
Azzura tidak menjawab. Ia bungkam membiarkan air matanya terus berlinang sementara kedua tangannya fokus mengurus luka-luka Excel. Excel juga memilih diam, bentuk dari caranya menghargai Azzura.
“Mas, aku enggak bisa urus semua ini sendiri. Luka Mas terlalu parah dan memang banyak banget.” Azzura tersedu-sedu mengatakannya, terlebih diamnya Excel ia yakini karena pria itu tengah merasakan kesakitan dari luka-luka yang bisa Azzura pastikan sakitnya mirip akan kehilangan nyawa.
Tenang, mata tajam Excel yang awalnya terpejam berangsur terbuka. Mata itu begitu sayu, tak berdaya di tengah kenyataan wajahnya yang benar-benar pias mirip orang mati. “Enggak apa-apa. Di sebelah ada ruang kesehatan. Aku bisa menjalani pengobatan di sana.”
“Aku akan tetap pantau!” sergah Azzura memang siaga sekaligus cekatan. Ia sudah langsung membantu Excel bangun.
Mereka bekerja sama. Azzura yang bekerja, Excel yang tak berdaya yang terus memberi arahan ke mana Azzura langsung pergi.
Azzura terus memapah Excel sambil membawa infus maupun tasnya. Azzura tak sampai membawa baju hangat lengan panjang warna kuning milik Excel yang sudah berwarna oren akibat darah. Azzura meninggalkan baju itu di pinggir tembok lorong ia sempat mengobati Excel.
Walau sempat akan tidak diterima, hadirnya Shine yang tengah memantau jalannya pengobatan pada Helios, membuat Excel diizinkan. Excel mendapat penanganan tepat di sebelah Helios.
Dokter dan tim medis di sana tampak sangat andal sekaligus cekatan. Malahan ada orang bulenya dan jelas bukan orang Indonesia. Selain ruangan kesehatan di sana yang terbilang sangat luas, alat kesehatan yang ada juga lengkap. Ada CT Scan bahkan sistim operasi laser. Azzura berpikir, semua itu sengaja diadakan karena para mafi*a tak mungkin berobat ke tempat umum. Jadi, demi menjaga kesehatan mafi*a agar mereka bisa bekerja dengan semestinya, perlengkapan kesehatan layaknya di ruangan tersebut memang sudah sewajarnya ada.
Satu hal yang amat sangat mengganggu seorang Shine atas kebersamaan Excel dan Azzura. Selain Azzura yang terus berdiri di sisi Excel mengawasi jalannya pengobatan yang terjadi, tangan kanan Excel juga terus menggandeng tangan kiri Azzura yang turut menggenggam tangan kanan Excel sangat erat.
“Mereka benar-benar akan menikah? Aku pikir, tidak adanya Azzura di kampung, juga kaburnya Jimmi, memang karena Excel sudah membunuhnya seperti keterangan yang Rere sampaikan. Namun nyatanya, Azzura dengan begitu setia menemani Excel. Enggak terbayang bagaimana sakitnya jadi mas Heri,” batin Shine.
__ADS_1
“Mbak ...,” lirih Excel. Ia memang masih sadar dan tak sepenuhnya tak sadarkan diri karena biusnya.
Sambil mengeratkan genggamannya pada Excel yang masih tengkurap dan hampir semua pakaian pria itu ditutup, Azzura berkata, “Aku masih di sini, Mas. Semuanya pasti baik-baik saja.”
“Wajah mas Heri begitu ... karena Chiko,” ucap Excel yang perlahan menoleh pada keberadaan Azzura. Ia melakukannya dengan susah payah. Karena selain tubuhnya yang tak berdaya, ia juga sengaja membatasi geraknya agar tidak menghambat kinerja tim medis yang mengobatinya.
Dada Azzura seolah terhantam gada tak kasat mata. Benar-benar sakit. Bersamaan dengan itu, ekor pandangannya juga refleks mengawasi apa yang tengah terjadi pada Helios. Pria itu tak sadarkan diri dan tengah menjalani operasi besar di kepala menggunakan laser.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kamu bisa menanyakannya kepada mereka.” Excel kembali bersuara dengan suara yang benar-benar lemah.
Mendengar itu, Azzura yang menyimak juga refleks melirik Excel.
“Malam itu, bukan kebakaran karena efek listrik maupun kompor di dapur seperti yang disimpulkan. Karena pondok keluarga mas Heri memang sengaja dibakar.” Shine yang duduk di sebelah Azzura, di bangku yang ada di depan ruang kesehatan, menunduk sendu. Tatapannya menjadi kosong, tapi andai Azzura bisa melihat isi ingatannya, otomatis wanita itu juga bisa melihat kejadian yang sebenarnya. Kejadian yang tengah ia ceritakan, mengenai kebakaran yang menimpa pondok milik keluarga Heri.
“Sebelum kejadian, Cikho dan teman-temannya memang sempat mendatangi mas Heri. Sering juga, mereka mengajak mas Heri bertemu padahal yang mereka lakukan sama, memberi mas Heri peringatan agar mas Heri meninggalkan kamu.”
Di ingatan Shine, pondok pesantren yang memang luas, berbahan kayu, tapi jauh dari pemukiman, sudah dikelilingi api ketika ia dan Heri kembali. Malam-malam, bangunan asri itu dengan begitu mudah terbakar berikut penghuninya efek bahan bangunan yang hampir semuanya memang terbuat dari kayu.
“Kenapa baru sekarang? Kenapa harus selama ini?” tanya Azzura lirih tapi sangat tegas.
__ADS_1
Shine menatap berat Azzura, tatapan yang teramat memohon, meminta pengertian bahkan belas kasih. Saking sakitnya mengingat tragisnya nasib Heri hanya karena pernah menjadi kekasih Azzura, ia sampai menangis dan sulit menghentikannya.
“Kalian aneh. Kenapa baru sekarang kalian muncul kemudian membongkar semua kebu*sukannya, padahal setelah kalian menghilang dan dinyatakan sebagai pelaku kebakaran, aku menganggapnya sebagai malaikat bahkan jodoh dunia akhiratku!” Kali ini Azzura benar-benar marah.
“Kamu enggak tahu betapa hancurnya mas Heri ketika wajahnya diseterika kemudian di siram dengan minyak panas olehnya! Dia menggeliat kesakitan dan mata kanannya sampai jadi buta permanen!” Shine meraung-raung. Ia berakhir terduduk tak berdaya di lantai. Hatinya selalu rapuh di setiap ia harus menengok kekejaman yang menimpa Heri atau itu Helios.
Mendengar itu, tangis Azzura juga pecah sepecah-pecahnya. “Dan kalian membiarkan orang seperti ada bahkan menjadi orang terpenting dalam hidupku!” raungnya, walau tentu saja, ia jauh lebih tegar dari Shine. Karena meski ia seorang wanita, walau ia tumbuh di keluarga harmonis penuh cinta dengan orang tua yang begitu memanjakan anak-anaknya, ia selalu bertekad menjadi sosok tangguh.
Menggeleng pedih, Shine tetap terisak. “Kami tidak sehebat itu. Kami bukan kamu. Dan mas Heri selalu merasa han*cur di setiap dia melihat wajahnya yang benar-benar rus*ak. Dia hanya bisa mengawasimu, mencintaimu dari kejauhan, Ra.”
“Walau dia tak lagi ada di sisimu, dia selalu mencintaimu. Termasuk dana pembuatan klinikmu, itu bukan bantuan dari pihak kesehatan pemerintah. Itu murni dari mas Heri, yang membuat semuanya seolah memang dari pemerintah.”
“Sementara alasan kami seperti ini ... karena hanya dengan begini, kami bisa memiliki uang sekaligus kekuasaan. Kami menariknya perlahan melalui setiap jud*i yang dijalani. Membuatnya menghabiskan uang orang tuanya yang selama ini menjadi bahan kesombongannya.”
“Seharusnya jika kalian bermasalah dengan seseorang, dan itu dengan dia, cukup balas kepadanya tanpa harus menciptakan korban lain!” murka Azzura. Apalagi selama ini ia paham, Tuan Maheza dan juga ibu Aleya sudah tidak kurang-kurang dalam mendidik Cikho. “Tunggu di sini. Aku akan membawanya ke kalian agar kalian bisa membalas dendam kalian tanpa banyak alibi lagi!” tegasnya kali ini menatap Shine penuh peringatan.
Tanpa menghapus air matanya maupun membersihkan dirinya yang masih penuh darah dari luka-luka Excel, Azzura melangkah cepat, pergi dari sana. Tekadnya sungguh bulat, melalui taksi online yang ia pesan, ia akan membawa bahkan bila perlu menyeret Cikho ke sana. Selain itu, Azzura juga akan membawa keluarga Cikho ikut serta.
“Kukira malaikat, tapi nyatanya kamu benar-benar bejatt, Mas Cikho!” batin Azzura. Kedua tangannya mengepal kencang di sisi tubuh. Ia yakin, sopir yang mengantarnya bingung karena selain tubuhnya penuh darah, ia juga tak hentinya menangis. Namun sesekali, pria paruh baya itu memintanya untuk sabar sekaligus istighfar karena yang pria itu tahu, calon suami Azzura kecelakaan dan kini Azzura akan pergi ke rumah saudaranya untuk meminta bantuan.
__ADS_1