
Di saksikan semuanya, termasuk paman dan bibi Azzura yang baru datang, Excel mengutarakan niatnya untuk menikahi Azzura. Detik itu juga ibu Widy melirik sang suami karena biar bagaimanapun, Sekretaris Lim merupakan adik Tuan Maheza.
“Bi, si Cikho apa kabar? Masih hidup, kan, dia?” bisik mas Aidan sengaja mengajak sang bibi mengobrol sambil menikmati buah kelengkeng kesukaannya dan memang dibawakan khusus oleh sang bibi.
Meski obrolan serius Excel di sana, di ruang rawat pak Haji Ojan masih berlangsung, ibu Widy tetap membalas pertanyaan mas Aidan menggunakan suara lirih juga. “Bibi enggak tahu pasti, tapi di perusahaan kayaknya memang sedang rame. Pamanmu saja subuh tadi baru pulang. Yaitu, penggelapan dana perusahaan. Intinya ya gitu, ... si Cikho. Dia pakai uang perusahaan buat bayar setiap pengeluarannya di luar pekerjaan. Kebanyakan sih buat acara di tempat karaoke, club, hotel, vila, sewa kapal pesiar, ... enggak sangka banget!”
Mendengar itu, mas Aidan yang duduk anteng sambil menghabiskan kelengkeng, langsung geleng-geleng. “Puluhan M, apa ratusan M, Bi?”
Ibu Widy sudah langsung menatap mas Aidan dengan tatapan miris. “Kayaknya malah lebih, Mas!”
“Wah, untung enggak jadi sama mbak Azzura. Uang sebanyak itu, walau Cikho dipenjara seumur hidup atau hukum mat1 pun, enggak mungkin balik,” balas mas Aidan masih dengan suara lirih.
“Nah iya. Itu yang lagi maju urus adik-adiknya, sama nanti bentar lagi paman kamu ini juga bakalan bawa adik-adik kamu ikut gotong royong urus. Bikin proyek baru, atau minta pinjaman ke mana-mana,” cerita ibu Widy.
__ADS_1
“Innalilahi ...,” lirih mas Aidan sambil menggeleng tak habis pikir.
“Berarti nikahnya satu bulan lagi, ya?” ucap Sekretaris Lim memastikan. Seberapa pun besar beban yang tengah ia pikul gara-gara nasib perusahaan terancam h4ncur, baginya kebahagiaan Azzura tetap jauh lebih harus ia utamakan.
Mendengar itu, Azzura yang langsung tersenyum, berangsur menunduk dalam. Ia memilih diam duduk di sebelah sang mamah. Sementara Excel yang duduk di sebelah pak Kalandra langsung mengangguk tegas. Tanggapan serba serius sekaligus krisis senyum.
“Memangnya, satu bulan enggak kelamaan? Soalnya kalau kalian harus pulang pergi Jakarta buat urus keperluan, kan ...,” ucap ibu Arum.
“Nikah dulu, baru resepsi satu bulan lagi. Jauh lebih aman sih. Lagian kalian juga enggak ada ikatan sama pihak mana pun. Maksudnya, kalian memang sama-sama bebas, enggak punya pasangan. Iya, kan, Cel?” sergah ibu Septi yang memang memotong ucapan ibu Arum. Ia yang duduk di pinggir ranjang rawat pak Haji Ojan, sengaja memastikan.
“Bukannya mau cerewet yah, soalnya, gini-gini kan, Ibu juga sudah menganggap Azzura seperti anak sendiri. Pas tahu kabar si Cikho malah sudah menikah saja, gayung yang ibu pake buat siram sayuran langsung remuk dalam sekali bant1ngan saking emosinya,” lanjut ibu Septi.
“Semuanya memang kembali ke kalian yang menjalani, tapi buat jaga-jaga, memang hanya ada dua pilihan dan salah satunya seperti yang baru saja ibu Septi katakan. Sementara pilihan yang satu lagi, yaitu ... wajib jaga jarak dan kalian enggak boleh pergi jauh-jauh tanpa pengawalan, tapi sepertinya pilihan yang ini agak sulit apalagi Excel saja butuh bantuan Azzura buat urus ini itunya di Jakarta.” ibu Widy juga ikut bicara.
__ADS_1
“Dalam waktu dekat pun sepertinya anggota keluarga mas Excel yang masih hidup bakalan terus diawasi pihak mafi4. Makanya, sekadar mengunjungi Rere maupun adiknya di asrama, mas Excel selalu menyuruh orang. Sementara wajahku, sepetinya sebagian dari mereka juga bakalan paham, selain nyawa Rere yang sepertinya jauh lebih terancam. Rere yang menyewa jasa mafi4, dan bakal bahaya kalau dia sampai buka mulut karena dua mafi4 yang sempat aku hadapi saja, sampai dir4cun!” pikir Azzura yang sudah langsung berpikir keras demi kebaikan Excel sekaligus hubungan mereka. “Jadi, alangkah baiknya jika dalam waktu dekat ini, mas Excel meninggalkan Jakarta. Mas Excel wajib tinggal di tempat yang tidak pernah para mafi4 pikirkan, meski mengelabuhi mafi4 memang tidak semudah yang aku pikirkan,” pikir Azzura lagi yang sampai berpikir untuk mengubah penampilan sekaligus identitas Excel.
“Biasanya kalau di adat orang Jawa tempat tinggalku, setiap menantu laki-laki akan mendapat nama baru sebagai identitas barunya. Agar para menantu laki-laki merasa jauh lebih siap menjadi kepala rumah tangga. Aku bisa memanfaatkan nama baru untuk mas Excel itu. Yang dengan kata lain, memang lebih baik nikah dulu, baru urus resepsi. Biar aku juga bisa terus mengawasi gerak mas Excel!” batin Azzura lagi makin yakin dengan keputusannya.
“Kalau istriku nikah lagi, aku sama siapa? Masa iya, aku dipoliandri!” tegas pak Haji Ojan masih dipaksa tetap duduk selonjor di tengah ranjang rawat oleh Sepri dan dokter Andri. Keduanya menahan tangan pak Haji Ojan dari kedua sisi.
Ibu Septi langsung menghela napas sambil geleng-geng. “Istighfar, Jan. Dia bukan istri kamu.” Ia berucap dengan berbisik juga.
Pak Haji Ojan langsung guling-guling di ranjang rawat dan baru mau tenang setelah dokter Andri membujuknya dengan sangat perhatian. Perhatian yang langsung membuat pak Gaji Ojan memeluk dokter Andri sangat erat. Pak Haji Ojan sampai tersedu-sedu.
Sementara itu di tempat berbeda, di tahanan dirinya menghabiskan waktu dengan kurungan di balik jeruji besi, Rere yang sudah memakai pakaian tahanan, sama sekali tidak mau makan bahkan sekadar minum. Rere takut dir4cun karena kedua mafi4 yang terlibat dalam kasusnya saja sudah lebih dulu mengalaminya. Keduanya diracunii dengan kejam dan Rere yakin, hal yang sama akan menimpanya. Cepat atau lambat, Rere yamin semua itu juga akan segera terjadi.
“Masalahnya, kalau aku enggak makan bahkan minum, yang ada makin lemes dan justru sampai sakit!” batin Rere ketar-ketir sendiri. Ia duduk di sudut ruang tahanan sambil menatap takut wanita sangar di sana dan memang rekan satu kamar hotel prodeonya. “Ini enggak mas Excel, apalagi Cikho, kok sama sekali enggak ada yang datang, ya. Kebangetan banget!” rutuk Rere dalam hatinya.
__ADS_1
Dan ketika Rere harus menghadapi jatah makan dan minumnya lagi, Rere benar-benar bimbang karena biar bagaimanapun, ia takut mati. Terlebih ketika pada akhirnya wanita gendut yang merebut jatah makan dan minum milik Rere berakhir kejang-kejang, tak lama setelah wanita itu menyantap jatah makanan dan minuman Rere.
“Sebenarnya siapa yang ingin menyingkirkan aku? Masa iya mafi4 itu hanya karena mereka takut aku membocorkan rahasia? Rahasia apa? Memangnya aku tahu apa?” batin Rere ketakutan melihat sang rekan yang ia curigai, akan segera mati. Andai itu dirinya, tentu Rere juga yang mati.