
Shine yang gemetaran, antara menahan sakit dan juga terlalu takut, perlahan menyudahi tatapannya dari Azzura. Bersamaan dengan itu, air matanya berlinang mengiringi dadanya yang bergemuruh, menahan rasa tak karuan yang seketika ia rasakan. Adanya Azzura di sana lah yang menjadi penyebab semua itu terjadi.
Azzura menjadi terdiam serius, ia merenung, mencoba membuka setiap lembaran ingatan yang masih berkaitan dengan pria di hadapannya. Iya, Azzura mengenalnya. Syam merupakan bagian dari masa lalunya, tapi sudah sangat lama mereka tak bertemu. Bertahun-tahun, sekitar sepuluh tahun yang lalu, hingga Azzura melupakan sebagian masa lalu mereka karena memang sudah terbilang lama. Namun tanpa sengaja, ia melihat sosok Helios. Topeng, tubuh yang begitu tegap bahkan Excel saja kalah.
Tanpa sengaja Azzura justru mengamati sosok Helios. Pria bertubuh tinggi dan sangat tegap sekaligus menjadi sosok paling tegap itu memakai seragam layaknya pria di sana, dan Azzura yakini memang masih bagian dari seragam anggota mafia*a. Namun Azzura merasa aneh kenapa Helios sampai memakai topeng. Apakah itu bagian dari seragam yang membuat Helios berbeda dengan anggota lain? Atau, ada alasan khusus kenapa itu sampai terjadi?
Terdengar pergerakan pelatuk pistol yang kembali ditarik dan itu Shine dapati dilakukan oleh salah satu mafi*a di belakang yang sampai sudah mengarahkan moncong pistolnya ke punggung Azzura. Namun dengan sigap, Excel yang sudah mirip zombie atas darah segar yang terus mengalir dari luka-lukanya, menghampiri si pria kemudian merebut pistol yang juga langsung Excel tempelkan di kening pria itu penuh emosi.
“Sudah dibilang, turunkan senjata kalian!” kesal Shine buru-buru bangkit, ia berdiri menatap Azzura yang ia pergoki menitikkan air mata. Bukan lagi karena Excel, melainkan karena tatapan Azzura terpaku pada gelang merah terbilang kucel yang menghiasi pergelangan tangan kiri seorang Helios.
“Ra ...?” ucap Shine, merasa serba salah. Namun, ia tak kuasa menahan Azzura yang melangkah mendekati ketua mereka.
Bukan hanya jantung Azzura yang menjadi berdetak sangat kencang. Karena wanita itu juga sampai gemetaran. Walau ragu bahkan takut, Azzura memastikan gelang yang sudah mencuri perhatiannya. Gelang merah berhias aksesori matahari kuning yang diapit ornamen serupa, tapi ada huruf A dan H. Alasan yang juga kian membuat air mata Azzura sibuk berlinang.
Kemudian, tangan kanan Azzura bergerak ragu meraih topeng hitam mengkilap yang menutupi wajah seorang Helios. Namun tanpa membukanya, Azzura sudah melihat cairan bening terus mengalir dari sudut mata Helios dan berakhir di sekitar telinga.
Excel yang masih siaga menod*ong kening pria pemilik pistol dan diam-diam mengawasi apa yang Azzura lakukan yakin seyakin-yakinnya, Azzura, Shine, bahkan ketua mereka saling mengenal. Memang ada masa lalu yang belum kelar di antara mereka.
“J-jangan, Ra ....” Shine yang tidak bisa apa-apa, mendadak merasa dirinya telah menjadi orang paling tidak berguna di dunia ini.
__ADS_1
Wajah sangat seram. Itulah yang Azzura temukan di balik topeng berwarna hitam mengkilap seorang Helios. Wajah yang juga membuat dada seorang Azzura terasa pegal akibat jantungnya yang berdetak makin kencang. Azzura sampai meringis dan perlahan agak terguncang karena rasa menyakitkan itu. Melihat wajah seram Helios dan kenyataan pemiliknya yang terus terpejam walau butiran bening terus mengalir dari kedua matanya.
“Mas Heri ....” Azzura terpejam lemah, membuat butiran bening mengalir secara bersamaan dari kedua sudut matanya. Perlahan ia mundur, kemudian lirikannya berhenti pada Shine yang ia kenal sebagai Syam.
Syam, Azzura kenal sebagai anak angkat dari pemilik pondok pesantren biasa Azzura mengaji sekaligus latihan pencak silat. Syam anak yang malang, yatin piatu yang terpaksa hidup sebatang kara karena pihak keluarga orang tua tidak ada yang mau menampung. Keluarga orang tua Syam terlalu mis*kin hingga mereka tak mau diikuti Syam, walau Syam dikenal sebagai anak yang sangat pekerja keras.
Sejak usia sebelas tahun, Syam sudah menjadi kuli panggul di pasar dekat pondok biasa Azzura mengaji sekaligus mengikuti pencak silat. Terkadang, Syam yang putus sekolah terlalu dini itu juga menjadi tukang antar keperluan dapur rumah makan milik orang tua Azzura. Sebenarnya banyak yang peduli kepada Syam. Karena sebelum diangkat menjadi anak oleh guru sekaligus pemilik pondok pesantren Azzura sempat bernaung, termasuk orang tua Azzura juga beberapa kali menawari Syam, menjadikannya sebagai anak, memberi Syam kehidupan layak, termasuk itu agar Syam kembali sekolah. Namun yang Azzura ingat, saat itu Syam jauh lebih suka cari uang ketimbang sekolah. Mungkin karena Syam sudah terlalu bosan hidup susah hingga Syam ingin memiliki banyak uang. Barulah setelah sederet pendekatan yang dilakukan Heri, putra dari pimpinan sekaligus pemilik pondok pesantren, kehidupan Syam perlahan berubah. Iya, Heri, atau itu mas Heri yang Azzura yakini menjadi sosok asli seorang Helios.
“Mas Heri tidak pernah meninggalkanmu. Kami selalu ada di dekatmu, walau kamu tidak tahu,” lirih Shine meyakinkan.
Tak sedikit pun Azzura melirik Shine. “Aku sama sekali tidak akan membenarkan apa yang kalian lakukan. Sudah terlalu lama, dan kalian dengan sengaja menanam luka.”
“Jangan memaksa seseorang untuk menerima kehendakmu. Jangan memaksa seseorang untuk menerima kehendak kalian jika kalian saja tidak bisa menghargai orang lain, bahkan menghargai diri kalian sendiri!” tegas Azzura yang kali ini menatap sengit Shine. Di hadapannya, Shine sudah langsung bungkam. Pria itu bahkan menjadi tidak berani menatapnya dan perlahan mundur, memberinya jalan.
“Urus kakakmu segera sebelum keadaannya makin parah!” tegas Azzura lagi. Ia bergegas mengeluarkan ponsel dari tas di pundak kannya. Melalui gawai canggih tersebut, ia menghubungi nomor ponsel mas Aidan seiring tangan kirinya yang sudah langsung menggandeng tangan kanan Excel.
Walau masih bingung, Excel membiarkan tubuhnya dituntun Azzura. Ia menjatuhkan pistol di tangan kirinya begitu saja.
“Mas, tolong bawa mamah pergi sekarang juga. Aku dan mas Excel baik-baik saja, tapi tolong bawa mamah pergi dulu. Aku enggak mau mamah pingsan gara-gara melihat keadaan mas Excel, Mas. Bawa mamah pergi sekarang juga. Nanti pasti aku jelaskan semuanya ke Mas. Aku janji!” ucap Azzura masih emosional. Ia berangsur menghentikan langkahnya. Tak semata menyimak balasan mas Aidan yang menjadi cerewet dari seberang, tapi karena tatapannya tercuri pada keberadaan belati yang menancap di punggung kiri Excel.
__ADS_1
Azzura yakin itu belati beracun lagi. Hingga setelah ia mengakhiri sambungan teleponnya dengan mas Aidan, ia langsung meletakan tasnya di lantai. Tanpa peduli pada apa yang telah terjadi juga di mana dirinya berada, Azzura sudah langsung melakukan pengobatan darurat kepada Excel. Ia menyunt*ik Excel menggunakan cairan penawar rac*un, menginfus Excel, juga mengobati luka lain termasuk itu mengambil peluru di beberapa titik tubuh Excel.
Alasan yang membuat Azzura makin sibuk berlinang air mata, tak ada sedikit pun keluhan dari seorang Excel walau pria itu benar-benar terluka parah. Azzura sampai frustrasi, tersedu-sedu karena terlalu bingung harus mengobati yang mana dulu.
Excel yang tengkurap di lantai, menatap sedih keadaan Azzura yang tersedu-sedu memunggunginya. Ia benar-benar menyesal telah membuat Azzura seperti itu.
“Gara-gara sakit hati. Gara-gara uang dan status sosial, ... aku yakin itu yang menjadi alasan kalian begini.” Azzura siap kembali merawat Excel dengan perlengkapan apa adanya. Baru saja, pihak medis para mafi*a berbondong-bondong datang. Enam orang yang dikerahkan dan memakai jas putih khas dokter, lewat di sebelah mereka menuju keberadaan Helios atau Heri, berada. Kendati demikian, Azzura tetap fokus mengurus peluru di punggung Excel.
“Maaf,” lirih Excel. Tangan kirinya yang terbac*ok, meraih tangan kanan Azzura dan nyaris mendekapnya.
Azzura terdiam, bingung harus menjawab apa. Namun, ia sengaja berterima kasih. “Terima kasih karena Mas sudah bertahan.”
“Demi kamu, ... aku benar-benar melakukannya demi kamu!” yakin Excel walau ia hanya bisa berucap sangat lemah. Hanya Azzura saja dan Excel sendiri yang mampu mendengarnya.
Apa yang Excel katakan membuat Azzura tersedu-sedu. “Sampai kapan pun, apa pun yang terjadi, ... tolong jangan pernah tinggalkan aku, yah, Mas!”
“Enggak apa-apa Mas kaku. Asal Mas selalu kembali, pulang kepadaku, itu akan jauh lebih membuatku yakin bahwa Mas Benar-benar sayang aku!” Masih tersedu-sedu, Azzura melanjutkan kesibukannya, selain ia yang tetap membiarkan tangan kiri Excel bertahan di tangan kanannya.
“Apakah sebelumnya ada yang pernah meninggalkan bahkan, ... membuangmu dengan kejam hingga kamu ketakutan seperti sekarang? Dan orang itu justru Helios yang kamu panggil Heri?” lirih Excel, benar-benar langsung bertanya.
__ADS_1