
Iri, itulah yang Helios rasakan saat ini lantaran harus menyaksikan Azzura dan Excel berbagi perhatian. Dari yang sekadar saling menambahkan menu makanan ke piring, mengambilkan minum, atau malah saling menyuapi. Makanan yang harusnya terasa nikmat juga untuk Helios, mendadak tertahan di tenggorokan dan begitu sulit ditelan.
“Jadi, sejak kapan kalian dekat?” tanya Helios geregetan sendiri melihat tingkah kedua sejoli di hadapannya yang terus membuatnya iri. Rasa iri karena keduanya terlalu cocok. Karena selain terlihat jelas saling menyayangi sekaligus saling mencintai, keduanya juga sama-sama good loking. Yang perempuan sangat cantik, yang laki-laki sangat tampan. Hingga tak ada lain yang ingin Helios ketahui selain apa yang baru saja ia tanyakan.
Helios penasaran, sejak kapan Excel dan Azzura mengenal hingga akhirnya keduanya sedekat sekarang? Helios ingin tahu perjalanan kisah pasutri baru itu.
“Sejak menikah. Habis menikah, kami beneran baru dekat. Langsung dekat,” jelas Excel.
“Kenalnya! Kok kalian bisa kenal?” tegas Helios penuh penekanan. Sendok di tangan kanannya sampai ia tekankan ke piring yang isinya baru berkurang sedikit karena keromantisan Excel dan Azzura membuat setiap makanan yang harusnya ia telan, menjadi tertahan di tenggorokan.
“Di kampung. Pas itu masih dini hari, Mas Excel datang ke klinik dalam keadaan terluka parah karena sampai patah tulang. Sebenarnya sampai sekarang harusnya masih terasa, tapi Mas Excel emang gitu. Malah rasa sakit sama penyakitnya yang beliau wajibkan takut,” jelas Azzura.
Kemudian mata kiri Helios tertuju kepada Excel. “Kok kamu bisa terluka parah?”
“Pas tugas dua bulan lalu. Kamu juga yang mengirmku. Masa lupa?”
Helios sadar, tugas yang Excel maksud tak seharusnya mereka bahas di depan Azzura.
“Oh, iya ... satu bulan lag kami akan menggelar resepsi di hotel dekat rumah orang tua Azzura,” ucap Excel sambil menghabiskan makanan di piringnya.
__ADS_1
“Mas datang, kan?” tanya Azzura yang mengunyah setiap makanan dengan sangat elegan.
“Loh, aku kan sudah kasih kalian mobil. Memangnya Excel enggak cerita ke kamu?” balas Helios sambil menatap Azzura.
“Azzura tanya kesediaan Mas, eh maksudku kesediaan kamu mau datang ke resepsi. Bukan untuk kondangan atau pun kado pernikahan. Kalau mobil, itu aku sudah bilang,” jelas Excel benar-benar tertata bahkan lembut, sarat perhatian.
“Cintanya kepada Azzura membuat seorang Excel menjadi pribadi sangat lembut. Salut aku!” batin Helios yang terus saja mendapatkan banyak kejutan dari keajaiban cinta Excel kepada Azzura.
“Kamu wajib datang. Siapa tahu jodohnya ada di sana,” ucap Excel fokus menyiakan makanan di sendoknya kemudian menyuapkannya kepada Azzura.
“Loh katanya mau nikah, kok masih mau cari jodoh di resepsi kita?” tanya Azzura heran sebelum menerima suapan sang suami.
“Suamimu tukang fitnah. Mendadak sibuk memaksaku menikah juga,” jengkel Helios yang kemudian memakan makanan di piringnya. Ia mengunyahnya sekuat tenaga, dan lagi-lagi sulit menelan lantaran keromantisan Excel dan Azzura. Excel tengah menggunakan jempol tangan kanannya untuk mengelap bibir Azzura yang hanya sedikit belepotan kuah gulai kepala ikan kakap selaku salah satu menu yang mereka santap.
“Mas Helios memang harus menikah,” ucap Azzura.
Helios langsung mendengkus. “Beban hidupku langsung bertambah kalau kalian terus menyuruhku menikah.” Namun tiba-tiba saja Helios kembali memikirkan Cinta. Apakah Cinta juga akan datang atau setidaknya diundang?
“Keluarga Cikho diundang?” tanya Helios memberanikan diri. Di hadapannya, Excel dan Azzura langsung diam, kemudian tampak kebingungan hanya karena ia menyebut nama Cikho.
__ADS_1
Azzura yang berangsur fokus menatap Helios, mengangguk-angguk. “Tentu, Mas. Tentu kami akan mengundang keluarga mas Cikho. Namun datang tidaknya mereka kembali ke mereka. Aku pribadi berharapnya mereka datang, terlebih yang punya masalah dengan aku dan keluargaku murni mas Cikho, itu pun sudah kami selesaikan.”
“Lalu bagaimana kelanjutan kasus kalian?” tanya Excel sengaja mumpung sedang membahas Cikho.
“Aku sudah menyerahkan kasusnya ke pengacaraku. Agak sulit karena kasusnya sudah terjadi belasan tahun lalu,” ucap Helios.
“Yang aku tahu dari mas Aidan karena beliau kan pengacara jadi aku sering dapat ilmu hukum juga. Jadi, sebuah kasus memang ada masa kedaluwarsanya. Masa kadaluarsa kasus pidana maksimal itu 6 bulan setelah kejadian perkara pidana. Itu kalau korbannya masih di dalam negeri, di Indonesia. Namun kalau korbannya ada di luar negeri, masa kedaluwarsanya 9 bulan,” jelas Azzura.
Penjelasan Azzura barusan sudah langsung membuat seorang Excel merenung serius. Excel berangsur menunduk tak bersemangat. “Berarti enggak ada harapan, ya? Kasus kamu sudah terjadi tiga atau dua belas tahun, kan?” Ia menatap prihatin Helios.
“Dua hari lalu, orang tua Cikho sudah langsung antar Cikho ke polisi. Dan Cikho sudah mengakui semua kejahatannya. Dari yang penganiaya*an biasa kepadaku, pembakaran pondok, termasuk yang sampai bikin wajah dan mata kananku begini,” jelas Helios.
Tanpa bermaksud tidak iba kepada Helios, baik Excel apalagi Azzura menjadi prihatin. Keduanya merasa sangat sedih kepada nasib Tuan Maheza dan ibu Aleya. Mereka yakin, Tuan Maheza dan ibu Aleya merasa sangat hancur atas hukuman yang harus Cikho dapatkan. Luar biasanya, keduanya dengan sadar mengantar Cikho ke kantor polisi secara langsung. Tak terbayang andai Azzura dan Excel sampai mengalami, yaitu mangantar anak yang mereka rawat penuh cinta, untuk menjalani hukuman di penjara.
“Ke depannya, kamu cukup operasi wajah biar kamu enggak minder lagi. Jangan sampai, sudah enggak mau operasi, kamu juga kesal kalau ada orang menganggap wajah kamu seram!” tegas Excel lagi-lagi menasihati meski Helios tetap terlihat enggan. “Yang namanya perasaan kan enggak bisa kamu paksakan, Hel. Kamu enggak suka kalau ada yang menganggap wajah kamu seram. Padahal kamu saja juga enggak berani melihat wajah kamu, kan? Jadi keputusan terbaik, ya kamu mending operasi plastik. Enggak mirip Jin ya mirip RM!”
Karena jika Excel perhatikan, operasi dan menikah menjadi kedua hal yang membuat seorang Helios enggan melakukannya. Helios selalu menanggapi kedua hal tersebut dengan dingin di setiap ia menyinggung apalagi membahasnya terang-terangan.
Hendak mengambil pembicaraan, Azzura sengaja berdeham. “Kalau boleh tahu, apakah kasus kalian sudah final? Maksudnya, apakah mas Cikho beneran hanya cukup dipenjara?” Azzura bertanya dengan hati-hati karena ia sadar, pertanyaannya sangat sensit*if untuk seorang Helios. “Wajib diberesin langsung, yah, Mas. Biar sama-sama enak dan enggak ada pihak yang masih merasa dirugikan, termasuk Mas sendiri. Jangan sampai, Mas belum puas tapi Mas hanya diam dan diam-diam balas dendam lagi.” Walau merasa kurang sopan, Azzura juga membahas kerugian materi yang harus Tuan Maheza alami.
__ADS_1
“Mereka beneran nyaris bangkrut. Dibantu sama paman Lim yang merupakan adiknya om Maheza pun tetap masih kurang,” jelas Azzura diam-diam ingin meminta Helios menuntaskan dendamnya dan jika perlu berhenti.
“Mereka memang nyaris bangkrut. Lantas, apakah jika aku memberikan banyak dana, bisa menjadi alasan Cinta mau menikah denganku?” pikir Helios.