Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
49 : Baru Awal


__ADS_3

Setiap pasang mata yang Azzura bawa menjadi sibuk mengawasi suasana di dalam sarang para mafi*a. Ibu Arum maupun mas Aindan yang awalnya mengira itu sebuah pabrik, makin tidak bisa memahami. Apalagi, sekadar lantai dan dinding di dalam sana saja terbilang mewah. Semua lantai berupa marmer, membuat keadaan di sana jadi dingin. Ada beberapa lantai di sana yang bisa ditempuh dengan anak tangga maupun lift.


Setelah Azzura merenung keras, Azzura menyimpulkan, balas dendam dalam jangka waktu lama yang Heri dan Syam lakukan memang dengan menghancu*rkan harta sekaligus tahta keluarga Cikho. Heri dan Syam membuat Cikho terus menghabiskan uang keluarga, salah satunya juga mereka tarik melalui perju*dian yang Cikho jalani khususnya ketika Cikho sedang bersenang-senang dengan temannya. Bisa jadi, salah satu dari teman Cikho yang tidak pernah absen menjadi bagian dari Cikho, justru bagian dari mafi*a.


Di lain sisi, Azzura merasa bersyukur, adik perempuan Cikho tidak sampai diusik walau jika Syam dan Heri menginginkannya, tentu mereka sangat bisa. Kemudian, mengenai kemarahan Azzura lantaran Syam dan Heri malah tidak fokus balas dendam dengan menyingkirkan atau itu menghabis*i Chiko dengan kejam, selain Azzura tidak bisa memaksa orang lain mengikuti cara pikirnya termasuk itu kepada Syam bahkan Heri, Azzura juga yakin, ketimbang nyawa Cikho, harta dan tahta yang Cikho miliki selama ini akan jauh lebih membuat Cikho tersakiti.


Sampailah mereka di ruang rawat mewah yang juga luas. Azzura masih memimpin langkah. Langkah cepat nan emosional.


Cikho yang awalnya masih baik-baik saja mengawasi suasana di sana dengan tenang, langsung syok mana kala pandangannya mendapati Syam ada di sana.


Cikho yang sempat refleks berhenti melangkah, menjadi ragu melanjutkannya. “Ini kah maksudnya? Ternyata dia masih hidup?!” batin Cikho, dadanya sudah langsung bergemuruh hebat ditawan ketegangan. Di ingatannya juga sudah langsung dihiasi adegan hitam putih mirip film lawas. Adegan dirinya terus mengajak Heri yang berpenampilan sederhana dan kadang memakai seragam pencak silat, menjadi pembuka dari kejadian lawas di masa lalu mereka. Kejadian masa lalu mereka yang tiba-tiba saja terasa sangat menyeramkan bagi Cikho.


Kemudian adegan diganti dengan Cikho dan rombongan yang melumuri setiap bangunan pondok khususnya yang dekat dapur, menggunakan bensin hingga pondok berbahan kayu termasuk itu bambu di sana terbakar dengan mudah berikut penghuninya. Hanya ada beberapa penghuni saja yang akhirnya mampu menyelamatkan diri. Saat itu suasana benar-benar kacau, walau Cikho dan teman-temannya justru bersandiwara menjadi penyelamat. Mereka melakukan segala cara untuk memadamkan api, membantu Syam dan Heri.

__ADS_1


Terakhir, demi membuat wajah tampan Heri tak menarik lagi, setelah sampai menyekapnya ramai-ramai dengan temannya di sebuah gudang gelap, iya ... Cikho nekat melakukannya. Dengan keadaan kaki dan tangan terikat, tubuh super tegap Heri menggeliat, kesakitan meronta-ronta tak karuan. Syam yang ada di sebelah dan juga sampai diikat kaki dan tangannya, tak kalah histeris. Syam menguttuk ulah Cikho.


“Andai kami bisa masuk atau setidaknya kami bisa melihat ingatan sekaligus pikiran kamu, pasti kami sudah tahu semua kekejian kamu yang lebih mengerikan dari silum*an kan, Mas? Termasuk sekarang, Mas pasti sedang mengingat semua itu, kan?” tuding Azzura berucap tegas. Ia melangkah pelan menghampiri Cikho. Lain dengan keluarganya yang sudah langsung fokus pada Excel. Excel yang awalnya tengkurap dan hanya tertutup selimut tipis warna putih, perlahan duduk. Excel memaksa duduk walau ibu Arum maupun pak Kalandra melarang.


Paham keadaan akan genting, mas Aidan sengaja jaga-jaga di sebelah sang adik. Perhatiannya langsung tercuri kepada sosok tegap yang masih menghuni ranjang rawat di seberang depan. Sosok sangat tegap yang membuatnya curiga, tapi justru sampai memakai topeng.


“Aneh, tapi pasti beralasan kenapa dia sampai pakai topeng,” pikir mas Aidan. Ia langsung minggir lantaran di sebelahnya, Azzura menarik paksa Cikho, tapi yang ditarik terus berusaha menolak.


“Sudah ikuti saja, Kho. Adikku enggak akan begitu tanpa alasan!” yakin mas Aidan masih mengawal.


Syam yang masih terjaga di sisi Helios sudah langsung menatap Cikho penuh dendam.


“Aku bawakan orangnya ke sini. Sekarang kalian langsung balas dendam ke dia saja. Mau kalian cincang terus kalian jadikan pakan binataang, terserah!” tegas Azzura sambil mendorong Cikho sekuat tenaga ke Syam. “Yang penting kalian enggak mengusik yang lain termasuk anggota keluarganya karena mereka enggak bersalah! Aku benar-benar memohon, jangan usik keluarganya. Yang dakjal itu Cikho, keluarganya enggak tahu apa-apa karena mereka benar-benar sangat baik!” Azzura benar-benar memohon kepada Syam.

__ADS_1


“Namun karena harta orang tuanya, dia jadi semena-mena terlebih kepada mas Heri dan semua laki-laki yang dekat dengan kamu, Ra!” Syam benar-benar emosional dan tak segan membentak Azzura.


“JANGAN MEMBAWA-BAWA AZZURA! URUSAN KALIAN HANYA DENGAN CIKHO!” Excel sudah langsung murka. “Bisa-bisanya kamu membentaknya begitu, sementara selama ini saja, kamu dan Heri menjadi pecundaang?!”


“Kalaupun alasan Chiko begitu karena Azzura, selain Azzura tak mungkin memintanya, andai Azzura tahu, Azzura pasti tidak akan pernah membiarkannya. Bahkan kini, Azzura juga menyayangkan keputusan kalian diam dan malah diam-diam menghancurkan keluarganya. Kalian membuat orang tua Cikho merugi besar hanya karena selama ini, alasan Cikho semena-mena karena harta dan kedudukan yang orang tuanya miliki. Padahal harusnya kalian tahu, dengan Cikho yang semena-mena kepada kalian sudah membuktikan, dia beda dari keluarganya!” Excel menggunakan selimut yang menutup tubuhnya untuk melilit tubuh bagian bawahnya. Ia sungguh turun sambil tetap membawa botol infusnya. Tertatih ia melangkah, tapi pada akhirnya, ia sampai juga di sebelah Azzura.


Sebagai orang tua, ibu Arum dan pak Kalandra benar-benar sudah tidak karuan. Ibu Arum bahkan sudah menangis lantaran sang suami tidak mengizinkannya ikut jadi bagian di depan sana. Lain dengan ibu Aleya yang sudah langsung maju di tengah air mata wanita itu yang terus berjatuhan.


“Kamu, kalau kamu beneran manusia dan kamu menghormati orang tua yang selama ini kasih kehidupan enak ke kamu, akui semua kesalahanmu. Walau itu di masa lalu dan kamu berusaha melupakannya tanpa mengizinkan orang lain mengetahuinya, CEPAT CERITAKAN!” tegas Excel.


Napas Cikho makin memburu bahkan seolah tertahan di tenggorokan karena di sana, juga seolah dicek*kik dengan keji oleh tangan tak kasat mata. Tangan tak kasat mata yang seketika hadir dari masa lalunya, tanpa bisa ia tolak. Juga, adanya buih keringat yang membasahi wajah sekaligus leher, menegaskan, dirinya benar-benar kacau. Dirinya sudah langsung tidak baik-baik saja lantaran masa lalu yang memang sengaja ia lupakan sekaligus kubur rapat-rapat, justru mendadak hadir menuntut balas.


“Jika Cikho memang sudah keterlaluan, masukkan saja dia ke penjara. Dia memang anak saya, tapi jika dia sudah begitu merugikan, saya juga tidak bisa berbuat banyak. Biarkan dia belajar dari hukuman yang harus dia terima!” tegas ibu Aleya berlinang air mata.

__ADS_1


__ADS_2