Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia

Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
44 : Penge-cut!


__ADS_3

Excel paham, yang harus ia lakukan adalah membu*nuh Tuan Helios. Itu menjadi satu-satunya cara agar semua anggota mafi*a tunduk kepadanya, dan otomatis, mereka tak semena-mena lagi. Apa pun hambatan maupun risikonya. Termasuk itu membiarkan tubuhnya menjadi tempat mendaratnya peluru yang akan dimuntahkan oleh setiap pist0l di tangan anggota maf*ia.


“Sekarang aku harus bergerak cepat, membun*uh Helios tepat di hadapan mereka!” pikir Excel segera lari menghampiri sang ketua, membiarkan setiap peluru mendarat di tubuhnya.


Suara peluru seolah diadu layaknya di sebuah perlombaan siapa cepat siapa menang. Fatalnya, mereka tak segan mengincar kepala Excel. Beruntungnya tidak ada peluru yang mengenai kepala Excel karena gerak Excel begitu gesit, walau di bagian lain, benar-benar banyak. Dar*ah segar Excel saja sudah muncrat berulang kali di setiap temb*akan yang menembus tubuh pria itu. Temba*kan itu baru beranjak berhenti, ketika Excel yang tetap bergerak cepat walau jelas memaksakan diri, berhasil mence*kik Tuan Helios menggunakan kedua tangan.


Buru-buru Excel merebut pistol dari tangan kanan Helios menggunakan tangan kirinya. Helios yang kesulitan napas akibat cekikkkan Excel juga sudah langsung mengeluarkan belati bera*cunnya dari balik pinggang kiri. Helios susah payah menancapkan belatinya ke punggung Excel, yang mana di waktu bersamaan, Excel juga susah payah menggunakan tangan kiri yang berlumur da*rah segar akibat baco*kan celur*it. Excel menempelkan moncong pist0l sang tuan ke kening Helios. Satu peluru menembus di sana disusul belati bera*cun Helios yang juga menancap di punggung kanan Excel. Kendati sempat meringis dan dari mulutnya sampai muntah da*rah, Excel tetap buru-buru menembak bagian dada selaku keberadaaan jantung pria bertubuh beton itu berada.


Lega, walau detik itu juga Excel merasa sakit luar biasa akibat luka temba*k di sekujur punggung sekaligus kedua kakinya, termasuk luka dari belati bera*cun Tuan Helios. Excel sampai gemetaran mirip menggigil, menahan rasa sakit luar biasa. Rasa sakit luar biasa yang juga membuat pria itu menitikkan air mata. Hanya saja, suasana yang sempat sunyi karena suara melesatnya peluru detik itu juga berhenti total, menyisakan deru napas dan juga detak jantung tak beraturan benar-benar kacau, mendadak terusik oleh suara pelatuk pist0l yang ditarik dari belakang Excel.


Excel yang masih tengkurap menindih tubuh beton Tuan Helios, langsung menoleh ke belakang. Kedua matanya langsung terbelalak lantaran peluru yang melesat sudah ada di depan mata kirinya. Detik itu juga Excel mendadak ingat pesan WA Azzura yang seolah langsung diucapkan oleh wanita itu, di hadapannya.


“Aku akan menunggu Mas, kapan pun Mas selesai. Jadi, kembalilah dengan selamat. Aku akan baik-baik saja. Aku akan selalu mendoakan Mas.” Dalam benak Excel juga langsung dipenuhi wajah Azzura yang berlinang air mata menatapnya penuh luka. Kejadian yang juga membuat dunia seorang Excel berhenti berputar.


“Aku harus kuat. Karena andai peluru itu menembus mataku, aku benar-benar tamat!” batin Excel. “Aku harus pulang, Azzura sudah menungguku. Aku harus pulang dengan selamat karena kami akan menikah!” Gemetaran tak berdaya, Excel memaksakan diri untuk geser hingga peluru itu mendarat di perut Tuan Helios yang sudah kaku tanpa ada sedikit pun tanda-tanda kehidupan.

__ADS_1


Sementara rombongan mafi*a yang merasa tidak menjadi pelaku refleks melipir, menyisakan seorang pria yang tadi memang menembak. Pria yang juga sudah langsung menjadi pusat perhatian bahkan oleh Excel.


Shine, pria itu masih memegang pist0l menggunakan kedua tangan. Keringat dingin tampak mengalir dari ujung kepalanya membasahi wajah kemudian leher. Pria itu tak berani menatap Excel yang terus menatapnya tajam penuh peringatan bahkan dendam.


Gemetaran hebat bahkan suara yang dihasilkan, Shine berteriak dengan nada yang benar-benar sumbang. “Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian hanya diam? Cepat temb*ak dan bunnuh pengkhianat ini!” Karena jika itu tidak dilakukan segera, tentu ia yang akan mengalaminya. Sekelas bos besar saja tetap Excel libas, apa kabar dirinya yang hanya anggota biasa? Alasan tersebut pula yang membuatnya benar-benar takut.


Semua anggota mafi*a yang sudah melipir ke samping, langsung saling lirik. Ketegangan menahan rasa takut tampak begitu nyata dari ekspresi mereka. Mereka benar-benar tak bisa menyembunyikannya, selain mereka yang juga bingung harus memihak siapa.


“Akhirnya kau menampakan diri juga. Kamu yang telah memfitnahku, membuat ketua menyuruh semuanya untuk menghabi*siku berikut keluargaku?!” Suara Excel juga tak kalah gemetaran, tapi tentu saja tak sampai sumbang. “Kamu hanya memanfaatkan Ketua agar dia membuatku murka, lalu melalui aku, kamu yang menginginkan posisi ketua, yakin aku bisa menyingkirkan-nya. Dan sekarang, setelah aku berhasil, giliran aku yang akan kamu singkirkan!”


“Tidak usah mengerahkan pasu*kan. Jika kamu memang ingin aku mat*i, lakukan sendiri! Bun*uh aku dengan kedua tanganmu!” tegas Excel dengan suaranya yang masih gemetaran lirih.


Tak main-main, Shine yang walau terlihat ragu bahkan takut, segera menarik pelatuk pist0lnya.


Excel sampai geleng-geleng.

__ADS_1


“Kau berkhianat, Chel! Kau merebut wanita bercadar itu dari ketua.” Suaranya masih gemetaran, tapi kini ia sengaja berteriak, “Wanita bercadar itu cinta pertama ketua yang juga menjadi alasan ketua sampai di sini!”


Excel memang terkejut, tapi ia tak percaya begitu saja. Walau peluru yang Shine lesatkan juga mendarat di bahu kirinya.


Kali ini, semua anggota mafi*a kompak menahan Shine, agar Shine berhenti menyera*ng Excel yang sudah tak berdaya.


Shine yang menjadi makin kacau, berakhir terduduk. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menekap wajah.


Tiba-tiba, tangan kanan Tuan Helios bergerak dan mencoba mencengkeram lengan kiri Excel. Excel cuek karena bernapas saja ia sudah kesulitan.


“Pengecuuut!” hanya kata itu yang keluar dari bibir Excel seiring ia yang mencoba berdiri tapi ia kesulitan bahkan tak sanggup melakukannya.


Anggota mafi*a yang ada di sana, dan jumlahnya lebih dari dua puluh orang sebenarnya kasihan kepada Excel. Penuh luka yang terus mengeluarkan dara*h segar benar-benar tak berdaya, tapi mereka ragu menolongnya. Takut!


“Aku seriussssss! Namanya Azzura, dia bahkan harusnya mengenalku! Harusnya dia menikah dengan Cikho anak orang kaya itu, kan?!” tegas Shine masih histeris. “Lihat wajah ketua! Anak orang kaya itulah yang meru*saknya, bersama teman-temannya!” Shine masih histeris.

__ADS_1


Kali ini, Excel langsung tidak bisa berpikir. Cikho dan teman-temannya. Dengan kata lain, masih orang yang sama yang berulah. Namun, bisakah informasi itu dipercaya?


__ADS_2