
Bersama turunnya hujan, Cinta tersenyum hangat membalas sang satpam yang sudah langsung memayunginya. Ia baru keluar dari mobil dan ia memang menyetir sendiri. Tak mau membuat sang satpam makin repot, ia sengaja mengambil alih payung, memayungi dirinya sendiri.
Sosok Helios yang melangkah tergesa cenderung menunduk meninggalkan rumah Tuan Maheza, sudah langsung mengusik Cinta. Walau hujan deras beserta angin yang tengah melanda membuat pandangan Cinta tidak begitu jelas, postur tubuh Helios maupun cara pria itu berpenampilan, sudah membuat Cinta mengenalinya.
“Oh, dia sudah datang?” Cinta yang memang baru pulang kerja, sudah langsung was-was. Segera ia melangkah sambil mengeratkan dekapannya terhadap tas kerja yang menghiasi pundak kanannya.
Padahal sebelumnya, Cinta sudah membuat janji dengan Helios. Rencananya, mereka akan bertemu di rumah Tuan Maheza sore ini juga dan harusnya memang sebentar lagi. Namun, rasa takut itu tetap menguasai sanubari seorang Cinta. Karena jujur, Cinta merasa sangat tidak rela membiarkan Cikho kakaknya menjalani hukuman berat. Terlebih biar bagaimanapun, Cikho menjadi satu-satunya keluarga Cinta yang masih tersisa, walau keadaan berikut kesalahan fatal Cikho membuat kebersamaan mereka terancam tinggal nama.
Jantung Cinta sudah langsung berdetak lebih kencang dan terdengar sangat kacau bahkan di telinganya sendiri. Tak kalah mencolok, Cinta juga mendapati kedua telapak tangannya yang sudah langsung basah oleh keringat, tanda di setiap dirinya kacau dan memang tidak baik-baik saja.
“Mas?” sapa Cinta tak segan memayungi Helios. “Kok hujan-hujanan?”
Mendapatkan perhatian dari Cinta, Helios sudah langsung merasa tersentuh. Hati pria itu menjadi diselimuti rasa hangat. Begitupun dengan jantungnya yang menjadi berdetak dua kali lebih cepat, mirip manusia normal yang merasakan gejolak cinta, pada kebanyakan. Tanpa peduli maksud Cinta memayunginya, Helios sudah langsung merasa dihargai. Terlebih sejak wajah sekaligus matanya dirus*ak oleh Cikho, Helios memang sudah langsung dipandang hin*a oleh orang-orang. Jika tidak takut, hampir semuanya malah menganggapnya menjij*ikkan layaknya apa yang ia dapatkan dari Chole, beberapa saat lalu.
Kini, di balik kacamata hitam tebalnya, mata kiri Helios yang masih bisa melihat, sudah langsung menatap kagum seorang Cinta.
“Ya sudah, ayo masuk. Harusnya aku belum telat sih karena kita janjiannya saja pukul lima nanti.” Cinta bersikap sesantai sekaligus setenang mungkin meski sebenarnya, ia juga takut kepada Helios.
“Sekarang sudah pukul setengah enam!” singkat Helios yang dari suaranya saja terdengar sangat kejam.
__ADS_1
Detik itu juga, Cinta sudah langsung kebingungan. “Oh, maaf banget, Mas. Maaf! Ya sudah ayo, masuk.”
Sebisa mungkin, Cinta berusaha tenang, walau dalam diamnya sebenarnya ia tengah susah payah menahan rasa takutnya kepada Helios. Terlebih melangkah beriringan layaknya sekarang di bawah guyuran hujan.
Sampai detik ini, Helios yang masih memberi penilaian baik kepada Cinta, diam-diam juga mengawasi. Jujur, Cinta tak secantik Chole. Dari garis wajahnya pun, Cinta terlihat tegas mirip wanita tomboy pada kebanyakan. Namun sifat tegas itu juga yang membuat Cinta menarik di mata Helios, selain Cinta yang bagi Helios sangat menghargai orang lain. Termasuk kini, Cinta juga sampai berjinjit hanya agar bisa memayunginya.
“Enggak apa-apa, sudah telanjur basah. Buat kamu saja, biar kamu enggak basah.” Bagaimanapun perasaannya meski ia juga mulai menaruh perhatian kepada Cinta, Helios tetap tidak mau menunjukkannya. Ia masih bersikap arogan, dan memang menjadi merasa sangat kesal luar biasa lantaran ia diminta Cinta untuk mengangkat tubuh Chole.
Padahal tadi saja, Helios sengaja melepas tubuh Chole hingga tubuh indah dan sempat membuatnya tergoda, berakhir terbanti*ng di teras depan pintu masuk. Namun kini, Helios sampai masuk ke kamar Chole yang apa-apanya serba pink dan putih, mirip kamar Tuan Putri di negeri dongeng. Termasuk kelambu tempat tidur milik Chole dan bagi Helios yang tidak menyukai pernak-pernik, teramat mengganggu. Intinya, Chole dan segala yang ada dalam diri gadis itu, bahkan itu isi kamar Chole, sudah langsung membuat Helios tidak suka.
Terlebih gara-gara kaki kanan Helios tersangkut kelambu, Helios berakhir terjatuh menimpa tubuh Chole yang masih pria itu bopong. Lebih siaaalnya lagi, selain sampai menindih tubuh Chole, bibir Helios juga sampai menempel sekaligus menekan bibir Chole.
“Aduh ini handuk ditaruh di mana, sih? Dari tadi dicari-cari enggak ketemu!” keluh Cinta masih dengan kesibukannya mencari handuk. Ia sampai melepas tas di pundak kanannya yang memang berat dan sudah langsung menjadi beban tersendiri untuknya.
Helios yang sadar Cinta akan segera menghampirinya, sementara Chole yang memakai dress pink selutut malah dalam keadaan tidak jelas, buru-buru membenarkan posisi gadis itu. Helios sengaja memejamkan mata karena biar bagaimanapun, mata kirinya masih bisa melihat paha mulus Chole yang lagi-lagi sangat menggooda. Ia memilih menutup tuntas tubuh Chole menggunakan selimut di sana yang juga masih berwarna pink. Terakhir, tak mau menyentuh Chole berlebihan, Helios memilih meraih bantal kemudian meletakkannya di bawah kepala Chole yang sangat wangi.
Tanpa Helios sadari, Cinta yang memergoki ulah Helios dalam mengurus Chole barusan sudah langsung tersentuh. “Ternyata dia bisa lembut juga. Namun sampai kapan pun, enggak ada yang bisa lebih lembut melebihi Akala sih. Jadi kangen,” batin Cinta yang tanpa pikir panjang sudah langsung mengeluarkan ponselnya.
Cinta yang berdiri sekitar enam meter dari keberadaan Helios, sudah langsung menulis pesan WA ke kontak berfoto profil hamparan langit biru.
__ADS_1
Cinta : Kangen. Pengin peluk sekenceng mungkin karena rasanya capek banget!
Sementara itu, di tempat berbeda, Akala yang tengah berkumpul bersama keluarga besarnya di kediaman Sekretaris Lim, segera membalas pesan masuk di ponselnya dan memang dari Cinta.
Akala : Aku masih di rumah Bibi Widy. Lusa baru pulang. Mau ketemu di mana?
Cinta : Pengin langsung ke sana, tapi selain enggak mungkin apalagi di sana ada Azzam si tukang nyinyir, aku masih ada urusan.
Akala : Beresin dulu urusannya, nanti kalau sudah, baru ketemu. Kamu yang atur mau ketemu di mana.
Cinta : Sayang, kamu beneran cinta aku enggak sih? Kok kamu enggak pernah nuntut apa pun? Kadang aku sampai bingung, ini aku salah enggak?
Akala : Aku cinta kamu tanpa harus membuat kamu jadi orang lain karena aku tahu, kamu selalu melakukan yang terbaik. Jaga kesehatan, ya. Aku enggak mau kamu sakit. Sementara untuk hubungan kita, juga hubungan keluarga kita, kita siap-siap saja. Karena putusnya hubungan mbak Azzura dan mas Cikho, bisa jadi jalan kita buat bersama.
Akala : Yang sabar, tetap semangat. I love you my world.
Membaca balasan manis dari pesan Akala, Cinta sudah langsung berbunga-bunga. Namun kebahagiaan itu langsung sirna ketika Cinta menyadari, di sebelahnya sudah ada Helios yang dari tampangnya tak kalah galak dari gambaran tampang malaikat pencabut nyawa.
Segera Cinta berdeham kemudian menyimpan ponselnya ke tas. “Ini handuk buat kamu.”
__ADS_1
Cinta memberikan handuk putih Chole kepada Helios. Handuk putih yang langsung terus menempel ke tubuh khususnya punggung seorang Helios, hanya karena itu pemberian Cinta. Padahal di handuk tersebut jelas ada nama Chole karena memang handuk putih itu milik Chole.