
Azzura dilema. Wanita itu benar-benar tengah membutuhkan waktu untuk sendiri, untuk memikirkan peran seorang Excel dalam kasus Rere. Terlibatkah Excel? Ada maksud lain kah dari kenyataan pria itu ada dalam hidupnya? Masihlah semuanya juga karena dendam Rere kepadanya?
“Namun aku percaya, setiap doa dan perbuatanku akan selalu terbalas dengan hal yang sama. Tak ada hasil yang mengkhianati usaha, walau sebaik-baiknya rencana manusia, rencana-Nya jauh lebih baik untuk semuanya.” Azzura masih berbicara di dalam hati. “Ya Alloh, jika hadirnya wajahnya di setiap mimpi setelah hamba meminta petunjuk kepada Engkau merupakan jawaban, tolong lanjutkan semua jawaban-Mu.”
Setelah membongkar kebus*ukkan Rere, Azzura yang walau masih meras lemas, sengaja mengentikan perawatan untuknya. Ia tak lagi dirawat dan kini menjadi bagian dari rombongan keluarganya. Ada orang tuanya, mas Aidan, Sepri, dan kini ada dokter Andri yang datang bersama ibu Septi. Mereka semua terjaga untuk pak Haji Ojan yang masih koma. Suasana menjadi diselimuti kesedihan tak lama setelah keduanya hadir.
“Ya Alloh Jan, ... Jan, nasibmu dari kecil sudah jadi yatim piatu. Terus kamu ya dis1ksa kedua nenek tirimu dan kamu beneran sulit normal walau kami sudah membuatmu menjalani pengobatan maksimal! Sembuh ya Jan, kasihan ke kamu. Biar kamu bisa benar-benar nikah! Biar kamu bisa kayak yang lain, nanti Mbak yang belanjain keperluan buat pernikahanmu!” ibu Septi tersedu-sedu di sisi pak Haji Ojan yang untuk bernapas saja harus dibantu selang ventilator.
Di tengah suasana remang yang menyelimuti sekitar, ibu Septi yang memakai ABD, berniat pergi. Wanita berhijab biru itu sudah melangkah pergi, tapi sayup-sayup terdengar suara lirih sekaligus gemetaran dari belakang.
“H-hantu ....”
Tentu itu bukan suara orang lain selain pak Haji Ojan. Ibu Septi hang langsung menoleh untuk memastikan, yakin seyakin-yakinnya. Yang mana yang dimaksud hantu oleh pak Haji Ojan juga ia yakini masih ibu Septi juga.
“Masa iya, Mbak dipanggil hantu?” protes ibu Septi masih berucap lirih.
“Aku siapa? Terus, kamu siapa?” balas pak Haji Ojan masih tidak jelas.
__ADS_1
“Eh ...?” Tanpa bisa mengungkapkan perasaannya, ibu Septi refleks mundur teratur.
Meninggalkan pak Ojan dan ibu Septi, Azzura yang tak sengaja menoleh ke sumber kedatangan, justru memergoki Excel yang tengah diam-diam mengawasinya. Iya, Excel yang tak lagi memakai serba hitam termasuk topinya, ia pergoki hanya fokus mengawasinya.
“Mas Excel ... aku bahkan lupa kalau Mas sedang berada di titik paling sulit, Mas memilih membongkar kebus*ukkan Rere dan membuat Mas berada di posisi sulit,” batin Azzura yang kemudian pamit kepada sang mamah. Ia berniat menyusul Excel, yang mana ia juga jujur kepada ibu Arum, termasuk juga kenyataan Excel yang diam-diam sempat mengawasinya.
Atas restu sang mamah, Azzura sudah langsung mencari Excel. Azzura tahu kenapa kepadanya, sang mamah begitu percaya dan tidak pernah mengatakan tidak, termasuk izinnya sekarang menyusul Excel. Kenyataan tersebut terjadi lantaran selama ini, Azzura memang selalu melakukan yang terbaik.
“Jangan pergi jauh-jauh,” lirih suara Excel yang masih dingin bahkan di telinganya sendiri. Excel bersembunyi di balik tembok menuju lift dan masib di lantai depan ruangan Azzura sempat terjaga untuk pak Haji Ojan.
Tanpa sedikit pun menoleh kepada Azzura, Excel berkata, “Aku hanya ingin ... mengatakan salam perpisahan.”
Azzura tak mengerti, kenapa dadanya langsung bergemuruh dan di sana juga terasa sangat sesak hingga ia begitu tersiksa, hanya karena apa yang Excel katakan barusan. Padahal, tak ada senjata yang Excel lukakan kepadanya. Karena sekadar menatapnya saja, pria itu tidak melakukannya. Malahan kini, sambil terus menunduk, Excel yang melepas topinya kemudian menyimpannya di saku belakang celana levisnya, meminta Azzura untuk tidak bergabung dengan keluarganya selagi Excel pamit sekaligus meminta maaf kepada keluarga Azzura maupun keluarga pak Haji Ojan.
“Orang itu!” batin Azzura benar-benar kesal. Mendadak ia bimbang, haruskah ia tetap di sana dan menuruti permohonan Excel? Atau tetap bergabung agar ia tahu apa yang sebenarnya Excel sampaikan di sana?
“Ya Alloh, apakah alasan kegelisahan juga masih bagian dari mimpi itu?” batin Azzura. Tak mau makin penasaran, ia sengaja menjadi dari bagian di sana. Ternyata tidak ada yang Excel kata maaf sekaligus Excel yang akan membayar semua biaya pengobatan Azzura maupun pak Haji Ojan.
__ADS_1
“Maaf, Ra. Aku hanya merasa tidak pantas. Aku terlalu tidak pantas untukmu yang terlalu suci!” batin Excel yang sadar, diam-diam Azzura yang berdiri di sebelah ibu Arum, tengah mengawasinya.
Pak Kalandra yang menyadari interaksi Azzura dan Excel, keduanya tampak mau tapi malu bahkan ingkar, refleks berdeham. Dengan serius ia menatap sekaligus berkata kepada Excel, “Memangnya kamu enggak jadi nikahin putri saya?”
Semuanya kompak diam atas pertanyaan pak Kalandra barusan. Walau baik Azzura apalagi Excel, juga kompak mendadak deg-degan.
“Masalah itu ...,” ucap Excel mendadak tidak bisa berpikir hingga ia juga menjadi tak kuasa melanjutkan ucapannya.
“Kenapa?” tanya pak Kalandra masih menunggu jawaban pasti dari Excel.
Pertanyaan pak Kalandra membuat Excel merasa tersudut. Ia sungguh tak memiliki pilihan lain selain jujur, mengatakan siapa sebenarnya dirinya, walau di awal pertemuan mereka, ia sama sekali siapa Azzura dalam kehidupan Rere adiknya.
“Sebenarnya saya kakaknya Rere. Saya tahu dia sangat membenci Mbak Azzura dan saya tahu, dia melakukan segala cara untuk menyingk1rkan nyawa Mbak Azzura. Walau di pertemuan pertama saya dengan Mbak Azzura sekeluarga, saya belum tahu siapa kalian, setelah semua yang terjadi, saya merasa tidak sepantasnya melanjutkan yang sebelumnya.” Sambil menatap pak Kalandra penuh keseriusan, Excel berkata, “Saya merasa Mbak Azzura terlalu baik untuk saya. Dia terlalu sempurna untuk saya yang bukan siapa-siapa.”
Apa yang Excel katakan makin membuat dada seorang Azzura bergemuruh. Jauh di dalam sana tak hanya seolah ada badai tak kasat mata. Karena di sana juga seolah ada yang meledak. Selain itu, darah di dalam tubuh Azzura juga seolah dididihkan. Entah kenapa, apa yang Excel katakan benar-benar membuat Azzura merasa sangat sedih. Azzura merasa sangat sakit, tak kalah sakit dari ketika ia mengetahui, dirinya bukan satu-satunya wanita dalam hidup Cikho. Dirinya bahkan bukan wanita pertama atau itu istri pertama Cikho. Dirinya merupakan wanita yang dinikahi atas kebohongan yang dirancang dengan sangat matang.
“Ya Raaaabbbb, apakah ini juga bagian dari jawabanmu?” batin Azzura yang menyadari, kedua matanya sudah sampai berembun.
__ADS_1