
“Sebenarnya aku penasaran,” ucap Excel yang tidak bisa tidur.
Azzura yang sudah meringkuk sambil mendekap tubuh Excel, berangsur membuka matanya. Ia menatap Excel, penasaran apa yang membuat suaminya penasaran hingga pria itu juga tampak berat dalam mengutarakannya.
“Kenapa, Mas?” lirih Azzura yang sebenarnya sudah sangat mengantuk, tapi kedua matanya berangsur menatap lekat-lekat kedua mata suaminya.
Excel berangsur menatap Azzura dengan jauh lebih serius. “Ini mengenai tanggapan keluargamu kepadaku. Aku lihat, keluargamu sama sekali tidak mempermasalahkan pekerjaanku. Mas Aidan juga nyaman-nyaman saja ada di markas mafia,” ucapnya.
Azzura refleks menunduk murung. “Untuk yang itu, sebenarnya sampai detik ini mereka enggak tahu, Mas. Yang mereka tahu, pekerjaan Mas ya di pabrik tahu, tempe, sapi, sama kebun kedelai. Sementara markas mafia kalian, mereka pikir itu merupakan kantor jasa pengamanan seperti satpam dan ajudan.” Ia berangsur menatap Excel. “Enggak usah diceritakan. Semuanya termasuk keluargaku enggak perlu tahu. Toh, aku yakin Mas bukan yang akan sembarangan melukai apalagi membun*uh orang. Mas hanya melakukannya ke target yang dipesankan dan—” Azzura merasa berat untuk mengatakannya. “Sekarang, Mas hanya bantu-bantu, kan? Mas hanya akan turun tangan kalau mas Heri memang butuh bantuan?”
Excel mengangguk-angguk. “Aku janji aku akan berhenti. Kamu jangan merasa bersalah karena ini murni kesalahanku!” lirih Excel yang merasa sangat bersalah karena masa lalunya sebagai seorang mafia telah menjadi beban untuk Azzura.
Azzura membiarkan tubuhnya didekap oleh sang suami. Layaknya dirinya, tampaknya masa lalu Excel sebagai seorang mafia juga membuat suaminya itu tidak bisa berkomentar. Apalagi jika melihat latar belakang mereka, mereka sangat bertolak belakang.
“Pelan-pelan berubah jadi manusia lebih baik, enggak ada salahnya daripada enggak sama sekali, Mas!” lirih Azzura seiring kedua matanya yang berembun. Mendadak ia merasa sensitif jika menyinggung masa lalu Excel, tapi ia tak mau berlarut-larut agar Excel juga bisa melangkah lebih depan, menjadi manusia lebih baik lagi. Malahan sebagai istrinya, Azzura merasa berkewajiban melakukan itu.
“I love you!” bisik Excel.
Azzura langsung berdeham kemudian mengangguk-angguk dan berakhir menatap kedua mata Excel. “I love you too, Mas!”
Azzura percaya, ujian hidup sekaligus ujian pernikahan seseorang berbeda-beda. Dan Azzura yakin, apa yang tengah membuat mereka merasa tidak nyaman akibat masa lalu Excel yang merupakan seorang mafia, menjadi salah satu ujian terbesar hubungan mereka. Hanya saja, Azzura dan Excel sepakat untuk tidak membagikan itu kepada keluarga mereka. Terlebih Excel bukan mafia yang menghabiskan waktunya untuk alko*hol, bersenang-senang dengan wanita, berju*di, atau malah menghabis*i orang tanpa pikir panjang.
Malahan ketimbang Excel, Cikho yang statusnya bukan mafia, justru lebih bejad. Uang, pesta, wanita, alko*hol, termasuk judi, entah yang lain, sudah melekat dalam setiap kebersamaan pria itu bersama teman-temannya.
__ADS_1
Pada intinya, Excel berbeda. Dia hanya manusia yang tersesat, terpaksa menjadi bagian dari jaringan gela*p. Dan kini, sembari menata hati menata hidup sekaligus berdamai dengan masa lalunya, Excel tengah berusaha kembali ke jalan yang benar dituntun Azzura.
“Aku beneran sudah ikhlas. Apa pun nanti hasil dari kasus ayah, aku ikhlas!” ucap Excel.
Azzura yang menyimak berangsur mengakhiri dekapannya dari tubuh Excel. Namun, ia menggunakan kedua tangannya tersebut untuk mendekap erat tengkuk Excel.
***
Kasus kematian ayah Excel masih bergulir. Pihak-pihak yang terseret tengah berlomba membela diri, mengaku mereka hanya korban drama buatan sang jendral. Tak hentinya mereka ‘bernyanyi’. Ada yang meminta maaf kepada Excel sekeluarga agar hukuman mereka jadi lebih ringan atau malah ditiadakan. Namun tak jarang pula yang nekat mengirim teror karena kesal kepada Excel telah membuka kasus mereka.
Sebagai pengacara, mas Aidan juga menerima dampaknya. Dari mobil yang malam-malam dilempar batu, rumah yang didatangi aparat atau preman. Karenanya, mafia milik Helios dan keluarga Azzura ketahui hanya berstatus sebagai pengawal biasa, sengaja diturunkan untuk jaga-jaga. Karena kediaman pak Kalandra juga tak luput dari seranga*n.
Excel dan Azzura sudah kembali ke kampung halaman. Keduanya melanjutkan persiapan resepsi pernikahan mereka. Mereka tengah mencoba pakaian pengantin di rumah dan sebelumnya mereka ambil dari Jakarta.
“Kurang apa?” tanya Azzura memamerkan gaun pengantin warna putihnya.
“Aku senang banget lihat Mas pakai serba putih begitu,” ucap Azzura yang menjadi tersenyum lembut menatap wajah sang suami.
“Kenapa? Pakai putih gini jadi mirip paskibra?” balas Excel dengan santainya dan berakhir tertawa.
“Mas ih, aku serius!” balas Azzura manja dan langsung memeluk Excel.
“Memangnya kalau aku pakai warna hitam, kenapa? Enggak ganteng?” tanya Excel sembari membalas pelukan Azzura.
__ADS_1
“Ya tetap ganteng, enggak ada salahnya. Tapi aku ingin lihat Mas pakai yang lebih berwarna. Mas kan sudah punya aku yang berwarna, jadi ya ayo jangan bersembunyi di warna gelap terus!” pinta Azzura.
“Maksudnya, pakai serba pink kayak mas Ojan lengkap dengan sandal kelinci, ada bunyi cit citnya, gitu?” balas Excel memastikan, tapi Azzura langsung panik.
“Jangan ih, Mas. Serem kalau yang mas Ojan sih. Ih Mas!” ucap Azzura mengakhirinya dengan tertawa.
Suasana menjadi hening karena baik Azzura apalagi Excel, kompak diam. Excel tengah menatap dalam setiap lekuk wajah Azzura. Namun dipandangi layaknya sekarang, istrinya itu terlihat menjadi gugup. Azzura jadi tidak berani membalas tatapannya apalagi menatapnya.
Excel teringat awal mula hubungan mereka. Ia lah yang bertamu, menemui Azzura untuk mengobati luka-lukanya. Benar-benar tak menyangka, dari pertemuan tersebut pula, Azzura benar-benar menjadi dokter untuk setiap luka-lukanya. Azzura bahkan berulang kali bertaruh nyawa untuknya. Masih Excel ingat kejadian dini hari yang mencekam dan membuatnya menjadikan Azzura sebagai pepera*ngan.
“Masih enggak percaya, istriku sekeren ini. Petasan banting saja kalah!” ucap Excel sengaja memuji sang istri.
Azzura langsung menengadah, tersipu malu menatap suaminya. “Kok petasan banting?”
“Cantik jangan ditanya, pintar jangan diragukan, masak juga oke, paling jago bikin baper, paling jago bikin klepek-klepek,” ucap Excel masih memuji sang istri.
“Mas bilang aku masih kurang sabar? Terus apa lagi yang enggak aku bisa!” Azzura tidak akan pernah lupa bahwa suaminya pernah menganggapnya masih kurang sabar.
“Kalau kamu buat aku takarannya sudah pas. Namun kalau kamu buat mas Aidan, itu masih kurang. Memangnya kamu sanggup ditinggal kerja hampir dua puluh empat jam, tanpa kabar?” balas Excel.
“Sementara kalau kamu tanya, apa yang enggak kamu bisa, ... kamu enggak pernah bisa aku marah. Terus kamu juga berbakat bikin aku rindu.” Excel mengakhiri ucapannya dengan tersipu.
Azzura yang kegirangan refleks berjingkrak-jingkrak. Kedua tangannya segera mendekap erat tubuh sang suami dan Excel sampai mengangkat tubuhnya. Membuat mereka melakukan adegan romantis.
__ADS_1
“Sweet banget!” lirih Azzura sambil menatap Excel penuh cinta.
“Untung kita sudah menikah!” ujar Excel dan langsung membuat Azzura tertawa. Karena andai mereka belum menikah, tentu sangat berbahaya dan mereka pun jadi serba terbatas dalam interaksinya.