
Semenjak tahu Azzura hamil, rasa sayang Excel kepada sang istri makin membuncah. Senyum dan kemanjaan menjadi warna utama dari kebersamaan keduanya. Ditambah lagi, mereka dikelilingi orang yang tulus menyayangi mereka. Bahkan walau mulut Azzam jadi makin lemes meledek mereka, baik Excel apalagi Azzura tahu, Azzam sangat menyayangi mereka. Cara Azzam dalam mengungkapkan rasa sayangnya saja yang berbeda dan memang lain dari yang lain.
“Hati-hati, ya,” lembut ibu Arum melepas kepergian Excel sekeluarga.
Urusan pekerjaan membuat Excel wajib ke Jakarta. Azzura yang makin manja sengaja ikut karena tidak mau jauh-jauh dari sang suami. Ditambah lagi, ibu Mira ada kontrol rutin di Jakarta hingga Elena tak mungkin ditinggal sendiri dan otomatis ikut.
Hanya saja, kepergian Azzura kali ini tidak direstui nenek Kalsum. Membuat malam mereka menjadi dihiasi rasa tidak nyaman.
“Harusnya kalau sudah hamil jangan pulang pergi dari rumah datu, ke rumah lain dan itu beda lokasi. Nanti hamilnya jadi muda terus, yang ada—” ucap nenek Kalsum sudah langsung ditahan oleh pak Kalandra.
“Mbah Uti, ucapan itu ibarat doa. Bismillah, doa yang baik-baik saja, moga Mbak Azzura sekeluarga termasuk kehamilannya baik-baik saja,” ucap pak Kalandra.
“Uti, pamali itu hanya berlaku untuk bepergian jauh tapi kondisi enggak mendukung. Semacam transportasi dan medan perjalanannya. Masalahnya Uti kan tahu, mobil Excel mahal. Lewat jalanan terjal saja masih kayak duduk di atas kasur. Senyaman itu Uti. Terus poin utamanya, mbak Azzura sehat, jadi memang enggak ada alasan mbak Azzura enggak boleh ikut.” Pak Sana juga menyumbangkan pendapatnya, selain ia yang memang sengaja merangkul hati sang istri. Karena semenjak tahu Azzura hamil, nenek Kalsum memang menjadi sangat posesif dengan segala mitos sekaligus pamalinya.
“Dan mbak Azzura juga enggak mungkin enggak pulang pergi, Uti. Suaminya kan orang kota, Jakarta. Pekerjaan Excel sesibuk itu, kita sama-sama tahu. Kecuali kalau mbak Azzura jodohnya dapat tetangga. Atau setidaknya seperti saya dan papahnya anak-anak, tentu ceritanya sudah beda.” ibu Arum berkomentar dengan sangat hati-hati. Sebagai memantu, ia tak mau kurang ajar. Namun ia juga tak mau putrinya yang sedang hamil muda justru tertekan akibat pamali dan sederet aturan kehamilan yang mengikat.
Mas Aidan yang masih ada di sana sengaja merangkul punggung nenek Kalsum. “Uti, ... Mbak Azzura yang sekarang bukan mbak Azzura yang dulu yang hanya milik kita dan pasiennya. Karena mbak Azzura yang sekarang sudah jadi istri orang. Mbak Azzura yang sekarang merupakan seorang menantu dari keluarga yang tinggal di Jakarta. Suami mbak Azzura orang sibuk, Uti. Jadi seperti yang Mbah Kakung, Papah dan Mamah katakan, bismilah ... kita doa yang terbaik saja buat mbak Azzura sekeluarga.” Mas Aidan tengah berusaha merangkul hati sang nenek yang dari dulu selalu menjaganya. Sang nenek yang dipenuhi kelembutan walau aslinya tak kalah berisik dari Azzam.
Pasrah, nenek Kalsum yang tak mau sesuatu yang buruk sampai menimpa sang cucu berkata, “Bismilah ya ... semoga mbak Azzura sekeluarga dan juga janinnya selalu sehat di mana pun mereka berada.”
Dan semuanya kompak mengaminkan ucapan nenek Kalsum dan mereka yakini masih bagian dari doa terbaik.
Di dalam mobil, Azzura tengah tersenyum ceria sambil membuka bekal camilannya. Tanpa tahu kepergiannya ikut sang suami ke Jakarta sempat menjadi perdebatan.
“Sayang, kalau capek bobo,” ucap Excel sengaja mengingatkan selain ia yang masih fokus dengan kemudinya.
“Baru setengah delapan, Mas. Air wudu salat isya tadi saja masih berefek sangat segar begini,” ucap Azzura.
__ADS_1
Ibu Mira dan Elena tidak berani berkomentar. Keduanya bertukar lirikan sambil menahan senyum mereka. Walau jujur, sampai detik ini mereka masih sangat sulit untuk percaya pada kebucinan seorang Excel kepada Azzura. Menyarankan sang istri tidur saja, seorang Excel menyebutnya dengan “bobo”, kata yang bagi mereka terdengar sangat manja. Selain itu, sampai detik ini tangan kiri Excel juga tak bisa benar-benar diam. Karena selain akan mengelus kepala atau punggung Azzura, tangan kiri Excel juga sangat betah di perut Azzura.
Kehamilan sang istri memang membuat seorang Excel merasa sangat bahagia. Excel yang makin rutin beribadah juga sampai lupa dengan luka-lukanya. Bukan hanya mengenai kasus kematian sang ayah dan sampai detik ini masih dalam proses hukum. Karena Excel juga melupakan ketakutannya perihal ‘nyawa’ dibayar nyawa yang sempat membuat seorang Excel terpuruk.
***
“Kudengar, Azzura hamil?”
Suara barusan merupakan suara Helios. Bukan hal yang mengejutkan karena orang seperti Helios bisa melakukan segalanya termasuk itu masuk ke ruang kerja Excel yang ada di pabrik tahu dan tempe, dengan leluasa.
Selain itu, sebenarnya Excel juga tidak bisa benar-benar marah kepada Helios. Helios sangat berjasa kepada Excel, dan Excel memang tidak bisa meninggalkan pria itu sampai kapan pun. Terlebih Excel tahu Helios tidak memiliki siapa-siapa selain Syam dan dirinya. Meski tentu, Excel tidak bisa langsung bersikap baik kepada Helios layaknya biasa.
“Selamat, ya,” lanjut Helios.
Ucapan yang benar-benar manusiawi, kontras dari kebiasaan seorang Helios yang memang dilahirkan menjadi manusia keji.
Kini, Excel memilih fokus mengawasi layar laptop di hadapannya. Laporan keuangan bulan ini harus ia tinjau sebelum ia mengalihkan segala persiapan kerja samanya dengan nyonya Cici yang telanjur batal.
Kerja sama tersebut memang sudah Excel siapkan dengan matang. Pasokan bahan sudah Excel siapkan penuh hingga Excel terancam merugi andai ia tak bisa memutar bahan sebanyak itu untuk kerja sama lain.
“Selamat juga karena kamu bisa memenjarakan pembunuh ayahmu. Walau hukuman mereka tak bisa membuat ayahmu kembali ada, paling tidak mereka sudah mendapatkan hukuman sosial yang jauh lebih kejam. Bahkan mereka sampai mencetak sejarah dunia. Seorang apara*t negara yang paham hukum dan harusnya menegakkan hukum justru sangat arogan, seenaknya menggunakan jabatan sekaligus kekuasaan.” Setelah berucap demikian, Helios menjadi diam lantaran Excel masih saja diam.
“Cel, kamu beneran marah ke aku gara-gara hubunganku dan Cinta?” tanya Helios.
“Tentu. Mana mungkin aku enggak marah. Akala adikku dan Akala sangat baik. Salaman dengan kamu saja, dia sangat santun, kan? Cari yang seperti dia, dengan usianya yang terbilang dewasa tapi setiap salaman dengan orang yang jauh lebih tua terlebih jika orang itu memiliki kedekatan dengan anggota keluarganya, Akala pasti akan melakukannya dengan takzim, orang seperti Akala nyaris punah,” ucap Excel sambil tetap fokus pada layar laptopnya.
“Akala terlalu baik buat Cinta. Makasih karena sudah ambil Cinta dari Akala. Mungkin ini cara Alloh menunjukkan rasa sayangnya kepada Akala. Alloh melakukannya melalui pelukan yang akan Akala kira sebagai luka, padahal itu merupakan balasan karena dirinya terlalu baik bahkan istimewa.” Setelah berucap demikian, Excel juga sengaja berkata, “Selanjutnya kamu juga harus hati-hati. Karena kepada Akala yang sejauh ini selalu menjadi pelangi saja Cinta tega, tidak menutup kemungkinan hal yang sama juga akan kamu terima.”
__ADS_1
“Cel, sudah, cukup. Apa pun risikonya aku siap!” sergah Helios tak mau lagi membahas hubungannya dan Cinta. Karena selain hubungannya dan Cinta baik-baik saha, membahasnya bersama Excel hanya akan membuat hubungan mereka tidak baik-baik saja.
“Syukur kalau kamu sudah berpikir seperti itu. Awas saja kalau kamu lupa kamu pernah bilang begitu, tapi saat yang aku khawatirkan benar-benar terjadi, kamu justru menyalahkan orang lain!” kesal Excel dan kali ini, Helios benar-benar tidak menjawab.
Kedatangan Azzura mengusik kebersamaan mereka. Azzura datang sambil membawa dua kantong dan salah satunya berisi lantang susun.
“Assalammualaikum ... wah, Mas Heri ada di sini.” Azzura membawakan makan siang untuk Excel. Terlebih dahulu ia menyalami tangan kanan Excel dengan takzim sebelum menyiapkan makan siang untuk kedua pria yang ada di sana.
“Untung aku punya firasat buat bawa makanan dalam porsi banyak. Benar kan, ada mas Heri. Ini jangan-jangan ada mas Syam juga. Kalau memang iya, suruh sekalian makan saja. Makanan sebanyak ini masih cukup buat dimakan ramai-ramai oleh tiga atau empat orang,” pikir Azzura yang kemudian menanyakan keberadaan Syam. Seperti dugaannya, Syam juga datang tapi pria itu tidak masuk dan memilih menunggu di luar.
“Suruh ke sini juga Mas. Tolong ya, biar kita bisa makan rame-rame. Ini aku bawa banyak makanan. Buat empat orang harusnya cukup,” ucap Azzura mengabarkan.
Mendengar itu, Excel dan Helios jadi saling lirik. Yang mana, kedatangan Azzura juga mampu membuat Excel meninggalkan kesibukannya tanpa diminta.
“Cari istri yang seperti Azzura. Baik kayak Akala dan keluarganya. Enggak toxic, dijamin kamu beneran bahagia, enggak hanya jadi korban PHP semata,” ucap Excel agak berseru dan sengaja menyindir Helios.
“Yang seperti Azzura sudah enggak ada. Populasinya sudah punah!” balas Helios sewot karena sang sahabat masih saja mengusik hubungannya dan Cinta.
Azzura yang menyaksikan itu menjadi bertanya-tanya. Ada apa dengan jodoh Helios dan sampai Excel kait-kaitkan dengan Akala adiknya?
“Aku rasa Chole masih tergolong sebagai istri idaman. Chole versi lembutnya Azzura. Yang benar-benar lembut karena yang seperti Azzura dan sampai jago bela diri memang langka!” yakin Excel sambil menerima piring berisi nasinya dari sang istri.
“Kamu cari mati jodoh-jodohin aku sama dia!” kesal Helios tapi Excel malah menertawakannya.
“Ya sudah, kamu nikah sama anak aku saja karena buah jatuh enggak akan jauh dari pohonnya. Paling saat anakku siap menikah, kamu sudah di bawah nisan!” balas Excel kali ini sengaja bercanda agar suasana di sana tidak begitu kaku. Terlebih jika dari ekspresinya, Azzura tampak bingung bahkan kurang nyaman ada di sana.
“Ini suami kamu kenapa kok jadi gini?” tanya Helios sambil menatap Azzura yang juga langsung menahan senyumnya.
__ADS_1
“Mereka terlalu bahagia, makanya mereka sesantai ini. Asli sih, atmosfer kebahagiaan mereka mampu bikin aku ikut merasakannya. Karena melihat mereka kompak saling menyayangi begini, aku lihatnya langsung adem. Damai. Semoga, aku dan Cinta juga bisa gini. Langsung dikasih hamil juga. Bahagianya padahal baru bayangin,” batin Helios yang segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Syam agar pemuda itu bergabung sekaligus makan siang bersama mereka.