Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
67 : Bersama Turunnya Hujan


__ADS_3

Elena, gadis berusia delapan belas tahun selaku adik Excel, sudah langsung tidak bisa berkomentar ketika mengetahui bahwa wanita bercadar yang tidak lain Azzura, merupakan wanita yang baru saja Excel nikahi.


“Kok bisa ...? Kok mau sama Kak Excel, sedangkan sekadar salat saja, Mas Excel enggak pernah? Ajaib banget ....” Sulit bagi Elena untuk percaya, sang kakak yang sangat jauh dari agama malah menikahi wanita bercadar.


Namun tiba-tiba saja benak Elena menjadi dihiasi kecurigaan, bahwa sebenarnya, Azzura hanya berlindung di balik cadar? Sebenarnya Azzura juga wanita bran dal yang sedang pura-pura alim seperti siasat yang dilakukan oleh orang-orang munaf*ik dan memang sedang ngetren?


“Namun andai iya, mana mungkin Kak Excel mau. Sama yang paket komplit saja, Kak Excel enggak mau. Kak Excel kan pilih-pilih banget. Sama ini enggak mau, sama itu enggak mau, sampai kak Rere nikah pun, Kak Excel tetap belum mau sama wanita yang mamah siapin.” Dalam hatinya Elena menjadi perang batin, memikirkan alasan pernikahan Excel dan Azzura sampai ada.


“Ayo masuk. Liburan dua minggu kamu akan kamu habiskan di rumah baru,” sergah Excel sembari memboyong koper terbilang besar milik Elena. Ia membiarkan kebersamaan Elena dan Azzura.


“Baru kali ini Kak Excel datang, dan sampai mau ajak jalan. Biasanya beneran enggak pernah,” ucap Elena sambil menatap sebal sang kakak yang memang selalu begitu. Mirip robot dan sangat cekatan. Excel sangatlah disiplin dan tak segan meninggalkannya jika ia melanggar jadwal yang sudah pria itu berikan.


“Hubungan yang tidak baik. Tak ada nyawa apalagi rasa saling memiliki sebuah keluarga dalam hubungan mereka. Yang ada murni rasa kurang karena suatu hal. Kurang kasih sayang, kurang perhatian, padahal andai keluarga mas Excel tahu, alasan mas Excel enggak bisa selalu ada buat mereka terlebih menampakkan diri terang-terangan layaknya manusia normal, ya karena mereka. Mas Excel ingin selalu memberikan yang terbaik buat keluarganya, meski cara mas Excel selama ini memang salah,” batin Azzura yang berniat langsung menjalani pendekatan dengan Elena. Ia tak mau, Elena sampai mengikuti jejak Rere.


“Lena,” panggil Azzura lembut sembari menyusul Elena yang sudah melangkah buru-buru menyusul Excel ke mobil alphard mereka yang terparkir di tempat parkir layaknya kendaraan keluarga teman asrama Elena.


Hadirnya libur panjang sekolah, memang membuat setiap keluarga murid berbondong-bondong menjemput. Walau sebagian dari mereka juga ada saja yang memakai jasa antar travel dari pihak sekolah.


Walau tidak langsung melongok terang-terangan, melalui ekor lirikan, Excel yang masih menaruh koper Elena bisa menyaksikan, sang istri tengah melakukan pendekatan kepada Elena.


“Sini, biar kita bisa cepat dekat. Kita kenalan lagi, ya.” Azzura sudah langsung mengulurkan tangan kanannya, bermaksud merangkul Elana yang terlihat jelas belum bisa menerima kehadirannya. Malahan Azzura yakin, pernikahannya dan Excel yang begitu tiba-tiba, bis jadi membuat Elena merasa bahwa Azzura telah merebut Excel.


“Sayang, jalannya pelan-pelan. Kaki kanan kamu masih belum boleh banyak gerak.” Dalam sekejap, Excel memang sudah ada di dekat Azzura. Padahal jarak mobil dengan kebersamaan Azzura, ada lima belas meter.


“Enggak apa-apa, pelan-pelan. Aku penasaran banget ke Lena, dia sering ikut lomba sains dan sampai juara. Lena mau jadi dokter apa ilmuan?” ucap Azzura lembut dan sudah langsung menggandeng Elena meski gadis bermata sipit sekaligus berkulit sangat putih itu terlihat enggan menerimanya.

__ADS_1


“Mas, Mas ke sana dong.” Maksud Azzura, Excel jangan hanya dekat-dekat dengannya meski kaki kanan Azzura memang sakit.


“Ke mana?” Excel yang memang jauh dari apa itu peka sudah langsung kebingungan. Terlebih yang Azzura tunjuk dan itu di sebelah Elena, tidak ada apa-apa. Tidak ada yang memang perlu dibereskan karena di sana memang kosong.


“Digandeng adiknya, Mas.” Alasan Azzura merrendaahkan nada suaranya karena ia terlalu gemas kepada sang suami.


Excel sudah langsung mengernyit bingung, menatap Azzura dan Elena, silih berganti. “Loh, kenapa? Lena kan sakit? Yang sakit kamu. Kaki kanan kamu masih bengkak.”


“Mas pengin aku cubit, ya?” sergah Azzura benar-benar gemas kepada Excel yang ternyata memang kaku pada semuanya, termasuk itu kepada adiknya sendiri.


“Kok cubit?” lirih Excel makin bingung kepada istrinya.


“Sayang adik, Mas. Sayang adik! Ayo digandeng adiknya. Coba Mas contoh interaksi antara aku dan saudara-saudaraku. Yang perhatian dong ke adiknya. Jangan kaku-kaku. Takutnya Lena merasa Mas enggak peduli ke Lena hanya karena Mas terlalu kaku. Aku bilang begini langsung di depan kalian karena aku sudah bisa merasakannya. Lena, sekarang Kak Azzura tanya. Lena merasa begitu juga? Merasa Kak Excel enggak sayang Lena karena Kak Excel terlalu kaku?” Azzura sudah langsung heboh.


“Gini loh, Mas. Enggak selamanya maksud baik kita diartikan baik juga oleh orang lain, bahkan meski itu adik kita. Semuanya harus seimbang, jangan kaku-kaku. Jangan terlalu lembek juga. Lihat kondisi.” Azzura menatap saksama suaminya yang kali ini memakai topi putih. Excel mengaku sengaja menyamarkan penampilannya lantaran teman dan guru Elena sering genit kepada Excel. Pria itu sudah langsung cerita ke Azzura.


“Buat Lena juga gitu. Lena kalau ada yang dirasa, ada keluhan ke Kak Excel, Lena harus ngomong karena Kak Excel selurus ini orangnya. Namun kalau Lena mau bilang, cerita ke Kak Excel, pasti ada jalan keluar. Kan pada dasarnya, Kak Excel memang sayang banget ke Lena,” lanjut Azzura yang kali ini fokus ke Elena.


Elena hanya menunduk murung kemudian mengangguk-angguk tanpa balasan berarti. Ia melangkah dan membuat Azzura yang sudah menggandengnya, jadi ikut serta. Elena bermaksud menyudahi gandengannya, tapi Azzura terlihat jelas tidak mau.


“Kak Azzura istrinya Kak Excel, jadi otomatis Kak Azzura juga kakaknya kamu. Jadi, kita bisa berteman, kan?” lanjut Azzura.


Dengan tidak tahu perasaannya, si dingin Excel sudah langsung menggiring kedua wanita di sebelahnya.


“Sayang ih, kamu enggak perasaan.” Azzura tersenyum pasrah, tapi sebenarnya nyaris menangis lantaran sifat kaku suaminya justru meruntuhkan pendekatan yang ia lakukan kepada Elena.

__ADS_1


“Sepertinya Kak Azzura memang salah pilih suami!” jutek Elena.


Balasan Elena yang terdengar bagian dari curhat gadis itu, membuat Azzura tertawa.


“Gini, loh. Ini mau hujan, gelap, anginnya dingin-dingin basah, dan aroma aspal dan debu kering juga menusuk penc*iuman, enggak nyaman banget!” ucap Excel yang kemudian berkata, “Ini kalau sudah begini, bentar lagi pasti turun hujan. Ditambah lagi, Jakarta kalau sudah hujan, ya sudah. Lumpuhh semuanya. Hujannya awet, macetnya enggak kaleng-kaleng. Ngobrolnya lanjut Di mobil.” Excel sudah membopong paksa Azzura. “Lena ayo masuk. Kaki kanan Kak Azzura terkilir fatal. Ini harusnya juga masih istirahat total. Namun demi bertemu kamu, Kak Azzura nekat ikut. Kita pulang ke rumah.”


Azzura yang menatap wajah Excel sudah langsung geleng-geleng sembari menahan senyumnya. Sebab ternyata, Excel yang ia kira kaku sekaligus pendiam, bisa sangat cerewet layaknya sekarang.


“Itu beneran Kak Excel? Kok romantis? Salah makan apa malah kena virus? Masa iya, itu kak Excel?” bingung Elena yang buru-buru lari masuk ke mobil lantaran hujan benar-benar turun.


“Kan hujan?” ujar Excel tetap membuat Azzura duduk di tempat duduk sebelahnya, meski istrinya itu izin duduk di sebelah Elena agar mereka bisa cepat dekat.


“Eh, asli ...,” batin Elena lagi sampai merinding lantaran di beberapa kesempatan, meski sedang menyetir apalagi jika sedang terjebak macet, tangan kiri Excel akan meraih tangan Azzura, menggenggamnya bahkan membelaiinya. “Si mas Excel bucin banget! Jadi curiga, kalau sebenarnya kak Azzura cantik banget!” batinnya.


Di lain sisi, di depan kediaman Tuan Maheza, ada Chole yang baru turun dari mobil, kemudian buru-buru turun bahkan lari demi menghindari hujan deras yang mengguyur.


“Itu sedan hitam siapa? Bukan punya orang sini,” pikir Chole menolak pemberian payung satpamnya. Ia terus lari sambil sesekali mengawasi sedan hitam di sebelah gerbang rumahnya dan baru ia lihat. “Moga itu bukan mobilnya si Rayyan. Duh tuh orang rempongnya kebangetan gara-gara pengin balikan!” Chole yang awalnya masih berbicara sendiri mendadak bungkam, setelah ia yang tidak melihat ke depan selaku arahnya melangkah, malah menghantam sesuatu.


Keras, tapi Chole yakin bukan tembok apalagi beton. Sebuah dada yang sangat bidang dari sosok bertubuh besar tapi tidak gendut. Tubuh sosok tersebut mirip tubuh para binaragawan. Namun ketika Chole memastikan wajah sosok berkemeja sekaligus berjaket kulit serba hitam tersebut, bersamaan dengan angin yang berembus sangat kencang bahkan rambut panjang Chole menjadi berantakan, masker hitam yang sosok itu pakai juga mendadak lepas. Membuat wajah yang awalnya tertutup sebagian, menjadi bisa Chole lihat dengan jauh lebih jelas.


Seraaam, benar-benar menakutkan bagi Chole yang walau periang, tapi juga sangat penakut. Rasa takut yang makin lama sampai membuat pandangan Chole gelap. Chole pingsan dan tak lagi bisa merasakan apa pun termasuk itu merasakan ketakutan luar biasa karena wajah seorang Helios yang memang sangat menyeramkan.


Awalnya, Helios sudah langsung sigap menangkap Chole. Helios bahkan terpesona pada kecantikan seorang Chole. Chole memiliki kulit putih mulus dan juga terlihat sangat lembut, dan Helios sampai menelan cairan yang tiba-tiba saja memenuhi rongga mulutnya. Namun, Helios yang sadar alasan Chole pingsan gara-gara gadis itu takut pada wajahnya yang burukk rupa, terlebih ketika ia mengingat cara Chole menatapnya, memilih menjatuhkan Chole dari dekapannya. Helios yang mendadak merasa sesak luar biasa, memilih pergi dari sana sambil menyeka sekitar matanya yang telanjur basah akibat tangis yang tak kuasa ia bendung.


“Semua orang memang saja saja. Selalu menjadikan rupa dan fisik sebagai standar penilaian!” kesal Helios dalam hatinya. Layaknya Chole, ia yang sudah menutupi wajah dengan stok masker warna hitam, membiarkan tubuhnya terguyur hujan.

__ADS_1


__ADS_2