Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
48 : Benar-Benar Sebentar Lagi


__ADS_3

Suasana sudah petang ketika akhirnya Azzura sampai di kediaman Tuan Maheza. Azzura memang datang sendiri, tapi di depan kediaman Tuan Maheza, orang tuanya lengkap dengan mas Aidan, sudah menunggu di dalam mobil.


Melihat keadaan Azzura seperti sekarang, semuanya langsung khawatir. Lebih-lebih ibu Arum yang langsung limbung, lemas seolah nyawanya dicabut paksa, meski wanita itu juga dengan segera berusaha tegar. Iya, ibu Arum merasa dirinya harus jauh lebih tegar jika keadaan putrinya sedang sangat kalut seperti sekarang. Entah apa yang terjadi, tapi sebelumnya Azzura belum pernah terlihat sangat marah layaknya sekarang. Karena saat menuntut keadilan kepada Cikho pun, Azzura terbilang masih bisa mengontrol emosi.


“Mas Syam dan mas Heri masih hidup. Sekarang, aku beneran belum bisa menjelaskan lebih, tapi nanti. Pasti. Biarkan Cikho dan orang tuanya ikut kita. WAJIB!” ucap Azzura tanpa terlebih dahulu menyeka air matanya.


Walau bingung sekaligus penasaran, orang tua Azzura termasuk juga mas Aidan, berusaha sesabar mungkin mengikuti arahan Azzura. Mereka masuk ke kediaman Tuan Maheza, bersama-sama. Tentu, mereka yang didatangi langsung terkejut terlebih jika melihat penampilan Azzura. ART yang membukakan mereka pintu sempat mereka pergoki gemetaran sambil bengong menatap takut Azzura.


Kebetulan, Cikho dan Tuan Maheza baru pulang. Cikho yang kali ini memakai seragam khas seorang OB langsung melipir, terus bersembunyi di balik punggung Tuan Maheza. Selain itu, tadi Cikho juga yang menjadi sopir Tuan Maheza. Karena seperti yang sudah langsung Tuan Maheza kabarkan, Cikho sengaja dihukum dengan menjadi sopir pribadinya sekaligus OB di kantor dan itu tanpa mendapatkan gaji. Semacam fasilitas hidup termasuk jatah uang jajan pun, Cikho juga sudah tidak mendapatkannya.


“Si Azzura kenapa sih? Berdarah-darah gitu pakaiannya, dan ... dia marah banget melebihi saat dia menuntut keadilan ke aku di depan semuanya,” pikir Cikho sudah langsung yakin, Azzura tidak baik-baik saja. Entah untuk kasus apa lagi, tapi Cikho yakin seyakin-yakinnya, memang ada yang fatal dan sebentar lagi pun akan segera ia ketahui.


“Sekarang juga aku mau, kita ke tempat di mana seseorang sudah menunggu kita. Aku belum bisa menjelaskan secara detail, tapi nanti setelah kita sampai di sana, benang kusut yang selama ini sengaja dibuang pasti bisa terurai!” tegas Azzura yang kemudian berkata. “Aku mau, ... Om dan Ibu Aleya ikut bersama kami, tentunya juga ... Mas Cikho. Mas Cikho benar-benar harus ikut!”

__ADS_1


Sadar Cikho dan orang tuanya merasa aneh terhadap permintaannya, Azzura berkata, “Anggap saja ini permintaan terakhirku kepada kalian karena setelah ini, aku pastikan, aku tidak akan pernah ada apalagi mengusik kehidupan kalian lagi!” Azzura benar-benar meyakinkan.


Baik Tuan Maheza maupun ibu Aleya kompak menatap wajah orang tua Azzura maupun wajah mas Aidan yang memang menyertai kedatangan Azzura, silih berganti. Jujur, keresahan yang seketika melanda mereka, membuat dada mereka bergemuruh khawatir, tak lain karena mereka yakin, ada yang tidak baik-baik saja bahkan fatal. Mereka curiga, itu masih karena Cikho. Kini, melalui lirikan yang mereka lakukan nyaris bersamaan kepada Cikho padahal mereka tidak janjian, mereka menuangkan kecurigaan tersebut. Apa lagi yang telah Cikho perbuat hingga Azzura sangat marah, selain pakaian Azzura yang sampai berdarah-darah? Mata sembam dan pakaiannya pun penuh darah hingga aroma anyir yang tercium dari gadis itu membuat mereka ingin muntah, pikir Tuan Maheza maupun ibu Aleya.


“Sebenarnya kamu kenapa, Ra?” tanya Cikho belum bisa mencerna maksud Azzura. Karena Azzura mengabaikannya, ia sengaja berkata, “Aku tahu kamu marah banget ke aku. Dan aku juga tahu, kamu enggak mungkin memaafkan aku ....”


“Sudah Mas, Mas enggak usah banyak omong kayak orang enggak berdosa begitu!” sergah Azzura sengaja memotong ucapan Cikho. Ia maju mendekati Cikho tanpa bisa meredam atau setidaknya sedikit menjinakkan emosinya. “Pada kenyataannya, perbedaan malaikat dan manusia bejaatt memang sangat tipis. Namun bukan berarti bangkai yang disembunyikan, akan tetap aman. Karena serapat-rapatnya bangkai disembunyikan, bau busuknya tetap akan terciummm, MAS!”


Lagi, ibu Aleya dan Tuan Maheza, menuangkan keresahan mereka melalui lirikan sekaligus tatapan yang tidak direncanakan. Begitupun dengan ibu Arum, pak Kalandra, dan juga mas Aidan. Mereka kompak saling menuangkan tanya mereka melalui lirikan. Namun sekali lagi, ibu Arum sekeluarga masih akan bersabar menunggu Azzura membuka segala rahasia yang membuat mereka sangat penasaran.


Ketika orang tua Cikho tidak berani berspekulasi, mas Aidan dan ibu Arum justru curiga, sebenarnya yang membuat Azzura murka itu efek Excel yang terluka parah dan itu masih berkaitan dengan Excel. Alasan tersebut juga yang membuat Azzura membawa Cikho dan orang tuanya bersama mereka. Hanya saja, tadi Azzura sempat membahas Syam dan Heri, yang Azzura kabarkan masih hidup.


“Heri dan Syam, apa kabar, Mbak? Mereka sehat semua, kan? Bertahun-tahun enggak ketemu. Mereka sampai dicurigai sudah ikut meninggal, terus mereka juga sempat dicurigai sebagai penyebab kebakaran itu,” ucap mas Aidan yang duduk di sebelah sopir. Mereka diantar jemput oleh sopir sekretaris Lim dan masih memakai mobil sekretaris Lim juga. Sementara sopir taksi yang sempat mengantar Azzura, sudah langsung pergi sejak Azzura membayarnya.

__ADS_1


Azzura yang duduk di antara pak Kalandra dan ibu Arum langsung menunduk dalam. Air matanya berlinang di setiap ia teringat apa yang terjadi. “Semuanya telanjur salah kaprah. Yang sebelah jahat banget, yang dijahati terlalu ... terlalu apa, ya? Aku beneran bingung. Nanti kalian lihat sendiri lah, ya,” lirih Azzura terisak pedih.


“Cikho ada sangkut-pautnya dengan Syam dan Heri yang ternyata masih hidup?” tanya mas Aidan menebak-nebak. Ia sampai menoleh bahkan balik badan hanya untuk menatap sang adik, memastikannya dengan saksama.


Walau berat, tanpa bisa menyudahi kesedihannya, Azzura berkata, “Lebih dari itu, Mas.”


Detik itu juga mas Aidan menggaruk punggung kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat gatal. “Berat-berat kalau sudah begini keadaanya,” lirihnya berkeluh kesah.


Pak Kalandra dan ibu Arum yang bungkam, hanya sesekali saling lirik, tapi sejujurnya firasat mereka sudah sangat burruk.


Sekitar pukul sembilan malam akhirnya mereka sampai di depan gedung keberadaan Syam dan Heri yang juga menjadi tempat Excel masih menjalani pengobatan.


“Baiklah, ... sebentar lagi, ... iya, semuanya sungguh sebentar lagi, dendam yang bertahun-tahun lamanya ditahan, akan segera menemui sang Tuan!” batin Azzura menerima uluran tangan sang papah yang membantunya keluar dari mobil. Sementara sang mamah sudah langsung dibantu oleh mas Aidan.

__ADS_1


“Ini tempat apa? Pabrik tua?” pikir Cikho yang sudah langsung kedinginan karena ia hanya memakai lengan pendek, tapi udara di sekitar puncak sana benar-benar dingin.


Tanpa curiga sedikit pun, Cikho sudah langsung menyusul rombongan Azzura. Sementara di belakangnya, Tuan Maheza dan ibu Aleya segera menyusul. Keduanya tak hentinya mengawasi sekitar. Gelap, sepi, tampak tidak terawat padahal di depan saja yang menjaga tempat tersebut sampai ada empat orang.


__ADS_2