
Helios belum sepenuhnya mati. Tangan pria itu masih terus bergerak mencoba meraih, menahan lengan Excel. Lain dengan Excel yang malah terancam menemui ajal karena luka-luka yang didapat.
“Kamu tahu mereka yang telah melukai Tuanmu, tapi yang kamu serang justru aku! Itu namanya kurang aj*ar. Tidak masuk akal!” lirih Excel memang emosional.
“Adikmu memesan pembu*nuhan untuk seorang wanita yang kemudian dipegang Jimmi. Sementara bos terlambat mengetahui, kami benar-benar kecolongan. Saat kami mendesak adikmu, dia mengaku bahwa kamu yang menyuruhnya!” tegas Shine.
“Shine tidak ada kabar, rumahnya pun kosong. Kamu juga yang telah menghabi*sinya, kan?” tuding Shine. “Kamu sengaja melakukan semua ini untuk melukai sekaligus menyingkirkan Ketua?” lanjutnya masih menuduh.
“MAS EXCEL!”
Suara wanita barusan, Excel sungguh mengenalnya. Begitu juga dengan tuan Helios, dan juga Shine. Azzura, iya, wanita itu sungguh Azzura!
Di tempat berbeda, di mobil selaku taksi yang mereka gunakan, ibu Arum tak hentinya menanyakan kabar Azzura. Kenapa Azzura yang harusnya belanja keperluan pernikahan, justru masuk ke sebuah gedung tua mirip pabrik?
“Mas, ini beneran tempat kerjanya mas Excel? Terus, mbak Azzura ngapain sampai masuk ke dalam? Sebenarnya sudah janjian apa gimana, sih? Dari tadi mbak Azzura ditanya enggak jelas. Mamah jadi cemas. Mana tadi, satpamnya juga kelihatan galak banget ke mbak Azzura,” keluh ibu Arum.
Mas Aidan yang tak kalah cemas, tak kuasa menjawab karena ia saja bingung. Terhitung sejak berpisah dari Excel, bukannya belanja keperluan untuk besok layaknya tujuan kepergian mereka, atau setidaknya membeli cincin, Azzura justru mengajak sopir taksinya untuk mengikuti map lokasi sinyal ponsel Excel berada. Sinyal yang membuat mereka sampai di depan sebuah gedung mirip pabrik tua.
__ADS_1
“Pasti mbak Azzura sudah janjian, Mah.” mas Aidan berusaha menenangkan sang mamah. Walau sebenarnya ia juga sudah ingin menyusul Azzura ke dalam, memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Masalahnya, adanya sang mamah bersamanya juga memuatnya tak kalah khawatir.
“Kalau janjian, kok harus carinya lewat sinyal nomor ponsel mas Excel? Ini pasti ada yang enggak beres ini. Pasti Mas Excel kenapa-kenapa apalagi tadi, perginya pun buru-buru begitu! Sudah lapor polisi saja lah Mas!” ucap ibu Arum benar-benar khawatir.
Mendengar itu, Mas Aidan yang berusaha tenang jadi makin khawatir. Sekali lagi, mas Aidan tak mungkin meninggalkan sang mamah. Tak mungkin juga ia mengajak sang mamah masuk. Takutnya di dalam memang terjadi hal yang tidak diinginkan dan sudah sampai menimpa Azzura apalagi Excel. Masalahnya jika mas Aidan tidak kunjung menyusul, takutnya di dalam Azzura dan memang membutuhkan bantuan.
“Sudah Mas masuk saja, mamah tunggu di sini. Kalau sampai setengah jam dari kepergian Mas, Mas enggak kunjung kasih kabar, Mamah telepon polisi!” sergah ibu Arum meyakinkan. Daripada Azzura apalagi Excel menjadi korban di dalam.
“Mamah janji, ya. Mamah enggak akan turun, sebelum aku meminta. Mamah wajib di sini, langsung pergi saja sama Pak sopir kalau memang ada yang tidak beres. Mamah wajib cari bantuan. Jangan pakai perasaan apalagi emosi, Mamah harus pakai hati Mamah, lihat semuanya jangan hanya dari satu sisi. Janji, demi kebaikan bersama. Mamah enggak usah nangis, yakin, kami akan baik-baik saja,” ucap mas Aidan meyakinkan. Di hadapannya, ibu Arum yang sudah langsing menangis, mengangguk-angguk sanggup.
Padahal di dalam, anggota mafi*a yang awalnya mengepung Excel, sudah langsung siaga mengamankan Azzura. Mereka dengan siaga mengarahkan moncong pist0l ke arah Azzura.
“Hanya untuk membun*uh seorang wanita, kalian sampai berbondong-bondong mengepung bahkan menodongnya menggunakan ... astagfirullah ... pengecuut sekali!” ucap Azzura menggeleng tak habis pikir mengawasi setiap wajah yang mengepungnya.
“Wanita itu benar-benar Azzura! Dia masih hidup, bahkan kenal Excel!” batin Shine tak percaya. Bergegas ia mencoba menerobos rombongan hanya untuk sampai ke Azzura. Namun dari belakangnya, Excel menahan sebelah tangannya, dan juga menjadi awal mula pria itu berhasil memban*ting tubuhnya.
Keributan di belakang antara Excel dan Shine sudah langsung mengusik para mafi*a di sana. Mereka kompak menoleh untuk memastikan, dan juga kompak memberi Excel jalan ketika pria itu lewat.
__ADS_1
Langkah terseok itu benar-benar mengantarkan Excel kepada Azzura. Azzura masih menangis, tak hanya terlihat sangat terluka karena wanita itu juga terlihat sangat hancur. Excel tahu Azzura bukan wanita bo*doh. Karena walau ia tidak cerita, Azzura pasti akan melakukan segala cara untuk melindunginya. Buktinya tanpa harus membuatnya mengabarkan keberadaannya, Azzura bisa menemukannya. Bisa jadi, sejak ia tinggalkan sebenarnya Azzura sudah langsung melakukan pencarian.
Tersedu-sedu, Azzura yang terus menahan suara tangisnya agar tidak keluar, menatap sedih Excel. Ia maju, ragu, tapi di langkah berikutnya ia seolah memiliki kekuatan untuk memeluk pria di hadapannya. Excel juga berangsur membalas pelukan Azzura.
“Turunkan senja*ta kalian,” lirih suara pria yang terdengar menahan sakit mendalam.
Semuanya tahu itu suara ketua mereka. Tuan Helios. Excel yang tak sampai memastikan yakin, semuanya sudah langsung menurunkan bahkan menyimpan senjata masing-masing.
Dalam dekapan Excel, Azzura bisa merasakan darah segar yang terus mengalir dari luka-luka pria itu juga sudah langsung menempel kepadanya. Malahan wajah Azzura saja sudah langsung lengket oleh cairan agak kental yang begitu anyir.
“Aku dan Azzura akan menikah. Besok, kami akan melangsungkan ijab kabul. Jadi, jika memang masih ada urusan yang belum tuntas, daripada kamu hanya menjadi pecundang bahkan pengecutt, sekarang juga, ayo katakan,” lirih Excel benar-benar dingin. “Karena jika kamu benar-benar mengenal Azzura, kamu tak seharusnya terus kucing-kucingan, menjadi pengecuut sekaligus pecundang!”
“Hah? Ada yang mengenalku? Siapa?” batin Azzura yang kemudian menengadah, membuatnya menatap wajah Excel yang memang jauh lebih tinggi darinya. Namun, tak sedikit pun Excel meliriknya meski ia yakin, Excel tahu ia tengah menatapnya. Karenanya, ia berangsur keluar meninggalkan Excel.
Azzura menatap setiap wajah di sana. Mencoba memastikan sekaligus mencari sosok yang kiranya ia kenal. Karena jika mendengar dari suara lirih tadi, ia belum bisa mengenalinya.
“Belum ada yang Azzura kenali, kecuali Shine yang awalnya meringkuk membelakangi kedatangannya. Namun baru saja, pria itu menoleh, meringis kesakitan kepadanya.
__ADS_1
Excel yang awalnya hanya diam, berangsur menoleh, memastikan apa yang tengah dilakukan oleh Azzura. Excel benar-benar penasaran, apa yang sebenarnya terjadi antara Azzura, Shine, tuan Helios, juga Cikho dan teman-temannya, di masa lalu.
“Mas, ... Syam ...?” Azzura benar-benar mengenali Shine, walau nama yang Azzura sebut berbeda dengan nama yang selama ini anggota mafi*a termasuk Excel, kenal.