
“Hukuman seperti apa yang pantas diterima orang sepertimu, Mas?” ucap Azzura yang perlahan menghadap sekaligus menatap Cikho. “Sekarang aku beneran tanya ke kamu. Jadi ayo katakan, hukuman seperti apa yang pantas diberikan kepada orang sepertimu. Walau aku yakin, ketimbang kamu, orang tua dan juga adik-adikmu jauh lebih terpukul!”
Sambil kerap melirik tajam Cikho, Azzura melangkah pelan, ia memutari ranjang rawat Heri terbaring lemah. Pria itu masih belum sadarkan diri, dan Azzura yakin karena efek operasi di kepala yang pria itu jalani.
“Dengan kata lain, setiap kekalahan judii yang kamu alami dan membuatmu kehilangan banyak uang maupun materi lainnya, semua itu tak luput dari hukuman yang mereka lakukan kepada Mas. Agar harta dan tahta yang selama ini Mas miliki dan telah membuat Mas menyombongkan diri, benar-benar habis tanpa Mas sadari.” Sangat berat Azzura mengatakannya. Karena seperti yang ia katakan, setelah apa yang terjadi, ketimbang Cikho yang telah berulang kali berulah, orang tua Cikho khususnya ibu Aleya, jauh lebih berkali lipat terlukanya.
Menggunakan kedua tangannya yang gemetaran, Azzura mencoba membuka topeng hitam mengkilap yang menutupi wajah Heri. Berdebar-debar jantungnya bergemuruh, melahirkan rasa pegal luar biasa. Kedua matanya tak sanggup melihat wajah Heri dan itu membuat kedua matanya terpejam erat membiarkan air matanya berlinang di tengah kegelapan.
Kini, di benak Azzura, wajah tampan Heri menyapanya penuh senyuman. Wajah tampan bersih bahkan tampak sangat berbeda dari kebanyakan pemuda di tempat tinggal mereka. Wajah tampan yang selalu dipuja-puja kaum hawa, membuat para laki-laki iri, dan Azzura menjadi salah satu wanita paling beruntung karena pernah memiliki wajah itu. Sebab semenjak jadi kekasihnya, wajah terlebih kedua mata Heri juga menjadi hanya tertuju kepadanya. Wanita yang menyukai Heri sampai menjerit iri kepadanya.
Tegar, itulah yang berusaha Azzura lakukan. Tanpa menatap bahkan sekadar melirik wajah Heri, ia menatap Cikho di tengah matanya yang benar-benar basah. Bibirnya yang sudah ingin memakii mendadak terkunci. Ia hanya mampu menatap Cikho dengan rasa berat yang membuatnya teramat sesak, tersiksa. “Kupikir kamu malaikat, tapi ternyata kamu siluuuman yang begitu bejattt, MAS CIKHO!”
“Apa yang ada di otak kamu, ketika kamu dengan sengaja menghajaaaarnya, mengikat kedua tangan dan juga kedua kakinya, kemudian menyiram wajahnya yang sebelumnya sudah kamu buat babakkk belur, dengan minyak panas?”
__ADS_1
“Jijikkkk aku ke kamu terlebih kamu melakukan itu karena aku!” Azzura benar-benar emosi.
Bersamaan dengan penegasan terakhir yang Azzura lontarkan, tubuh ibu Aleya ambruk. Ibu Aleya terduduk lemas. Terlalu menyakitkan, langit kehidupannya seolah runtuh. Lebih menyakitkan dari ketika dirinya yang merupakan Resty, justru dibu*nuh oleh Tomi suaminya sendiri, kemudian Tuhan memberinya hidup di tubuh wanita lain. Tubuh wanita yang kini ia tempati dan itu tubuh madu dari selingkuhan Tomi suaminya.
“Bahkan walau kamu mendapatkan perlakuan sama, kamu harus kehilangan wajahmu seperti yang kamu lakukan kepada mas Heri, ... itu enggak akan pernah menyembuhkan luka hati dan mentalnya terlebih sebelum ini, kamu dan teman-temanmu, juga dengan sengaja membakar pondok orang tua mas Heri!” Azzura kehilangan suaranya. Layaknya ibu Aleya, ia juga berakhir terduduk lemas di lantai.
“Gillllllaaaaa,” lirih mas Aidan tak kuasa berkomentar. Ia terus menggeleng, menatap tak percaya Cikho yang jelas tak bisa mempertanggung jawabkan ulahnya. “Binatang, ... jin, ... gilla, ini beneran gilaaaa!”
“CIKHO!” Tuan Maheza benar-benar murka. Lantaran Cikho yang ia hampiri tak sedikit pun merespons, ia yang sampai menitikkan air mata, menarik kasar lengan kiri Cikho yang memang ia cengkeram.
“Kasih uang suruh operasi, Pah. Beres! KENAPA HARUS DIBESAR-BESARKAN!” kesal Cikho sambil menatap marah Tuan Maheza. Tak terima rasa ya terus dihakimi.
Tuan Maheza yang telanjur emosi, refleks menammpar Cikho. Cikho sudah langsung sempoyongan dan refleks memegangi pipi kiri bekas tamparaannya, menggunakan kedua tangan.
__ADS_1
“Bisa-bisanya kamu masih berpikir seperti itu! Sebenarnya apa isi otak kamu, Kho? Pernah Papah apalagi Mamah mengajari kamu seperti itu? Pernah kami menunjukkan sikap kasar di depan kamu termasuk adik-adik?!” lanjut Tuan Maheza. Walau tahu sudah sangat terlambat, ia tetap bertanya, “Sekarang katakan kepada Papah, hukuman macam apa yang pantas kamu terima? Bahkan kamu membakar pondok, korbannya banyak, Khoooooooo!” Tuan Maheza tidak bisa untuk tidak menangis. Hatinya remuk redam menahan kehancuran atas kelakuan Cikho yang sungguh di luar batas. Ia benar-benar merasa frustrasi. Karena menghajjar Cikho sampai mati pun, itu tak akan membuat keadaan lebih baik.
Ibu Arum yang awalnya tersedu-sedu sambil memeluk erat sang suami, bergegas menghampiri ibu Aleya, mendekapnya erat. Berharap, melalui dekapan eratnya itu, ia mampu memberikan semangat bahkan kekuatan kepada ibu Aleya agar sahabatnya itu masih bisa bersabar, meski ulah Cikho memang sudah sangat keterlaluan, tak termaaafkan.
Hukuman apa yang pantas untuk orang seperti Cikho, itulah yang mereka pikirkan. Termasuk oleh mas Aidan yang perlahan mendekap erat tubuh Azzura. Dalam dekapan sang kakak, Azzura sudah langsung tersedu-sedu, tubuhnya terguncang pelan mirip menggigil karena kedinginan atau malah demam.
Tinggal Excel yang masih berdiri tegak di sana karena pak Kalandra yang awalnya masih bisa, kini tersedu-sedu memeluk Azzura maupun mas Aidan. Begitu juga dengan Syam. Setelah kembali memakaikan topeng Heri, pria itu berakhir terduduk terduduk lemas. Tersedu-sedu di belakang Azzura.
“Hukuman apa yang pantas?” tegas Excel antara serius tapi juga marah. Bahkan walau Heri merupakan kekasih Azzura di masa lalu dan otomatis menjadi saingan beratnya. Juga, kenyataan Syam dan Heri atau itu Helios yang malah baru mengungkapnya sekarang hanya karena selama ini, keduanya balas dendam kepada Cikho dengan cara membuat keluarga Cikho bangkrut secara perlahan. Excel merasa, apa yang Cikho lakukan tetap wajib dipertanggung jawabkan.
“Masih belum bisa menjawab? Kamu bahkan lebih kejam dari ... mafia!” lirih Excel yang kemudian tersenyum miris kepada Cikho. “Lihat orang tuamu. Kami hanya anak angkat, kamu hanya menumpang, tapi kamu beneran kurang ajjjaaar!” kesal Excel yang langsung membogem keras wajah Cikho hingga pria itu mental, sempoyongan dan berakhir terbantingg.
Tak ada yang menghentikan ulah Excel karena semuanya benar-benar kecewa.
__ADS_1