
Azzura sudah lebih dulu bangun sebelum alarm di ponselnya bunyi. Azzura merasa tidak enak badan, tubuhnya meriang. Hingga bukannya mematikan alarm di ponselnya, Azzura malah memeluk sang suami yang juga terusik oleh alarm di ponselnya.
Sambil membalas dekapan sang istri, Excel berangsur meraih ponsel Azzura kemudian mematikan alarm yang sudah mengusik keheningan kamar mereka menginap. Kedua mata Excel sudah langsung mengepak sempurna lantaran pria itu merasakan suhu tubuh sang istri yang terlampau panas. Ia seolah tengah memeluk wadah berisi air panas.
“Kamu demam? Sakit? Bisa obati diri sendiri apa kita ke rumah sakit saja? Kita ke rumah sakit saja!” sigap Excel buru-buru bangun walau Azzura enggan melepaskannya. Bahkan karena Azzura terus mendekapnya, ia sampai mengikutsertakan tubuh istrinya itu dalam setiap geraknya.
“Mungkin efek hamil, bawaan janin. Mas tolong ambilkan tas kerjaku saja. Ada obat panas khusus buat bumil.” Berbicara saja, Azzura merasa napas yang keluar dari mulutnya terasa sangat panas.
“Enggak, enggak, ... kita ke rumah sakit saja. Biar lebih jelas, biar cepat ditangani juga.” Excel tidak mau ambil risiko apalagi membuang-buang waktu. Istrinya sedang hamil, ada nyawa lain yang sangat bergantung kepada Azzura. Nyawa calon anak mereka.
Karena Azzura hanya memakai gaun malam, Excel sudah langsung membantu sang istri memakai gamis lengkap dengan jilbab dan cadarnya. Sebelum membopongnya, membawanya keluar dari sana pun, Excel terlebih dulu memberi Azzura minum. Kenyataan yang membuat Azzura diam-diam menangis. Azzura terlalu bahagia, benar-benar bersyukur memiliki suami sepengertian Excel. Terlebih jika melihat masa lalu Excel, bagi Azzura perubahan yang Excel lakukan sangat luar biasa.
“Jangan bilang ke siapa-siapa dulu kalau aku sakit, yah, Mas. Feelingku sih ini hanya bawaan bayi,” ucap Azzura masih membiarkan tubuhnya dibopong keluar dari hotel. Satpam yang berjaga sampai terkejut karena pria itu baru beres salat.
Si satpam buru-buru membantu dan Excel sengaja memberikan beberapa lembar uang kepada pria tersebut.
“Pak, tolong doakan istri saya. Istri saya sedang kurang enak badan. Sedang hamil juga. Tolong doakan agar istri dan calon anak kami segera diangkat penyakitnya,” ucap Excel sembari melepas genggaman kedua tangannya terhadap tangan kanan si satpam.
“Oh, iya Mas, iya. Semoga istri dan anak Mas cepat sehat. Sehat-sehat semuanya!” ucap sang satpam.
Excel mengangguk-angguk sambil mengucapkan terima kasih. Ia segera menutup kaca pintu mobilnya kemudian menuju rumah sakit terdekat.
“Mas Excel beneran sudah mirip Papah Kala,” batin Azzura mulai menggigil hingga ia meminta Excel untuk mematikan AC mobil.
Sembari mematikan AC mobil, Excel menatap khawatir sang istri. Ia mulai tidak baik-baik saja lantaran Azzura mendadak sakit.
__ADS_1
“Kamu kelelahan,” ucap Excel.
Kemarin mereka terlalu sibuk mengurus resepsi pernikahan. Dan kini menjadi hari ke tiga dari resepsi pernikahan mereka digelar.
Excel berangsur mengulurkan tangan kanannya kemudian meraih tangan kanan Azzura. “Kuat, yah. Kita sudah bertiga. Biar Papah saja yang sakit, kalian jangan. Sakitnya buat Papah semua saja, kalian harus selalu sehat. Kalian harus selalu senang. Sini sakitnya ditransfer ke Papah.” Melalui genggaman tangan kirinya, Excel berusaha mengambil semua rasa sakit Azzura maupun janin mereka. Azzura memang tidak bersuara, tapi ia memergoki wanita itu diam-diam menangis.
“Bentar lagi, ... bentar lagi kita sampai.” Excel berucap lembut bahkan terdengar sengau di telinganya sendiri karena tangis dan kesedihan yang ia tahan. Sebab melihat Azzura mendadak sakit layaknya sekarang, benar-benar lebih sakit dari ketika sekujur tubuhnya menjadi sasaran pelur*u panas.
Lokasi hotel dan rumah sakit yang terbilang dekat, membuat mereka sampai tak kurang dari sepuluh menit. Ditambah lagi, suasana selepas subuh juga belum begitu banyak pengemudi.
Excel yang kembali membopong Azzura langsung memboyong istrinya itu ke IGD. Petugas di sana sudah langsung sigap membantu membawa kursi roda tapi Excel menolak.
“Ooowh ...?” refleks sang dokter yang juga sudah langsung sigap memberikan penanganan di IGD.
Lemas, Excel sudah tidak bisa berpikir di tengah kedua matanya yang terus menatap tak percaya telapak tangan kanannya. Itu darah, milik Azzura padahal istrinya sedang hamil muda.
“Maaf, Mas, Mas boleh tolong urus pendaftaran dulu buat mbaknya?” ucap sang dokter sangat santun.
“Istri saya sedang hamil, Dok!” tegas Excel menatap serius pria bertubuh gempal di sebelahnya. Beberapa kali, air matanya berlinang dan ia mendapati sang dokter yang langsung syok.
“Kalian habis campur?” tanya si dokter memastikan.
Excel langsung menggeleng. “Terakhir kemarin sore, Dok!”
“Ini pendarahannya sejak kapan?” balas sang dokter.
__ADS_1
“Kurang tahu, Dok. Tapi sore sampai malam, istri saya masih baik-baik saja!”
Mendengar obrolan Excel dan sang dokter, perasaan Azzura benar-benar hancur. Azzura merasa lemas, tak bersemangat, nyawanya seolah dicabut paksa.
Sang dokter langsung berisik meminta perawat untuk segera menutup tirai karena di sana bukan hanya Azzura yang sedang ditangani. Kebetulan ada beberapa pasien lainnya dan setiap ruangan hanya dipisahkan oleh tirai.
Dokter tersebut langsung melakukan pengecekan bagian vagi*na Azzura. Memastikan apakah pendarahan yang Azzura alami disertai pembukaan atau tidak.
Excel sudah langsung limbung, tapi ia tak lantas pergi walau perawat di sana meminta.
“Enggak apa-apa, Sus. Enggak apa-apa. Mas ini suaminya,” ucap sang dokter yang bisa merasakan kehancuran dari Excel. Pria itu mendekap Azzura sambil tersedu-sedu, seolah tahu maksud dari pendarahan yang memang fatal.
“Jangan nangis, Ra. Tanpa kamu nangis pun, suami kamu sudah hancur. Mas Excel pasti merasa sangat bersalah karena kamu sampai mengalami ini!” Hati kecil Azzura menasihati walau pada kenyataannya, nasihat itu tak berdampak banyak.
Azzura telanjur hancur. Lebih hancur dari ketika ia mengetahui ternyata ia bukan wanita pertama yang Cikho nikahi. Ternyata ia merupakan istri kedua sementara Cikho sudah terbiasa menjalani hubungan suami istri dengan Rere.
Pendarahan yang Azzura alami benar-benar lebih menyakitkan dari semua rasa sakit yang pernah Azzura rasakan. Apalagi ketika dokter mengabarkan sudah ada pembukaan. Ia dirujuk ke ruang lain, ruang USG untuk memastikan keadaan janin. Masihkah janinnya aktif, atau justru harus ada tindakan yang tidak Azzura inginkan.
“Jika luka merupakan pelukan dari Alloh agar kita lebih bersyukur, apakah sampai detik ini aku belum menjadi orang baik yang pandai bersyukur? Apakah aku memang belum pantas menjadi seorang ibu? Bahkan walau aku seorang bidan yang terbiasa membantu persalinan, memantau tumbuh kembang bayi?” batin Azzura sekali lagi membiarkan sang suami memeluknya.
Kini, di ruang USG, suasana tetap sepi walau alat pendeteksi itu sudah ke area jantung janin berada. Melalui layar monitor di depan, janin itu memang tampak, tapi tak lagi disertai tanda-tanda kehidupan.
“Apakah ini yang dinamakan nyawa dibalas dengan nyawa? Apakah aku belum pantas menjadi seorang papah? Kenapa bukan nyawaku saja?” batin Excel yang kemudian berbisik, “Maaf, ... i love you!”
“Hanya satu yang harus aku jalani sesulit dan sesakit apa pun semua ini. Aku harus ikhlas, kemudian belajar dari apa yang pernah terjadi untuk menjadi manusia lebih baik lagi,” batin Azzura menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1