
Sesuai janjinya, Azzura sungguh mengarahkan Excel, mengajari pria itu setiap doa sekaligus urutan dalam salat. Mirip guru, Excel menyebutnya. Yang mana, interaksi mereka benar-benar manis, mirip orang pacaran dan sedang sayang-sayangnya.
Beres salat, Excel memberikan tangan kanannya, membiarkannya disalami dengan sangat takzim oleh Azzura layaknya latihan yang sebelumnya mereka jalani. Kemudian, Azzura yang mengenakan mukena tanpa cadar, tersenyum manis menatap Excel, menciptakan rasa gugup yang juga membuat suhu tubuh Excel menjadi jauh lebih panas mirip orang demam.
Excel yang sempat menunduk memberanikan diri menggerakkan kedua tangannya. Melalui kedua tangan tersebut juga, ia membingkai wajah Azzura, mengabsen setiap inci wajah cantik putih bersih itu dengan ci*uman mesra.
Beres salat, tentu yang mereka lakukan adalah ibadah yang menyempurnakan hubungan mereka. Mereka melakukannya pelan, saling bertukar pikiran karena memang masih sama-sama belajar.
“Ah, Mas Excel pasti cuma pura-pura,” tuding Azzura lirih sekaligus manja. Excel yang masih agak menindih tubuhnya langsung terkejut tapi menatapnya sambil menahan senyum.
“Tuh lihat, tuh ... wajah Mas langsung merah tuh!” lirih Azzura yang juga menjadi menertawakan Excel. Kedua tangannya berangsur membingkai wajah Excel kemudian mengelap peluh yang membasahi di sana hingga leher bahkan tubuh dan sebagiannya sudah jatuh ke tubuhnya.
Kini, Azzura membiarkan Excel membenamkan wajah di kepalanya seiring pria itu yang menjadi tertawa. Tawa yang sebenarnya lirih tapi tetap terdengar nyaring untuknya lantaran pria itu melakukannya tepat di sebelah telinganya. Juga, tawa yang menegaskan bahwa seorang Excel hanya terlalu malu untuk mengaku.
Interaksi manis yang mengikat kebersamaan mereka membuat Azzura maupun Excel merasa, mereka sudah mengenal sangat jauh dalam waktu yang benar-benar lama. Walau pada kenyataannya, mereka merupakan pasangan instan yang hanya ingin melindungi satu sama lain. Namun mungkin karena alasan tersebut juga, mereka bisa dekat dengan sangat mudah.
***
Pagi yang cerah Azzura nikmati dari ranjang pengantinnya. Ia memang belum berpakaian rapi, tapi ia sudah memakai pakaian utuh walau itu berupa gaun malam warna pink nude. Sementara di pangkuannya, Excel yang memakai boxer hitam dipadukan dengan kaus oblong berwarna senada, masih tengkurap. Dari yang Azzura amati, selain memang sedang menjalani pengobatan karena Excel kembali ia infus, suaminya itu juga sengaja bersantai. Excel tidak tidur karena sesekali, pria itu akan mengelus jemari tangan kiri Azzura yang tidak membelai kepala Excel.
__ADS_1
Walau cenderung fokus menatap punggung kepala Excel, Azzura juga masih menjadikan pemandangan suasana pagi di luar sana sebagai kesibukannya di pagi ini. Melalui hamparan kaca jendela kamar pengantin yang Excel sewa untuk mereka, ia bisa melihat hamparan langit yang tampak begitu dekat, selain gedung di sekitar hotel yang juga menjadi mirip miniatur, hanya karena ukurannya tidak lebih tinggi sekaligus besar dari gedung hotel ia menginap.
“Omong-omong, aku betah loh Mas, di sini. Berasa rumah sendiri,” ucap Azzura.
Excel berangsur mengangkat wajahnya kemudian agak menengadah hanya untuk menatap wajah istrinya yang memang sangat cantik. Membuatnya paham, kenapa Cikho sampai melakukan segala cara hanya untuk bisa mempertahankan Azzura. Meski cara Cikho membiarkan Azzura menjadi bahan candaan teman-temannya, tidak mencerminkan bahwa mantan adik iparnya itu benar-benar mencintai Azzura.
“Mau berapa lama lagi? Kalau memang iya, papah sama mamah, termasuk yang lain, masih mau di sini juga enggak? Mau sekalian liburan bareng-bareng? Atau mau honey moon hanya berdua?” tanya Excel lirih dan membiarkan dagunya bertumpu di salah satu paha Azzura. Ulahnya membuat Azzura kerap nyaris meringis menahan geli.
Azzura berangsur membingkai wajah Excel penuh cinta menggunakan kedua tangannya. Ia tidak tahu, sejak kapan ia begitu mengagumi kesempurnaan dari sang suami yang memang sangat tampan. Wajah tampan yang sudah langsung membuatnya sangat bahagia, berbunga-bunga, bahkan, ... damai.
“Kalaupun mereka enggak ikut kita menginap lebih lama, sore nanti kita ajak mereka jalan-jalan ke mal. Menonton bioskop, seru-seruan pokoknya. Di kampung kamu kan, walau di kotanya, belum ada bioskop. Mal yang ada lift-nya saja baru proses penggarapan. Padahal sudah 2023!” ucap Excel tanpa berani menatap Azzura yang sudah langsung tersenyum gemas menyimaknya.
“Bentar, ... Mas bahas ro*kok aku jadi penasaran, ... lebih sayang rokok, apa sayang aku?!” Azzura sengaja memanfaatkan kesempatan kini untuk membahasnya. Telunjuk tangan kanannya sudah langsung menunjuk bibir Excel yang jelas menjadi agak gelap karena rutinitas pria itu dalam menikmati bahan nikot*in yang tentunya berbahaya. Malahan ketimbang peroko*k aktif, perok*ok pasif jauh lebih berisiko mengalami gangguan dari efeknya, khususnya gangguan pernapasan.
Sulit memilih, Excel menatap sedih sang istri. “Ya kamu! Tapi ....”
“Alasan Mas merok*ok karena biar Mas bisa mendapatlan ketenangan, kan? Ya sudah, mulai sekarang, sebisa mungkin aku bakalan bikin Mas tenang. Aku enggak akan melarang Mas buat berhenti total, pelan-pelan karena memang mustahil langsung bisa spontan,” lirih Azzura yang sudah langsung mencubit gemas Excel.
Layaknya seorang bocah yang begitu menurut pada sang mamah, Excel sudah langsung mengangguk-angguk menggemaskan. Azzura yang awalnya hanya mengelus pipi, menjadi mencubitnya gemas dan memang bertenaga. Excel sampai meringis kemudian menatap tak percaya sang istri.
__ADS_1
Hampir seharian Azzura dan Excel menghabiskannya di kamar. Karena untuk sarapan dan makan siang pun, meraka masih melakukannya di kamar, di depan kolam renang tidak begitu luas sambil menikmati pemandangan indah di sana. Tak lupa, mereka juga mengabadikan setiap kebersamaan mereka menggunakan bidik kamera ponsel. Walau kenyataan Excel yang masih memakai infus memang membuat kebersamaan mereka agak ribet.
Siang menjelang sore, untuk pertama kalinya, Excel memakai pakaian berwarna selain hitam, abu-abu atau putih.
Kemeja lengan panjang warna biru muda polos, Azzura pakaikan kepada Excel yang selalu menurut bahkan tunduk kepadanya. Mereka siap pergi jalan-jalan bersama keluarga mereka.
“Mas sudah enggak lemes, kan? Enggak tega lihat Mas diinfus terus,” ucap Azzura sambil mengaitkan kancing di pergelangan kemeja Excel.
“Enggak, ... beneran sudah enggak lemas. Kan sudah punya istri. Diurus terus juga,” ucap Excel bermaksud merayu sang istri, meski yang ada, Azzura yang belum memakai jilbab dan masih membiarkan rambut agak bergelombang tipisnya tergerai, malah menertawakannya.
“Bukan Mas banget, tapi jujur aku suka!” ucap Azzura di sela senyumnya.
Lantaran Excel menjadi serius, Azzura juga menyudahi senyumnya.
“Malahan aku sedang mikir, ... kenapa kita enggak gini dari dulu?” ucap Excel benar-benar serius.
“Romantisnya Mas Excel memang beda!” batin Azzura yang sudah langsung tersenyum, terkesima menatap Excel yang juga langsung menghanyutkan dunianya.
Satu hal yang baru Azzura sadari dan itu ia temukan dari kebersamaan mereka. Karena seindah-indahnya cinta di dunia ini, ada cinta yang benar-benar indah yaitu mencintai pasangan sendiri yang juga membalas sekaligus mencintai kita.
__ADS_1