Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
106 : Sebelum Resepsi


__ADS_3

Resepsi pernikahan benar-benar sudah ada di depan mata. Di kamar hotel nantinya Azzura akan menginap bersama sang suami, Azzura tengah menjalani rias akhir sebelum ia dan Excel memasuki tempat resepsi. Tak ada yang tidak bahagia. Semuanya tampak sangat semringah termasuk juga mas Aidan yang kali ini didatangi Divani.


“Mau jadi apa sih, hubungan putus nyambung dan si wanitanya sibuk marah-marah? Jangan-jangan andai jadi, Didi malah sibuk KDRT?” batin Azzam yang menjadi bagian dari kebersamaan keluarganya.


Semuanya ada di belakang panggung, tengah menunggu kedatangan Azzura dan Excel. Akala juga ada di sana, dan Akala sama sekali tidak keberatan walau sampai detik ini, Cinta masih belum mau ia perkenalkan ke keluarganya. Akala selalu berpikir positif karena pria itu percaya, berpikir positif juga akan melahirkan dampak yang positif. Terlebih Akala percaya Cinta. Tak sedikit pun Akala curiga kekasihnya itu telah menyiapkan luka khusus untuknya.


“Di, mbak Azzura sudah hamil, loh!” bisik mas Aidan lembut sengaja memberi sang kekasih kode keras. Agar Divani mau segera ia ajak menikah.


Mendengar itu, Divani merasa heran. “Hamil gimana? Itu anaknya Excel bukan? Belum ada sebulan masa punya Excel?” balasnya berbisik-bisik.


Kabar kehamilan Azzura benar-benar membuat Divani terkejut. Namun yang Divani pikirkan benar-benar jauh dari baik. “Jangan-jangan karena itu, karena Azzura hamil duluan dan itu hamil dengan laki-laki lain, makanya si Cikho jatuhin talak ke Azzura?” pikirnya sibuk sendiri, merasa paling benar, merasa paling tahu termasuk itu ke kehidupan Azzura. Padahal, mas Aidan sudah menceritakan semuanya. Namun Divani merasa, semua yang ia pikirkan merupakan yang paling benar.


“Kok kamu ngomong gitu, sih?” Tentu mas Aidan marah walau ia masih menyampaikannya dengan lembut sekaligus lirih.


Divani menghela napas dalam sambil menatap tak habis pikir mas Aidan. Ingin rasanya ia mengumat, memarahi mas Aidan yang baginya terlalu bodo*h.


“Penampilan seseorang enggak menjamin kelakuan asli orang, kan, Mas?”


“Di, Azzura adikku. Aku tahu betul keadaan mbak Azzura karena hal sekecil apa pun, mbak Azzura pasti akan cerita dan kami akan selalu diskusi!” tegas mas Aidan tak selembut sebelumnya. Dadanya bergemuruh menahan rasa kesal yang sebagiannya sudah telanjur ia lepas.

__ADS_1


“Ya apa salahnya, yang namanya manusia kan enggak luput dari dosa. Andaipun sudah telanjur, ya mau gimana lagi. Yang penting bisa belajar jadi manusia lebih baik lagi lah. Banyak kok di luar sana yang bercadar pakai pakaian serba besar, tahu-tahunya lahiran padahal belum nikah dan memang enggak punya suami. Bukan bermaksud menjelek-jelekan agama. Karena agama lumrahnya jadi urusan yang menjalaninya dengan Tuhannya. Banyak kok manusia yang berkedok di balik agama gitu buat cari aman biar terus dianggap alim!” Divani berbicara panjang lebar.


“Makin kamu berbicara, makin kelihatan kamu enggak berkualitas! Heran aku ke kamu, ... kok bisa kamu beda banget dari keluarga kamu. Kok bisa kamu sama sekali enggak punya vibes positif!”


“Mas! Kamu selalu saja begini. Sangat sensitif kalau sudah berkaitan dengan keluarga apalagi adik-adik kamu. Padahal kamu cerita apa, aku tanggepin dengan baik-baik. Dari dulu loh Mas aku tahan-tahan ini. Cara Mas begini kesannya aku harus menyembah ke adik-adik Mas. Kesannya aku bob*rok banget!” kesal Divani nyaris menangis.


“Sudah jangan dilanjutin!” kesal mas Aidan yang langsung tertampar dengan kenyataan lain. Karena di pintu masuk sana, ia mendengar kehebohan Chole yang tengah jingkrak-jingkrak memeluk Azzura dan itu karena Chole mengetahui kabar kehamilan Azzura. Chole datang bersama Chalvin sang kakak dan juga orang tua mereka.


“Semoga anaknya cewek, yah! Biar nanti bisa didandanin. Nanti aku yang kuncir apa mau pakai ciput jilbab baby juga banyak, kan?” ucap Chole yang masih mendekap Azzura. Ia masih menatap semringah wajah Azzura yang terlihat sangat cantik walau hanya terlihat kedua matanya.


“Bikin sendiri, Chole. Bikin sendiri!” tegur Chalvin.


“Bikin sendiri gimana?” balas Chole yang menatap pasrah sang kakak. Namun karena ulahnya itu, ia malah menjadi bahan tertawaan.


“Aku ngidam tutut keong masakan kamu loh!” ucap Excel sengaja menggoda Chole setelah ia juga sampai mengucapkan terima kasih untuk doa baik yang ia terima dari Chole.


“Eh Mas Excel, mohon maap jangan disebut tutut keong karena kata Mamah, itu memang tutut. Nanti si om sahabat Mas itu, tanduknya keluar!” ucap Chole yang malah menjadi terbahak-bahak.


“Jangan panggil Om, nanti tanduknya beneran keluar karena dia menolak dipanggil Om!” ujar Azzura yang kemudian menertawakan ekspresi kaget Chole.

__ADS_1


“Asli, ya ... serba salah banget. Kayaknya di mata dia, napas saja aku salah ....” Chole tersenyum pasrah. “Sekali lagi selamat, ya. Ini Azzam ke mana kok enggak kelihatan? Itu Akala ... astaga si Azzam ketutup Akala langsung enggak kelihatan. Hahahaha!”


“Azzam, Liam, kamu, Sepri, Ojan, andai kalian bikin stand up, ramenya enggak kaleng-kaleng!” ujar Chalvin dan langsung didukung oleh Azzura.


“Aku juga sepakat sama kamu, Mas. Orang-orang rame memang mereka. Pelawak bertarif mahal saja aku yakin kalah!” ucap Excel.


“Nanti kalian naik ke panggung, ya! Ngobrol apa lah, pasti langsung nyambung!” mohon Azzura.


“Bilang, kamu ngidam mereka wajib naik panggung. Pasti mereka mau, Mbak. Mau enggak mau pokoknya mereka wajib manggung!” ucap Chalvin yang sampai menahan tawanya.


Azzura langsung heboh. Tak menyangka sekelas Chalvin yang irit bicara akan berkata begitu. Juga, ia yang lupa padahal kehamilannya bisa menjadi senjata pamungkas untuknya mendapatkan keinginannya dengan lebih mudah.


“Ketika seorang wanita yang baru menikah dan sudah hamil padahal usia pernikahannya belum genap satu bulan, bukan berarti karena wanita itu hamil di luar nikah apalagi hamil dengan laki-laki lain, Di. Harusnya kamu tahu karena kamu orang berpendidikan. Makin lama ucapan kamu makin enggak berkualitas. Lihat Chole, Chalvin, semuanya saja kelihatan bahagia banget. Semua itu karena pikiran mereka berkualitas.” mas Aidan masih berucap lirih, kali ini ia menatap tak habis pikir Divani yang ia tinggalkan di tempat duduk mereka sempat menunggu.


“Coba renungi kesalahanmu, aku mau temui kerabat kita dulu!” ucap mas Aidan sengaja pamit.


“Selalu saja aku yang salah. Padahal orang-orang ngertinya jadi istri mas Aidan enak!” sinis Didi dalam hatinya. Buru-buru ia berdiri kemudian menyusul mas Aidan karena yang mas Aidan tuju justru rombongan Chole.


“Si Chole keganjena*n banget sih. Sok oke banget! Ini si Rayyan ke mana lagi? Sudah aku kasih tahu walau enggak diajak sama Chole, ikut saja ke sini nanti aku yang atur, eh alah ...!” kesal Divani dalam hatinya.

__ADS_1


Kedatangan Divani yang mendadak menahan pergelangan tangan kiri mas Aidan, membuat mas Aidan yang juga terkejut, menatapnya heran.


“Ya iyalah, sadar bukan hasilnya, yang ada ya selalu begini. Sibuk menciptakan kebohongan demi menutupi kebohongan yang sudah ada!” batin Chole merasa tak habis pikir pada Divani.


__ADS_2