
Mas Aidan masih sibuk berusaha menghubungi nomor ponsel Divani, ketika sebuah sedan hitam berhenti di depan gerbang markas milik Helios. Bukan hanya mobil tersebut yang mas Aidan kenal, tapi juga dengan penumpangnya yang melongok dari jendela kaca pintu penumpang belakang. Gadis cantik itu langsung tersenyum ceria kepadanya sambil melambaikan tangan.
Chole, dia yang datang sambil membawa tiga rantang susun berisi makanan. Selain itu, ia juga membawa dua kantong berisi aneka camilan maupun buah. Semua itu ia siapkan khusus untuk Azzura dan mas Aidan yang ia ketahui sedang terkena musibah.
Hanya saja, tanggapan dingin dari Helios yang seolah sudah sangat ingin menerkam Chole, membuat gadis yang masih memakai nuansa pink dalam penampilannya itu merasa ngeri.
“Om ... Om lihat akunya biasa saja dong!” takut Chole. “Om bikin aku takut tahu!” jujurnya.
“Lihatin gimana? Mentang-mentang mata kananku buta, kamu sengaja menyindir begitu?!” marah Helios.
“Menyindir bagaimana sih, Om? Om ini marah-marah terus, kelihatan banget hidupnya enggak bahagia—” Setelah berkata demikian, Chole mendadak lari ketakutan menghampiri mas Aidan yang masih bertahan di teras depan pintu masuk sana. Sebab Helios sungguh akan menerkamnya.
Syam yang membantu Chole membawakan satu rantang susun dan juga kedua kantong berisi camilan dan buah, menatap aneh sikap Helios yang sangat berlebihan kepada Chole.
“Biasa saja jangan gitu, aku takut. Wajah Om asli serem banget!” tegas Chole ketakutan.
“Wajahku memang begini!” balas Helios mendekat.
“Ya biasa saja jangan galak-galak ih. Lagian aku juga bertamunya baik-baik!” rengek Chole sudah sampai gemetaran karena terlalu takut.
Mas Aidan yang terus diabaikan Didi meski telepon yang ia lakukan masih bisa terhubung tapi tak kunjung dibalas, memilih mengakhiri usahanya. Ia menyimpan ponselnya, kemudian mengambil alih kedua rantang di kedua tangan Chole.
__ADS_1
“Kamu enggak kerja, Dek?” tanya mas Aidan sengaja membimbing Chole masuk. Ia yakin Chole ingin bertemu Azzura.
“Hari ini aku sengaja izin, Mas. Aku masak banyak buat kalian karena aku yakin, kalau sibuk gini kalian lupa makan,” jelas Chole.
Diam-diam, Helios yang melangkah di depan keduanya sudah langsung memperhatikan jemari tangan Chole yang kuning. Kuningnya jemari Chole beserta kukus, khas karena gadis itu baru saja mengolah olahan berbahan kunyit. “Ternyata barbie hidup ini bisa masak!” batinnya tak percaya walau ia masih menyikapi Chole dengan sinis.
“Mas Excel enggak dibawa ke Singapura saja, Mas. Siapa tahu butuh pengobatan lebih intensif,” ucap Chole serius sambil menatap kedua mata mas Aidan. Entah kenapa, tatapan pria itu mendadak terpaku kepadanya. Mas Aidan terlihat sangat nelangsa sekaligus lelah.
“Di, bahkan orang lain saja bisa mikir begini. Kok kamu malah tega sih. Tahu-tahu adik aku lagi pada kena musibah. Harusnya kamu yang seperti Chole. Perhatian, sampai repot-repot masak, jauh-jauh ke sini hanya buat bantu urus,” batin mas Aidan.
“Kok bukan Cinta yah, yang ke sini? Kok justru Chole? Harusnya kan Cinta yang ke sini karena sebelum ini, Azzura sempat dengan Cikho. Harusnya sebagai adik kandung Cikho, Cinta juga dekat dengan Azzura,” pikir Helios benar-benar merenung. Hatinya ikut terasa perih menyaksikan Azzura yang langsung tersedu-sedu dipeluk Chole.
“Enggak kebayang kalau aku yang jadi Azzura. Astagfirullah, ... habis disakiti kak Cikho, ini malah dapat cobaan lebih berat,” batin Chole. Ia yang masih memeluk Azzura, diam-diam memperhatikan keadaan Excel.
“Sudah sekarang Kak Azzura makan dulu. Kakak harus tetap jaga kesehatan karena jaga orang sakit itu juga menguras kesehatan. Biasanya malah jadi ikut sakit. Ditambah lagi, ini juga sampai ada kasus kan.” Chole menuntun Azzura untuk keluar dari ruang rawat Excel. “Ayo kita makan bareng. Oh iya, Kak. Aku sudah izin mau menginap di sini selama Kakak masih di sini.”
“Memangnya kamu enggak sibuk?” tanya Azzura sembari menyeka sekitar matanya menggunakan kedua jemari tangannya.
“Sibuk enggaknya sih, ada pokoknya. Papah bilang, ... potong gaji!” balas Chole yang kemudian menertawakan dirinya sendiri. Namun, ulahnya itu juga membuat Azzura tersenyum geli. “Enggak apa-apa, Kak. Apalagi kak Chalvin bilang, nanti gajinya dibagi dua sama aku. Aman lah, masih bisa beli album BTS!” Kali ini berbisik-bisik kemudian sama-sama terkikik dengan Azzura.
Bukan hanya mas Aidan yang merasa lega karena hadirnya Chole di sana mampu menjadi pelipur lara Azzura. Karena Helios yang memang mengkhawatirkan Azzura juga merasakan hal yang sama. Walau ketika lirikan mata kiri Helios tak sengaja bertemu dengan tatapan Chole, dan gadis itu langsung ketakutan, kenyataan tersebut juga langsung membuat Helios merasa tidak nyaman.
__ADS_1
“Kemarin kan kak Cinta habis pulang kampung, aku sengaja minta keong terus aku masak!” sergah Chole ceria dan langsung membuka rantang susun yang ia bawa dan kini sudah menghiasi meja luas di sana. Mereka berada di ruangan terbuka tak jauh dari ruang rawat Excel.
“Itu bukan keong, itu tutut!” tegur Helios sewot.
“Tapi mirip keong. Keong bayi, kan?” balas Chole ngeyel.
Helios langsung menghela napas dalam sambil menatap sebal Chole. “Beda, tutut sama keong beda. Mau keong bayi, balita atau malah keong remaja, tetap beda sama tutut!” tegas Helios. “Kalau enggak percaya, tanya Mas Aidan apa Azzura yang orang kampung.”
“Oh, berarti keong sama tutut cuma saudaraan, ya? Apa cuma tetanggaan, yang hidupnya sama-sama di sawah?” tanya Chole dengan polosnya.
“Kamu pas pembagian otak ke mana sih? Masa gitu saja enggak tahu!” kesal Helios.
“Pas lagi pembagian otak, kayaknya aku pas nonton konser deh, Om! Makanya aku tetap bahagia walau dari tadi Om ngomel-ngomel ke aku. Hahaha!” balas Chole.
Mas Aidan sudah langsung berdiri kemudian mengamankan Helios yang ia lihat tidak menyukai Chole. “Mas, Chole memang gitu. Anaknya seru, rame, tapi asli dia baik banget. Anaknya lembut dan susah marah, tapi bukan berarti Mas Heri bisa seenaknya marah-marah ke dia. Kasihan, dia enggak tahu apa-apa walau Cikho pernah jadi bagian dari kehidupannya.” Mas Aidan sengaja berbisik-bisik menasihati Helios.
“Eh, Mas ... sini, Mas sekalian makan. Kita makan bareng-bareng, biar lebih enak. Kak, itu siapa namanya?” tegur Chole pada Syam yang akan undur.
“Itu mas Syam, Chole. Mas Syam, sini. Kita makan bareng-bareng!” ajak Azzura lembut selain suaranya yang memang masih sengau. Ia sudah langsung mengambil tutut yang Chole kira sebagai keong, untuk disantap.
“Enak, kan, Kak? Mamah turun langsung buat ngajarin aku masak. Heboh tadi, papah sampai telat berangkat kerja keasyikan makan keong!” cerita Chole heboh. Namun ia baru sadar, ia salah sebut lagi karena harusnya itu bernama tutut. Benar saja, ketika ia melirik Helios yang duduk di hadapannya, pria itu langsung menatapnya tajam dan itu langsung membuatnya kacau. Jantungnya seolah loncat kabur entah ke mana selain ia yang juga berkeringat panas dingin karena terlalu takut kepada Helios.
__ADS_1
“Om Helios memang seram banget. Tapi aku juga kasihan, biasanya yang begitu karena hidupnya enggak bahagia!” batin Chole.