Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
105 : Kekhawatiran Demi Kekhawatiran


__ADS_3

Pulang dari Jakarta, Azzura yang istirahat di sofa panjang di ruang keluarga lantai bawah, sudah langsung dihampiri nenek Kalsum yang mereka panggil “Mbah Uti”.


“Mbah Uti, aku jadi takut kalau Mbah Uti begitu,” ucap Azzura sudah langsung merengek. Ia bahkan tidak berani menatap ibu Kalsum.


Nenek Kalsum langsung kebingungan. “Takut kenapa sih, Mbak? Mbah Uti hanya terlalu khawatir ke Mbak. Sini Mbah Uti pijatin kaki Mbak. Karena senyaman-nyamannya bepergian, badan apalagi kaki Mbak pasti capek.”


“Mbah Uti urut pakai minyak urut, yah. Ini minyak sereh merah, rasanya hangat dan aromanya juga wangi. Kemarin Mbah Uti bikin sendiri. Sekalian minta Mbah Kakung tanam sereh merah biar bisa buat bikin rutin. Kalau hamil apalagi hamil anak pertama kan ada saja keluhannya.” Nenek Kalsum mengeluarkan botol minyaknya kemudian memberikannya kepada Azzura. Cucunya itu menghirup dalam-dalam, minyak sereh buatannya. Nenek Kalsum langsung mendapatkan pujian.


Selain wangi, Azzura yang bersedia diurut juga langsung merasakan hangatnya dari efek minyak sereh yang juga langsung memberi dampak nyaman untuk Azzura.


“Mungkin karena akan menjadi cucu sekaligus buyut pertama, jadi sana sini makin perhatian. Sehat-sehat yah Dek. Semuanya sayang kita,” batin Azzura tak hentinya bersyukur dalam hati.


Karena selain sang nenek yang sudah langsung mengurut kakinya, sang mamah juga sudah langsung menyuguhkan rujak Aceh.


“Ini makan dingin-dingin lebih enak. Pakai mangga kuweni, ada kolang-kaling sama aneka buah-buahan juga. Tuh, Papah saja sudah mau habis satu mangkuk!” ucap ibu Arum.


“Ih seger banget itu kayaknya. Apalagi kalau makannya dingin-dingin. Itu Mamah bikin sendiri? ” balas Azzura yang juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semuanya yang begitu peduli kepadanya.


“Iya, Mamah sengaja bikin banyak karena Papah saja suka!” balas ibu Arum.


Mendengar itu, Azzura sengaja menggoda sang papah yang duduk di seberangnya. “Jangan-jangan Papah ikut ngidam?”

__ADS_1


Apa yang Azzura katakan sudah langsung membuat kebersamaan di sana menjadi heboh. Semuanya kompak tertawa.


“Masa iya, kamu mau adik lagi? Kamu saja mau punya anak!” ucap pak Kalandra di tengah tawanya. Kendati demikian, ia tetap melanjutkan makan rujaknya.


“Mas Excel mana, Mbak? Kok dari tadi enggak kelihatan?” sergah ibu Arum yang masih menyiapkan rujak Aceh buatannya di meja, kr mangkuk. “Ini buat Mbah Kakung, Mbah Uti, ini buat mas Excel. Mas Aidan sama mas Azzam belum pulang, ya?” Ibu Arum makin sibuk mengabsen anggota keluarganya.


“Mereka benar-benar keren. Karena walau sudah sibuk bekerja dan mengurus semuanya, anak-anak dan keluarga tetap menjadi prioritas utama!” batin Azzura kagum pada kekompakan orang tua sekaligus kakek neneknya yang sangat pandai bersikap. Keempatnya selalu berinteraksi dengan baik hingga menghasilkan contoh yang baik bagi yang melihat apalagi bagi anak-anak.


“Mas Excel puasa, Mah. Kan sekarang hari Senin,” ucap Azzura. “Orangnya lagi tidur katanya kepalanya agak pusing. Tadi sudah aku pijit sih,” cerita Azzura.


“Oalah ... ternyata mas Excel yang mab*ok! Hahahaha!” ujar nenek Kalsum. Tawanya langsung menular bahkan kepada Azzura yang mengakui, dirinya yang hamil, tapi Excel yang mengidam.


“Mirip Papah, setiap Mamah hamil, pasti Papah yang ngidam!” ucap ibu Arum sambil mengambil mangkuk bekas rujaknya. Pak Kalandra minta rujaknya lagi.


“Kalau diceritain apalagi anak zaman sekarang yang sudah serba canggih, ya enggak akan percaya. Tapi percaya enggak percaya, ada saja yang ikut begitu. Ikut yang dialami orang tua, atau malah ikut yang dialami mertua!” ucap nenek Kalsum yang akhirnya selesai mengurut kedua kaki Azzura.


Azzura yang mesem-mesem karena merasa tersindir oleh ucapan sang nenek, sengaja mengucapkan terima kasih untuk urutnya.


“Percaya enggak percaya sih, ada saja kejadiannya yang sama. Tapi ya jangan sampai mbak Azzura mengikuti jejakku. Anak pertama sampai ketiga keguguran. Kan sudah beda cerita karena dulu, alasanku keguguran gara-gara aku terlalu capek, kurang perhatian juga. Jangankan mertua, suami saja enggak peduli. Sementara sekarang, semuanya sayang mbak Azzura,” batin ibu Arum mendadak khawatir, Azzura akan mengikuti jejaknya yang pernah keguguran,” batin ibu Arum.


“Resepsi pernikahan kan lusa, jadi kita apalagi mbak Azzura dan Mas Excel jangan pergi-pergi dulu ya. Kita fokus istirahat, biar pas acara juga tetap sehat. Apalagi tamunya kan bakalan banyak,” ucap pak Sana sambil menyantap rujak buatan sang menantu yang langsung ia puji-puji lantaran rasanya sangat enak.

__ADS_1


Pak Kalandra yang duduk di sebelah pak Sana menjadi memiliki ide agar rujak buatan sang istri menjadi menu baru di rumah makan mereka.


“Bikin PO saja, Mah. Nanti aku bantu. Rasanya seenak ini, enggak mengecewakan. Tapi kalau Mas Excel sampai makan, kayaknya bakalan diborong sama mas Excel. Soalnya dia memang mulai suka rujak. Lucu banget ini anak, justru bapaknya yang ngidam!” ucap Azzura yang berakhir tertawa.


Di sebelah Azzura, ibu Arum yang masih mengkhawatirkan Azzura jadi ikut tertawa. “Sesungguhnya alasan Allah memberi umatnya bahagia maupun cobaan karena mereka memang pantas sekaligus mampu. Mereka pantas bahagia, dan mereka mampu melewati ujian yang Allah berikan. Setelah aku renungi pun, andai ketiga anakku yang dahulu hidup, andai ketiga kakak dari mas Aidan hidup, bisa jadi mereka justru hanya menderita. Karena selain keluarga ayahnya mas Aidan enggak manusiawi, pada kenyataannya, mas Angga yang dulu juga kebangetan,” batin ibu Arum yang kemudian menghela napas dalam seiring kekhawatiran demi kekhawatiran yang berusaha ia redam.


“Percayalah Rum, apa pun itu, bahkan luka sekalipun, pemberian Allah selalu menjadi yang terbaik untuk umat-umatnya!” Hati kecil ibu Arum berbisik, mencoba meyakinkan wanita tangguh yang dulu pernah sangat terluka akibat jalan hidup yang harus ia terima. Dan karena pengalaman hidup tersebut pula ibu Arum percaya, apa pun itu baik bahagia maupun luka yang harus seseorang terima, semua itu karena orang itu memang pantas. Karena orang itu sanggup menjalaninya.


“Percayalah Mbak, apa pun yang terjadi nanti, itu karena Alloh peduli. Allah sayang banget ke kita. Dan apa pun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya, Mamah akan selalu ada buat Mbak. Mamah akan selalu jadi yang terbaik buat semuanya khususnya anak-anak Mamah. Cukup Mamah yang pernah sangat terluka merasakan kejamnya dunia. Tidak dengan kalian. Sehat terus yah kalian. Mamah sayang kalian,” batin ibu Arum yang mendadak memperlakukan Azzura layaknya bayi. Ia sampai berusaha memangku Azzura yang terus ia dekap hangat.


“Sebahagia ini punya orang tua sekaligus keluarga penyayang. Nantinya, aku juga akan begini ke anak-anakku. Bahkan bila bisa lebih baik lagi!” batin Azzura merasa sangat bahagia karena terus dimanja.


Kehadiran Excel membuat kebahagiaan seorang Azzura makin lengkap.


“Mas Excel, lihat istrimu jadi bayi lagi!” ujar nenek Kalsum sengaja mengabarkannya kepada Excel.


Excel yang terkenal pendiam hanya tersipu kemudian duduk di sebelah pak Kalandra.


“Itu yang awalnya mau buat kerja sama dengan nyonya Cici gimana, Mas?” tanya pak Kalandra.


“Alhamdulillah, Pah. Sebagiannya diborong teman, sisanya aku sumbangkan ke panti asuhan sama panti jompo biar enggak mubazir!” balas Excel. Tentu teman yang ia maksud Helios. Helios memborong tempe dan tahunya untuk disumbangkan ke pesantren dan panti jompo. Kenyataan tersebut pula yang membuat Excel melakukan hal serupa.

__ADS_1


“Besok jadwal kamu apa saja? Kalau memang enggak ada yang darurat banget, mending kamu istirahat deh. Apalagi kan, kamu juga ngidam. Suka pusing dan mual, ya mending cari aman biar pas resepsi, kamu fit!” ucap kakek Sana.


Lagi-lagi Excel hanya tersipu lantaran semuanya kembali menertawakannya. Untuk tidak ada Azzam. Karena kalau sampai ada, pasti dramanya akan panjang.


__ADS_2