Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
75 : Harus Menikah


__ADS_3

“Aku benar-benar terkejut karena ternyata, Jay dibantu Cobra!” ucap Helios mendadak masuk ke dalam mobil Excel bertepatan dengan Excel yang baru duduk di belakang setir mobil.


Di tempat parkir khusus yang ada di depan pabrik tahu, Excel menatap aneh ketua mafia itu. Helios yang memakai kacamata hitam dan juga masker berwarna senada untuk menutupi wajahnya yang buru*k rupa, menatapnya melalui pantulan wajah pria itu di kaca spion yang ada di atasnya. Helios duduk tepat di tempat duduk belakangnya.


Excel berpikir, Helios sudah menunggunya dari tadi. Jadi, pria itu juga langsung buru-buru masuk mobil Excel, ketika Excel melakukannya.


“Aku sudah tahu semua tempat usaha kamu termasuk sapi dan kebun kedelai di sekitar puncak Bogor!” ucap Helios masih menatap Excel.


Excel berangsur menyalakan mesin mobilnya. “Tidak terinspirasi untuk hidup bahagia juga bersama istri dan keluarga kecil kalian?”


Ditod*ong pertanyaan tersebut, Helios sudah langsung diam.


“Kamu harus menikah. Karena ketika Alloh menciptakan laki-laki, Alloh juga akan menyiapkan perempuan terbaik untuknya, sesuai perbuatannya, sebagai pasangannya. Dan aku yakin, kamu jauh lebih paham soal itu. Soal agama karena sebelum ini, kamu anak Kyai Besar,” ucap Excel tetap mengemudikan mobilnya meski Helios masih ada di dalam mobilnya mirip penyusup.


“Jangan bahas itu. Bahas Jay dan Cobra saja!” ucap Helios berusaha mengalihkan perhatian.


“Urusan mereka biarkan saja. Mereka hanya terlalu sadar diri, bahwa mereka enggak akan pernah berhasil melawan kita. Bahkan walau mereka bekerja sama dengan sekelas ketua settan, mereka beneran enggak akan pernah berhasil,” ucap Excel tetap fokus dengan kemudinya.


“Xel ....”


“Aku enggak akan minta kamu berhenti dari dunia mafia. Karena andai kamu melakukannya, selain anggota kita yang bisa kehilangan rezeki, mereka juga bisa kehilangan nyawa gara-gara Jay dan pasukannya.”

__ADS_1


“Anggota mafia kita butuh kita. Buat mereka merasa nyaman sekaligus yakin kita akan menjamin keselamatan mereka berikut keluarga mereka. Namun kamu harus tetap waspada karena Jay pasti akan melakukan segala cara. Salah kamu, kenapa kemarin enggak langsung lempar saja dia ke kandang buaya?” Excel mengemudi dengan kecepatan penuh mengingat malam kini, jalanan yang ia lewati terbilang sepi. Hanya ada beberapa pengendara termasuk dirinya.


“Kamu benar-benar akan tetap di pihakku?” tanya Helios lirih karena memang tak percaya.


“Iya makanya kamu harus menikah!” balas Excel kali ini sewot.


“Apa hubungannya antara pernikahanku dan juga adanya kamu dalam mafia kita?” balas Helios jengkel.


“Sebentar lagi kamu tahu jawabannya. Ini sudah pukul setengah sepuluh malam. Di rumah istriku menunggu. Dia sudah menyiapkan makan malam terbaik dan biasanya kami akan makan bersama sambil menceritakan banyak hal. Gara-gara istriku, aku jadi kenal BTS. Dia paling suka ke Jin. Tapi bukan Jin makhluk halus, itu nama orang,” jelas Excel sambil menempelkan headset bluetooth ke kedua telinganya.


Helios yang diceramahi makin tidak paham. “Jin nama orang? Sejak kapan nama orang juga pakai nama-nama jin?” pikirnya yang sudah langsung terusik oleh sapaan manis seorang Excel.


“Waalaikum salam, Sayang. Ini aku sedang di perjalanan pulang. Tiga puluh menit lagi aku sampai. Iya, ... i love you too. Teleponnya jangan ditutup dulu.”


“Ini aku enggak pulang sendirian, ya. Aku pulang bareng Helios. Jadi, kamu bisa siapin makan malam buat dia juga, kan? Oke, oke. Iya, dah ... iya, i love you too.” Excel berangsur melepas headsetnya.


“Azzura mengubah hidupku yang awalnya sangat gelap, menjadi sangat berwarna. Dia bahkan menghadirkan banyak bahagia termasuk warna untuk keluargaku. Bukan bermaksud pamer, aku hanya ingin kamu bahagia dengan pernikahanmu. Aku harap setelah melihat kami, kamu juga akan memiliki pemikiran untuk menikah,” ucap Excel. “Jangan lupa, ... aku sudah menganggap kamu sebagai keluarga. Begitupun dengan Azzura.”


Untuk kali pertama Helios tak bisa membalas lawan bicaranya. Jangankan membalas dengan ucapan, melalui tatapan saja, ia tak melakukannya. Ia terlalu bingung jika harus membahas itu.


“Kita kan jauh, Xel. Ibaratnya kamu ini pangeran berkuda putih, lah aku taaii kudanya.” Akhirnya kata itu keluar dari bibir tebal seorang Helios. Ia mengatakannya sambil tetap menunduk bersama kesedihan yang ia rasakan.

__ADS_1


“Kamu manusia bukan kotorann. Operasi plastik biar mirip Jin saja sana,” cibir Excel.


“Jin lagi? Apa bedanya aku sama jin? Paling dia punya tanduk, aku belum.” Helios kembali sewot.


Excel hanya menggeleng tak habis pikir dan baru beraksi ketika akhirnya mereka sampai rumah. Azzura langsung menyalami tangan kanannya dengan takzim.


Azzura yang memakai pakaian lengkap dengan cadar, menyambut hadirnya Helios dengan senyum hangat. “Apa kabar, Mas?” sapanya kepada Helios.


“Aku lihat kepalanya sudah enggak diperban. Ayo kita langsung makan. Helios bawa kabar bahagia karena akhirnya, dia akan menikah!” ucap Excel masih sangat lembut sambil merangkul pinggang Azzura.


“Masya Allah ... ini berita bahagia!” ucap Azzura langsung antusias.


“Ih ... ini apaan, sih? Enggak jelas banget,” keluh Helios tak paham dengan cara pikir Excel.


“Ya sudah, ya sudah, ayo kita makan. Aku sudah siapin makan malam buat kita. Mamah Mira sama Elena juga masih ada di ruang keluarga,” sergah Azzura makin hangat. Bahagia rasanya karena akhirnya seorang Helios akan menikah.


“Cel, apaan, sih?” protes Helios lirih bertepatan dengan Azzura yang sudah langsung masuk rumah lebih dulu setelah mengambil alih tas bekal Excel.


Sambil menutup pintu di belakang Helios kemudian menguncinya, Excel berkata, “Doa baik itu. Kan yang namanya ucapan ibarat doa. Kamu pasti nikah. Masa iya kamu enggak ada wanita idaman lain selain istriku? Carilah yang lain. Yang jelas dan pastinya bukan istri orang. Apalagi bisa kamu lihat dengan jelas, Azzura dan aku sangat bahagia. Syukur-syukur, bentar lagi kami punya anak.” Excel berangsur melangkah meninggalkan Helios. Sekali lagi, ia mengajak Helios untuk lebih cepat karena Azzura yang tadi sudah langsung membukakan pintu untuk mereka, sudah menunggu di ruang makan.


Terus didesak menikah oleh Excel juga tanpa sadar membuat Helios teringat dua sosok wanita yang ia jumpai beberapa kali, beberapa hari lalu. Chole dan Cinta. Hanya saja, Helios buru-buru membuang jauh-jauh Chole dari ingatannya.

__ADS_1


“Apaan ... wanita manja enggak jelas begitu. Yang ada dia terus nyusahin aku!” batin Helios berangsur menyusul Excel meninggalkan ruang tamu tak begitu luas di sana.


__ADS_2