga hari lagi kita pulang kampung. Aku janji, biarkan aku beresin pekerjaanku dulu, oke?” ucap Excel ketakutan hanya karena melihat Azzura tak hentinya menangis.
Di pekerjaanku makan khas Sunda bekas mereka makan, Azzura yang masih tersedu-sedu berangsur mengangguk.
Elena merasa tersiksa melihat pemandangan Azzura yang harus berpisah dengan keluarga khususnya orang tua. Ia yang masih memegangi dorongan kursi roda sang mamah berangsur jongkok.
“Awas loh, Mah, kalau Mamah galak-galak ke kak Azzura. Mamah harus jadi mertua baik apalagi Mamah juga punya anak yang bakalan jadi menantu orang.” Elena berbisik-bisik kepada sang mamah.
“Lihat tuh, anak perempuan satu-satunya, dirawat dan dididik penuh cinta. Jadi bidan dan anaknya juga santun sekaligus baik banget. Namun demi mengabdi ke suami, dia jadi ikut kita dan mendadak LDR seperti sekarang ini.”
“Ih, siapa yang galak? Mamah ya biasa saja. Jangankan jahat, minta bantuan saja Mamah sungkan. Takut dikira cerewet apalagi galak. Pas kak Azzura urus Mamah pun, Mamah selalu minta kak Azzura buat fokus istirahat, jangan capek-capek,” ucap ibu Mira berbisik-bisik.
“Ya makanya, Mamah jangan sampai jadi mertua jahat!” bisik Elena yang mengaku, andai nanti ia menikah, ia tak mau ikut mertua. “Takut disiksa Mah, kayak yang dicurhatan para hati istri.”
“Ah kamu. Jangan parno gitu. Kalau cara berpikir kamu begitu, yang ada kamu malah enggak mau nikah. Sekarang kamu cukup fokus sekolah, kuliah, terus kerja baru nikah kayak kak Azzura. Jangan mencontoh kak Rere. Enggak bener dia. Contoh kak Azzura saja. Alhamdullilah banget kak Excel dapat yang seperti kak Azzura,” tegas ibu Mira meski ia masih berucap lirih. Di depan sana dan berjarak sekitar lima meter, Azzura baru saja mendekap Excel kemudian membenamkan wajah di dada bidang Excel.
__ADS_1