
Makin jauh Excel melangkah, makin sunyi juga suasana di dalam sana. Bahkan meski di setiap sudut ruangan maupun anak tangga yang Excel lewati ada pria yang berjaga. Semua yang berjaga dan berseragam serba hitam, termasuk jaket kulit maupun topi hitam layaknya seragam yang selama ini Excel kenakan, kompak diam. Mereka hanya menatap tajam Excel penuh keseriusan. Seolah Excel memang orang asing yang patut dicurigai atau malah dibasmi.
Suasana temaram masih menyelimuti karena di sana benar-benar minim penerangan. Hanya mengandalkan lampu tembok bernyala emas redup di setiap sudut ruangannya, dan kini Excel sudah sampai di lantai empat. Excel melangkah cukup jauh dalam pengawasan penuh. Iya, walau tidak sampai mendapat kawalan khusus, setiap mata dari pria yang berjaga sudah bisa menjadi CCTV, merekam setiap apa yang Excel lakukan dengan saksama.
Pintu dua daun kokoh warna maroon gelap di hadapan Excel tampak menakutkan bahkan bagi seorang Excel. Namun, Excel yang tidak mau membuang-buang waktu sengaja mengetuknya. Excel masih sangat ingat, ada Azzura yang sedang menunggunya. Tentunya, ia juga tidak akan lupa, bahwa besok merupakan hari pernikahan mereka. Jadi, apa pun yang terjadi Excel harus selamat.
Layaknya ketika saat masuk lewat pintu utama, kali ini yang membukakan Excel pintu juga masih dua orang. Kedua pria berseragam hitam itu tetap berjaga di dalam walau Excel sudah langsung masuk setelah keduanya membukakan sekaligus menutup pintunya. Berbeda dari sebelumnya, kini di ruang mirip ruang kerja dan terbilang luas di sana, suasana jauh lebih terang karena ada beberapa lampu tembok yang dinyalakan.
Yang Excel tahu, Tuan Helios pimpinan mafi4 mereka memang tidak menyukai suasana terang berlebihan. Pria itu bahkan membenci wajahnya yang selama ini ditutupi menggunakan topeng. Namun Excel pernah tak sengaja memergoki wajah dari pria bertubuh tegap sekaligus sangat berotot itu. Tubuh paling kokoh dari semua anggota mafi4 mereka. Wajah di balik topeng itu Excel ketahu dihiasi luka yang membuat permukaan kulit di sana tidak rata. Malahan sampai seperti ada bagian daging yang hilang dalam jumlah cukup banyak. Mirip luka bakar fatal.
Senyum menge*jek sudah langsung Excel dapatkan dari sang Tuan. Bibir berisi yang masih menahan pipa cangklong itu terus saja menyepelekannya.
“Kamu pikir, kamu bisa mengelabuhi saya?” ucap Tuan Helios yang kemudian mengembuskan asap rokoknya sambil menengadah, hingga asap putih seketika tersebar menguasai ruangan.
__ADS_1
“Sudah.” Excel menjawab singkat. “Bahkan Anda sampai terkecoh! Karena jika Anda tidak merasa terkecoh, Anda tidak mungkin terus-menerus berusaha menyingkirkan adik-adik saya.” Sampai detik ini Excel masih berucap tenang, dan malah memamerkan senyum kemenangan.
Dengan entengnya, Tuan Helios berkata, “Sudah, langsung habis*i saja orang ini!”
Tanpa mengalihkan tatapan seriusnya dari sang ketua\, Excel mengangkat tangan kanannya. Kenyataan yang sudah langsung membuat kedua pria di belakang dan tadi sempat membukakan Excel pintu\, tak langsung menyer*ang seperti yang dititahkan. Keduanya memberi Excel kesempatan. Celur*it yang sudah mereka tarik dari balik pinggang kanan\, tak jadi langsung mereka gunakan.
“Apa yang membuat Anda menganggap saya mengkhianati Anda\, hingga Anda berusaha menyingki*rkan saya dan keluarga saya?” tanya Excel benar-benar ingin tahu\, tapi sang tuan langsung menggeleng\, bertanda pria itu tak memberinya kesempatan dan otomatis kedua pria di belakang Excel juga langsung menyera*ng.
Celur*it yang langsung dilemparkan memang berhasil Excel tangkap bahkan walau itu menggunakan tangan kiri. Namun\, di lemparan dari mafi4 yang satunya lagi\, Excel kecolongan hingga pergelangan tangan kirinya goyah bersamaan dengan celur*it yang menancap di sana.
Di belakang Excel, sang ketua yang masih menyikapi keadaan dengan santai, berangsur mengangkat gagang telepon berwarna putih yang ada di sebelahnya. Namun dengan sigap, Excel langsung loncat dan berakhir di meja sang ketua. Tanpa pikir panjang, Excel sudah nyaris menendang wajah Tuan Helios, tapi pria itu lebih dulu menghindar meninggalkan tempat duduk megahnya.
Sembari mundur, Tuan Helios yang selama ini meminta anak buahnya menganggapnya layaknya dewa matahari, mengarahkan moncong pist0l yang baru ia keluarkan dari dalam jas hitam bagian dalam sebelah kanannya, kepada Excel.
__ADS_1
“Temb*ak!” tegas Excel tetap maju walau ia masih di meja kerja berbahan kayu yang luas sekaligus kokoh milik Tuan Helios. “Ayo\, tembak! Namun bisa aku pastikan\, tidak ada satu pun sen*jata yang mampu membunuhku selagi aku hanya menjadi korban fitnah. Ayo akhiri semuanya!” lanjutnya berucap tegas kemudian loncat dan berakhir menen*dang rahang sang ketua sekuat tenaga hingga tubuh kokoh itu sempoyongan parah. Hanya sempoyongan parah\, tak sampai tumbang lantaran tubuh sang ketua memang sangat tegap\, mirip beton yang akan sangat sulit dirobohkan.
Tak mau menyerah, Excel yang sangat siaga, dengan cekatan menend*ang kedua kaki Tuan Helios menggunakan kedua kakinya, dan kali ini ulahnya itu berhasil membuat si tubuh beton tumbang. Tubuh Tuan Helios sampai menghantam meja kaca kecil di belakangnya dan berakhir pecah.
Di waktu yang sama, belasan bahkan puluhan mafi4 berdatangan. Semuanya langsung mengepung Excel. Excel menatap sekelilingnya dengan siaga, hingga lupa pada Tuan Helios si tubuh beton yang juga sangat tahan banting.
Tuan Helios memang belum bangun, tapi ia sudah langsung kembali mengarahkan moncong pist0lnya ke Excel. Hal yang langsung diikuti oleh anggota mafi4 di sekeliling Excel. Hanya untuk melumpuhkan seorang Excel, semuanya turun tangan bahkan sampai menggunakan senjat4 pamungkas!
Bunyi pelatuk yang ditarik benar-benar terdengar menyeramkan bahkan di telinga seorang Excel. Pria itu masih diam, masih berpikir keras mengenai apa yang harus ia lakukan.
Di tempat berbeda, di dalam mobil, Azzura yang duduk di tempat duduk penumpang belakang bersama sang mamah, mendadak tercengang. Tasbih yang diam-diam tengah Azzura gunakan untuk mendoakan Excel, mendadak putus. Ibu Arum lah yang dengan refleks menengadahkan kedua tangannya untuk menampung setiap butiran tasbih dan seketika langsung wanita itu susun lagi.
“Ini mau langsung beli cincin apa tunggu mas Excel, Mbak?” tanya mas Aidan yang duduk di sebelah sopir taksinya.
__ADS_1
Azzura yang telanjur takut karena terlalu mengkhawatirkan Excel, sama sekali tidak bisa fokus pada hal lain selain kepada ketakutannya sendiri. Termasuk juga dengan pertanyaan yang mas Aidan maupun ibu Arum layangkan. Azzura sama sekali tidak menyadarinya. Ia terlalu takut. Benar-benar takut.
“Bismillah, Mas. Bismilah, Mas pasti bisa.” Jauh di lubuk hatinya, Azzura sudah langsung kembali sibuk berdoa walau kini, ia menunduk frustrasi dan kedua tangannya menekap erat wajah.