Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
52 : Yang Terbaik


__ADS_3

Baru membuka pintu hotel tempat ia menginap, kedua mata Azzura sudah dipenuhi dada bidang Excel. Untuk beberapa saat, dunia Azzura mendadak berhenti berputar bersama detak jantungnya yang menjadi lebih lambat. Berhadapan dengan Excel mendadak membuat Azzura menjadi lemah segala-galanya, termasuk juga dengan imannya.


“Pasangan, sahabat, ... dunia akhirat! Bismilah ya Alloh ... amin!” batin Azzura yang kemudian memberanikan diri untuk menaikan tatapannya, membuatnya berakhir menatap wajah tampan Excel, juga kedua mata tajam pria itu yang menjadi redup dan memang sudah langsung mengawasi kedua matanya.


Kali ini Excel kembali memakai topi sekaligus masker dan semuanya berwarna putih. Masker dan topi yang Excel kenakan merupakan pemberian Azzura dan sebelumnya memang milik Azzura. Mereka belum sempat belanja, jadi Azzura memberikan yang sudah ada dan kebetulan pas untuk Excel.


“Aku harus bagaimana?” tanya Excel takut salah karena beberapa kali, Azzura menegurnya lantaran ia terlalu kaku. “Tapi sebentar ... mata kamu merah banget. Semalam kamu tetap enggak bisa tidur?”


Azzura mengangguk-angguk. “Aku sudah melakukan relaksasi, memijat tangan dan juga kaki. Tetap saja sampai beres salat subuh, sama sekali enggak merasa ngantuk sama sekali.”


Excel maju dengan sangat cepat, membuat tubuh mereka menjadi tidak berjarak lantaran Azzura telat menghindar. Excel menahan kedua sisi kepala Azzura, kemudian melakukan pijatan di sana.


“Yang wajib rileks itu pikiran sama hati kamu. Termasuk syaraf-syaraf kepala kamu,” ucap Excel sambil terus memijat kepala Azzura.


Namun sungguh, Azzura sudah langsung merasa nyaman bahkan, ... mengantuk. “Sudah, Mas. Nanti yang ada aku beneran ketiduran. Jadwal kita hari ini beneran sibuk.”


Mendengar itu, Excel segera mempercepat pijatannya. Ia memutari Azzura dan sampai memijat kedua pundak, tengkuk, termasuk punggung Azzura.


“Tadi mas Azzam telepon. Dia bilang sudah sampai Nagreg. Dan dia bilang, enggak segan sewa pembu-nuh bayaran buat kempesin kepala aku, kalau aku sampai nyakitin kamu,” cerita Excel yang kemudian melangkah pergi.


“Mas mau ke mana?” sergah Azzura sampai berseru lantaran Excel yang walau jalannya masih pin-cang, sudah melangkah buru-buru layaknya sedang lomba jalan cepat.


Excel berangsur menoleh dan perlahan berhenti setelah mendapati Azzura ada di tempat yang sama layaknya ketika ia meninggalkan wanita itu. “Loh, ayo berangkat! Aku pikir, tadi kamu langsung ikutin!” sergahnya.


Azzura mendengkus miris. “Aku ini calon istri kamu loh, Mas. Aku bukan pasukan mafi*a kamu, jadi ... jadi ya masa iya, aku bisa jalan secepat Mas!” rengeknya.


Excel yang sudah ada di hadapan Azzura karena ia juga masih melangkah cepat, segera minta maaf. Ia menatap tangan kiri Azzura penuh minat. “Boleh gandeng?”


“Belum,” singkat Azzura sambil menggeleng. Kemudian ia memberikan ujung gamis hijau lumutnya kepada Excel.

__ADS_1


“Jangan itu, takutnya nanti aku khilaf refleks jalan cepat. Yang ada gamis kamu sobek dan parahnya kamu kebanting,” balas Excel.


Azzura menghela napas pelan sekaligus dalam kemudian istighfar. “Masa jalan sama calon suami, serasa jalan sama kereta ekspres?”


“Adanya,” balas Excel pasrah.


Azzura menggeleng tak habis pikir. Walau ragu, ia berangsur memberikan tangan kirinya yang memakai sarung tangan syar senada dengan gamisnya, kepada Excel. Excel sudah langsung menggenggamnya, tapi sebelum pria itu membawanya jalan rasa dikejar-kejar settan, Azzura sengaja mengingatkan. “Jangan cepat-cepat, Mas. Takut beneran aku kebanting!”


Mendapat tatapan penuh peringatan dari Azzura yang memang memakai cadar, Excel sudah langsung menahan senyumnya.


Azzura dan Excel akan belanja keperluan menikah yang belum sempat mereka lakukan kemarin. Karenanya, ijab kabul yang awalnya akan digelar pagi, menjadi digelar malam. Terlebih, kedua saudara laki-laki Azzura termasuk kakek dan neneknya masih di kampung. Kedua adik Azzura dan juga kakek neneknya tengah menjalani perjalanan ke Jakarta.


“Mas sudah tahu, kelanjutan kasus mas Cikho sama mas Heri?” tanya Azzura yang kemudian menoleh sekaligus menatap Excel. Di sebelahnya, Excel menyetir sendiri.


“Biarkan itu jadi urusan mereka. Kita enggak usah ikut campur,” yakin Excel fokus dengan kemudinya tanpa sedikit pun melirik Azzura yang ia yakini menatapnya dengan saksama.


Azzura langsung terdiam merenung. “Kasihan aku ke orang tua mas Cikho dan keluarganya. Sebelum ini, mereka merupakan salah satu keluarga paling kaya di ibukota, Mas. Kalau sampai mendadak bangkrut, ... innalilahi.”


“Tentu setelah itu, aku enggak rela andai mamahku sampai merasakannya. Jadi, aku terpaksa melakukan segala cara agar mamahku bisa mendapat kehidupan lebih layak!” ucap Excel.


“Ke orang tua kamu pun, aku sayang banget terlebih mereka baik banget! Sementara untuk urusan mereka ...,” ucap Excel.


“Kalau mas Heri mau macam-macam ke Cikho, silakan. Namun ke keluarganya, kalau bisa udahan. Kasihan. Memangnya mau sampai kapan gitu terus?” balas Azzura yang mendadak teringat tentang status Excel di mafi*a pria itu bernaung.


Jujur, Azzura sangat salut kepada Excel yang meski terluka parah, masih siaga tanpa sedikit pun mengeluh. Excel mengesampingkan rasa sakitnya dan mungkin karena menjadi Excel yang notabene seorang mafi*a, sudah diwajibkan begitu.


“Manti aku bicarakan lagi sama ketua,” ucap Excel.


“Terus, status Mas sendiri, bagaimana?” tanya Azzura.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Excel justru menatap Azzura.


“Harusnya, bisa, kan?” lirih Azzura menatap Excel penuh harap.


“Aku usahakan,” balas Excel.


“Apa aku harus memintanya langsung ke mas Heri?” tanya Azzura.


“Kita fokus ke pernikahan kita dulu!” yakin Excel.


“Aku optimis Mas bisa keluar!” tegas Azzura sembari menyudahi tatapannya kepada Excel. Melalui lirikan, ia menunggu respons Excel. Wajah pria di sebelahnya menjadi kaku. Excel tak hanya terlihat bingung karena pria itu juga terlihat tertekan.


“Amin ....”


Namun balasan lirih barusan, dan itu dari seorang Excel, tak ubahnya angin segar untuk seorang Azzura. Azzura menjadi menatap calon suaminya itu dengan tatapan pedih. “Jangan stres, yah, Mas. Aku belum pintar pijat-pijat kayak Mas. Nanti kalau Mas sampai stres, siapa yang pijat?” lirihnya.


“Nanti aku ajarin,” singkat Excel dingin, tapi kemudian ia menoleh, membuat tatapannya bertemu dengan kedua mata Azzura yang masih mengawasinya.


Azzura tersenyum, Excel yakin walau sebagian wajah Azzura tertutup rapat.


“Kita beli perhiasan, beli pakaian pengantin,” ucap Excel.


“Cari yang dekat saja, Mas. Biar waktunya bisa dibagi-bagi,” ujar Azzura sembari mengawasi jalanan di hadapannya.


“Kita cari yang terbaik karena ini akan menjadi bagian terpenting dalam hidup kita!” sergah Excel masih lirih, serius, dan benar-benar dingin.


Rasa hangat sudah langsung menyelimuti dada seorang Azzura hanya karena balasan Excel barusan. Walau tampang Excel lebih dingin dari bongkahan es di kutub utara, hati pria itu tetap sangat lembut bahkan hangat.


Azzura sudah langsung tersipu dan ia sengaja menunduk untuk menyembunyikannya. “Tapi jalannya macet banget Mas. Tuh lihat ....”

__ADS_1


“Bukan Jakarta namanya kalau enggak macet karena di kota-kota besar lain pun, macet seolah sudah jadi wajah kota.” Excel masih dengan tekadnya, menyiapkan yang terbaik untuk pernikahan mereka, meski mereka memang tidak memiliki banyak waktu.


__ADS_2