
Azzura tersenyum ceria sambil meminum segelas air putihnya. Ia nyaris menghabiskan satu gelas minum tersebut, kemudian berdiri meninggalkan tempat duduknya yang ada di sebelah jendela. Bersamaan dengan itu, tangan kanan Azzura meletakan gelas bekasnya minum di meja. Namun bukannya berada di meja, di sebelah laptop dan layarnya masih menyala, gelas tersebut malah berakhir pecah di lantai.
Perasaan Azzura sudah langsung tidak baik-baik saja. Senyum cerah itu juga tak lagi menyertai wajah cantiknya dan kali ini tidak tertutup cadar. “Mas Excel ....?” hanya nama itu yang langsung mengganggu pikirannya.
Rasa khawatir yang mencuat, juga sampai membuat jantung Azzura seolah akan copot. Dadanya sampai bergetar, saking kerasnya jantungnya dalam berdentam. Azzura takut, sesuatu yang tidak diinginkan bahkan fatal, menimpa suaminya. Karena sehebat apa pun seorang Excel, tetap akan bahaya jika suaminya itu harus berjuang sendiri. Terlebih kemampuan sang suami yang memang ada di atas rata-rata, membuat Excel selalu menjadi bahan incaran. Tentunya hanya satu kemungkinan yang akan terjadi andai Excel sampai kalah atau setidaknya ditundukkan oleh lawan. Excel wajib mengabdi kepada lawan, jika Excel memang masih ingin hidup!
Menghela napas dalam sekaligus pelan, Azzura mengedarkan tatapannya keluar jendela. Senja tengah bercerita membagikan kisah romantisnya atas pertemuan indahnya dengan sang mentari, setelah mereka sama-sama berjuang nyaris seharian penuh. Keadaan yang juga akan Azzura lakukan ketika akhirnya sang suami pulang hingga LDR mereka berakhir.
“Mas Excel akan baik-baik saja. Sekarang pasti mas Excel sedang di jalan karena urusannya di Jakarta memang sudah beres,” pikir Azzura.
Azzura memang terus menguatkan diri. Ia mengambil tasbih miliknya dan itu ada di meja nakas sebelah biasa ia tidur. Sambil bertasbih dan dalam hati maupun pikirannya Azzura juga tak henti berdoa, wanita itu meraih ponsel di meja kerja. Meja yang beberapa saat lalu baru ia tinggalkan.
Menggunakan gawai pintarnya juga, Azzura mengecek keberadaan sinyal ponsel sang suami. “Masih di Jakarta, ... Jakarta Selatan. Kenapa mas Excel di sana? Harusnya Mas Excel sudah ada di tol arah pulang. Atau paling enggak, sudah mulai masuk arah pulang.”
Jakarta Selatan dan merupakan lokasi sinyal ponsel Excel yang Azzura temukan, memang masih menjadi tempat keberadaan Excel. Excel masih berdiri tegap di tengah kobaran dendam. Dendam yang juga sudah menuntut untuk segera dilepaskan.
“Akhirnya ...,” batin Exel menatap sepasang kaki yang melangkah menuruni anak tangga. Tubuh tegap yang baginya tidak asing meski kini perut itu sudah jadi buncit, akhirnya menemuinya. Dan wajah berwibawa tapi penuh tipu daya itu, hanya sedikit menua. Benar, Excel yakin, orang-orang dalam rumah ini lah yang belasan tahun terakhir ia cari.
Pak Bagus Wibowo dan tak lain ayah Angel, sudah langsung menatap marah Excel. Ia masih di anak tangga. Masih ada sepuluh anak tangga yang harus ia lewati agar ia sampai di lantai bawah Excel berada. Ia sungguh marah karena Excel sama sekali tidak menghormatinya. Pria gagah itu justru menatapnya dengan menantang. Walau setelah ia perhatikan lebih jeli lagi, pria yang ia ketahu bernama Excel itu malah menangis.
“Benar, Anda yang bernama Excel? Benar, Anda telah berani mencekkkiiik putri saya? Anda melakukannya dengan sadar dan sekarang, Anda justru dengan sangat santai menghakimi saya melalui tatapan?” ucap pak Bagus Wibowo.
“Kembalikan ayah saya. Hidupkan dia dengan kuasa sekaligus uang-uangmu!” tegas Excel. Kedua tangannya masih mengepal kencang di sisi tubuh, sedangkan air matanya tak hentinya berlinang.
__ADS_1
“Kaget, bingung? Saking banyaknya nyawa yang harus kamu korbankan hanya untuk memenuhi ambisimu agar kamu selalu dianggap suci melebihi malaikat?” sergah Excel lagi.
“Aku yang dulu masih SMA, masih sangat membutuhkan figur ayah. Bersama kedua adik perempuanku, sore itu aku menangis meraung-raung ketika tubuh sehat ayah kami, pulang dalam keadaan remuk sekaligus berlumur darah. Mamah yang saat itu tak kalah terpukul karena tiba-tiba harus menjadi janda sekaligus orang tua tunggal, juga makin kalian siksa melalui ancaman bahkan sederet teror.” Excel tersedu-sedu menatap pak Bagus Wibowo itu.
Melalui perubahan ekspresi pak Bagus Wibowo, Excel yakin pria itu sudah langsung berusaha mengenalinya.
“Aku anak tukang bakso yang putrimu tabrak setelah Angel mengemudi dalam keadaan mabuk!” tegas Excel. Namun pak Bagus Wibowo langsung tersenyum.
Bukannya merasa bersalah apalagi takut, pak Wibowo malah tersenyum menyepelekan Excel. Ia melangkah santai dan berhenti tepat di anak tangga terakhir sebelum lantai bawah. Sungguh kenyataan yang bagi Excel sangat menyebalkan.
“Sekarang mau kamu apa? Saya bahkan tidak tahu apa yang kamu maksud!” ucap Pak Wibowo.
“SAYA MAU NYAWAMU!” tegas Excel dan sudah langsung membuat sang jendraal terkejut. “Kau ambil nyawa ayahku, aku juga harus mengambil nyawamu!”
“Lancang sekali kamu berkata seperti itu kepadaku! Kamu tahu, bahwa apa yang kamu lakukan sudah merupakan bagian dari tindakan kriminal?!” tegas pak Bagus Wibowo sembari menatap marah Excel.
Bersamaan dengan itu, dua belas ajudan pak Bagus Wibowo, berdatangan. Dari ajudan yang sempat mengawal Angel, ajudan yang sempat Excel ban*ting di ruang tamu, juga ajudan yang sebagiannya sempat Excel lihat di pelataran depan. Karena memang setajam itu ingatan seorang Excel.
“Kalian, ... kalian berani tembak orang ini?!” tegas pak Bagus Wibowo dengan gagahnya.
Semua ajudan pak Bagus Wibowo langsung terkejut kebingungan seiring wajah mereka yang juga sudah langsung pucat. Sang jendral meminta mereka menembak orang? Benar-benar sulit mereka percaya!
“Miris sekali!” lirih Excel sambil menggeleng tak habis pikir. Ia melangkah menghampiri pak Bagus Wibowo.
__ADS_1
“Anda yang selalu haus rasa hormat dengan sadar memerintah bawahan Anda untuk menembak orang. Anda masih memakai seragam dan apa yang anda lakukan jelas menyalahi aturan!” kesal Excel.
“Bunuh orang ini karena dari tadi, dia sudah mengancam akan membunuh saya!” tegas pak Bagus Wibowo emosional.
“Jongkok kamu!” lanjut pak Wibowo masih fokus menatap Excel.
Ajudan pak Wibowo tak hanya kebingungan karena mereka juga langsung dilema. Atasan mereka yang masih memakai seragam dinas, mendadak meminta mereka untuk menembak orang. Persis seperti yang Excel katakan beberapa saat lalu. Itu sebuah perintah, tapi melenyapkan nyawa orang tidak pernah dibenarkan walau itu titah dari sang jendral.
Di luar dugaan, tangan kanan pak Bagus Wibowo yang sudah memakai sarung tangan layaknya tangan kiri, mengeluarkan sebuah pistol dari balik pinggang kanan. Bak seorang ksatria, tanpa sedikit pun keraguan, ia memegang pistol tersebut menggunakan kedua tangan.
Tanpa permisi apalagi basa-basi, moncong itu diarahkan ke kening Excel dengan jarak tak kurang dari satu senti. Pelatuk pistol juga sudah langsung ia tarik hingga melesatlah sebuah peluru dari sana.
Dooooooorrrr!
Darah segar muncrat, dan dua belas ajudan sang jendral sudah langsung ketakutan. Termasuk para ART yang jumlahnya ada tiga dan berbondong-bondong keluar dari arah belakang.
Kening Excel memang tertembak, tapi dengan cepat, kedua tangan Excel merebut pistol, disusul Excel yang sudah langsung membannting tubuh tegap lawannya itu.
Di tengah dendam yang bahkan membuatnya tak merasakan sakit sedikit pun walau darah segar terus mengucur dari luka tembaknya, kaki kanan Excel menginjak kepala sang jendral. Detik selanjutnya, ia sengaja membuat otak pria arogan itu merasakan panasnya peluru.
Belum, Excel benar-benar belum puas meski tubuh lawannya sudah langsung menggeliat kesakitan di lantai. Alasannya terdiam karena ia mendadak teringat keadaan sang ayah. Dulu, ayahnya meregang nyawa dengan begitu mengenaskan. Tubuh ayahnya remuk, hingga ia berpikir untuk membuat sang jendral juga berakhir dengan keadaan sama. Tak peduli walau sederet peluru sudah mendarat di sekujur tubuhnya, menghasilkan darah segar yang terus mengucur. Bahkan, ia telah dikepung layaknya tawanan. Semua ajudan di sana sudah membidikkan pistol ke arahnya.
Semuanya benar-benar berubah dalam waktu yang begitu cepat.
__ADS_1