Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
103 : Dua Garis Merah


__ADS_3

Acara foto prewedding sengaja diakhiri sebelum adzan magrib berkumandang. Rencananya, acara akan dilanjutkan setelah mereka selesai salat magrib berjamaah di masjid terdekat.


Excel menikmati buka puasa pertamanya di tengah kehangatan keluarga yang hadir dalam formasi lengkap. Semuanya tampak sangat bahagia termasuk Akala yang diam-diam telah dibuang oleh Cinta. Sesekali, Akala akan mengabadikan kebersamaan mereka melalui bidik kamera. Baik dalam bentuk foto maupun video.


Dari semuanya, ibu Arum masih menjadi sosok paling sibuk karena harus mengurus keempat laki-laki sekaligus. Dari pak Kalandra, juga ketiga putranya. Keempatnya sedang kompak ingin dimanja, dan apa-apa serba ingin disiapkan.


“Andai Ojan ikut, pasti acaranya lebih meriah karena ada yang bisa ditenggelamkan! Tuh, di sebelah kan rumahnya ibu Susi yang hobi menenggelamkan!” ucap Azzam jujur sejujur-jujurnya.


“Eh, jangan ...,” refleks Excel yang memang telanjur menyayangi pak Haji Ojan. Tak semata karena pak Haji Ojan pernah menjadi korban salah tembak mafia di rumahnya. Karena semenjak Excel tahu riwayat hidup pak Haji Ojan yang sudah jadi yatim piatu sejak bayi, Excel menjadi sangat peduli.


“Mas Azzam ya, anak orang kok mau ditenggelamkan,” tegur Azzura masih menyisihkan setiap daging ikan bakar ke piring suaminya.


“Siapa tahu setelah itu jadi normal!” balas Azzam yang juga buru-buru berdiri.


Azzam menghampiri Azzura, kemudian mengeluarkan bungkusan dari saku sisi celana pendeknya.


“Apa itu?” tanya Azzura kepo lantaran bungkus yang ia terima dari Azzam berwarna putih dan ia tak bisa melihat isinya.


“Test pack! Aku curiga Mbak hamil karena Mbak jadi mirip Ojan. Manjanya kebangetan!” balas Azzam masih jujur.


Azzura refleks menahan senyumnya. Hatinya berbunga-bunga dan ia sungguh bahagia walau ia belum membuktikan kebenaran dari kehamilannya.

__ADS_1


Setelah Azzura mengerling, wanita itu mendapati semua yang ada di sana sudah langsung menatapnya dengan antusias. Termasuk juga dengan sang suami yang buru-buru mengambil teh manis hangatnya. Excel buru-buru minum dan tampak tidak sabar menunggu Azzura menggunakan test pack pemberian Azzam.


“Makannya dihabisin dulu, baru cek!” ucap ibu Mira memberikan perhatiannya. Ia yang duduk tepat di hadapan Azzura, sebenarnya juga sudah tidak sabar. Benarkah menantunya sedang hamil seperti yang dikhawatirkan sang kembaran?


“Ih, kok aku enggak kepikiran kalau aku ... hamil?” batin Azzura. Sebenarnya, Azzura bisa saja melakukan pemeriksaan secara mandiri. Namun kedua tangannya belepotan. Hingga ia memutuskan untuk kembali menyuapi sang suami. Ia melakukannya dengan sangat semangat agar suaminya cepat kenyang dan makannya pun cepat selesai.


“Cepat ya Mas, aku pengin cek!” rengek Azzura dan semuanya sudah langsung menertawakannya termasuk Excel yang mulutnya ia penuhi dengan nasi dan ikan bakar.


“Ayo cek sekarang. Mas sudah kenyang kok,” sanggup Excel sambil terus mengunyah.


“Makannya habisin dulu. Habisin dulu,” ujar ibu Arum yang memang tak mau Azzura dan Excel menyia-nyiakan makanan.


“Ya sudah Mas, kita habisin makanan kita dulu,” sanggup Azzura pasrah sekaligus manja, dan lagi-lagi membuat semuanya menertawakannya. Apalagi ketika ia sengaja menyumbangkan nasi dan lalapan berikut sambalnya ke Akala.


Akala yang masih lahap makan di dalam mulutnya, membiarkan satu piring nasi dan lalapan pemberian Azzura diangkat oleh Azzam. Malahan, nasi di piring Akala juga diangkut sebagian, ditukar menggunakan lalapan oleh Azzam.


“Mas Azzam, jangan gitu ih. Porsinya Dek Akala memang segitu!” protes Azzura paling tidak suka adik kesayangannya kekurangan makanan.


Azzura sengaja meninggalkan Excel hanya untuk memperjuangkan hak Akala. Ia mengambil nasi Akala dari Azzam yang baru saja duduk.


“Sebenarnya porsi kalian sama saja!” tegas Azzura. “Bedanya, punya Dek Akala jadi daging, punya Mas Azzam lari ke tetangga atau malah ikut lari jadi daging ke Dek Akala!” yakinnya dan lagi-lagi menjadi alasan tawa di sana kembali pecah.

__ADS_1


“Azzura sangat menyayangi Akala. Azzura pasti akan sangat sedih dan bahkan menjadi orang yang paling sedih ketika Akala terluka. Belum lagi mamah Arum. Papah, mbah uti, mbah kakung, semuanya, terlebih Akala yang menjalani. Orang seperti Akala pasti akan sangat terluka karena dia juga akan sangat memikirkan dampak lukanya terhadap keluarganya. Rasanya enggak rela banget kalau mereka harus terluka apalagi jika gara-gara hubungan Cinta dan Helios,” batin Excel. “Benarkah membiarkan Cinta pelan-pelan membuang Akala menjadi pilihan terbaik agar Akala tidak sepenuhnya terluka? Agar Akala jauh lebih bisa cepat bangkit sekaligus move on? Atau memang, karena Akala terlalu baik hingga Alloh enggak rela Akala bersanding dengan Cinta yang tidak punya prinsip?” pikir Excel lagi.


Excel yang tak mau berlarut-larut dalam kesedihan memutuskan untuk memasrahkan segala sesuatunya kepada Sang Pemilik Kehidupan. Apa pun itu yang akan terjadi kepada Akala, Excel percaya Alloh akan memberikan yang terbaik. Karena padanya saja, Alloh sangat baik. Apalagi kepada Akala yang memang sangat baik? Pikir Excel.


Beres makan, Excel dan Azzura pamit ke toilet. Ia akan melakukan pemeriksaan kehamilan di toilet restoran kebersamaan mereka, dan letaknya memang tidak begitu jauh dari pantai. Sembari melangkah menuju kamar mandi, Azzura juga melakukan pemeriksaan mandiri di perutnya.


“Memang ada sih Mas, aku bisa merasakannya. Ini paling baru empat minggu. Bentar, hari terakhir aku mens itu kemarin tanggal—” Azzura sudah langsung menghitung usia janin di dalam rahimnya.


“Cek dulu pakai test pack,” lembut Excel yang sudah langsung tersipu.


Azzura merengut manja. “Aku bidan, Mas. Yang begini ya sudah jadi duniaku!” rengeknya dan sang suami sudah langsung tersenyum hangat sambil merangkulnya walau mereka masih melangkah menuju toilet.


Suasana toilet yang tidak ramai membuat mereka tak harus mengantri. Excel bahkan nekat masuk toilet wanita Azzura berada. Azzura yang memang sudah berbunga-bunga sekaligus merasa sangat bahagia, refleks menertawakannya.


“S-sayang, kamu bahagia banget? Beneran bahagia?” tanya Excel memastikan.


“Tentu! Ini dari tadi aku ketawa, bukan nangis, Mas!” balas Azzura berangsur membuka bungkusan pemberian Azzam.


“Ya sudah cek biar aku lega!” ucap Excel. Di toilet kebersamaan mereka yang terbilang sempit, ia sengaja minggir, memberi sang istri ruang agar bisa bergerak dengan leluasa.


Harap-harap cemas tak hanya menyelimuti hati seorang Excel walau sang istri sudah yakin hamil dan usia janin juga sudah Azzura ketahui. Karena pak Kalandra sekeluarga termasuk ibu Mira dan Elena yang masih duduk di kursi mereka menghabiskan makan malam juga tak sabar untuk mengetahui kebenaran kehamilan Azzura.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit kemudian, kedatangan Azzura dan Excel yang memamerkan alat tes kehamilan berhias dua garis merah, memecahkan harap-harap cemas mereka. Semuanya langsung tersenyum semringah. Ibu Arum refleks memeluk sang suami kemudian memeluk ibu mertuanya yang juga langsung heboh, persis ketika Azzam sedang bawel.


“Mbak Azzura hamil saja sudah mirip Miss Dunia, dadah-dadah sambil tebar senyum,” komentar Azzam yang menjadi terkikik sendiri. Terlebih komentarnya itu sudah langsung membuat Azzura merengek manja.


__ADS_2