Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
91 : Kabar yang Masih Abu-Abu


__ADS_3

Bukan hanya Excel yang dirawat di markas mafia. Karena sang jendraal juga ada di sana. Di ruang yang sebelumnya sempat menjadi tempat Helios dirawat, keduanya sudah langsung menjalani penanganan intensif.


Helios mengawal langsung jalannya penanganan bersama Syam. Dan selama itu juga, bukan hanya ponsel Excel yang sibuk berdering dan itu akibat nomor ponsel Azzura yang tak hentinya menghubungi. Sebab ponsel Helios juga tak hentinya berdering akibat oleh nomor yang masih sama, Azzura. Sudah tak terhitung berapa banyak Azzura berusaha menelepon menggunakan sambungan telepon suara maupun video.


“Ketua, aku rasa lebih baik dijawab saja. Lebih baik ketua jujur karena mbak Azzura bukan wanita biasa. Apalagi kalau keadaannya sudah begini, yang ada mbak Azzura makin curiga. Secara, kenyataan mbak Azzura yang jadi sibuk menghubungi kalian pasti karena mbak Azzura tahu, kalian di tempat yang sama. Karena sepertinya, mbak Azzura memang melacak sinyal ponsel kalian,” lirih Syam menatap Helios dengan banyak kesedihan.


Helios mengembuskan napas berat melalui mulut. Ia menunduk, tapi berangsur melirik Excel. Excel yang masih dalam keadaan tengkurap, tengah menjalani operasi besar-besaran akibat peluru-peluru yang bersarang di tubuh bagian belakangnya.


“Biar aku saja yang menjawab,” sergah Syam berusaha mengambil alih ponsel Excel yang ada di tangan kanan Helios.


Kedua tangan Helios sama-sama memegang ponsel. Tangan kiri menggenggam ponsel pribadi, sementara tangan kanan menggenggam ponsel Excel.


Helios tahu, alasan Syam nekat menjawab telepon Azzura. Karena seperti biasa, Syam tidak mau ia disalahkan. Syam tidak mau jika beban hidup Helios makin bertambah.


“Biar aku saja,” ucap Helios lirih segera mengambil alih ponsel Excel yang sempat diambil oleh Syam. Pemuda itu sudah langsung terdiam membeku, menatapnya sangat khawatir. Karenanya, ia mengangguk-angguk. Sebenarnya ia ingin tersenyum guna membuat perasaan Syam menjadi lebih baik walau hanya sedikit. Namun, kali ini keadaan benar-benar tengah sulit.


Di kamar, Azzura yang masih memakai mukena dan tengah berdiri loyo menyandar pada jendela, lagi-lagi hanya bisa diam. Melalui ekor lirikannya, ia membiarkan air matanya sibuk berlinang. Namun baru saja, jantungnya yang menjadi berdetak lebih lemah akibat sepinya kabar dari sang suami, tiba-tiba saja berdetak lebih kencang. Itu karena nomor sang suami menghubungi ponselnya melalui sambungan telepon suara.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Mas?!” sergah Azzura benar-benar tak sabar.


Namun, deru napas dari seberang sudah langsung membuat dadanya kebas. Azzura mengenali deru napas tadi merupakan deru napas seorang Helios, bukan milik suaminya.


Tubuh Azzura refleks merunduk dan berakhir terduduk di lantai. Dan Azzura makin yakin, sesuatu yang fatal telah menimpa sang suami. Alasan justru Helios yang meneleponnya menggunakan ponsel Excel. Termasuk juga, alasan kenapa sinyal ponsel keduanya terlacak di tempat yang sama. Azzura yakin keduanya sedang ditempat yang sama dan jika dilihat dari lokasinya, keduanya tengah berada di markas mafia.


“Waalaikum salam, ... ini aku. Excel, dia ....” Dari seberang, Helios terdengar berat untuk mengabarkan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


“Katakan saja, Mas. Aku mohon, tolong banget, ... lebih baik Mas jujur. Jangan sampai kebohongan Mas menambah luka bahkan penyesalanku. Mas Excel mana? Beliau enggak mungkin begini kalau memang enggak kenapa-kenapa. Mas Excel terluka sampai enggak bicara apa bagaimana? Kalian ada di markas, kan?” sergah Azzura benar-benar cerewet.


Tiiiiittttttttttttt. .......


Namun, dari seberang tidak menanggapi. Malahan seolah sibuk sendiri. Suara Helios meraung-raung, memanggil-manggil nama Excel dan dimintanya untuk segera bangun.


Tersedu-sedu Azzura berlari. Wanita itu kalang kabut dan berakhir terbanting karena menginjak mukena bagian bawahnya sendiri. Namun segera ia bangkit, kemudian keluar dari kamarnya. Ia menggedor kamar mas Aidan, mengabarkan duka yang sampai detik ini masih abu-abu karena belum jelas kebenarannya. Kendati demikian, Azzura yakin seyakin-yakinnya suaminya memang tidak baik-baik saja.


Mas Aidan yang sudah langsung keluar dari kamar, dan masih memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, juga langsung panik.

__ADS_1


“Bentar, Mas pakai baju dulu. Kita langsung ke sana. Mbak juga langsung siap-siap!” sergah mas Aidan.


Azzur yang sudah sulit untuk sekadar berbicara, segera mengangguk-angguk. “Tapi Mas jangan bilang-bilang. Untuk sementara ini rahasia. Cuma kita berdua yang tahu!” mohonnya berbisik-bisik dan mas Aidan sudah langsung mengangguk-angguk sanggup.


Sekitar pukul sembilan malam lebih, mobil mas Aidan yang langsung dikemudikan oleh mas Aidan, keluar dari kediaman orang tua mereka. Azzura duduk di sebelah mas Aidan. Sementara di markas, Helios terduduk pasrah diikuti juga oleh Syam. Tatapan keduanya sama-sama kosong sekaligus basah.


“Koma ...? Excel koma? Kok bisa?!” lirih Helios menolak untuk percaya.


“Ada saraf di otaknya yang mengalami luka. Semacam beban pikiran yang terlalu lama ditahan dan akhirnya meledak. Otaknya tak hanya lelah, tapi ...,” jelas dokter yang menangani Excel. Pria paruh baya itu menatap prihatin Excel dan Syam, sebelum ia juga memperhatikan Excel.


Lirikan keji mata kiri Helios sudah langsung tertuju pada sang jendral dan sampai sekarang sudah melewati masa kritis. Di depan sana, dekat pintu masuk ruang penanganan mereka berada. “Dia menembak Excel dengan sangat cepat. Di rekaman CCTV yang berhasil diamankan dia ... benar-benar baji*ngan! Dia layak mati secara perlahan! Dia layak mendapat banyak siksaan!” batin Helios benar-benar dendam.


Kedua tangan Helios sudah langsung mengepal kencang. Segera ia berdiri kemudian melangkah cepat menghampiri sang jendral. Menggunakan mata kirinya, ia kembali menatap pria paruh baya itu dengan keji.


Di tempat berbeda, Angel dan nyonya Cici masih disekap. Di ruang tidak begitu luas dan benar-benar tanpa perabotan. Penerangan di sana juga temaram. Kedua wanita itu hanya bisa menangis, gelisah parah dan kadang membuat mereka mondar-mandir.


“Sebenarnya ada apa?” lirih Azzura masih belum baik-baik saja. Ia menjadi sibuk menghela napas pelan, istighfar, sebelum akhirnya ia juga larut bertasbih.

__ADS_1


Di sebelah Azzura, mas Aidan yang tak kalah gelisah, menjadi bersedih karena keadaan sang adik sekaligus kabar Excel yang belum jelas. “Semoga semuanya baik-baik saja. Kalaupun memang terjadi, ... semoga segera diberi kesembuhan!” batin Mas Aidan.


__ADS_2