
Azzura masih ingat, saat Cikho melamarnya, pria itu melakukannya tepat di atas Kapal Phinisi, ketika mereka menjalani wisata ke Labuan Bajo. Malam-malam, Azzura pikir ada apa kenapa Cikho mendadak mengajaknya keluar. Lalu di tengah semilir angin yang berembus kencang, Cikho mendadak berlutut sambil memegang tangan kiri Azzura yang saat itu belum memakai cadar. Cikho langsung mengajak Azzura menikah, yang mana setelah pria itu selesai bicara menunggu balasan Azzura, Cikho menyodorkan cincin putih bermata batu permata putih yang sangat cantik. Tak lama kemudian, kembang api bertaburan di atas kapal mereka menebarkan warna yang begitu indah. Dan bersamaan dengan itu, keluarga mereka yang ternyata diam-diam bersembunyi sekaligus menyimak, kompak keluar. Semuanya kompak mendukung Azzura menerima lamaran Cikho karena dulu, mereka sekompak itu.
Sementara kini, lamaran dari Excel hanya diselimuti sisa asao rokok lengkap dengan aromanya. Ditambah lagi, gaya Excel sangat kaku.
“Gimana?” tanya Excel lantaran Azzura hanya diam.
“Hihh!” Azzura merengut sebal. “Ngajak nikah kok kayak nagih hutang!” protesnya.
Excel bingung. “Memangnya aku harus bagaimana? Tinggal bilang ke orang tua kamu, kan? Coba mundur bentar, aku mau loncat!” Ia sungguh siap loncat tapi Azzura malah memarahinya.
“Kenapa?” tanya Excel kembali bingung.
“Kalau Mas jatuh gimana?” Azzura masih mengomel. Namun, Excel yang kembali menggeleng dan sudah siap loncat, terus meyakinkan dirinya bisa karena memang sudah terbiasa.
“Enggak ... enggak. Aku enggak mau. Aku juga enggak mau nikah sama Mas kalau Mas loncat dari situ ke sini. Ini lantai delapan, Mas. Ya ampun, nyawa kok diobral, padahal sampai detik ini enggak ada yang jual stok nyawa.”
Excel menghela napas dan kembali terlihat frustrasi. Ia melepas topinya, kemudian menatap Azzura penuh keseriusan. Kebersamaan mereka menjadi hening karena setelah kompak diam, Excel juga masih menunggu tanggapan Azzura yang sibuk menghindari tatapannya.
“Kita nikahnya di kampung kamu saja, ya? Di dekat rumah kamu ada hotel, sepertinya itu lumayan. Ada pemandian air panas juga. Undang keluarga besar saja enggak usah banyak orang. Aku sewa hotelnya dua hari dua malam biar keluarga besar bisa sekalian liburan,” lanjut Excel benar-benar serius, tapi Azzura jadi sibuk merengek sekaligus protes.
Mas Aidan yang khawatir sampai datang, menatap heran kedua sejoli yang sedang tatap muka di balkon berbeda.
__ADS_1
“Ada apa, sih? Aku pikir kenapa? Suaranya kedengeran sampai depan,” ucap mas Aidan sudah sampai berdiri di sebelah Azzura.
“Ya ini, Mas. Masa ngajak nikah, kayak lagi nagih hutang?” keluh Azzura.
Excel sudah langsung merasa dihakimi, selain pria itu yang memang sadar, dirinya telah melakukan kesalahan. “Ya maaf, Ra. Aku kan belum punya pengalaman ajak wanita nikah, apalagi pengalaman pernah nikah.” Ia benar-benar pasrah.
Azzura menjadi menatap kasihan Excel. Karena jika melihat dari jam kerja Excel sebagai mafi4, tampaknya pria itu terlalu sibuk bekerja hingga tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Walau sebenarnya bermodal fisik apalagi uang yang dimiliki, Excel bisa dengan sangat mudah melakukannya jika memang ingin. Terlebih di era yang serba canggih sekaligus gil4 layaknya sekarang, cukup menggunakan gawai, sekelas Excel bisa langsung memesan wanita paket komplit.
Mas Aidan menghela napas pelan. Ia menatap prihatin pasangan misk1n keromantisan di hadapannya. Yang perempuan terlalu manis, yang pria terlalu kaku mirip tanah di musim kemarau yang sekadar terguncang pelan sudah langsung retak. Kemudian setelah kesibukannya itu, ia menghela napas pelan dan memfokuskan tatapan kepada Azzura.
“Mbak, mending laki-laki kaku tapi sangat tanggung jawab sekaligus banyak uang karena dia pekerja keras, daripada laki-laki romantis yang modal tampang pas-pasan, tapi aslinya hidupnya cuma numpang ke orang tua, dan dengan kata lain, laki-laki itu tidak punya apa-apa. Yang pertama itu Excel, yang enggak punya apa-apa itu Cikho.” Mas Aidan bertutur penuh pengertian. Kemudian, fokusnya tertuju kepada Excel yang masih saja diam, benar-benar kaku. “Sama-sama, Xel!”
Excel langsung bingung mendapatkan pernyataan tersebut. Namun ia sengaja mengaitkannya dengan nasihat mas Aidan kepada Azzura, beberapa saat lalu. “Terima kasih, Mas!” Ia sampai agak membungkuk, sebanyak tiga kali kepada mas Aidan sebagai tanda hormatnya.
“Kan ...,” lirih Azzura yang juga langsung kembali berkeluh kesah.
“Kamu banyak masalah apa gimana, Xel? Kalau aku lihat, kamu kayak ... terlalu banyak pikiran gitu loh. Coba, sini cerita,” ucap mas Aidan yang sampai menjadi kasihan kepada Excel. Ia bersedekap dan siap mendengar cerita dari Excel.
Bagi mas Aidan, Excel tak hanya terlihat terlalu banyak pikiran, tapi juga terlihat kebingungan dan mas Aidan yakini masih karena pikiran yang banyak itu sendiri.
“Ya sudah, Mas. Aku mau ngobrol lagi sama mas Excel,” ucap Azzura tak mau membuat Excel tertekan terlebih ia yakin, Excel tak mungkin jujur kepada mas Aidan.
__ADS_1
“Jadi, kalian mau nikah kapan?” tanggap mas Aidan masih bersedekap dan baru akan pergi setelah kedua sejoli di hadapannya memberinya kepastian.
“Aku kapan pun siap,” sergah Excel serius tanpa sedikit pun keraguan. Terlebih tatapannya kepada mas Aidan. Tanpa ia sadari, Azzura yang diam-diam menyaksikan itu sampai kagum.
“Coba Mas Excel shalat. Curhatkan semua yang enggak mungkin Mas ceritakan ke Alloh. Insya Alloh, setiap curhatan yang Mas lakukan akan langsung menjadi kelegaan tersendiri. Pelan-pelan, dibiasakan. Dan rasakan dahsyatnya kekuatan dari shalat wajib lima waktu dalam agama kita,” ucap Azzura benar-benar lembut, tak lama setelah mas Aidan pergi.
Bukan hanya tutur kata Azzura yang menenangkan, tapi juga tatapannya yang begitu teduh, lebih lembut dari kain sutera termahal sekalipun. Di tengah angin yang berembus lirih, di mata Excel, Azzura mendadak berubah menjadi malaikat. Tubuh wanita itu seolah mengeluarkan cahaya. Ia melihat masa depan di mata sekaligus diri seorang Azzura.
Mengulurkan tangan kanannya, Azzura meminta ponsel Excel. “Sini aku downloadkan aplikasi bacaan doa sama tata cara membersihkan diri maupun tata cara menunaikan shalat. Takutnya Mas lupa karena aku yakin, terlalu lama meninggalkan hal yang harus kita lakukan kadang membuat kita harus belajar dari awal.”
“Percuma ...,” lirih Excel sambil menatap sedih Azzura. Walau kedua matanya yang yang menjadi bergetar, juga menjadi tak berani menatap kedua mata Azzura yang menatapnya penuh tanya.
“Kenapa ...? Kenapa percuma?” lirih Azzura.
Excel yang belum berani menatap Azzura pun berkata, “Aku punya tato. Katanya haraam, termasuk ... ibadah pun, enggak bakalan diterima. Ini juga yang jadi alasan terberatku karena aku merasa ....”
Azzura jadi sibuk menggeleng. “Itu salah kaprah, Mas. Anggapan ibadah orang bertato enggak diterima Alloh, enggak benar. Hoax itu. Sekarang Mas dengerin aku,” ucap Azzura yang sudah langsung memberikan penjelasan sekaligus pencerahan panjang lebar kepada Excel. Pria itu sampai menangis tertunduk. Butiran bening tak hentinya jatuh ke permukaan di bawah wajah Excel.
Namun berkat Azzura, seorang Excel sungguh memulai ibadahnya lagi dari mandi taubat. Tangis seorang Excel pecah setelah pria bertato naga di lengan kanannya itu menyelesaikan sujud terakhirnya dalam menunaikan shalat taubat.
Di kesunyian malam kini, Azzura juga menghabiskan waktunya untuk berdzikir setelah wanita itu menunaikan shalat tahajud. Satu hal yang Azzura minta kali ini, ia ingin Sang Pemilik Kehidupan yang juga Mengendalikan Segala Skenario Kehidupan, memberi Excel kelancaran dalam berhijrah sekaligus keluar dari belenggu dunia mafi4nya.
__ADS_1
Amin.