Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
26 : Sandiwara Rere


__ADS_3

“Dia dirawat di kamar mana?” tanya mas Aidan lirih bahkan dingin.


Alasan Azzura tak langsung menjawab karena wanita itu terlalu yakin, mas Aidan akan langsung mendatangi Rere maupun Tuan Maheza sekeluarga.


“Mbak!” pinta mas Aidan terdengar memaksa bahkan di telinga mas Aidan sendiri.


Azzura mendadak gelagapan. Sementara di luar sana, Excel sudah langsung pergi dari persembunyiannya.


“Kita bahas ini dengan papah mamah dulu. Biar aku yang maju, dan Mas yang jelasin ke papah mamah. Jangan sampai papah mamah dengar dari orang lain!” yakin Azzura.


“Orang tua kita enggak mungkin percaya begitu saja ke omongan orang lain, bahkan walau itu memang kabar yang benar!” yakin mas Aidan. “Iya juga sih ....”


“Ya sudah, katakan, dia dirawat di kamar mana?” sergah mas Aidan.


“Di kamar ....” Azzura sudah langsung mengatakan alamat lengkapnya, tapi belum juga ia dibantu turun karena niat awalnya dia akan ikut, mas Aidan sudah langsung buru-buru pergi.


“Mas tunggu!” rengek Azzura agak berseru. Ia tetap menyusul mas Aidan, meski kakaknya itu sama sekali tidak mau menunggunya. Alasan yang membuat Azzura yakin seyakin-yakin ya bahwa mas Aidan sudah akan langsung meng4muk Rere.


Sementara itu di ruang rawatnya, Rere yang cenderung diam sebenarnya tengah tertawa kegirangan jauh di lubuk hatinya. Namun demi lebih menarik banyak simpati, ia tetap bersandiwara. Terus pura-pura lemah dan sesekali susah napas hingga napasnya bunyi “ngik ... ngik ...” mirip orang ampek parah.

__ADS_1


“Setidaknya andai orang tua Cikho enggak percaya kalau yang mera*cun makanan dan minumanku memang Azzura, paling tidak aku sudah berhasil menarik simpati mereka. Apalagi simpati Cikho. Lihat, dia langsung sayang banget ke aku. Dia langsung nungguin aku terus sambil sesekali menangis. Andai pun pihak Cikho enggak mau memperpanjang kasus keracunan yang aku alami, setidaknya aku dan Cikho bakalan tinggal di rumah mereka. Setidaknya tragedi keracunan ini bikin aku sama Cikho kembali punya posisi penting di keluarga om Maheza, meski Cikho memang hanya anak angkat. Pelan-pelan, aku yakin aku bisa!” batin Rere yang tetap penasaran, siapa yang merac*unnya hingga ia nyaris meregang nyawa sedetik saja Cikho dan tetangga kontrakan mereka, telat memberinya pertolongan.


“Kamu mau minum apa makan apa?” lirih Cikho sembari menggenggam hangat kedua tangan Rere menggunakan kedua tangannya. Di hadapannya, Rere yang untuk bernapas saja begitu susah, menatapnya dengan berat. Ia yakin, alasan Rere sampai menatapnya nanar layaknya sekarang karena istrinya itu sangat menderita akibat dampak keracu*nan yang dialami.


Rere menggeleng lemah dan membuat napasnya kembali sulit lagi.


“Sssttt, pelan-pelan. Tarik napas pelan, embuskan pelan ....” Cikho masih berbisik-bisik dalam bicaranya. Namun kali ini, ia sampai mengelus lembut dada dan juga leher Rere menggunakan tangan kanannya yang langsung kembali menggenggam Rere. Karena setelah apa yang terjadi kepada Rere, ia sungguh tidak akan pernah membiarkan istrinya itu berjuang sendiri lagi. Kejadian naas itu ia pastikan tak akan pernah terjadi lagi. Cukup sekali, dan ia pastikan ia tak akan kecolongan lagi.


“Makan, ya? Minum jus, mau?” bujuk Cikho lagi walau pertanyaan sebelumnya belum mendapat balasan berarti dari sang istri. Namun, sembari menahan kesedihan bahkan tangis, ekspresi yang sudah langsung mengiris hatinya, Rere menjadi sibuk menggeleng.


“Aku enggak mau makan. Aku juga enggak mau minum. Aku takut, ... aku enggak mau keracunan lagi karena itu sangat fatal buat janin kita!” lirih Rere sengaja membuat air matanya sibuk berlinang. Di hadapannya, Cikho sudah langsung berkaca-kaca dan berakhir menangis.


“Ada aku! Mulai sekarang, aku bakalan terus jagain kamu!” yakin Cikho.


Diam-diam, ibu Aleya yang mengintip dari balik pintu ruang rawat Rere yang sengaja ia buka sedikit juga langsung tidak tega. “Aku beneran merasa bersalah, tapi aku masih sanksi, ....” Ia yang berucap lirih, membuat bibirnya pipih sembari menatap penuh arti sang suami. “Kenapa Rere begitu paham tentang Azzura? Dia sampai tahu kalau Azzura di Jakarta. Kalaupun efek dia takut Cikho kembali berpaling ke Azzura, kenapa dia sampai sebegitu kontrol ke Azzura?”


“Kamu mau bilang kalau Rere sakit?” balas Tuan Maheza yang juga berucap lirih. Walau sang istri tidak langsung menanggapi gambang dengan ucapan, kenyataan ibu Aleya yang langsung menghela napas dalam sambil menepisnya, sudah cukup menjadi jawaban bahwa wanitanya itu membenarkan.


“Dia lebih parah dari Elia ... aku khawatir kalau sebenarnya, dia bipolar atau malah psikopat!” ucap ibu Aleya. “Tapi kok aku sejahat itu, ya? Aku bingung ... dia istri Cikho ... kok aku setega ini?” Pada akhirnya, ia hanya bisa menangis karena ia terlalu dilema.

__ADS_1


Tuan Maheza sudah langsung mendekap sang istri. Ia berusaha menenangkan ibu Aleya.


“Aku enggak mau setiap apa yang Rere prasangkakan malah makin membuat hubungan kita dan Arum sekeluarga makin terpuruk. Aku enggak mau ada praduga apalagi tragedi seperti sekarang ini, Pah!” lirih ibu Aleya.


“Ya sudah. Karena sudah telanjur, mulai sekarang, demi kebaikan bersama, biarkan mereka tinggal di rumah agar kita bisa sama-sama mengontrol!” ucap Tuan Maheza yang kemudian juga berdalih akan mengusut tuntas kasus keracunan Rere.


Ibu Aleya tak lagi menanggapi. Ia menghela napas dalam. “Kenapa malah jadi begini?” pikirnya benar-benar bingung. Lebih bingung lagi, mas Aidan tiba-tiba ada di hadapannya. Kakak dari Azzura tersebut terlihat sangat emosional. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu terbilang sibuk menghela napas kasar.


“Selamat malam, Om ... Tante,” sapa mas Aidan tetap menyalami tangan kedua orang di hadapannya dengan takzim. Karena ia sadar, sikapnya juga sangat berpengaruh kepada nama baik orang tua sekaligus keluarganya.


“Kok Mas Aidan di sini?” tanya ibu Aleya heran karena ia memang belum mengetahui kabar Azzura. Di hadapannya, mas Aidan sudah langsung mengangguk-angguk.


“Dua hari yang lalu, tiga malam yang lalu, mbak Azzura dan pak Haji Ojan menjadi korban temb4kan sengaja. Mereka diser4ng secara brut4l saat menjadi tamu di rumah kerabat kami. Untung mbak Azzura jago bela diri. Ada dua mafi4 yang harus mbak Azzura hadapi. Beruntung, walau sempat kehilangan banyak darah, mbak Azzura bisa bertahan. Masalahnya, ... sampai sekarang pak Haji Ojan masih koma.” Mas Aidan berucap lirih, tapi sangat tegas sekaligus cepat.


“Innalilahi wainailaihi rojiun .., kok bisa?” ibu Aleya benar-benar syok.


Dengan santai tapi tegas, mas Aidan berkata, “Coba tanya ke menantu Tante!”


Belum apa-apa, baik Tuan Maheza apalagi ibu Aleya, sudah langsung merasa tertampar. Rere? Kenapa malah Rere padahal Rere juga keracunan tiga malam yang lalu? pikir keduanya.

__ADS_1


__ADS_2