Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
92 : Memperjuangkan Keadilan


__ADS_3

Kecupan lembut Azzura tak hentinya mengabsen wajah sang suami. Air matannya nyaris kering, tak tersisa lagi. Ia benar-benar marah setelah mengetahui apa yang terjadi. Ada manusia bahkan itu aparat negara yang benar-benar keji.


Azzura memang sudah sampai melihat rekaman CCTV-nya. Alasan yang juga membuat wanita itu merasa sangat terpukul lantaran suaminya diperlakukan layaknya penjahat bahkan tawanan perang.


“Mbak, ... kamu yakin? Jika kita menyebarkan ini, otomatis bukan hanya satu negara ini yang tahu.” Mas Aidan bertanya dengan hati-hati. Ia memastikan keputusan adiknya yang akan menyebarkan rekaman CCTV saat Excel ditembaki. Rekaman itu masih utuh, belum ada yang dimanipulasi.


“Biarkan dunia menilai. Biarkan dunia berbicara, menjadi hukum nyata bagi orang-orang keji seperti mereka,” ucap Azzura lirih. “Walau kasus ini akan menguras banyak waktu, pikiran bahkan tenaga, aku mau kita maju, Mas. Sudah sangat lama mas Excel menunggu ini. Biar kasus ini dibuka seterang-terangnya. Biar mereka yang terlibat juga merasakan dampaknya.”


“Kalaupun hukuman yang mereka terima tidak sebanding dengan nyawa papahnya mas Excel, kalau pun hukuman yang harus mereka rasakan tak sebanding dengan kesakitan mas Excel sekeluarga—”


“Setidaknya hukum sosial dari masyarakat selalu jauh lebih menyakitkan!” Azzura yakin seyakin-yakinnya dengan keputusannya.


Bagi Azzura, jika suaminya tidak bisa memperjuangkan haknya, menuntut keadilan atas kematian sang ayah yang juga sampai membuat Excel sekeluarga diintimidasi, dengan kata lain dirinya yang harus maju. Azzura sungguh akan berjuang hingga titik akhir walau prosesnya akan sangat melelahkan.


“Ya sudah, kalau gitu Mas urus sekarang juga. Bentar, Mas mau minta bantuan teman-teman Mas buat kawal kasus ini,” ucap mas Aidan tak kalah bersemangat.


“Kalian jangan lupa karena aku dan pasukanku juga akan membantu!” tegas Helios yang masih berdiri di sana.

__ADS_1


Mas Aidan langsung terusik kemudian menatap Helios. Lain dengan Azzura yang telanjur hanyut memandangi wajah suaminya. “S-sayang, ayo bangun! Ini yang kamu tunggu-tunggu. Kamu harus sehat!” bisiknya di sebelah telinga kanan Excel.


Satu hal yang Azzura syukuri. Peran Helios dan anggota mafia di kasus tersebut. Helios dan anggotanya sangat cekatan mengamankan segala sesuatunya. Bukan hanya mengenai CCTV yang masih utuh dan katakanlah murni tanpa sentuhan rekayasa, melainkan juga mengenai Helios yang sampai mengamankan sang jendral, istri, dan juga anak. Anak yang dulunya telah menabrak ayah Excel.


Semuanya sudah langsung bekerja. Menyebarkan video dalam beberapa potong. Awalnya hanya ketika sang jendral dengan keji menembak Kening Excel. Video tersebut sudah langsung mencuri perhatian. Kemudian akun tersebut sengaja menyebar dalam durasi utuh dilengkapi catatan alasan tersebut terjadi.


Azzura sengaja membagikan foto tangkap layar ketika suaminya ditodong senjata. Ia memberikan komentar di akun pribadinya. Ia menulis kasus yang menimpa ayah mertuanya dari awal mula kasus itu ada hingga terjadilah apa yang sampai membuat suaminya koma.


Azzura : Jangan biarkan hukum ini selalu tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Kami butuh dukungan dari kalian untuk mengusut kasus ini. Kami ingin keadilan seadil-adilnya. Karena tanpa kalian, tentu lagi-lagi kami sebagai korban yang akan dijadikan tersangka. Antara dimasukkan ke bui, diculik, atau malah mati. Karena memang sekeji itu dunia ini jika kita harus berjuang sendiri!


Di rungan tersebut, sang jendral sudah siuman. Pria itu sadar dengan ingatan penuh. Hanya rasa sakit akibat bekas operasinya saja yang membuat pria itu tidak baik-baik saja. Walau setelah pria itu mengawasi suasana dan itu bukan ruang rawat ICU atau setidaknya ruang VIP di rumah sakit khusus, ia sudah langsung bingung. Semua wajah di sana asing dan jelas tengah menghakiminya. Sedangkan ketika ia yang akhirnya berhasil duduk menoleh ke belakang, ia juga sudah langsung mengenali Excel. Excel masih terbaring lemah dan kedua matanya tertutup sempurna.


Kasus Excel masih bergulir. Ini menjadi hari ketiga Excel koma dan Azzura masih setia mengurusnya. Sementara itu, hari kemarin, sang jendral sudah diboyong ke kantor polisi. Awalnya pria itu hanya akan menjalani pengobatan ekslusif sambil menunggu hasil pemeriksaan oleh tim penyidik. Namun karena kasus sudah telanjur dikawal masyarakat luas dan sana sini sudah sibuk membahas, mau tidak mau para aparat wajib mengikuti arahan masyarakat.


Memang banyak yang iba kepada Excel dan kasusnya. Jemari para netizen juga jauh lebih lincah dari agen rahasia. Mereka langsung berlomba-lomba mencari informasi perihal kejadian runtut yang Azzura tulis di akun IG pribadinya. Jadi, sederet bukti sudah langsung disuguhkan oleh netizen tanpa harus membuat pihak Excel memaksa sang jendral dan anaknya mengaku.


“Bangun, Mas. Mas harus lihat ini. Semuanya mendukung Mas,” bisik Azzura sambil menggenggam erat tangan kanan suaminya.

__ADS_1


Kedatangan polisi yang akan melakukan penyelidikan di sana membuat Azzura terusik. Terlebih, ia hanya ditemani Syam dan seorang mafia lainnya. Tiga polisi tersebut tak hanya melihat-lihat keadaan karena ketiganya juga sampai mengawasi Excel yang masih koma.


“Mas Syam, rekam!” tegas Azzura yang sudah berdiri tegar. Ia memaksa ketiga polisi itu agar apa yang ketiganya lakukan, diabadikan guna menjadi bukti andai ada tindakan semacam intimidasi.


“Jangan direkam. Jangan apa-apa serba dibuat viraal. Heboh, rusuh dan sangat mengganggu keamanan negara!” tegas salah satu dari polisi yang datang.


“Kerusuhan rakyat merupakan wujud suara kami. Karena jika bukan kami yang berjuang memperjuangkan hak sekaligus nasib kami, memangnya bapak maupun yang lainnya akan melakukannya?” tegas Azzura.


“Andai kami tahu, pasti langsung kami tindak lanjuti. Jadi, tanpa kerusuhan apa-apa serba dibikin viraal pun, kami akan bekerja dengan semestinya layaknya tugas dan kewajiban kami!” balas polisi tadi.


Azzura yang menyimak dengan serius, segera mengangguk. “Baik jika itu mau Bapak polisi sekalian. Izinkan kami dan bahkan dunia mengetahuinya dengan mengabadikannya melalui rekaman video. Biar sama-sama enak tanpa rusuh apalagi dugaan fitnah Pak. Enggak akan rugi karena yang rakyat lakukan hanya menuntut keadilan, bukan mempermainkan hukum dan mengambil hak rakyat semacam ... koruppsi!”


Polisi-polisi tadi tak mau menanggapi Azzura lagi karena andai mereka melakukannya, mereka bisa berkata kasar bahkan lebih.


“Pindah perawatan dia agar kami lebih bisa mengontrol keadaannya!” tegas polisi yang dari tadi debat dengan Azzura.


“Kami ingin perlindungan. Karena ibaratnya, kami semut yang sedang melawan gajah. Bila perlu, hari ini juga kami akan menulis kepada Bapak Presiden! Jadi, andai kami sampai harus membuat suami saya menjalani penanganan kesehatan di rumah sakit umum, kami ingin kalian memberikan jaminan keamanan!” balas Azzura.

__ADS_1


Segala cara benar-benar akan Azzura lakukan untuk memenangkan kasus mereka. Agar sang suami mendapatkan keadilan yang selama ini Excel perjuangkan.


__ADS_2