
“Kamu merasa tidak pantas untuk Mbak Azzura?” ucap pak Kalandra mengambil alih obrolan. Ia menatap pria di hadapannya penuh kepastian. “Memangnya menurutmu, kriteria apa yang pantas menjadi pendamping Mbak Azzura?”
Excel merasa, pertanyaan yang pak Kalandra berikan kepadanya, cukup menjebak. Ia sampai ragu menjawabnya. Terlebih ia sadar, pak Kalandra bukan orang biasa. Bukan karena hartanya, tapi karena cara pikir pria itu yang dulunya merupakan seorang pengacara layaknya mas Aidan.
“Apakah menurutmu, dia harus seorang yang paham apalagi pemuka agama? Atau malah, ... dia harus seorang pengusaha, seorang petinggi, atau malah pria kaya raya? Atau malah perpaduan dari ketiganya?” ucap pak Kalandra walau Excel tampak tidak berani menjawabnya. Namun ia yakin, keempat jawaban yang baru ia katakanlah yang akan Excel berikan.
Di sebelah pak Kalandra, ibu Arum yang ikut tegang karena ini menjadi kali pertama pak Kalandra menanyai seorang pria akan keseriusannya kepada Azzura, berangsur merangkul Azzura.
“Mbak Azzura tidak membutuhkan semua itu. Karena tanpa laki-laki yang mahir agama apalagi mereka yang paham agama. Juga, mereka yang berstatus petinggi maupun pengusaha sekaligus pria kaya raya, Mbak Azzura bisa. Mbak Azzura tidak pernah mengharapkan kesempurnaan lain selain kesetiaan dan ketulusan tanpa ada pihak ketiga apalagi itu yang dinamakan pengkhianatan. Karena jika seorang pria sudah berani menikahi seorang wanita, pria itu harus menjadikan wanita itu nomor satu, memuliakannya hingga titik akhir,” tegas pak Kalandra.
“Papah ... jika ada penghargaan papah terbaik di dunia ini, Papah layak mendapatkannya. Bukan hanya dariku maupun anak-anak papah yang lain, tapi benar-benar seluruh duni!” batin Azzura berkaca-kaca menatap sang papah walau ia hanya bisa melakukannya dari samping.
“Siapa pun dirimu, bahkan sekalipun di awalnya niatmu tidak baik, jika mulai sekarang kamu memperbaiki dan terus menjadi lebih baik lagi sepanjang kamu hidup, kamu layak menjadi pendamping Mbak Azzura!” tegas pak Kalandra.
__ADS_1
“Tubuhmu boleh saja ditato, adikmu memang dengan sengaja ingin membun*uh mbak Azzura, tapi kenyataan kamu yang terus berusaha melindunginya, itu sudah menjadi bukti perubahan yang saya maksud!” lanjut pak Kalandra.
Sekelas Excel langsung berkaca-kaca karenanya.
“Selama mengenalmu, saya percaya kamu orang baik. Kamu mau menekan egomu dan sebisa mungkin menghargai Mbak Azzura, meski beberapa kesempatan bisa membuatmu melakukan kejaha4n kepadanya,” ucap pak Kalandra benar-benar yakin.
“Namun alasannya membawa Azzura ke Jakarta karena dia ingin membantuku melenyapk4n Azzura!” tegas Rere. Di tengah kenyataan wajahnya yang pias, ia datang sambil mendorong kursi roda berisi sang mamah.
Kedatangan Rere yang sampai membawa ibu Mira sang mamah, makin membuat keadaan runyam.
Rere dan segala kejahatannya benar-benar membuat semuanya muak termasuk itu Excel yang kali ini mendadak terlempar pada jurang berlabel fitnah. Rere sungguh tengah berusaha melawannya dengan fitnah seperti yang sudah wanita itu lakukan kepada Azzura.
“Hanya anak tak punya hati saja yang dengan tega mer4cuni pikiran mamahnya, padahal dia tahu, mamahnya sedang sakit,” tegas Azzura. “Kamu bahkan tidak sopan, dengan tega memfitnah kakakmu di waktu yang harusnya menjadi bagian terpenting dalam hidupnya!” Azzura benar-benar geram. Kemudian tatapannya tertuju kepada ibu Mira. “Ibu Mira, ibu tahu mas Excel bekerja tanpa kenal waktu hanya untuk menjadi tulang punggung keluarga khususnya memenuhi kebutuhan Rere yang tidak pernah ada habisnya. Saya yakin, walau mas Excel hanya diam atau malah berkata dusta sekalipun, harusnya Ibu tahu, siapa yang benar sekaligus benar-benar tulus kepada Ibu!” Azzura menatap ibu Mira dengan sangat memohon, sebelum akhirnya tatapannya tertuju kepada Rere. “Dan kamu, ... tunggu saatnya kamu menerima balasannya. Walau aku yakin, kini pun sebenarnya tanpa sadar kamu sudah merasakan karma dari ulahmu. Melalui waktu dengan penuh ketakutan setelah kejahat4n yang kamu lakukan, bukankah itu sangat tidak nyaman? Kamu memang hidup, tapi karena kejahat4nmu, kamu benar-benar tersiksa. Kamu sudah merasakan neraka sebelum kematian. Terus mencari cara, menciptakan kebohongan demi kebohongan untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya.”
__ADS_1
“Keputusan Mas Excel membongkar kebus*ukkan kamu sudah sangat tepat. Karena setelah dia yang memang kakakmu dan otomatis menjadi walimu tidak bisa mendidik kamu, memang ada baiknya beliau menyerahkan kamu kepada mereka yang lebih bisa melakukannya!” lanjut Azzura yang perlahan maju, meraih kedua tangan ibu Mira kemudian menggenggamnya.
Bergegas Excel menyusul karena pria terlalu khawatir, Rere yang sepertinya sudah s1nting akan tega melukai Azzura maupun mamah mereka. Terbukti, Rere dengan perut besarnya mendadak mengeluarkan beberapa sunt1kan dari tas di bahu kanannya.
Dengan sigap Excel menarik Azzura, kemudian melakukan hal yang sama kepada sang mamah yang langsung ia bopong karena efek penyakit gula yang diderita, ibu Mira memang kehilangan kaki kiri, sementara beberapa jemari kaki kanannya juga sudah sampai diamputasi.
“Cukup Re, ... cukup! Kalau kamu enggak kasihan sama diri kamu sendiri, setidaknya kamu kasihan ke Mamah!” berlinang air mata, seorang Excel menatap Rere dengan sangat memohon. “Kamu juga harus kasihan ke janin kamu!”
Mas Aidan sudah langsung maju. Bukan Azzura yang ia lindungi, melainkan ibu Mira. Ia mengambil alih ibu Mira, membopongnya kemudian membawanya pergi. Lain dengan pak Kalandra yang sudah langsung menelepon polisi. Yang mana, Rere sudah langsung sibuk mengawasi semua itu. Ia yang baru saja membuka setiap tutup dari keenam suntikannya menjadi menatap ragu semua itu, berganti pada kedua wajah di hadapannya yaitu Azzura dan Excel. Namun baru saja, Excel yang walau fokus menatapnya menggunakan tangan kanannya untuk membuat Azzura yang memang masih di sebelah kanan agak belakang Excel, mundur.
“Jika aku tidak bisa membunuhh Azzura, berarti aku harus membun*uh diriku sendiri!” tegas Rere.
Ibu Mira yang mendengar itu sudah langsung menangis histeris. Ibu Mira berusaha memberontak, mencoba menghentikan Rere walau ia sadar, keadaannya tidak memungkinkan, selain mas Aidan yang tidak mengizinkannya turun.
__ADS_1
Begitupun dengan Azzura. Azzura yang sudah langsung menerobos Excel, malah secepat kilat didekap erat oleh Excel yang tidak mengizinkannya mendekati Rere.