
Excel merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan mobil jeep hitam yang terus saja membuntutinya.
“Selalu saja begitu,” batin Excel. Kesal sendiri rasanya lantaran di setiap geraknya selalu saja diawasi. Mirip buro*nan yang memang harus segera diamankan. Kendati demikian, ia masih menyikapi dengan cuek. Barulah setelah ia sampai di rest area, ia mengabarkannya kepada Azzura
“Jeep hitam yang di belakang mengikuti kita,” lirih Excel menyampaikannya kepada Azzura.
“Aku baru saja ingin membahasnya dengan Mas.” Azzura pun sengaja menjaga suaranya lantaran kedua wanita di belakang mereka tengah tidur sangat nyenyak.
Sepanjang perjalanan, ibu Mira dan Elena memang tidur. Keduanya tidur sangat nyenyak hingga seolah keras-kerasan dalam mendengkur. Padahal keduanya apalagi Elena berdalih, ingin menikmati pemandangan indah di sepanjang perjalanan, khususnya ketika mereka melewati daerah pegunungan sekitar Bandung Jawa Barat. Baik Azzura maupun Excel yakin, keadaan tersebut terjadi lantaran mobil mahal pemberian Helios yang mereka tumpangi, membuat ibu dan anak itu merasa sangat nyaman.
“Biarkan saja, Mas. Kita pura-pura seolah enggak curiga ke mereka saja. Namun kalau mereka berani macam-macam, kita wajib bertindak,” balas Azzura yang jujur saja sudah merasa lelah berurusan dengan mafia dari pihak lawan. Kendati demikian, ia siap-siap saja, dan memang akan selalu menjadi istri siaga untuk suaminya yang memang tidak bisa benar-benar berhenti dari dunia mafia.
Seperti yang Azzura dan Excel sepakati, mereka tetap mengabaikan mobil jeep hitam yang mengikuti. Dari mereka istirahat di rest area termasuk itu makan di sana, bahkan hingga akhirnya mereka sampai di kediaman pak Kalandra.
“Aduh ... mobil dibawa perjalanan jauh, aromanya memang beda. Langsung nyesss di lambung berasa diperes-peres gini lambungku. Uuuweee!” keluh Azzam yang pada akhirnya langsung sibuk mual hanya karena menghirup aroma dalam mobil Excel.
Azzura langsung menertawakannya kemudian memeluk kembarannya itu. Namun efek Azzura baru keluar dari mobil Excel dan sampai menyatu dengan aroma khas mobil setelah dibawa bepergian jauh, untuk pertama kalinya Azzam menolak dipeluk oleh Azzura.
“Mas Azzam,” panggil ibu Arum lembut. Ia memboyong Azzam, membawanya masuk kamar dan sudah langsung melumuri putranya itu menggunakan minyak kayu putih.
“Jadi mirip bayi lagi,” ujar ibu Arum sembari memijat-mijat kepala Azzam menggunakan minyak kayu putihnya.
“Aku memang baby face, Mah ...,” rengek Azzam telanjur nyaris sekarat efek gejala mabuuk kendaraan.
Kehadiran rombongan Excel dan Azzura memang sudah langsung disambut hangat oleh keluarga Azzura. Semuanya keluar termasuk kakek nenek Azzura untuk menyambut.
__ADS_1
“Ini klinik Kak Azzura?” tanya Elena langsung terkagum-kagum.
“Iya, Lena. Kamu mau masuk?” sambut Azzura hangat.
“Tapi cukup lihat-lihat, yah, Kak. Jangan sampai jadiin aku pasien!” sergah Elena dan langsung membuat semuanya tertawa.
“Ya sudah lihat-lihat klinik dulu, habis itu kita makan, ya,” ucap pak Kalandra benar-benar hangat.
Siang menjelang sore kali ini sukses membuat pak Kalandra sekeluarga terheran-heran lantaran bagi mereka, perjalanan Excel dari Jakarta ke kampung mereka terbilang sangat cepat.
Azzura dan Elena bahu-membahu mendorong kursi roda ibu Mira dikawal juga oleh Akala. Pak Kalandra dan kedua orang tuanya juga turut serta, mengantar mamah dan adik Excel melihat-lihat suasana klinik.
“Cel, itu mobil jeep hitam, teman kamu? Dari tadi Mas lihat selain datangnya nyaris bareng sama kamu, kok di situ terus?” ucap mas Aidan yang memang membantu Excel menurunkan setiap barang bawaan dari mobil.
“Emang, Mas. Dari Jakarta sudah ngikutin. Azzura juga tahu, tapi kami sengaja cuek. Nanti kalau mereka sampai macam-macam, aku juga enggak akan diam,” ucap Excel sambil menatap sang kakak ipar penuh keseriusan.
Namun baru lima menit berselang, mobil jeep hitam tak lagi mereka dapati di sana. Baik Excel maupun mas Aidan sama-sama kehilangan jejak lantaran tadi, mereka tengah memboyong barang-barang ke dalam rumah.
“Di sini belum dipasang CCTV buat jaga-jaga, yah, Mas?” tanya Excel sambil mengawasi suasana sekitar.
“Belum. Itu yang rumah makan cabang juga baru mau dipasang tiga atau satu minggu lagi, Cel,” jawab mas Aidan.
“Ya sudah, lusa kan aku balik ke Jakarta, nanti dua harinya baru ke sini lagi. Nanti aku bawa alat sama CCTVnya dari Jakarta. Langsung aku pasang sendiri,” ucap Excel agar ia juga tetap bisa memantau keadaan rumah maupun klinik di sana, dengan leluasa meski ia sedang tidak ada di lokasi.
“Oh kamu bisa pasang sendiri?” ucap mas Aidan terkagum-kagum kepada adik iparnya.
__ADS_1
“Bisa, Mas. Belajar secara otodidak, Mas.” Excel tersenyum kikuk lantaran mas Aidan sudah langsung memujinya.
“Serba bisa kamu yah. Kemarin pas kompor macet nyalanya enggak rata, kata mamah kamu yang benerin juga? Sama ganti keran air, juga masih kamu!” Mas Aidan sampai memijat-mijat kedua pundak Excel dari belakang.
Yang Excel khawatirkan, apa maksud dari penumpang mobil jeep tadi, dan ke mana juga perginya?
“Apa mungkin itu Cobra dan Jay?” pikir Excel berusaha tidak terkecoh agar ia bisa fokus kepada keluarga kecilnya. Terlebih baru sampai sana, Elena dan ibu Mira sudah langsung semangat.
“Besok kalau enggak jadi bidan, aku mau jadi dokter lah!” ucap Elena mengadu kepada Excel dengan sangat bersemangat.
Excel sudah langsung mengangguk-angguk. Ia memilih menitipkan adik dan mamahnya ke Akala maupun mas Aidan lantaran ia menemani sang istri yang sudah langsung memiliki pasien.
“Mobil jeep hitamnya masih di depan, Mas?” bisik Azzura membiarkan sang suami membantunya melepas mantel hangat dari tubuhnya.
“Sudah pergi dan aku memang kehilangan jejak, tapi ya sudahlah,” ucap Excel berat kemudian mendekap mantel hangat yang baru ia lepas dan sebenarnya miliknya. Ia sengaja memakaikannya kepada Azzura lantaran Azzura tak membawa banyak stok pakaian hangat.
“Satu-satunya yang bisa kita lakukan memang hanya berserah kepada Yang Maha Kuasa. Bismilah, semua doa terbaik karena niat kita apalagi Mas memang baik,” lirih Azzura benar-benar sabar. Sang suami langsung mengangguk-angguk paham, tapi ia segera pamit, masuk ke ruang bersalin karena pasiennya sudah menunggu.
“S-sayang, kamu mau aku siapin makan apa? Habis beres ini pasti kamu capek, jadi biar aku siapin,” tawar Excel sebelum sang istri benar-benar masuk ke ruang bersalin.
“Pengin satai kambing, pengin jeruk peras hangat, tapi sudah lama juga belum minum air kelapa muda!” jelas Azzura cepat sambil tersus tersenyum ceria.
Excel yang sempat tidak bisa berkata-kata, menjadi tersipu. “Ini ngidam terlalu dini?” lirihnya dan sang istri langsung tertawa.
Di tempat berbeda, di suasana yang masih khas kampung dan jalanan aspal tidak begitu luas, seorang Helios tengah mengawasi Cinta yang memasuki area sebuah pemakaman. Cinta memasuki area pemakaman jauh dari kata mewah di sana, seorang diri. Wanita itu menutup sebagian kepalanya menggunakan pashmina warna hitam. Sesekali, tangan Cinta akan membenarkan keberadaan pashmina yang nyaris lepas dari kepala lantaran angin yang berembus kencang.
__ADS_1
Di sana angin benar-benar berembus kencang. Hingga seorang Helios yang sudah memakai jaket kulit hitam juga kedinginan. Helios bersedekap guna meredam rasa dingin yang melanda. Walau fokus tatapan mata kirinya juga sudah langsung terusik oleh hadirnya mobil jeep hitam dan baru saja melintas di hadapannya.
“Jay, Cobra, ... atau kedua-keduanya? Dasar mafia penganggu*ran, selalu saja menambah beban hidup orang!” kesal Helios dalam hatinya. Ia tetap berlindung di balik masker sekaligus kacamata hitamnya walau ia juga sesekali melirik ke arah kepergian mobil Jeep.