
Deru suara mobil yang terdengar halus, makin lama makin jelas. Cobra dan Jay dapati, ternyata ada mobil Alphard hitam yang mendekat.
“Excel?” pikir Helios sudah langsung mengenali mobil mahal yang ia berikan kepada Excel, meski ia masih menunduk dalam.
Excel memang menjadi sosok di balik kemudi mobil Alphard hitam yang mendekat. Pria yang tak lagi memakai seragam hitam itu dengan sengaja mengemudi menggunakan kecepatan penuh. Terus begitu walau jaraknya dari Cobra maupun Jay, sudah di pelupuk mata.
Tunggang langgang kedua pria dewasa yang awalnya sibuk tertawa, mencoba menyelamatkan diri dari Excel. Keduanya buru-buru masuk mobil jeep dengan Jay yang siap mengemudi.
Braaaaaaag!
Excel dengan sengaja menabrak mobil jeep hitam yang sedari perjalanannya dari Jakarta, terus mengikuti. Jeep hitam yang sudah ditumpangi Jay dan Cobra itu sudah langsung terlempar dari tanggul nyaris terperosok ke aliran sungai kecil atau yang warga sekitar sebut sebagai apur.
Helios kebingungan, tapi melihat cara Excel, sahabatnya itu terlihat sangat muak. Excel yang sudah turun dari mobil Alphard dengan sangat buru-buru, sudah langsung mendorong mobil jeepnya agar sepenuhnya masuk apur.
“Cepat bantu aku!” seru Excel tentu saja kepada Helios agar pria itu tak hanya menjadi penonton tak berkualitas.
Helios sudah langsung lari, mendorong mobil jeep bagian belakang. Membiarkan Excel mengamuk di depan sana lantaran Cobra dan Jay masih berusaha membuat mobil ke daratan atas.
“Tembaaaaaaak!” perintah Cobra benar-benar panik lantaran Excel Lucas berusaha menye*rangnya.
Excel yang membawa palu sudah memalu kaca jendela sebelah Cobra duduk.
“Mobil ini anti peluru!” tegas Jay. Karena andai ia nekat menem*bak dalam keadaan kaca tetap tertutup, otomatis pelurunya bisa mental dan yang ada bisa mengenai mereka.
__ADS_1
Sudah terus diser*ang Excel yang lebih mirip orang kerasukan arwah jahat, dari belakang juga ada yang terus mendorong. Membuat mobil jeep yang ditumpangi para mafia pengangguran karena kekurangan jo*b itu makin terperosok.
Dunia Jay apalagi Cobra mendadak tidak baik-baik saja. Mereka yang awalnya tertawa ria menjadi sibuk mencoba menyelamatkan diri.
“Gas gobblok!” kesal Cobra.
“Gas bagaimana? Yang ada malah nyemplung ke sungai! Lihat, sungai di bawah luas mirip bendungan karena tanggulnya saja setinggi itu!” kesal Jay yang tiba-tiba saja memiliki ide untuk melarikan diri lewat pintu sebelah.
Benar saja, kedua mata Cobra yang tak luput dari tato warna biru tua, langsung menatap marah kenyataan Jay yang keluar dari pintu sebelah. Lebih menjengkelkannya lagi, Jay benar-benar meninggalkannya lantaran pria itu tega langsung menutup mobil.
“Jay ...! Baji*ngan kamu!” teriak Cobra berusaha menyusul, mengikuti jejak Jay.
Namun di waktu yang sama, seruan pecah karena akhirnya Excel berhasil memecah kaca pintu sebelah Cobra, terdengar. Kendati demikian, Cobra yang sudah langsung senam jantung, tetap melanjutkan niatnya untuk kabur. Tak menyangka, palu yang sempat Excel pakai untuk memecah kaca jendela, malah mendarat di punggung kepala Cobra hingga melahirkan rasa sakit luar biasa.
Cobra yang masih meringis kesakitan, langsung memelotot lemas menyaksikan nasib miris Jay. Walau tentu saja, ia juga harus mencemaskan keadaannya sendiri. Sebab tanpa ba bi bu juga, Excel dan Helios dengan sengaja mendorong mobil jeep dari kedua sisi.
“Selamat jalan-jalan di kedalaman. Semoga kalian bahagia walau aku yakin, kalian tidak akan langsung mati. Setidaknya, ini akan menjadi kenangan tak terlupakan buat kalian!” ucap Excel dengan santainya sambil bersedekap. Ia melepas tenggelamnya mobil jeep hitam, penuh kedamaian.
Lain dengan Helios yang masih terlihat sangat emosional walau di tengah apur sana, Jay tak terlihat tanda-tandanya.
Sebenarnya, Jay sudah nyaris menyelamatkan diri. Namun di waktu yang sama, pria itu tertimpa mobil jeep Cobra berada.
“Aku melihat sinyal ponsel kamu ada di sini. Awalnya aku pikir, kamu yang ada di mobil jeep dan sepanjang perjalanan dari Jakarta terus mengikutiku. Namun ternyata setelah sampai sini, aku juga melihat mobilmu,” ucap Excel sambil menatap serius Helios.
__ADS_1
Helios yang tidak memberi tanggapan berarti berangsur menatap Excel.
“Kok kamu ada di sini?” lanjut Excel yang memang penasaran. Apa yang membuat seorang Helios ada di kampung halaman Azzura. “Mudik?” tebak Excel. Karena biar bagaimanapun, Helios memang masih satu kampung dengan Azzura.
“Ya ampun ... tadi aku ke sini bareng adiknya Cikho!” ingat Helios langsung panik lantaran awalnya, ia tengah menemani Cinta pergi ke makam ibi Resty. “Aku duluan, ya. Nanti aku telepon!” Helios buru-buru meninggalkan Excel dan memang sampai lari.
“Cinta, Chlavin, apa ... Chole?!” seru Excel mengabsen nama-nama adik Cikho.
“Yang pertama!” singkat Helios yang langsung merasa tidak nyaman hanya karena mendengar nama Chole disebut dengan suara lantang. “Chole lagi, Chole lag!” kesalnya dalam hati dan buru-buru masuk mobil. Ia sengaja menekan klakson sebagai salam perpisahannya kepada Excel.
Setelah mengangguk kemudian melepas kepergian mobil Helios, Excel yang masih bersedekap berangsur mengawasi lokasi Jay dan Cobra tenggelam. “Biar kalian makin pintar renang.”
Tiba-tiba saja Excel ingat, alasannya meninggalkan Azzura karena awalnya, ia tengah mencari penjual satai kambing. “Nyaris lupa lagi, kan?!” keluh Excel pada dirinya sendiri. Ia menatap miris keadaan mobil Alphard bagian depan miliknya yang penyok parah. “Setidaknya alasan kamu penyok karena kamu sudah sangat berguna, ya.”
Masuk ke dalam mobil dan siap mengemudi, Excel juga merasa sangat bersyukur. Sebab kenyataan langit kampung halaman sang istri yang mendadak mendung disertai semilir angin kencang, baginya telah membawa kabar baik. Hujan deras Excel yakini akan segera turun dan itu juga akan menambah beban bagi Jay maupun Cobra.
“Biarkan kedua mafia tak berguna itu menikmati perbuatan congak mereka. Sekarang tugasku tinggal membahagiakan istri sebelum kami benar-benar LDR-ran.” Excel mengemudikan mobilnya dengan hati-hati seiring rintik gerimis yang benar-benar turun.
Sementara di dalam apur yang dalam, Jay dan Cobra nyaris sekarat. Jay tertindih mobil dan benar-benar menjelma menjadi ganjal mobil, sementara Cobra yang ternyata sangat payyyah, masih belum bisa keluar dari mobil.
Di tempat berbeda, tak adanya Cinta di lokasi makam, selaku lokasi terakhir kali mereka bersama, sudah langsung membuat seorang Helios ketar-ketir. Teringat oleh Helios, alasan Excel dengan sigap menemukannya karena pria itu mengecek sinyal ponselnya.
Helios sudah langsung melakukan salah satu jurus jitu Excel tersebut, terlebih setiap telepon yang ia lakukan kepada Cinta, tak kunjung mendapat respons.
__ADS_1
“Harusnya kamu baik-baik saja. Harusnya baik Jay maupun Cobra, tak sampai membawa anak buah untuk melukaimu! ” batin Helios.