
“Sekarang semuanya terserah Mbak Azzura. Karena kami, semua yang ada di sini dan sudah menganggap Mbak Azzura sebagai anak sendiri, akan selalu mendukung semua keputusan Mbak Azzura,” ucap dokter Andri lembut. “Namun alangkah baiknya memang seperti yang Ibu Septi dan Bi Widy jelaskan tadi. Nikah dulu enggak apa-apa. Daripada nanti timbul fitnah, kami beneran enggak ikhlas kalau Mbak harus terluka karena hal yang sama.”
“Mas Andri, aku enggak mau dipoliandri! Terus, ini kenapa aku jadi tua begini, sih? Harusnya aku kan masih unyu-unyu!” protes pak Haji Ojan.
“Jan ... Jan, kita jalan-jalan, yuk!” bisik Sepri berusaha menenangkan pak Haji Ojan.
Pak Haji Ojan langsung semangat, dan memang langsung menatap Sepri. “Ayo, Pri! Ke mana?”
“Ke alam baka! Sekalian cegurin kamu ke neraka! Rusuh terus!” bisik Sepri walau kali ini mengomel.
“Lah kamu Pri! Kok ke alam baka dan kamu malah cegurin aku ke neraka. Kirain cari janda!” keluh pak Haji Ojan sewot.
Namun, demi membuat suasana di sana kondusif, Sepri sungguh mengajak pak Haji Ojan jalan-jalan. Ia sengaja menggendong pak Haji Ojan. Mas Aidan yang khawatir Sepri kewalahan, sengaja ikut serta sambil membawakan botol infusnya. Lihat saja, belum sampai keluar kamar, pak Haji Ojan sudah.sampai mencek*ik Sepri.
“Jangan gitu, Jan!” tegur mas Aidan.
“Aku gemes ke Sepri, rasanya pengin cek*ik dia terus, Mas!” kilah pak Haji Ojan. “Beneran deh, aku baru tahu. Kok Sepri ternyata imut, ireng mutlak begini. Jadi gemes pengin cubit pakai tang!”
Ditinggal pak Haji Ojan, suasana di ruang rawat kebersamaan mereka menjadi sepi. Saat itu juga Excel merasa, kenyataan tersebut menjadi kesempatannya untuk memantapkan tujuan sekaligus niat baiknya.
“Mbak Azzura ... mau nikah dengan saya, tidak?” ucap Excel benar-benar serius.
Malahan, ibu Widy terlebih ibu Septi yang langsung baper.
__ADS_1
“Kalau aku yang jadi mbak Azzura, otomatis mau,” lirih ibu Septi yang sampai tersipu. Sadar di sebelah ada yang mengawasi, ia sudah langsung tersenyum tak berdosa. Sang suami yang sudah langsung memperhatikannya full senyum, benar-benar membuatnya panik. Ia sengaja melakukan finger heart sebagai permintaan maafnya, sambil tersenyum manis.
Beda dengan ibu Widy apalagi ibu Septi, sebagai wanita yang telah melahirkan Azzura, ajakan nikah dari Excel barusan justru sudah langsung membuat ibu Arum tegang. Dalam dadanya seolah ada bedug yang ditabuh keras-keras nyaris tak berjeda. Ibu Arum sampai merasa sesak, selain rasa pegal yang seketika menyelimuti dada.
Tak beda dengan sang mamah, Azzura yang mendapatkan ajakan nikah super serius dari Excel, dan itu di hadapan para orang tua yang selama ini mengayominya, juga menjadi merasa sangat tegang. Ia berangsur mengangkat tatapannya, membuat tatapannya bertemu dengan kedua mata Excel. Kedua mata tajam Excel yang selalu tampak dingin, masih menatapnya nyaris tak berkedip.
“Pernikahan kami memang bisa menariknya ke dalam bahaya, tapi aku bersumpah, tak ada satu orang pun apalagi pihak mafi4 yang mampu menyentuh terlebih melukainya!” sumpah Excel dalam hatinya.
“Aku tahu, sampai kapan pun Mas akan tetap dibayang-bayangi ancaman mafi4. Itu juga yang menjadi alasanku kita harus ada! Mas berhak bahagia, dan aku akan melakukan segala cara agar Mas bisa benar-benar bahagia, termasuk itu terbebas dari dunia mafia4!” batin Azzura yang langsung merasa sesak hanya karena ia membayangkan, betapa sulitnya ada di posisi Excel yang sekadar bernapas saja seolah harus bayar gara-gara keputusan salahnya bergabung sekaligus menjadi bagian dari mafi4.
Azzura mengangguk-angguk seiring ia yang masih menahan sesak luar biasa. Rasa sesak karena kepeduliannya kepada Excel, yang juga sampai melahirkan air mata.
Dalam dekapan ibu Arum yang sudah langsung memeluknya erat, Azzura memantapkan keputusannya. Iya, ia siap menikah dengan Excel apa pun risikonya.
Mas Aidan yang kebetulan baru datang langsung terdiam bingung. Padahal, awalnya mas Aidan sangat buru-buru sekaligus menahan cemas, sambil sesekali menatap layar ponselnya yang memang menyala. “Sepertinya baru ada kesepakatan. Mbak Azzura pasti siap menikah dengan mas Excel. Namun ini, Rere menjadi target rac*un lagi. Dan aku yakin, hanya orang-orang berpengaruh yang bisa melakukan ini!” batin mas Aidan memilih mengurusnya sendiri.
“Harus diselidiki, jangan sampai dibiarkan. Namun jika seperti ini kasusnya pasti sudah sindikat mafi4. Rakyat kecil yang dikorbankan, atau malah mereka sudah sengaja bekerja sama, membeli nyawa calon korbannya dengan harga tertentu,” pikir mas Aidan lagi.
Mas Aidan jadi ragu untuk melanjutkan langkah. Ia sudah ada di depan pintu ruang rawat pak Haji Ojan yang baru saja ia tinggalkan. Sementara di lorong depan, Sepri masih dengan setengah terpaksa berusaha sesabar mungkin menggendong pak Haji Ojan.
“Kenapa Rere terus diincar padahal dia hanya penyewa? Atau memang ada alasan lain?” pikir mas Aidan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Excel keluar diikuti juga oleh Azzura. Termasuk itu ibu Arum. Ketiganya akan membeli emas kawin karena pernikahan akan dilangsungkan besok pagi.
__ADS_1
“Kalian mau ke mana?” tanya mas Aidan menatap serius wajah ibu Arum maupun Azzura, silih berganti. Dengan senyum haru, ibu Arum mengabarkan maksud kepergian mereka.
“Papah sama paman Lim akan cari lokasi sekalian sewa penghulu. Kalau memang bisa sih di masjid raya karena biar lebih berkah ijab kabulnya. Insya Alloh yang sekarang sekali seumur hidup, amin!” jelas ibu Arum yang juga langsung diaminkan oleh mas Aidan, Azzura, bahkan Excel. Meski tentu saja, Excel melakukannya dengan suara lirih sambil menunduk.
“Itu ayo kita ke sana. Itu mereka mau ke mana?” heboh pak Haji Ojan.
“Sudah, biarin. Kita main lift saja. Ayo!” ajak Sepri bersemangat sengaja mengalihkan perhatian pak Haji Ojan. Ia masih menggendong bayi tua yang benar-benar merepotkan.
“Ya sudah, aku sekalian ikut,” sergah mas Aidan. Ia memang tersenyum, tapi tetap tidak bisa menutupi kekhawatirannya.
Azzura langsung menatap khawatir kebersamaan mas Aidan dan Excel. Kakaknya itu sudah langsung menggandeng Excel, membawanya berjalan cepat hingga mereka menjadi berjarak. “Ada masalah apa lagi?” yakin Azzura dalam hatinya. Jauh di dalam dadanya mendadak ada benderang perang yang seolah terus ditabuh. Ia memperhatikan ekspresi kedua pria di hadapannya yang menjadi melangkah cepat sekaligus gelisah.
“Mereka yang berusaha mera*cun Rere pasti bukan orang sembarangan. Semacam ini memang bukan hal baru, andai pun diusut pasti akhirnya ya kelalaian. Kalangan bawah saja yang dijadikan kambing hitam. Yang kemarin saja, dua itu yang dicopot si pengawas. Judulnya hanya kelalaian. Padahal aku aku yakin, ini kesengajaan. Aku mau usut ini!” ucap mas Aidan mantap dan sampai mengangguk-angguk.
“Jangan, Mas. Biarkan saja. Nanti aku coba ngobrol pelan-pelan. Bahaya kalau Mas sampai usut. Terlebih Mas paham, dalang di balik keracu*nan ini bukan orang biasa,” yakin Excel. “Karena yang mereka inginkan, aku datang ke mereka. Mereka menginginkan nyawaku, dan juga nyawa orang-orangku jika aku sampai ingkar apalagi meninggalkan mereka!” batinnya yang juga yakin, balasannya kepada mas Aidan sudah langsung membuat pria itu bingung.
“Baiklah, aku akan ke sana. Habis*i semuanya jika aku tidak mau dihabi*si atau malah orang-orang yang aku sayangi mereka habis*i!” batin Excel. Tekadnya benar-benar bulat.
Detik itu juga Excel pamit dan hanya memberikan sebuah ATM sekaligus kartu kredit kepada Azzura untuk membayar belanjaannya. Tentu, itu bukan menggunakan identitas Excel. Jauh-jauh hari, Excel sudah menyiapkan semua itu agar ia bisa bertahan tanpa kehabisan uang.
“M-mas!” Azzura berseru, tapi Excel sama sekali tidak menggubrisnya.
Excel terus melangkah buru-buru. Langkah yang begitu cekatan mirip kilat menyeramkan di tengah badai. Baru saja, Excel masuk lift. Azzura kalang kabut dan langsung lari menyusul. Mas Aidan dan ibu Arum yang ditinggal sudah langsung bingung.
__ADS_1