
Membahagiakan Azzura bukanlah hal yang sulit. Azzura yang menyukai segala sesuatu yang berbau romantis, sudah akan merasa sangat bahagia hanya dengan agenda jalan-jalan biasa, asal Excel terus perhatian.
Dalam hatinya, Excel menjadi tak hentinya meminta maaf kepada Azzura. Sebab ancaman mengerikan dari seorang Helios yang membayang-bayangi Akala, membuat Excel tak bisa mengontrol emosinya. Excel sampai membuat Azzura merasakan dampaknya atas sikapnya yang menjadi dingin tanpa bisa Excel cegah.
“Kamu butuh apa karena tiga hari ke depan, aku enggak bisa nemenin kamu secara langsung?” ucap Excel sambil membukakan es krim contong rasa stroberi pilihan sang istri. Selain itu, ia juga membiarkan Azzura mendekap lengan tangan kirinya menggunakan kedua tangan. Malahan kini, Excel sengaja menyuapi Azzura es krim.
Sambil terus jalan-jalan, Excel aktif menyuapi Azzura karena tangan kanan Excel juga yang memegang es krimnya. Mereka tengah mengunjungi pusat perbelanjaan mirip sebuah mal walau keadaan di sana tak serba ada layaknya di mal yang ada di kota.
“Sebenarnya aku enggak butuh apa pun sih. Kalaupun kurang, nanti aku minta bantuan orang tua atau saudaraku. Kita jalan-jalan biasa saja, beli apa ya? Makanan, ... apa ada yang unik enggak sih, di dalam?” ucap Azzura sambil mengawasi setiap apa yang mereka lewati.
Excel melihat kebutuhan berupa permen, cokelat, sekaligus aneka minuman rasa, termasuk aneka es krim yang ada di mal bagian depan kunjungan mereka, sama sekali tidak menarik minat Azzura.
“Belanja pakaian? Sepatu? Sepertinya semua itu ada di lantai atas,” sergah Excel dan sengaja menebak. Namun karena Azzura menggeleng, ia sengaja memaksa sang istri untuk melihat-lihat.
“Selagi ada di sini. Aku ingin lihat, mana tahu ada yang cocok buat kamu!” ucap Azzura.
“Tapi di sini enggak sebagus-bagus yang di kabupaten, Mas!” yakin Azzura berbisik-bisik terlebih ia dalam keadaan bersandar manja ke bahu kiri sang suami.
“Berarti kita wajib ke Cilacap kota?” tanya Excel yang detik itu juga menatap sang istri penuh keseriusan.
Walau sempat terhipnotis dengan tatapan sangat serius Excel dan itu terbilang menakutkan, Azzura menjadi menahan senyumnya. “Ya enggak gitu juga kali Mas. Ini sudah malam. Mau sampai sana jam berapa, apalagi kabarnya di sekitar hutan pinus sana sering banyak begall.”
__ADS_1
“Kamu lupa suami kamu siapa? Bukan hanya perkara waktu karena aku bisa menyetir dengan sangat cepat, tapi juga para begaal yang harusnya bukan masalah untukku,” ucap Excel yang kemudian menahan tawanya.
“Kuliner malam-malam, yuk? Tapi di pinggir jalan!” sergah Azzura menahan senyumnya tapi ia sangat antusias.
“Sepanjang jalan tadi, aku lihat kebanyakan jualan ayam goreng sama gorengan biasa. Enggak ada yang istimewa,” ucap Excel.
“Makanya kita cari-cari, siapa tahu nemu selain di rumah makan mamah!” yakin Azzura.
Tanpa banyak diskusi lagi, Excel dan Azzura sudah langsung pergi dari sana. Di waktu yang sama, Excel justru tak sengaja memergoki Cinta dan Helios. Helios dan Cinta ada di eskalator atas, keduanya yang berdiri berjarak dengan Cinta berada di depan, tengah turun dari lantai atas.
“Kenapa mereka masih bersama? Kenapa Cinta seolah memberi Helios harapan?” batin Excel jadi bingung sendiri. Namun, ia sengaja membawa sang istri untuk pergi dari sana agar Azzura tak sampai melihat kebersamaan di atas sana.
“Mas, ... Mas ... itu bukannya Cinta dan mas Helios, ya?” sergah Azzura langsung heboh, meski ia mengabarkannya sambil berbisik-bisik kepada sang suami.
Niat hati merahasiakan hubungan Cinta dan Helios karena tak mau mengusik privasi keduanya, pada kenyataannya keduanya juga yang membuat orang-orang mengetahui. “Ya sudahlah, terserah mereka. Mereka yang menjalani, kita hanya jadi penonton tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi,” lirih Excel sesaat setelah menghela napas dalam.
“Iya, Mas. Benar. Ya sudah kita cepat-cepat pergi dari sini saja sebelum mereka lihat. Takutnya mereka jadi merasa enggak enak, malu, atau malah jadi berpikiran yang enggak-enggak. Aku bilang gini karena yang namanya manusia kan ya, ada saja keluhannya. Ditambah lagi kita sama-sama tahu keadaan mereka. Aku pikir mereka akan jadi lawan, tapi sepertinya bukan. Atau malah apalah aku enggak mau menyangka-nyangka apalagi buru*k sangka. Lebih baik kita pura-pura enggak tahu saja. Cukup fokus ke urusan kita,” bisik Azzura berbicara panjang lebar.
Seperti biasa, Azzura masih menjadi sosok yang paling memegang teguh arti sebuah toleransi. Alasan yang juga membuat seorang Excel lagi-lagi menjadikannya sebagai panutan. Walau tentu saja, urusan Helios dengan Akala akan tetap menjadi PR rahasia untuknya.
“Nah, gerimis lagi. Kita cari mi ayam apa bakso, apa pecel, apa soto, yuk, Mas!” sergah Azzura sudah langsung bersemangat sesampainya mereka di teras depan. Dari sana, ia juga langsung menikmati nuansa romantis yang disuguhkan oleh Sang Pemilik Kehidupan melalui semesta alam.
__ADS_1
“Kamu mau makan apa dulu, ayo kita cari,” balas Excel dengan santainya sambil melepas jaket kulit hitamnya kemudian menaruhnya di kepala Azzura.
“Jangan langsung masuk mobil, Mas. Tanggung ini, suasananya lagi romantis-romantisnya!” rengek Azzura.
Excel menghela napas dalam dan benar-benar sabar menatap Azzura. “Kamu lupa kalau kita lagi menghindari Cinta dan Helios?” sergahnya lirih.
“Oalah iya, Mas. Lupa aku!” sergah Azzura yang sudah langsung mengajak Excel kembali buru-buru pergi dari sana.
Mereka langsung masuk ke mobil yang mana Excel selalu memperlakukan sang istri layaknya Tuan Putri. Excel begitu memperhatikan Azzura bahkan untuk hal paling sepele sekalipun seperti buru-buru mengeringkan tubuh Azzura yang sempat terkena gerimis.
Tak sampai lima belas menit, mereka sampai di sebuah kedai mi ayam dan bakso. Hujan sudah mengguyur dengan sangat deras ketika akhirnya mereka sampai sana. Namun di balik keceriaan Azzura yang tampak sangat akrab dengan bapak dan ibu-ibu penjual di kedai, Excel yang terus mengimbangi demi membahagiakan sang istri, justru kasihan kepada Akala.
“Serius aku kasihan ke Akala. Apa pun itu, mereka hanya pergi berdua, malam-malam hujan begini. Bukannya mau buru*k sangka, tapi ... Cinta bahkan mau pergi-pergi dengan Helios. Sementara sejauh ini, juga masih Cinta yang enggan mengabarkan hubungannya dengan Akala. Astaga, beban hidupku mendadak bertambah berkali lipat begini. Untung istriku pengertian, vibes-nya pun juga selalu positif. Rezeki ... rezeki!” batin Excel membiarkan Azzura memijat kedua pundaknya dari belakang, menggunakan kedua tangan.
“S-ayang, telur asin di sini enak banget. Asli legen!” bisik Azzura sambil membungkukkan wajah di sebelah wajah Excel. Karena selain Excel yang masih duduk, ia juga masih memijat suaminya itu.
“Bentar coba aku coba,” ucap Excel yang kemudian meraih satu telur asin di hadapannya. “Bilang ke yang di rumah mau mi ayam sama bakso enggak? Tapi mamah enggak usah. Karena kalau lihat bakso, yang ada jadi sedih.”
Mendengar kalimat terakhir sang suami, Azzura juga langsung merasakan kesedihan mendalam yang dimaksud. Dada Azzura sudah langsung sangat sesak. Azzura yakin, bakso yang sempat menjadi ladang alm. ayah Excel menghidupi keluarga, menjadi kenangan paling membahagiakan sekaligus menyakitkan bagi Excel sekeluarga khususnya ibu Mira.
“I love you, Mas. Maaf banget aku enggak kepikiran ke situ,” bisik Azzura sambil mendekap leher Excel. Ia menyemayamkan dagunya du pundak kanan Excel.
__ADS_1
“Ya enggak apa-apa. Karena sesuai yang aku pelajari dari kamu, dunia enggak harus kiamat hanya karena kita enggak suka atau merasa terluka karena suatu hal. Hanya karena bakso dan segala kenangannya sering menyakitkan bagi kami sekeluarga khususnya setelah ayah tiada, bukan berarti di dunia ini tidak boleh ada bakso atau penikmatnyaa,” ucap Excel benar-benar santai.
Azzura tersenyum haru kemudian mengangguk-angguk. Tentunya, setelah tahu sang mamah mertua akan jadi bersedih jika berurusan dengan bakso, ia akan jauh lebih berhati-hati agar tidak melukai.