
Azzura kehilangan jejak Excel. Kendati demikian, Azzura yang sudah ada di lobi rumah sakit dan menatap saksama setiap sudut di sana yakin, Excel memang sudah tidak ada di rumah sakit, termasuk itu di jalan depan rumah sakit. Tadi, mereka datang ke sana menggunakan taksi online. Tentu untuk sekelas Excel yang cekatan, menemukan transportasi merupakan hal yang sangat mudah.
Telepon yang Azzura lakukan di tengah terik siang ini yang teramat menyengat, memang tidak mendapat balasan. Namun baru saja, Azzura mendapat pesan WA masuk dari nomor baru Excel. Nomor baru yang sengaja Excel adakan karena nomor sebelumnya sudah sengaja pria itu buang.
Mas Excel Baru : Aku akan segera kembali, jangan menungguku.
“Jangan menungguku?” Kata tersebut sudah langsung melukai hati Azzura. Hatinya seolah dicabik dengan keji, padahal Azzura sadar, ia belum mencintai Excel. Sebab sekadar sayang, itu masih sebatas sayang biasa. Namun untuk porsi peduli, Azzura akui dirinya sangat peduli kepada Excel. Rasa peduli yang tak kalah besar dari rasa peduli Azzura kepada keluarganya dan bagi Azzura, segalanya. Iya, Azzura memang tipikal yang menjadikan keluarga sebagai nomor satu dalam hidupnya.
Azzura : Aku akan menunggu Mas, kapan pun Mas selesai. Jadi, kembalilah dengan selamat. Aku akan baik-baik saja. Aku akan selalu mendoakan Mas.
Di tempat berbeda, Excel yang duduk menggunakan jasa ojek, sudah langsung berkaca-kaca karena balasan Azzura.
Sementara di lobi, Azzura yang belajar ikhlas malah menjadi makin gelisah. “Jika aku belum menyayanginya terlebih mencintainya, lantas apa maksud dari kegelisahan tak bertepi ini?” batin Azzura yang kemudian menengadah, menatap hamparan langit sangat cerah dan memang membuatnya silau akibat terik mataharinya.
“Walau hamba tahu dia bukan orang suci, niatnya kembali ke jalan yang benar, benar-benar nyata. Jadi, tolong lancarkan setiap usahanya menyudahi semua ini!” batin Azzura lagi.
Hati Azzura menggeliat mana kala ponselnya berdering dan itu tanda pesan WA masuk yang masih dari Excel.
__ADS_1
Mas Excel Baru : Doakan aku
Mas Excel Baru : Tunggu aku
Mas Excel Baru : Aku pasti kembali
Mas Excel Baru : Aku mencintaimu
Azzura tidak tahu, kenapa pesan-pesan dari Excel malah membuatnya menangis. Tangis yang makin lama makin pecah. Ia sampai tersedu-sedu, kesulitan menghentikannya. Namun tak mau membuat mas Aidan maupun sang mamah khawatir, Azzura buru-buru mengakhirinya. Ia menggig*it kuat bibir bawahnya sambil menyeka tuntas air matanya.
“Kamu tahu hal semacam sekarang pasti akan terjadi. Bahkan kamu sadar, akan ada waktu di mana kamu terlibat langsung, menyaksikan pertumpahan darah sekaligus tumbangnya setiap raga yang ditinggalkan nyawa, hingga benar-benar tinggal nama. Karena inilah dunianya. Jadi, satu-satunya yang bisa membantunya selain doa adalah tenang. Dukung dia dengan ketenangan sekaligus doamu.” hati kecil Azzura menasihati dan Azzura setuju. Alasan yang juga membuatnya sibuk mengangguk. “Kamu harus menjadi wanita yang jauh lebih tangguh karena itulah yang dia butuhkan, Ra!”
Azzura : Aku sayang Mas. Sayang banget. Cinta juga. Mas hati-hati, pulang dengan selamat (stiker hati merah tiga)
Sekitar lima puluh detik kemudian setelah pesan tersebut terkirim, Azzura sudah langsung mendapat balasan pesan dari Excel. Pria itu hanya membalas dengan stiker hati besar yang bergetar-getar, mirip hati yang sedang deg-degan.
“Bismillah, Mas. Kulepas Mas dengan bismillah. Bismillah masih rezekinya Mas buat hidup lebih baik lagi!” Azzura berangsur menoleh ke belakang. Sang mamah dan sang kakak baru saja datang. Keduanya langsung menatap sekaligus memperlakukannya penuh kekhawatiran.
__ADS_1
“Ada apa, sih?” tanya ibu Arum sudah langsung meraih sekaligus menggenggam tangan kanan Azzura yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Mas Excel ... ada pekerjaan mendadak dan enggak bisa ditunda, Mah!‘ ucap Azzura terpaksa berbohong. Padahal tanpa Excel cerita mengenai alasan calon suaminya itu pergi buru-buru, Azzura tahu. Masih berkaitan dengan para mafi4 dan Excel seolah akan mengamu*k. Tadi, Excel benar-benar marah. Sekadar tenang saja, Excel tidak bisa.
“Apakah ini masih berkaitan dengan ancaman rac*un yang terus mengincar Rere?” pikir mas Aidan memilih diam. “Dia melarangku bertindak, tapi dia sendiri terlihat akan mengamuk. Tunggu dulu, ... apakah sebenarnya Excel tahu siapa pelakunya?” mas Aidan yakin, Excel memang tahu.
Setelah menggunakan jasa ojek selama dua jam lebih, Excel sampai di depan sebuah gedung dan keberadaannya ada di kawasan puncak. Untuk sekilas, gedung tersebut mirip pabrik pada kebanyakan. Gedung yang sekitarnya dibentengi tembok setinggi sepuluh meter itu tampak sepi, tapi dijaga oleh lima satpam sekaligus. Dua satpam berjaga di depan gerbang bagian dalam, duanya lagi di depan pintu masuk belakang sana, sementara satunya ada di pos satpam tak jauh dari gerbang untuk mengawasi CCTV.
Kedatangan Excel sudah langsung ditatap terkejut bercampur tegang oleh kelimanya. Yang di dalam pos sudah sampai melongok sambil mengabarkan kedatangan Excel melalui hate di tangan kanannya. Ia mengabarkannya dengan berbisik-bisik.
Sambutan yang Excel dapatkan sudah langsung membuat Excel paham, keberadaannya di sana sudah tidak diakui. Kedatangannya tak ubahnya tawanan yang sepenuhnya menyerahkan diri. Meski tampaknya, kehadirannya juga sudah dinanti-nanti.
“Kabarkan kepada mereka bahwa aku masih hidup!” tegas Excel yang tak kunjung dibukakan pintu. Padahal biasanya, ia langsung dibukakan pintu dan langsung disambut hormat.
Apa yang Excel katakan sudah langsung membuat dua satpam di sana tampak makin ketakutan. Kemudian, satpam di dalam pos dan masih memegang hate mengacungkan jempol kanannya, membuat keduanya bertatapan dan salah satu dari mereka langsung membukakan pintu gerbangnya. Sementara satpam satunya sudah langsung menggeledah Excel, memastikan tidak ada senjata yang dibawa oleh pria yang kini berpakaian biasa, tanpa aksesori hitam baik itu topi, jaket, bahkan pakaian anti peluru.
“Apakah sekarang aku dilarang membawa senjata? Kenapa? Bukankah biasanya aku justru dibekali banyak senjata?” tanya Excel benar-benar dingin. Namun kedua satpam berseragam biru gelap di hadapannya hanya diam sambil menggeleng ketakutan. Sekadar meliriknya saja, keduanya tampak tidak berani. Keduanya sampai saling tubruk hanya untuk menghindarinya yang sengaja menerobos keduanya.
__ADS_1
“Aku janji aku akan keluar dalam keadaan hidup. Bahkan walau aku baru bisa melakukannya besok, aku akan berusaha tetap hidup, memenangkan pertar*ungan nanti!” sumpah Excel dalam hatinya. Kedua tangannya mengepal kencang di sisi tubuh seiring ia yang melangkah gagah memasuki gedung tua yang tampak tak terawat di hadapannya.
Dua satpam yang berjaga di depan pintu masuk dua pintu di hadapan Excel kompak membukakan pintu. Ruangan di dalam benar-benar gelap tanpa sedikit pun cahaya yang menyinari. Namun, Excel yang kali ini memakai lengan panjang hangat warna kuning, tetap maju.