
Entah apa yang dibicarakan Excel dan Helios di ruang kesehatan, tapi obrolan yang dihiasi tampang dingin dari Helios, menandakan bahwa hal serius memang menjadi bagian dari pertemuan empat mata tersebut.
Azzura yang melongok, tak bisa melihat ekspresi sang suami karena Excel memunggungi keberadaan pintu. Namun, Excel terlihat sangat tenang meski pria itu cenderung menunduk.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Excel keluar dari ruang kesehatan dengan langkah cepat andalan. Excel melewati ruang tunggu pria itu meminta Azzura menunggu. Azzura yang curiga suaminya kembali lupa kepadanya, bergegas meninggalkan tempat duduk kemudian berseru memanggil Excel.
“Mas lupa lagi kalau tadi datang bareng aku?” Kedua mata jernih Azzurah menatap manja Excel.
Excel sampai hafal, jika sudah begitu, bibir tipis istrinya juga akan manyun nyaris menutupi lubang hidung.
“Sumpah aku lupa. Maaf, beneran belum terbiasa!” yakin Excel sudah langsung menggandeng Azzura. Selain itu, ia juga langsung mengambil alih kantong besar warna hitam berisi ransel milik Azzura. Azzura tak hanya membawa isi ransel karena ranselnya sampai Azzura bawa. Kata Azzura, itu ransel pemberian ibu Arum hingga Azzura berniat membenarkannya.
“Sama istri sendiri masih saja lupa. Jalan berasa bujang, terobos tanpa peduli apa pun,” ucap Azzura sengaja menyindir Excel meski ia melakukannya sambil tersenyum menatap wajah Excel yang juga sudah langsung balas tersenyum kepadanya.
“Memangnya sejak kapan, jalannya bujang sama yang punya istri beda?” tanya Excel di tengah senyumnya. Ia menatap Azzura walau langkahnya benar-benar masih cepat dan kini saja, ia membawa Azzura menuruni anak tangga.
“Sejak kita menikah, Mas.” Azzura sengaja curhat, tapi seorang Excel malah menertawakannya. “Mas, kaki kananku sakit. Tadi terkilir pas bantu angkat Syam yang pingsan.”
Tanpa banyak kata, Excel sudah langsung berhenti melangkah. Ia jongkok bahkan perlahan duduk di anak tangga hingga Azzura yang diperiksa kaki kanannya juga mengikutinya.
“Ungu,” lirih Excel sudah langsung menatap pedih kaki kanan Azzura, kemudian beralih ke wajah Azzura. “Kamu punya minyak zaitun kan, di ransel. Sini buat urut.”
__ADS_1
Mendengar Excel akan mengurut kakinya, Azzura sudah langsung mesem. Ia sangat bersemangat dan segera mengambil minyak yang dimaksud. Kebahagiaan Azzura juga menjadi tak terbendung karena Excel begitu menyayangkan keadaan kaki kanan Azzura. Di lain sisi, Excel merasa sangat bersyukur memiliki istri tangguh seperti Azzura yang selalu paham posisinya. Karena walau Azzura tetap akan manja bahkan merajuk kepadanya, wanitanya itu benar-benar tahu kondisi.
“Mau cari penginapan terdekat? Takutnya kamu capek,” lirih Excel berangsur menatap Azzura penuh keteduhan. Ia selesai mengurut kaki kanan Azzura, kemudian menutupnya lagi, selain ia yang sudah langsung menaruh sisa minyaknya di kantong.
Sekitar lima menit kemudian, Excel dan Azzura sudah mengendarai motor. Tak ada lagi adegan kebut-kebutan atau malah naik motor bak terbang. Excel mengemudikan motornya cenderung santai dan Azzura yang membonceng juga tak lagi bertindak layaknya pasukan pahlawan. Azzura tak kalah santai karena mendekap pinggang Excel saja, Azzura tak melakukannya seerat saat mereka berangkat.
***
“Aku harus mengantar mas Ojan,” pamit Excel yang sudah rapi. Ia mengungkung tubuh Azzura yang masih meringkuk di bawah selimut.
Azzura yang meski masih merasa sangat mengantuk, segera memperjelas tatapan berikut pendengarannya. Di hadapannya, wajah tampan Excel terlihat sangat segar selain kepala pria itu yang masih setengah basah. Kemudian, tatapannya beralih ke hamparan jendela yang gordennya hanya dibuka sedikit hingga suasana luar yang sudah sangat terang tak sampai mengusik tidur pulas Azzura.
“Pukul satu siang, sementara jadwal kontrol pukul tiga. Kamu masih punya waktu buat siap-siap,” ucap Excel ketika Azzura meraih pergelangan tangan kirinya kemudian memastikan waktu melalui arloji hitam di sana.
“Bentar, Mas. Aku masih lemes banget. Ngantuk juga,” lirih Azzura yang kemudian menguap. Ia hanya bisa pasrah ketika Excel membantunya, membopongnya ke dalam kamar mandi. Setelah mendudukan Azzura di sebelah wastafel, Excel langsung menyiapkan air rendam di bak mandi yang memang menjadi bagian dari fasilitas kamar pengantin mereka menginap.
Semuanya tampak baik-baik saja. Seolah mereka tidak mengalami kejadian mencengkam termasuk itu kejadian di dini hari tadi.
“Mas sudah salat?” tanya Azzura kemudian meraih sikat gigi di sebelahnya dan bermaksud gosok gigi lebih dulu sebelum berendam di bak yang tengah Excel siapkan.
“Sengaja tunggu kamu,” ucap Excel yang dalam sekejap sudah ada di sebelah Azzura.
__ADS_1
Excel menyiapkan air kumur untuk Azzura menggunakan gelas kumur khusus. Bahkan Azzura belum berhasil membuka pasta gigi, tapi dengan cepat layaknya robot, Excel melakukan semuanya dengan sangat kilat.
Sekitar satu jam kemudian, setelah urusan mereka selesai termasuk salat berjamaah yang sengaja Excel atur, mereka pergi menggunakan mobil yang sudah langsung Excel kemudikan. Mobil yang berbeda dari biasanya. Excel membawa Alphard berwarna putih dan dikata pria itu sebagai milik mereka.
“Hadiah pernikahan dari Helios. Buat kita. Tadi pagi dia bilang, dan sekitar pukul sebelas tadi, sudah langsung diantar,” jelas Excel masih fokus mengemudi.
Azzura sudah langsung terbengong-bengong mengawasi suasana mobil yang memang khas mobil baru. Meski bisa Azzura pastikan, Excel sudah sampai membersihkannya. Karena memang sebegitu menjaganya seorang Excel kepadanya. Excel selalu menyiapkan sekaligus memberikan yang terbaik untuknya termasuk juga keadaan mobil kebersamaan mereka.
“Mas Helios kaya banget,” ucap Azzura.
“Enggak mudah buat jadi dia yang sekarang. Sepadan dengan perjuangan sekaligus pengorbanannya,” ucap Excel masih lembut.
Mendengar itu, Azzura yang mencoba duduk lebih santai, berangsur mengangguk-angguk. “Bahkan aku yakin, meski mas Heri punya segala kemewahan, dia tetap sulit buat bahagia sebelum dia benar-benar menemukan pasangan yang mencintainya. Pasangan yang juga mas Heri cintai. Terlebih kalau lihat mas Heri yang sekarang dan sangat emosional, ... sulit sih.”
“Doa terbaik saja,” balas Excel dan melalui ekor lirikannya, ia mendapati sang istri sudah langsung mengangguk-angguk.
“Kamu mau makan siang pakai apa?” tanya Excel membuat obrolan mereka beralih topik.
“Mamah dan bibi Widy sudah masak banyak, tapi tetap saja aku memang sudah lapar,” balas Azzura putus asa dan sampai menatap Excel dengan tatapan tersiksa.
Excel sudah langsung ketakutan karena biar bagaimanapun, balasan Azzura barusan ibarat peringatan keras.
__ADS_1
Hari ini, mereka benar-benar sibuk dengan keluarga Azzura hingga jadwal Excel membawa Azzura ke tempat usahanya harus ditunda. Bahkan Azzura yang tampaknya sangat kelelahan, langsung ketiduran sebelum mereka sampai hotel mereka menginap. Jadi, pemandangan Excel yang membopong Azzura dari tempat parkir, sudah langsung membuat yang melihat gigit jari.