
“Walau aku menceraikannya, aku akan tetap tanggung jawab kepada anak itu, siapa pun ayah biologis dari janin yang Rere kandung!” tegas Cikho mantap dengan keputusannya, selain ia yang memang tak mau disalahkan.
“Kalian enggak usah terus-menerus menyalahkan aku dong. Aku berhak melakukan ini, terlebih jika melihat kasus kami. Aku mau tanggung jawab saja untung! Jadi, tanggung jawab tanpa terus terikat dalam pernikahan seperti keputusanku sekarang juga bukan kesalahan terlebih jika keadaannya sudah seperti sekarang!” tegas Cikho benar-benar marah. Cara Excel apalagi mas Aidan menatapnya dan terlihat jelas keduanya marah bahkan mengejeknya, benar-benar membuatnya tak terima. Cikho merasa dir3ndahkan.
Mas Aidan geleng-geleng sambil tersenyum mengejek kepada Cikho. “Kenapa kamu mendadak berubah pikiran? Kenapa baru sekarang kamu menceraikannya? Kenapa enggak dari awal kamu menerapkan tanggung jawab ‘cukup memberi uang selama dia mengandung, kemudian dilanjutkan membiayai kehidupan anaknya?’ Banc1 saja enggak senaif kamu, Ko! Kamu beneran mirip Tomi papah kamu, yang rela membunuuh mamah kamu demi hidup enak!” mas Aidan makin geregetan.
“Kamu enggak usah bawa-bawa papah aku ya, Mas! Kalau kamu punya masalah dengan aku, cukup selesaikan dengan aku jangan bawa-bawa papahku terlebih Kalandra papahmu juga bukan dewa!” sergah Cikho emosional dan memang tak terima. Terlebih walau sudah ia tegur, mas Aidan tetap saja tersenyum mengejek kepadanya.
“Mohon maaf ya, Ko. Papahku memang bukan dewa, tapi aku sangat amat keberatan kalau sampai sekelas papah Kalandra kok disamakan sama papah kamu yang punya kebiasaan selingkuh terus dengan sengaja membunuh mamah kamu! Sudah, jangan dilanjutkan kalau kamu mau fokus urus ke kasus kamu sekarang!” kesal mas Aidan.
“Mas Cikho enggak usah munafik karena pada kenyataannya, Mas memang mirip banget sama almarhum papah. Dikiranya selama ini aku enggak tahu kelakuan Mas? Mas sama Rere emang gitu. Kalian sudah terbiasa sewa tempat karaoke, vila, bahkan sekelas club buat senang-senang. Kalian sama aja. Dan seperti yang Mas Aidan bilang, Mas menikmati bahkan sangat menikmati tubuh mbak Rere karena di kantor pun, sebagian besar karyawan tahu. Posisi dan status Mas saja yang bikin mereka takut ngomong.” Cinta, wanita bertubuh jenjang itu menatap sengit sang kakak yang masih duduk di sofa panjang, seorang diri.
__ADS_1
Cinta yang baru datang dari dalam sudah langsung menjadi fokus perhatian akibat apa yang baru saja ia katakan. “Makanya enggak heran kalau kalian diam-diam ternyata sudah menikah. Terus sekarang Mas mendadak berubah dan bermaksud kembali memperbaiki hubungan dengan mbak Azzura? Mimpi!” lanjut Cinta masih dingin dan kali ini ia melirik sinis sang kakak yang seketika beranjak sekaligus berdiri menghadap padanya. Cikho sudah langsung menatapnya dengan tatapan sangat marah.
Tak beda dengan Cikho, cara Cikho menghadapi Cinta sang adik juga menjadi alasan mas Aidan maupun Excel, berdiri. Mereka siap menyimak apa yang akan Cinta katakan karena tampaknya masih banyak rahasia besar yang disembunyikan oleh Cinta dan selama ini dikenal sebagai sosok pendiam.
“Aku tahu mas sayang ke mbak Azzura, tapi aku juga paham, sampai kapan pun Mas enggak bisa hidup hanya dengan satu wanita. Terlebih jika mas kembali punya harta dan tahta.” Cinta yang masih bertutur lirih, menggeleng pelan di tengah fokus kedua matanya yang masih tertuju kepada kedua mata tajam Cikho yang menatapnya marah. “Masalahnya, rasa sayang Mas kepada mbak Azzura belum bisa digolongkan sebagai cinta, jika Mas saja tetap tersenyum santai ketika teman-teman Mas menjadikan mbak Azzura sebagai lelucon. Mereka berteriak sambil menikmati minuman panas yang Mas sediakan, di tengah degup musik yang disetel kencang, mereka mengatakan bahwa mbak Azzura kampungan. Wanita sok suci yang berlindung dibalik gamis dan cadar. Lalu, ketika mereka bertanya kepada Mas, berapa sering Mas meniduri Mbak Azzura, Mas yang duduk santai sambil memangku Rere di sofa hanya mesem hingga mereka lagi-lagi menjadikan mbak Azzura sebagai olok-ol0kan.”
“Termasuk ketika mereka bilang, boleh tidak mereka tidur dengan mbak Azzura setelah Mas bosan atau setidaknya, Mas sedang khilaf hingga Mas mengizinkan? Saat itu pun, Mas hanya senyum!” lanjut Cinta. “Alasanku diam karena aku terlalu jijiik pada kelakuanmu, Mas! Aku berbicara seperti ini biar kamu sadar, apa yang kamu lakukan selama ini salah. Bukan karena aku ingin menggeser posisi kamu di perusahaan. Kalaupun andai aku sampai melakukannya, itu karena aku memang bisa, aku berkualitas. Ketimbang kamu yang ternyata diam-diam menggelapkan dana perusahaan untuk hidup hedon dengan teman-temanmu.”
“Jadi, setelah apa yang terjadi di video itu, aku akan menjadi orang pertama yang menolak keras rencana Mas dan papah mamah yang akan membuat Mas kembali memperbaiki, bahkan menikah dengan mbak Azzura. Bahaya kalau kalian beneran menikah, bisa jadi mbak Azzura Mas kasih cuma-cuma buat dig1lir teman-teman Mas,” lanjut Cinta.
Cikho sudah langsung kacau. Ia beberapa kali menghela napas sekaligus menggeleng. Diliriknya mas Aidan yang masih fokus menonton video yang Cinta maksud. Tak tahan, ia berusaha merebut ponsel mahal milik Cinta, tapi dengan cepat mas Aidan malah membalasnya dengan bogem mentah yang mendarat di bibir sebelah kirinya.
__ADS_1
Cinta mundur dengan elegan. Ia benar-benar menyikapi keadaan dengan sangat santai. “Aku panggil papah mamah dulu. Mereka harus tahu bagaimana kelakuan sebenarnya anak kesayangan mereka yang dari wajah dan kelakuan tampang alim, tapi saat di belakang kami dia nggak lebih baik dari s1luman!”
Sekitar lima menit dari kepergian Cinta, wanita bertubuh ramping dan tak sampai memakai hijab itu kembali sambil tetap bersedekap. Di belakangnya, Tuan Maheza dan ibu Aleya, melangkah beriringan mengikuti.
“Aku enggak mau perusahaanku bangkrut gara-gara karyawan bej*at seperti dia. Jadi aku mau, tindak lanjuti kasus penggelapan dana yang dia lakukan. Jika dia tidak bisa membayar, suruh jual g1njal atau apa pun yang bisa jadi uang, kalau dia memang enggak mau masuk penjara!” tegas Cinta.
Ibu Aleya dan Tuan Maheza langsung menatap tak percaya Cikho yang menjadi sibuk menunduk sambil memegangi bekas bogem mas Aidan di bibir kirinya. Ibu Aleya menerima pemberian ponsel mas Aidan yang ia ketahu merupakan ponsel Cinta sang putri.
“Tonton videonya!” tegas mas Aidan.
“J-jangan, Mah. Itu bukan video apa-apa. Random banget itu enggak penting!” panik Cikho berusaha merebut ponselnya dari kedua tangan sang mamah, tapi dengan sigap, Excel menahan punggung kerah kemeja panjang warna hitam yang Cikho pakai.
__ADS_1