
Waspada, Cinta menatap gedung kunjungannya. Kedua tangannya mencengkeram tas di bahu kanan yang terbilang besar. Sesekali, ia menghela napas pelan karena melihat keempat satpam yang ada di hadapannya saja sudah membuat jantungnya seolah ru-sak. Jantungnya menjadi berdegup sangat kencang gara-gara keempatnya tampak sangat menyeramkan, lain dari satpam pada kebanyakan.
Jujur Cinta takut, tapi demi memastikan bahkan mungkin membebaskan orang tuanya dari sana, ia sungguh akan maju. Terlebih setelah ia cari, sinyal ponsel orang tuanya, termasuk juga sinyal ponsel Cikho, terdeteksi ada di gedung yang juga Azzura sebutkan sebagai tempat keberadaan orang tua mereka.
Cinta sudah tahu semuanya, setelah ia memaksa Azzura untuk cerita. Alasan yang juga membuatnya sangat emosional. Karena selain darahnya yang seolah terus dididihkan, kebangkrutan perusahaan saja sudah ada di depan mata dan itu masih disebabkan oleh orang yang sama, Cikho. Namun kini, usut punya usut, ternyata ulah Cikho lebih kejam dari pembunnuh bayaran berdarah dingin sekalipun!
Sangat emosi, Cinta sudah sangat ingin mengamuuk Cikho maupun Helios sendiri.
“Katakan kepada HELIOS, aku CINTA, putri dari Tuan Maheza dan Ibu Aleya yang dia sandera, aku adiknya Cikho, sengaja datang ke sini untuk meremu*kkan tulang-tulang HELIOS maupun Cikho. Kurang a*jar sekali, orang tua capek kok ditahan dari kemarin!” kesal Cinta. Karena kedua satpam yang ia hadapi hanya menatapnya dengan marah, ia tak segan membentak.
“Kalian tetap enggak mau bukain aku pintu? Kalian pikir aku enggak bisa memanjat gerbang ini?” kesal Cinta lagi masih menatap marah kedua satpam di hadapannya.
Sambil menyingsing kedua lengan jas abu-abunya, Cinta menghela napas pelan sekaligus dalam. “Satu menit lagi kalian tetap enggak ada usaha buat membalas niat baik aku menyelesaikan ini dengan baik-baik, aku enggak segan telepon polisi buat gerebek tempat ini. Atau malah, ... aku enggak segan bakar tempat ini!” Cinta sungguh tidak main-main.
Sadar satu menit telah berlalu, tapi kedua satpam yang ia beri peringatan tetap tak ada usaha, Cinta segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Satu kantong plastik besar yang tak lain bensin, selain korek api batang. Ia mengeluarkan semua itu sambil menatap kedua satpam di sana penuh peringatan. Ia hanta*mkan satu kantong bensinnya ke salah satu tubuh sang satpam, kemudian membaginya ke satpam yang sempat menghindar. Tak mau membuang-buang kesempatan, ia sudah langsung menyalakan korek apinya. Tak hanya menggertak, ia sungguh melempar korek yang menyala, ke salah satu satpam. Kedua satpam tadi sudah langsung kocar-kacir.
Cinta memang akan sangat sensiti*f di setiap gadis itu tahu, ada yang berani melukai orang tuanya. Dan Cinta tidak akan tinggal diam jika ia tahu ada yang dengan sengaja melukai orang tuanya. Terlebih semenjak ia tahu, dirinya hanya anak adopsi, tapi Tuan Maheza dan ibu Aleya, mencintainya tanpa jeda. Cinta yang tetap mendapatkan fasilitas mewah layaknya anak kandung, bersumpah akan selalu menjadi pelindung Tuan Maheza dan ibu Aleya. Cinta akan menjadi garda terdepan orang tuanya.
“Tunggu, saya kabarkan ke dalam dulu,” sanggup salah satu satpam yang belum sempat tersiram bensin oleh Cinta.
__ADS_1
Kedua satpam yang sempat dibakar oleh Cinta masih sibuk melepas pakaian. Walau salah satu satpam yang tidak membuat laporan ke dalam, sudah sigap mengguyur tubuh mereka menggunakan air selang taman, keduanya telanjur Parno. Ulah Cinta yang dengan sangat berani menye*rang mereka, sudah langsung mengacaukan suasana di sana.
Tak sampai lima menit menunggu dari kepergian satpam yang mengabarkan ke dalam, Cinta sudah langsung diizinkan masuk. Namun sebelum itu, Cinta tidak diizinkan membawa persiapan ‘keamanan’ yang ada di dalam tasnya.
Suasana di sana masih seperti ketika Azzura datang. Cinta tidak mendapatkan sambutan spesial. Suasana temaram berselimut kesunyian masih menjadi warna mengerikan di sana.
Berbeda dari rombongan Azzura, kali ini Cinta sampai mendapat pengawalan. Ada dua mafi*a sekaligus yang mengawalnya. Meski tentu saja, Cinta tidak tahu jika yang mengawal merupakan pembu*nuh berdarah dingin. Bahkan, kini Cinta sedang di markas ma*fia.
Ruang kesehatan di sana, sudah langsung menjadi tujuan Cinta yang dituntun masuk menggunakan lift. Emosi Cinta langsung meluap lantaran orang tuanya dalam keadaan terduduk loyo di lantai. Tak jauh dari orang tuanya, Cikho yang sudah babak belur malah meringkuk tak berdaya.
“Sampaaah memang kalian, ya!” kecam Cinta yang tetap berbicara lantang walau air matanya berlinang. Ia sudah langsung menghampiri orang tuanya, merangkulnya penuh sayang.
“Siapa yang akan bertanggung jawab? Siapa yang sudah berani memperlakukan orang tuaku seperti ini?” tanya Cinta lirih tapi bergetar saking emosinya. Namun karena di sana tetap senyap sama sekali tidak ada yang menjawab, ia mengulang pertanyaannya dengan meledak-ledak.
Syam yang masih berdiri di sebelah ranjang rawat Helios, segera menarik pist0lnya kemudian mengarahkannya kepada Cinta. Ibu Aleya yang matanya sudah bengkak karena terlalu lama menangis, langsung menangis meronta-ronta mendekap kepala sekaligus tubuh Cinta. Tentu maksud ibu Aleya untuk melindungi Cinta.
Tak beda dengan sang istri, Tuan Maheza juga sudah langsung berdiri, ia mengajak Syam menyelesaikan masalah merek di pengadilan.
“Hanya untuk menghadapi wanita yang bahkan tidak membawa senjat*a kamu sampai perlu pistol ...?!” murka Cinta tetap maju menghampiri Syam walau sang mamah terus berusaha menahannya sambil meraung-raung.
__ADS_1
Tak pernah terbayangkan oleh Cinta, hidupnya sekeluarga yang awalnya serba bahagia penuh kemewahan, mendadak diperlakukan bak tawanan layaknya sekarang. Alasan yang juga membuatnya tidak bisa diam. Ia sungguh tidak terima.
“Kalaupun kamu seorang pembunnuh, bukan berarti kamu juga membunnuh hati dan akal kamu!” lirih Cinta masih emosional setelah sebelumnya, ia yang seolah kerasukkan arwah jahat, dengan begitu mudah menyingkirkan pist0l yang Syam todonggkan kepadanya, menggunakan kedua tangan.
Pistol itu terkapar jauh dari kebersamaan. “Mikir, orang tuamu melahirkan kamu dan membuatmu ada bukan untuk menjadi tidak berguna seperti ini. Kasihan ke mereka walau aku yakin, kamu sadar kamu memang enggak lebih berguna dari sammpah!” Ingin rasanya Cinta menerkaam Syam hidup-hidup. “Aku sudah tahu semuanya. Dari urusan kalian dengan mas Cikho, juga kalian juga yang membuat usaha orang tuaku terancam bangkrut!”
Cinta mengawasi suasana di sana dengan saksama. Ia melangkah pelan dan membuatnya sampai di sebelah Helios yang masih terbaring. “Hei Tuan, aku menghormatimu, aku iba dengan kisahmu yang pernah menjadi korban kekejiiian kakakku. Namun bukan berarti Anda menjadi manusia manusia tak tahu diri. Di dunia ini bukan hanya Anda yang bermasalah, ya. Di dunia ini bukan hanya Anda satu-satunya yang terluka.”
“Jangan hanya dilihat dari penderitaan Anda, tolong dilihat dari sisi lain juga. Terlebih Azzura bilang, Anda lebih memilih dianggap mati ketimbang menyelesaikan kasus ini dari awal!”
“Tolong lihat juga keadaan orang tuaku. Aku yakin Anda tahu terlebih orang seperti Anda biasanya akan mencari tahu semuanya. TERBUKTI, ANDA SUDAH MEMBUAT KELUARGA KAMI NYARIS BANGKRUT, MELALUI KAK CIKHO.”
“DAN SEKARANG AKU TANYA, APA BEDANYA KALIAN DENGAN KAK CIKHO KALAU KALIAN SAJA LEBIH TIDAK BERGUNA DARI SAMMPAH?!”
Cinta benar-benar belum selesai dengan amarahnya. “Kalau kalian ingin membalas kak Cikho, silakan. Mau dicincang, mau dibikin cacaaat sekalian kembaran seperti yang Anda alami dan membuat Anda merasa paling menderita sedunia, SILAKAN! NAMUN TOLONG, JANGAN MENYENTUH ORANG TUAKU KARENA ORANG TUAKU TIDAK PERNAH SEKALIPUN MENGAJARI ANAK-ANAKNYA BEGITU!”
“ANDA SUDAH MEMBUAT KAMI NYARIS bangkrut, tapi Anda masih dengan tidak tahu diri, terus melanjutkan dendam Anda. Balas dendam apa lagi?” Cinta geleng-geleng dan tak segan menantang Syam yang sudah mendekat menodongnya dengan belati, untuk segera menuntaskan niatnya.
“Kalaupun aku harus mati karena ini, aku sama sekali enggak merasa rugi!” tegasnya yang malah maju merapatkan jaraknya dari Syam.
__ADS_1