
Beres salat subuh, Azzura sudah langsung sibuk membuat bekal.
“Enggak usah masak banyak-banyak. Enggak usah masak yang rumit-rumit.” Excel yang ikut ke dapur mendadak jadi cerewet. Terlebih ketika ia melihat kaki kanan Azzura yang belum bisa menapak sempurna.
“Kamu itu sibuk sekaligus selalu capek, Mas. Jadi wajib makanan yang bergizi. Aku juga sudah pesan beberapa suplemen buat kamu, tapi dikirimnya ke kampung karena kita akan di sana cukup lama, kan?” balas Azzura masih mengeluarkan sayuran dan juga daging dari dalam kulkas.
Semua yang akan Azzura masak sudah Azzura siapkan dari kemarin demi menghemat waktu. Jadi, kali ini Azzura benar-benar tinggal masak.
“M-mas?” panggil Azzura lantaran Excel terus saja fokus dengan ponsel. Pria itu langsung menatapnya tapi terlihat linglung.
Excel segera meletakan ponselnya begitu saja di meja lantaran sadar, sang istri akan mengiris bawang. Ia mengambil alih kotak bawang merah yang sudah dibersihkan kemudian mengirisnya sendiri.
“Aku saja, Mas.”
“Ini pedas banget di mata, nanti kamu nangis enggak beres sampai lusa.”
Balasan bermajas dari Excel sudah langsung membuat Azzura tertawa. Tangan kanan Azzura refleks menepuk gemas punggung kokoh suaminya. Keadaan refleks yang juga langsung Azzura sesali lantaran Azzura baru sadar, ulahnya bisa membuat Excel terluka oleh pisau yang sedang digunakan.
“Enggak apa-apa, kan?” tanya Azzura sengaja melongok sekaligus memastikan.
“Aman ... aman,” jawab Excel dengan santainya dan langsung menatap khawatir sang istri yang mengeluh, irisan bawangnya membuat mata Azzura pedih.
“Aku enggak apa-apa, ih. Nantinya kan terbiasa karena aku bakalan sering masak buat Mas. Belum kalau sudah punya anak, aku ya harus sering masak kayak mamah Arum.” Azzura sudah langsung menyiapkan wajan, menaruhnya di atas kompor. Ia tidak mengetahui jika ucapannya yang membahas anak, sudah membuat seorang Excel Lucas Terenyuh.
Membawa talenan berisi potongan bawang merah dan putihnya, Excel menghampiri Azzura. Ia berhenti tepat di belakang punggung Azzura, kemudian menempelkan bibirnya di ubun-ubun wanita itu cukup lama.
__ADS_1
Azzura yang sedang menelepon sang mamah langsung bingung, ada apa sebenarnya dengan suaminya? Karena setelah melakukannya, Excel tidak melakukan bahasan apa pun. Suaminya kembali sibuk dengan ponsel dan terlihat serius, meski sesekali, Excel juga masih menghampiri kemudian memastikan apa yang terjadi di sana.
+6281 : Assalamualaikum, Mas.
Mas, ini nomor aku, Akala.
Mas, WA aku yang ini, rahasia, ya. Aku mau bahas rahasia dengan Mas.
Terus, ... yang kemarin malam, Mas enggak cerita ke siapa-siapa termasuk ke Mbak Azzura, kan?
Mas, tolong banget, ya. Hubunganku dan Cinta jangan dikabarkan ke siapa-siapa dulu soalnya kami masih menunggu waktu yang tepat.
Setelah apa yang terjadi, meski kandasnya hubungan mbak Azzura dan mas Cikho menjadi kesempatan untuk kami meresmikan hubungan di depan semuanya khususnya keluarga kami.
Masalahnya, alasan kandasnya hubungan mbak Azzura dan mas Cikho justru bukan dengan cara baik-baik. Jadi PR tersendiri bagi aku meyakinkan Cinta karena Cinta telanjur merasa hubungan keluarga kami enggak bisa diselamatkan.
Mas Excel : Waalaikum salam, Akala.
Maaf baru bisa balas soalnya dari kemarin sibuk banget.
Untuk yang kemarin, Mas sama sekali enggak akan ikut campur karena dilihat dari keadaan, Mas tahu.
Yang penting kalian tanggung jawab ke hubungan kalian, ya. Apalagi harusnya kalian tahu, keluarga kalian orang yang sangaaaaat baik. Enggak mungkin hanya karena satu kesalahan, hubungan baik kalian hanya tinggal kenangan.
Malahan Mas yakin, mereka akan sangat bahagia jika kalian mengabarkan hubungan kalian keada mereka.
__ADS_1
Namun, semuanya kembali ke kalian yang menjalani, tapi Mas yakin dan berani jamin, kabar hubungan kalian akan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk keluarga ini.
Excel mengirim pesan balasan untuk Akala, bertepatan dengan satu sendok nasi goreng yang Azzura suguhkan berhias senyum ceria.
“Ada suwiran ayam, ada sosis, telur, sayuran, cumi-cumi, segala macam yang enak aku masukin termasuk bumbu cinta dan kasih sayang seorang istri, Mas!” ucap Azzura bersemangat.
Excel yang baru mengunyah langsung meleleh, meleot tak karuan tanpa bisa menyudahi kenyataannya yang sibuk tersipu. Dan Azzura merasa sangat bahagia. Merasa puas dengan ekspresi suaminya yang terlihat jelas klepek-klepek kepadanya.
“Cukup saat bersama mas Heri dan mas Cikho aku kecolongan. Enggak dengan Mas Excel. Aku enggak mau kehilangan Mas Excel. Aku sayang banget ke Mas Excel!” batin Azzura yang sebisa mungkin akan membuat sang suami hanya mencintainya tanpa ada wanita lain dalam kehidupan Excel karena baru membayangkannya saja, sudah sangat membuatnya terluka.
“Enak, kan?” tanya Azzura.
Excel sudah langsung mengangguk-angguk. “Banget!” ucapnya masih tersipu walau kini, ia sudah fokus menatap Azzura. Istrinya itu sudah langsung membentuk jemari tangan kiri menjadi setengah hati dan Excel sudah paham, sudah menjadi kewajibannya untuk melengkapinya.
Tawa Azzura langsung pecah ketika jemari tangan kanan Excel menyempurnakan bentuk setengah hati dari tangan kirinya. “Aku tinggal bikin sup daging sapi sama sayur, sama tahu juga, ya?” ucapnya bersemangat.
“Ini sudah cukup,” yakin Excel sambil mengunyah sisa nasi goreng di dalam mulutnya.
“Itu masih kurang, Mas. Mas masih butuh banyak asupan nutrisi karena setiap saatnya Mas Selalu sibuk. Nanti aku juga bakalan bawain mas potongan buah, satu kotak susu dan juga air minum. Kemarin aku sudan belanja sama Lena, sekalian beli camilan buat di perjalanan pulang kampung. Ya ampun, aku beneran semangat banget karena besok pagi kita mudik!” Azzura benar-benar tengah berusaha menjadi istri yang baik karena ia sama sekali tidak mau berbagi Excel pada wanita mana pun, bahkan itu walau hanya pikiran Excel.
“Semangat karena mau ketemu pak Haji Ojan lagi?” ucap Excel dan langsung membuat Azzura tertawa.
Sadar istrinya tidak bisa dicegah, Excel tetap membiarkan Azzura melakukan semua yang istrinya itu inginkan.
Pagi ini Azzura membuat Excel sekeluarga bahagia dengan nasi goreng sekaligus sup daging dan sayuran lezat buatannya. Lebih membahagiakan lagi, Azzura sampai menyiapkan bekal lengkap untuk Excel. Ada satu kantong besar dan sebagian besarnya tertumpuk setelah tersusun rapi di setiap kotak berbeda.
__ADS_1
“Kak Azzura enggak sekalian masuk ke kantong, biar bekal suami Kakak makin lengkap?” goda Elena masih menyantap nasi goreng paket lengkap buatan Azzura. Nasi goreng yang juga sangat lezat karena kebersamaan mereka kerap diwarnai senyum sekaligus tawa bahagia.