
Sisa hujan sore tadi masih terasa. Gerimis ringan yang masih menerpa, juga permukaan suasana luar yang masih sangat basah.
Rasa dingin juga menusuk hingga ke tulang. Sekelas Excel yang terbiasa mengarungi medang tempur menyakitkan, bisa merasakannya. Namun demi mencari nasi Padang spesial untuk sang istri yang menunggu di rumah, Excel rela antri di tempat langganan ia beli.
Terbiasa mengawasi sekitar dengan teliti walau hanya melalui lirikan, apa yang Excel lakukan malah membuatnya memergoki seorang Akala masuk ke sebuah kafe. Di seberang dan hanya dipisahkan jalan raya memang merupakan kafe. Nuansa romantis yang diusung di kafe bernuansa kaca tersebut menjadi daya tarik tersendiri.
Pertanyaannya, untuk apa Akala ke sana? Jika Excel lihat, mobil yang mengantar Akala sudah langsung pergi. Bisa jadi itu hanya taksi online yang sengaja Akala sewa.
Tampak Akala yang juga merasakan dampak dingin dari sisa hujan sore tadi. Akala yang sudah membuat tubuh besarnya terbalut jaket hangat bahan parasut warna hitam, merapatkan jaketnya kemudian masuk ke dalam kafe yang terbilang ramai.
Excel yang masih mengawasi, tidak melihat siapa pun bersama Akala. Terlebih Akala duduk sendiri di tempat duduk bagian depan. “Ini Jakarta, Akala mau ketemuan sama siapa? Enggak ada pihak keluarga yang ikut. Akala janjian sama siapa?”
Karena sudah gilirannya memesan, Excel terpaksa menyudahi perhatiannya. Ia sengaja mengucapkan pesanannya dengan sangat cepat untuk segera kembali fokus ke adik iparnya karena biar bagaimanapun, ia memang khawatir. Takut Akala salah gaul, atau malah dijahati orang.
Lokasi yang Akala pilih merupakan pusat keramaian dan sebagian pengunjungnya merupakan orang-orang tak kenal aturan. Lihat saja di seberang sana dan tidak begitu jauh dari tempat parkir kafe, ada anak punk yang nyaris teler setelah mengonsumsi minuman semacam oplosan.
Fokus Excel lagi-lagi terusik setelah memergoki sedan hitam terparkir di depan kafe dan itu justru Cinta. Excel sudah langsung mengenali Cinta, meski mereka baru bertemu sekali.
“Mas, maaf tadi Mas pesan saja?” tanya si wanita muda dan kiranya berusia sebaya Elena.
Excel langsung terkejut mendapatkan pertanyaan tersebut. Karena dengan kata lain, ucapan panjang lebar yang ia lakukan dengan sangat cepat guna menghemat waktu, malah tidak ada gunanya. Namun melihat wajah takut si wanita, ia jadi tidak tega.
“Maaf banget, Mas. Namun tolong, bicaranya jangan cepat-cepat. Lagi rame begini, berisik banget jadi kurang jelas. Maaf banget ya, Mas!” sambung si wanita.
__ADS_1
Excel yang kali ini memakai topi putih pemberian Azzura, menghela napas pelan kemudian mengangguk-angguk paham. Namun sebelum ia mengucapkan pesanannya, ia sengaja menoleh ke belakang.
Kenyataan Cinta yang dihampiri salah satu dari anak punk, sementara tujuh anak punk lainnya dan masih tergeletak di trotoar, menertawakan apa yang terjadi, sudah langsung mengusik Excel.
Cinta hanya melirik tidak nyaman kemudian berlalu, masuk ke dalam kafe meninggalkan si anak punk begitu saja. Di kafe, Akala yang melihat Cinta juga sudah langsung berdiri kemudian menghampiri.
“M-mas, maaf,” tegur pelayan wanita tadi kepada Excel.
Selain langsung terusik, Excel juga buru-buru meminta maaf. Segera ia mengatakan pesanannya dengan jauh lebih pelan. Membuatnya menghabiskan waktu nyaris empat menit.
Ketika Excel kembali memastikan ke seberang, kedua matanya sudah langsung terbelalak serius. Anak-anak punk tadi dan jumlahnya ada delapan orang, sudah berbondong-bondong masuk menghampiri kebersamaan Akala dan Cinta.
“Jadi wanita jangan sombong sok jual mahal, kenapa?” ucap si anak punk yang tadi menghampiri sekaligus menyapa, dan memang berniat menggoda Cinta.
Padahal niat Cinta abai karena selain tidak kenal, tak mungkin juga Cinta berurusan dengan anak-anak punk yang bahkan nyaris teler.
“Maaf, ini Masnya ada perlu apa?” tanya Akala sangat sopan.
“Sayang, kami enggak kenal. Sudah, biarin saja,” sergah Cinta meyakinkan sambil mendekap lengan kanan Akala menggunakan kedua tangan.
Namun dengan spontan, si anak punk yang tidak terima justru meludahii wajah Cinta dan itu sudah langsung membuat semuanya nyaris jantungan khususnya Cinta dan Akala. Bahkan walau luuudah si anak punk tadi berhasil dihalau menggunakan buku menu. Adalah Excel Lucas yang sudah langsung melakukannya dengan cekatan.
Menatap tajam anak punk yang sengaja meludahhii Cinta andai ia tak menghalaunya, Excel juga sudah langsung menghantamkan buku menu di tangan kanannya ke wajah yang bersangkutan, sekuat tenaga. Si anak punk tersebut yang memang sudah setelah teler langsung tergeletak menimpa tempat duduk di meja sebelah.
__ADS_1
Keramaian langsung tercipta dari pengunjung kafe yang memilih minggir menyelamatkan diri. Terlebih pada akhirnya keributan juga sudah langsung pecah lantaran ketujuh anak punk yang tersisa juga berbondong-bondong menye-rang. Mereka yang melangkah saja sempoyongan, menggunakan piring, gelas dari meja sekitar untuk menye-rang Excel.
Dengan cekatan, Excel sudah langsung menghindar. Setiap geraknya mirip embusan angin bahkan kilat. Satu persatu dari anak punk, Excel taklukkan, panggul, kemudian lempar ke luar kafe agar tidak menimbulkan keributan sekaligus kerugian lebih banyak lagi.
Kedelapan anak punk tadi termasuk yang sempat nyaris meludahii Cinta, tertumpuk di tempat parkir depan kafe dan sudah langsung menjadi tontonan. Walau tentu saja, kenyataan Excel yang begitu cekatan juga sudah langsung membuat mereka termasuk Akala dan Cinta, terpukau.
Masuk ke dalam kafe, Excel langsung memberikan sejumlah uang kepada pria kurus yang awalnya hendak melerai anak punk. Uang tersebut Excel berikan sebagai ganti rugi untuk gelas dan piring, maupun makanan dan minuman yang menjadi korban anak punk ketika menyera-ngnya.
“M-mas?” Akala sampai tidak bisa berkata-kata.
Begitupun dengan Cinta walau pada akhirnya, ia sengaja berterima kasih.
“Pulangnya jangan malam-malam. Makin malam makin enggak jelas soalnya. Bentar lagi saja, banyak wanita enggak benar yang nongkrong di pinggir jalan.” Saking hafalnya, Excel sampai enggan menyebutkan sisi gelap dunia malam di kehidupan.
Excel menyebutnya di kehidupan karena kejadiannya tak hanya di ibu kota maupun kehidupan perkotaan lainnya. Karena di daerah pinggiran, juga banyak kejadian yang baru saja ia katakan.
Akala dan Cinta yang masih syok dengan keributan beberapa saat lalu, segera mengangguk-angguk. Keduanya kembali mengucapkan terima kasih sebelum Excel benar-benar pergi.
Keributan memang sudah diatasi dan Excel pun sudah pergi. Namun, ketegangan yang dihasilkan dari keributan, masih terasa sangat kuat. Cinta yang masih syok sengaja memeluk Akala sangat erat. Pelukan yang langsung terbalas terlebih Akala paham, emosi kekasihnya sedang tidak baik-baik saja.
Sementara itu, kepulangan Excel sudah langsung disambut senyum cerah oleh Azzura yang memang membukakan pintu. Namun, aroma tak jelas dari Excel ditambah pria itu yang pulang dengan tangan kosong, sudah langsung mengakhiri senyum cerah di wajah Azzura.
“Mas habis ngapain, sih? Ini aromanya ... Mas habis minum? Oplo ... san, ya? Terus, nasi Padang yang aku minta, mana?” sedih Azzura, dan suaminya sudah langsung kebingungan.
__ADS_1
“Sepuluh menit, ya! Ketinggalan!” ucap Excel sudah langsung kabur menggunakan mobil.
“Suamiku kenapa, sih? Terus dia habis ngapain, kenapa dia bau oplosan, dan nasi Padang buatku juga sampai ketinggalan?” Azzura jadi sibuk bertanya-tanya dalam hatinya. Namun jika melihat ekspresi Excel yang tetap tenang, Azzura yakin, suaminya tak sampai mabu*k.