
Belum genap tiga puluh menit dari telepon yang Excel lakukan, Helios yang sudah sampai di tempat tujuan, sudah langsung merasa tidak nyaman. Bergegas ia meninggalkan motor trail hitamnya, menatap saksama keadaan rumah tujuannya yang justru dalam keadaan sangat sunyi.
Padahal yang Helios tahu dari salah satu anak buahnya dan itu bukan Excel, biasanya di sana selalu dalam penjagaan ketat. Ajudan maupun satpam yang jaga selalu lebih dari lima.
Helios pergoki, di depan sana, beberapa satpam berbondong-bondong masuk ke dalam. Mereka yang jumlahnya ada delapan orang terlihat khawatir sekaligus panik.
Di luar rumah benar-benar tidak ada penjagaan, termasuk di sekitar gerbang dan pos satpam. Semuanya seolah mengkhawatirkan keadaan di dalam. Entah apa yang terjadi, tapi Helios khawatir, Excel justru sudah diekseku*si. Apalagi yang ia tahu dari Excel berikut info tambahan dari anak buahnya, rumah yang mereka datangi merupakan rumah seorang jendraal berpengaruh di negara mereka tinggal. Kenyataan yang tentu saja terbiasa dengan pertempuran sekaligus senjata.
Tanpa pikir panjang, tanpa permisi apalagi mengonfirmasi kepada satpam-satpam di sana, Helios sudah langsung memanjat gerbang dengan gerakan yang kelewat cepat. Helios bahkan sudah langsung mengejar sang satpam kemudian menjadi bagian dari mereka. Melalui lirikannya sebelum ia benar-benar masuk rumah sana, ia memberi anak buahnya kode.
Anak buah Helios datang menggunakan tiga mobil jeep sekaligus. Semua mobilnya berwarna hitam. Jarak teras Helios berdiri dengan depan gerbang memang tak ada dua puluh meter. Hingga para mafia yang sudah terlatih juga dengan sangat mudah menerima kode dari Helios.
Ada dua belas mafia yang datang menyusul Helios. Namun dari kedua belas tersebut, satu dari mereka sengaja ditinggal di mobil dan itu Syam. Syam sengaja jaga-jaga di sana karena awal kedatangan mereka saja, sudah langsung ditahan oleh satpam kompleks.
Kesebelas mafia tadi sudah langsung memanjat gerbang layaknya apa yang sebelumnya Helios lakukan. Sementara Syam yang ditinggal, mendapati gelagat aneh dari para tetangga di sana. Memang tidak semua tetangga keluar dari rumah kemudian melongok ke rumah sang jendraal. Masalahnya, alasan mereka begitu Syam yakini bukan karena kedatangan para mafia yang sampai memakai tiga mobil jeep sekaligus. Sebab kediaman seorang jendraal pasti terbiasa didatangi kendaraan.
“Jangan-jangan, sudah ada—” Syam sudah langsung tidak berani menduga-duga, tapi ia memang sudah langsung tidak baik-baik saja. “Excel ... masuk ke sini dia pasti tanpa senjata!” Syam benar-benar panik. Walau kepanikannya tak sebanding dengan kepanikan seorang Helios ketika memergoki tubuh seorang Excel tumbang.
“Cheeeeeel!” Helios lari sekencang-kencangnya menghampiri tubuh rekan seperjuangannya yang terkapar di sebelah tubuh sang jendral.
__ADS_1
Darah segar sudah tercecer di sekitar Excel. Helios meyakininya sebagai darah Excel. Karena meski di sana ada sang jendral yang sudah menggeliat kesakitan, luka pria itu tak sebanyak luka tembak di tubuh Excel.
Helios sudah langsung merengkuh, membopong tubuh Excel. Mungkin karena luka-luka Excel kali ini terlalu fatal, hingga Excel benar-benar mengalami apa itu yang dinamakan sekarat.
“Cel!” Helios menangis. Terlebih selain hubungan mereka sedang kurang baik, ia tahu alasan Excel di sana untuk melakukan pembalasan. Excel akan membalaskan dendamnya kepada pembunuh alm. sang ayah.
Kedatangan Helios sudah langsung mengusik kebersamaan di sana. Mereka yang awalnya akan mengamankan sang jendral atas arahan nyonya Cici yang datang bersama Angel, langsung tercengang. Sebab laki-laki bertubuh tegap berpakaian serba hitam, tidak hanya ada satu dan itu Helios. Melainkan masih ada sebelas lagi dan seketika itu mengepung mereka sambil menodongkan pistol.
Nyonya Cici dan Angel yang masih ada di tengah-tengah anak tangga, langsung ketakutan. Tubuh mereka gemetaran hebat, hendak mundur bahkan kabur, tapi mereka tak kuasa melakukannya. Karena jangankan kabur, menggerakkan kedua kaki mereka saja, meraka tak kuasa melakukannya.
“M-mah, mereka siapa?” lirih Angel sampai bersembunyi di balik punggung sang mamah yang memang lebar.
Tanpa memikirkan apa yang terjadi di sana, Helios sudah langsung memboyong Excel. Helios menggunakan kedua tangannya, mengamankan sahabat baiknya tanpa bantuan siapa pun bahkan anak buahnya.
Syam yang awalnya baru keluar dari mobil buru-buru lari, menghampiri sang ketua yang sudah sibuk berlinang air mata. Seperti yang ia khawatirkan, sesuatu yang fatal sungguh menimpa Excel mereka.
Langit yang mendadak gelap karena mendung, menjadi saksi kesedihan kali ini. Rintik gerimis juga menyertai, sementara di belakang sana, seorang satpam terpaksa melangkah menyusul Helios. Satpam tersebut membukakan gembok gerbang dikawal oleh seorang mafia. Iya, satpam tersebut dipaksa membukakan gembok agar Excel bisa diamankan secepatnya. Agar Excel bisa mendapatkan pertolongan segera.
“Bawa Excel ke markas! Aku akan mengambil alih apa yang harusnya Excel lakukan di sini!” titah Helios kepada Syam. Tak beda dengannya, Syam juga sudah langsung berlinang air mata.
__ADS_1
Syam yang tidak bisa berkata-kata segera memboyong Excel ke mobil. Ia pergi dari sana tanpa kembali disaksikan tetangga yang sudah kembali masuk rumah.
Helios buru-buru masuk rumah. Termasuk satpam tadi yang juga masih dipaksa tunduk kepada Helios dan rombongannya.
Sampai di dalam, semuanya sudah diamankan. Termasuk sang jendral yang diboyong pergi atas arahan Helios.
“Berani kalian membawanya ke rumah sakit, saya pastikan kebusu*kkan kalian akan terungkap dan kalian akan tamat!” ancam Helios.
Nyonya Cici termasuk Angel dipaksa bungkam. Keduanya yang masih menangis ketakutan langsung disopiri oleh Helios menggunakan mobil mewah mereka.
Sisanya, semua pekerja di rumah sang jendral juga dipaksa bungkam. Termasuk para ART yang sempat menyaksikan penyerangan juga disekap di satu tempat. Tiga mafia sengaja ditinggal untuk jaga-jaga di sana.
“Jadi, siapa yang dulu menyetir ugal-ugalan, masih di bawah umur dan dalam keadaan mabuuk?” tanya Helios sambil mengemudi.
Tubuh sang jendraal dibiarkan meringkuk di tempat duduk penumpang sebelah tengah. Sementara di belakang, nyonya Cici dan Angel dipaksa duduk layaknya barang.
Walau tidak menjawab, lirikan nyonya Cici dan Angel yang beradu di tengah ketakutan yang menyelimuti keduanya, sudah cukup menjadi jawaban. Iya, Helios paham. Termasuk mafia di sebelahnya pun sudah bisa menduga.
“Kalian harus mati!” tegas Helios benar-benar dingin.
__ADS_1
“Cukup pilih, ... mati seolah-olah kalian bunuhh diri. Atau mati karena kalian mengalami kecelakaan tunggal!” lanjut Helios yang akan memastikan kedua wanita di belakang sana benar-benar tak ada lagi dalam dunia ini seperti apa yang telah dialami oleh ayah Excel.